THE LAST SONG'S
***
Masa Lalu adalah salah satu pintu di antara ribuan pintu yang ada di hadapan kita. Kita kadang membuka salah satu pintu di depan kita, pintu-pintu yang mengarah pada apa yang kita pikirkan. Kita pasti pernah memikirkan masa lalu dan membuka pintu itu sejenak hanya untuk mengenang bagaimana rasanya dulu saat kita berada di sana. Bahagiakah? Sakit kah? Menderitakah? Atau menyenangkan?
Takdir dari setiap orang memang berbeda tapi ada beberapa orang yang memiliki alur yang hampir sama, memiliki sesaat pada akhirnya harus saling melupakan. Walaupun beberapa orang enggan untuk melupakan, bahkan merasa dia belum siap untuk melupakan kisah itu, terlalu manis mungkin, atau terlalu membuatnya bahagia sampai ia merasa terbang bagai tertiup angin yang begitu sejuk. Namun, saat ia tengah terbang tinggi, seseorang menghempaskannya ke dasar jurang terjal terdalam yang tak terpikirkan olehnya. Bukannya membenci, ia malah meyakinkan diri bahwa itu ketidak sengajaan yang seharusnya tak terjadi, memupuk sebuah harapan yang entah harapan itu akan terwujud atau tidak. Ia kini telah pergi walau dengan alasan melanjutkan kuliah di luar negri. Namun, dia tetap menunggu, meyakinkan hati bahwa mereka akan kembali bersama.
serena Adjani, gadis cantik berusia 21 tahun, kulit berwana sawo matang mencerminkan gadis asia yang begitu cantik, tingginya hanya 155 cm, dengan rambut panjang yang selalu ia gulung ke atas. Matanya bulat dengan warna cokelat alami, hidung tidak terlalu mancung, pipi tembam dengan dagu yang tak begitu runcing.
Manis, satu kata itu yang menggambarkan sosok serena yang saat SMA dulu sering menjadi perbincangan, sifat lugu dan Polosnya sudah menjadi rahasia umum. Gadis yang kini tumbuh menjadi gadis yang tampak dewasa itu masih memiliki sifat yang sama seperti dulu, lugu dan polos, kadang orang-orang lebih mengatakannya dengan Naif!
serena menghela nafasnya entah sudah ribuan kali mungkin, malam ini dia harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum Arga menjemputnya, cowok itu kadang marah jika serena telat dan serena tak mau Arga marah padanya.
“Jika harus berpisah
Ya sudahlah
Jika harus menangis
Menangislah
Tak perlu ada tanya
Ya sudahlah
Semua tau
Kisah kita
Hubungan ini mustahil tuk bersama”
serena menyanyikan lagu itu sepenuh hati, tanpa sadar Arga sudah menunggunya bersandar di balik podium kecil di mana Serena tengah bernyanyi di salah satu cafe tempatnya bekerja.
“Luka jiwaku
Mengikhlaskan kau pergi
Bukan keinginanku
Lepas dari cintamu
Ku lepas dari cintamu”
Arga mendengus, dia tau mengapa serena menyanyi lagi itu.
“Jika harus berpisah
Ya sudahlah
Jika harus menangis
Menangislah
Tak perlu ada tanya
Ya sudahlah
Tuhan tau
Kisah kita
Hubungan ini
Berat untuk bersama
Semua tau
Aku dan kamu
Mustahil tuk bersama”
Suara tepukan tangan terdengar memenuhi segala sudut Cafe, serena menunduk lalu membawa gitarnya turun dari podium, dan langsung mendapat tatapan tajam dari Arga.
"Maaf aku telat lagi ya?" serena menunduk sambil berjalan ke arah tas gitar yang tadi ia gantung di belakang.
"Lo masih mikirin dia?" serena menatap Arga lalu terdiam, sudah jelas bahwa serena masih memikirkan ratara, cowok yang dulu selalu membuat serena tertawa dan membuat ribuan bunga tumbuh di hatinya. "Dia udah pergi Ser!" dan kenyataan itu mengentak pemikiran tentang masa lalunya yang indah bersama ratara.
"Aku enggak mikirin dia!" jawab serena pada akhirnya, dan Arga tak akan percaya begitu saja.
"Terserah lo!" Arga menghela nafas sebelum mengucapkannya, lalu pergi keluar menuju ke arah sepeda motornya yang terparkir di antara beberapa kendaraan lainnya.
"Arga!" panggil serena pelan, Arga menatap serena sambil menyodorkan helm ke arah gadis itu.
"Apa lagi?" tanya Arga agak ketus. serena menunduk, dia tak takut atau marah pada sifat Arga yang seperti itu, dia justru merasa bersalah pada cowok itu.
"Aku udah bilang, nggak usah jemput kalo kamu sibuk." Arga berdecak kesal, serena memakai tas gitar di punggungnya lalu menerima helm yang masih Arga sodorkan padanya.
"Gue sahabat lo, dan gue merasa bertanggung jawab kalo sampe lo di bawa orang ngga di kenal terus di jual!" Arga menaiki sepeda motornya lalu menyalakan mesin, serena cemberut, dia tau dia tak sepintar orang-orang di luaran sana, dia merasa selalu kecil di manapun dia berada.
"Hari ini aku nginep di rumah Ayah," ucapan pelan serena membuat Arga kembali mematikan mesin motornya, dia tidak salah dengar dengan ucapan gadis itu tadi kan.
"Lo bilang apa barusan?" serena menunduk takut.
"Aku nginep di rumah Ayah!" Arga berdecak, kesal dengan keluguan serena yang tak pernah berubah sejak dulu.
"Gue anter lo ke rumah nyokap lo!"serena menggeleng sambil menarik lengan Arga yang hampir menstater motornya kembali.
"Aku udah janji sama Talia mau nginep dan ngajarin dia."
"Lo bukan ngajarin dia Ser! Lo tuh di manfaatin!" kesal Arga, seandainya dia bisa mengubah sudut pandang serena tentang sebuah permintaan dan pemaksaan, pasti Arga akan melakukannya.
"Tapi ..." Arga mendengus kesal.
"Ok gue anter lo kerumah bokap lo! Naik!" dia tak ingin berdebat, serena mengangguk lalu naik ke boncengan. Arga menjalankan motornya dengan kecepatan sedang, serena sendiri hanya diam sepanjang jalan, dia tak tau lagi harus mengangkat topik apa.
"Jangan lupa dateng ke Reuni sekolah minggu depan!" ucap Arga setelah mereka sampai di depan gerbang rumah Ayah serena. serena mengangguk menanggapi ucapan Arga, dia ingat hari itu, tapi dia mulai takut, seandainya dia datang, apa ratara juga datang? Seakan membaca pikiran serena, Arga berkata, "dia pasti dateng Ser, ini Reuni, dan kebetulan dia balik!" serena menunduk semakin tak mampu menatap Arga yang terus menatapnya, gadis itu membuka helm, lalu memberikannya pada Arga.
"Makasih ..." ucapnya sebelum masuk, Arga hanya menatap kepergian serena dengan helaan nafas yang tampak lelah, serena begitu baik. Namun, di kelilingi orang-orang yang tidak baik untuknya.
Brak!
Arga terlonjak kaget, suara itu berasal dari rumah yang serena masuki sebelumnya, Arga ingin masuk dan ingin tau apa yang terjadi. Namun, dia tak di izinkan masuk setelah terakhir kali dia hampir mengobrak abrik rumah Ayah serena karna melihat serena tergeletak tak sadarkan diri akibat kelakuan ayahnya yang membuat serena hampir merenggang nyawa.
Tapi anehnya entah mengapa Serena selalu berfikir positif mengenai Ayahnya yang gila itu. Arga kembali menghela nafas, dia tak seharusnya ikut campur urusan pribadi serena, walaupun dia ingin, gadis itu sangat mudah di tebak, jika orang-orang berlari dari api, serena justru mendekati api hanya untuk mengambil boneka milik seorang anak yang menangis akibat bonekanya terjebak di dalam api, gila memang, tapi itulah serena.
***
Hari yang di tunggu-tunggu telah datang, hari di mana Reuni akan di adakan, serena menatap dirinya di depan meja rias milik Ibunya dulu, yang masih tertinggal di rumah ayahnya.
"Lo mau berangkat naik apa?" tanya Talia, anak tiri Ayahnya yang sering merepotkan dirinya itu.
"Aku naik Bus Li!" jawab serena, Talia mengangguk saja, lalu segera pergi dari sana.
Serena menghembuskan nafasnya, di tentengnya tas gitar yang tadi ada di sampingnya meja rias, lalu menggendongnya, dia tak ingin buru-buru namun juga tak ingin terlambat.
Sesampainya di sekolah, Serena di tarik oleh sahabat lama yang sering menghubunginya namun belum sempat bertemu karna kesibukan.
"Lo tambah cantik aja Ser!" Serena hanya tersenyum, memegang belakang kepalanya yang sedikit sakit akibat tarikan Salsana sahabat yang dulu sering curhat berbagai macam hal dengannya.
"Lena mana?" tanya serena sambil mengurangi kegugupannya.
"Tau deh, kayaknya belum nyampe, Janet udah nyampe katanya! Kita ke kelas yuk!" lagi-lagi Salsana menarik tangan Serena membuat serena kembali memegang belakang kepalanya dengan tangan satunya yang bebas.
"Salsa!" seruan itu berasal dari ujung koridor, Salsa menoleh dan mendapati Janet yang melambaikan tangan kearahnya.
"Akhirnya ketemu juga! Apa kabar?" Salsa memeluk Janet lalu Janet beralih memeluk serena
"Gue baik, gue juga ngga nyangka sih bisa ketemu kalian lagi, dua tahun udah ngga ada kabar!" ucap Janet lalu terkekeh dan mengajak keduanya masuk.
"Gimana Ser, buat perform nanti?" tanya Salsa saat mereka sudah masuk ke dalam kelas, serena yang tengah termenung langsung tersadar.
"Ser, lo sakit? Pucat banget?" tanya Janet, serena menggeleng.
"Aku cuma gugup." jawab serena kedua sahabatnya terkekeh.
"Tenang aja Ser, kita bakal bantuin lo kok, kita masih di sini buar belain lo dari mantan lo yang ngga punya perasaan itu!" serena hanya tersenyum canggung mendengar celotehan Salsana.
"Guys!" suara cempreng Lena membuat mereka menoleh.
"Akhirnya lo dateng juga! Telat!" ketus Janet. Namun, memeluk Lena erat, mereka sangat merindukan kehadiran satu sama lain.
"Aku ke toilet sebentar ya!" pamit serena saat merasa kepalanya terasa begitu sakit, apa yang terjadi padanya sebenarnya, seharusnya sakit yang dia rasa sejak kemarin sudah sembuh kan?
"serena mana?" Arga menatap ketiga sahabat serena dengan penuh tanya.
"Ke toilet!" jawab Lena, lalu melirik Salsana yang tampak acuh.
"Oh," jawab Arga acuh, lalu mendekat ke arah gitar milik serena dan membukanya, "dia ganti gitar? Sejak kapan?" gumam Arga menatap benda kesayangan serena yang sepertinya sudah berganti warna.
"Perhatian banget lo sama serena!" ketus Salsana, membuat Arga menoleh, memetik gitar itu lalu duduk di samping Salsana.
"Iya lah, gue di amanatin buat jagain dia!" jawab Arga.
"Sama ratara?" tebak Janet, Arga mengangguk saja, lalu menyandarkan punggungnya sambil memainkan gitar yang ada di tangannya.
Saat mereka tengah bernyanyi-nyanyi, seorang cowok masuk dan membuat mereka berhenti menyanyi. Arga berdiri tanpa sadar meletakkan gitar di atas meja lalu mendekati cowok itu.
"Lo ngapain bawa dia!" ketus Arga.
"Apa salahnya!" jawab cowok itu tanpa merasa bersalah.
"Salah Tara! Ini bukan waktu yang tepat!" ucap Arga penuh ancaman.
"Terus kapan waktu yang tepat? Besok? Minggu depan? Sama aja kan, akhirnya gue juga harus ngasih tau dia kalo gue udah tunangan!" Arga mendengus.
"Aku udah tau kok!" Arga menoleh ke arah pintu, begitu juga ratara yang tampak berdiri kaku di tempatnya, dia merasa sudah siap memberi tahu serena. Namun, kini dia sendiri bingung harus memulainya dari mana. "Hai ..." sapa serena pada gadis cantik yang juga tersenyum ke arahnya.
"Hai ..." balasnya.
"Aku serena," ucap Serena walaupun terlihat jelas dia menahan sesuatu yang entah apa itu, kesal atau cemburu? Atau entah apa itu. Yang jelas itu tampak menyakitkan.
"Gue Aletta," jawab Aletta, serena tersenyum, lalu mengangguk.
"Aku udah denger kamu mau tunangan sama kak Levin, semoga kalian bahagia ya," senyumnya, lalu serena beralih menatap ratara, cowok itu juga menatapnya.
"Kalau sempet, undang aku ya kak." ucapan itu mengakhiri kehadiran serena di ruangan itu, gadis itu memilih mengambil gitar dan tasnya lalu berjalan keluar tak mengatakan satu kalimat lagi untuk mengartikan apa yang sebenarnya terjadi padanya.
"Brengsek lo!" maki Arga, lalu pergi begitu saja, suasana kelas masih tegang, Aletta mengusap tangan ratara membuat cowok itu menoleh.
"Gue cuma nunggu lo jelasin tentang ini tara!" katanya. ratara mengangguk dan membalas genggaman tangan Aletta di tangannya.
Janet, Salsa dan Lena menggeleng tak mengerti, mereka begitu melihat jelas perbedaan antara serena dan Aletta. Namun, mereka tak bisa berkomentar mengenai hubungan ratara dan Aletta.
***
Arga mengikuti kemana serena akan pergi, nyatanya serena hanya pergi ke ruang musik, dan bertemu beberapa teman satu club dengannya dulu, Arga memperhatikan dari balik pintu, serena tampak berbincang lalu mulai berlatih. Acara sudah di mulai, Arga segera ke lapangan untuk melihat kesiapan di sana, Acara itu di meriahkan beberapa penampilan, dan termasuk serena yang akan bernyanyi.
Gadis itu mengusap belakang kepalanya sebelum menaiki panggung, tak ada rasa canggung ataupun gugup, senyumnya mengembang. Dia tampak duduk di sebuah kursi, mulai memetik gitar yang berada di pangkuannya.
Suara alunan gitar terdengar mendayu. Semua orang terdiam, mendengar suara merdu Serena yang begitu menenangkan, dia tampak begitu meresapi lagunya hingga serena tampak menangis.
“Looking up high
found a steel tower
wondering how I would feel
if I fall down
was it a dream?
I saw deep red”
Semua menatap serena, ada beberapa siswa yang ikut hanyut kedalam lagu itu.
“Chasing, for what's far ahead
always yearning, don't know why but
the beauty I really want, may seem to be
awkward to someone's eyes”
Suara serena begitu indah, apa yang serena rasa saat menyanyikan lagu itu, mengapa begitu dalam dan begitu merasuki hati.
“Looking down below from
top of the tower
fear takes over my heart and
my legs won't stop shakin'
then I realize
I'm fallin' down”
Sungguh serena terus menyanyi walau air mata di pipinya terus mengalir, petikan gitarnya pun tak berhenti tak berhenti.
“Why do the things I have loved
always barkin' don't know why but
the beauty I really want, may seem to be
ugly to someone's eyes”
serena terdiam, menatap mata serena yang juga menatapnya, entah mengapa Levin memejamkan matanya, merasa emosinya muncul kepermukaan.
“Chasing, for what's far ahead
always yearning, don't know why but
the beauty I really want, may seem to be
a little busy, they say
‘hey now I've been flying high
to the sky, lifting me to the yonder
something brought me here
so far from home but I'm not cold at all’ ”
Semua orang bertepuk tangan, serena menghapus air matanya, lalu tersenyum, "selamat siang semua ..." sapanya tanpa canggung, dan itu membuat ratara dan Arga saling berpandangan, mereka tau bahwa serena tak bisa menyapa dengan sebaik itu tanpa rasa gugup.
"Siang ini saya membawakan lagu terakhir sebagai seorang penyanyi!" Arga menegang, apa maksudnya, serena tampak terkekeh, lalu meletakkan gitar di sampingnya.
"Kalian semua pasti tidak tau maksud saya." tawanya sendiri, "tapi sebelum saya mengakhiri karir saya di dunia musik, saya akan menyanyikan sebuah lagu, untuk kalian semua, untuk seseorang yang mungkin tidak akan saya temui lagi ..." serena kembali memegang belakang kepalanya yang terasa berdenyut sakit.
serena kembali memangku gitarnya, memetiknya perlahan, dan mengalunkan sebuah lagu lama yang dia nyanyikan untuk mengakhiri karirnya di dunia Musik.
“Embun di pagi buta
Menebarkan bau basah
Detik demi detik ku hitung
Inikah saat ku pergi”
serena tersenyum, tanpa air mata yang Sebelumnya terus mengakir di lagu pertamanya.
“Oh tuhan ku cinta dia
Berikanlah aku hidup
Takkan ku sakiti dia
Hukum aku bila terjadi”
serena mulai merasa sakit kembali, namun ia menahannya dengan sekuat tenaga, walaupun suaranya jadi sedikit tak stabil. Namun, serena terus bernyanyi.
“Aku tak mudah
untuk mencintai
Aku tak mudah
mengaku ku cinta
Aku tak mudah
mengatakan
Aku jatuh cinta”
Tatapannya beralih pada ratara, kembali cowok itu di dera rasa yang aneh di tubuhnya, apa dia masih mencintai serena? Cewek polos dan lugu yang dulu sempat mengisi hari-hari kosong dengan kepolosannya?
“Senandungku hanya untuk cinta
Tirakatku hanya untuk engkau
Tiada dusta sumpah kucinta
Sampai ku menutup mata
Cintaku sampai ku menutup mata ...”
serena masih menatap ratara, namun hanya beberapa detik, karena di detik berikutnya, Marsha menghentikan petikan gitarnya, memegang kepalanya yang semakin berdenyut sakit, matanya terpejam mencoba meredakan rasa sakit yang kian menderanya. Arga bergerak mendekat ke arah panggung, menanyakan keadaan gadis itu, ratara sendiri gusar.
"tara, selesaiin dulu urusan lo di sini, sebelum kita ngelanjutin hubungan kita!" bisikan Aletta di telinganya membuat ratara tersadar, cowok itu menggeleng dan tersenyum ke arah Aletta.
"Gue ngga papa, dia cuma masa lalu Let!" Aletta hanya mengangguk walau dia tak yakin dengan ucapan ratara barusan.
Di sisi lain, Arga mencoba menyadarkan serena yang tampak seperti seseorang yang demam panggung, duduk tanpa melakukan apapun selain memejamkan mata sambil memegang belakang kepalanya. "Ser! Lo kenapa?" serena masih tak menyadari panggilan Arga, hingga akhirnya cowok itu memilih menaiki panggung dan menepuk bahu gadis itu, dan saat Arga menepuknya, tubuh serena runtuh dari kursi, kepalanya membentur lantai panggung begitu keras, Arga mengecek keadaan serena dan tak mendapati nafasnya masih berhembus.
"Ser! Jangan bercanda!" Arga mulai menangis, memeluk tubuh serena yang sudah tak bergerak.
ratara bergerak mendekat, begitupun sahabat-sahabat Marsha yang lain, "dia kenapa?" ratara menarik tangan Serena, tak ada denyut nadi di tangannya, di lehernya, bahkan nafasnya sudah tak berhembus.
"Serena!" mereka mulai menangis, Reuni yang seharusnya mereka habiskan dengan bersenang-senang malah berakhir dengan mereka yang harus kehilangan sosok polos nan lugu yang dulu menjadi teman yang baik untuk menjadi pendengar curhatan dan juga teman mengobrol.
serena gadis baik, Arga menyesali saat dia tak membawa Marsha pergi dari rumah Ayah serena saat itu, hasil otopsi menunjukkan bahwa serena mendapatkan pukulan di bagian kepala dengan benda tumpul, entah apa yang terjadi pada serena, mengapa dia tak pernah melawan atau setidaknya dia menghindari amukan sang Ayah, kini serena sudah menjadi sebuah kenangan, Arga dan ratara yang paling kehilangan, ahh tidak! Mungkin hanya Arga, karna cowok itu yang setiap hari mengantar jemput serena saat kuliah, mengantarnya ke cafe, menjemputnya, memarahinya seperti seorang kakak yang sayang pada adiknya.
Arga benar-benar menyesal, walaupun pada akhirnya dia sadar, Tuhan lebih menyayangi serena, dia mengambil serena lebih dulu agar gadis itu tak lagi merasakan kesakitan di dunia ini.
End.
Next Story .