Sama seperti malam-malam sebelumnya, Poppy kembali terbangun dengan nafas tersengal. Keringat dingin membasahi wajah hingga lehernya. Jejak air matanya juga terlihat jelas oleh cahaya bulan yang menerobos melalui jendela yang memang sengaja dibiarkan terbuka.
Wanita yang tiga bulan lalu genap berusia dua puluh tahun itu mengambil tisu yang terletak di samping tempat tidurnya. Setelah menyeka keringat di seluruh wajah hingga lehernya, Poppy lalu melirik seorang pria yang tengah terlelap damai di sampingnya.
Senyum kecil terukir di bibir peach-nya. Merapikan poni hitam yang menutup mata Deni, Poppy lalu mendaratkan kecupan sayang di kening suaminya.
Poppy mendesah, menaikkan selimut yang melorot karena dirinya hingga ke bagian bahu Deni. 'Syukurlah, Deni tidak bangun," batinnya lega.
Dengan perlahan, wanita yang sudah enam bulan ini menjadi bagian dari keluarga Beatrice itu turun dari ranjang. Menjaga langkah kakinya sepelan mungkin, Poppy keluar dari kamar mereka menuju dapur.
Ketika pintu tertutup, kelopak mata yang tadinya terkatup kini terbuka, menampilkan sepasang onyx yang menatap tajam pintu yang sudah tertutup rapat.
Deni yang awalnya berbaring miring, kini terlentang menatap langit-langit kamarnya. Ia tidak berniat untuk menyusul Poppy yang keluar dari kamar mereka. Deni bukannya tidak peduli, ia ingin memberi ruang untuk Poppy. Deni tidak ingin memaksanya, ia akan membiarkan Poppy menceritakan sendiri apa yang membuatnya sering bangun di tengah malam seperti itu.
Sekitar setengah jam kemudian, Poppy kembali ke kamarnya setelah merasa tenang. Seolah menjadi rutinitasnya, ketika ia bangun karena mimpi buruk, ia akan pergi ke dapur untuk minum susu hangat. Dan terbukti, hal itu memang membuatnya tenang.
Melihat posisi Deni yang berubah ketika ia keluar ke dapur, Poppy berusaha untuk ke ranjang dengan sangat hati-hati. Mendesah lega, ia kemudian berbaring memunggungi suaminya.
"Kau darimana?"
Poppy terlonjak kaget dengan suara serak Deni. Ia langsung berbalik menghadap suaminya. "Dari dapur, minum susu," jelasnya.
Poppy sedikit khawatir Deni akan bertanya lebih lanjut lagi, tapi pemuda itu malah melingkarkan lengannya di pinggang Poppy.
Deni membawa Poppy ke dalam dekapannya, menjadikan sebelah lengannya sebagai bantal wanitanya. Menempatkan dagunya di atas kepala istrinya, Deni menguburkan hidungnya di helaian Rambut Poppy. Menghirup aroma yang selalu membuatnya tenang, aroma khas bunga Sakura di rambut istrinya.
Poppy tersenyum tipis, merasa sangat nyaman dalam dekapan hangat Deni.
Merasakan deru nafas teratur Poppy, Deni sedikit melonggarkan pelukannya hanya untuk melihat wajah istrinya. Mengecup sekilas kening dan ujung hidung istrinya, Deni lalu memejamkan matanya.
Tidak butuh waktu lama, hingga dirinya kembali terlelap bersama Poppy dalam pelukannya.
.
.
.
.
.
.
Deni mendengar suara jeritan tertahan. Sontak, matanya langsung terbuka dan mendapati istrinya tengah meronta-ronta dalam tidurnya.
"Poppy!" panggilnya sambil mengguncang-guncang bahu mungil wanita itu.
Namun Poppy masih saja terus meronta, mencoba lepas entah dari apa.
"Bangun, Pop!"
Deni masih berusaha untuk membangunkan istrinya. Bahkan sekarang, ia mengguncang tubuh wanita itu lebih keras dari sebelumnya.
Dan berhasil, Poppy langsung terlonjak dan duduk. Hampir saja kepalanya terbentur dengan kepala Deni, untung saja pemuda itu memiliki reflek yang bagus.
"De-Deni…" Poppy menatap gugup Deni, takut mengganggu tidur pemuda itu. "Maaf membangunkanmu," gumamnya pelan dengan nafas yang masih tersengal.
"Kau baik-baik saja?" Deni mengabaikan permohonan maaf istrinya, lalu menyeka air mata segar di pelupuk mata Poppy.
"Uh, hanya mimpi buruk acak," jawab Poppy tersenyum kikuk. "Maaf sudah membangunkanmu," ujarnya untuk yang kedua kali.
Deni mendengus, lalu menatap serius Poppy.
"Poppy!" Deni memberi penekanan.
Poppy menunduk, tidak berani menatap langsung ke dalam netra hitam suaminya. "Sebaiknya kita tidur kembali, Den."
Deni menggeleng pelan, lalu mengelus pipi Poppy. "Kau bisa menceritakan semuanya, Pop," ujarnya lembut. Deni tahu, itu bukanlah mimpi buruk acak.
Poppy mengangkat wajahnya,lalu tersenyum lembut. "Aku baik-baik saja," tegas Poppy meyakinkan Sasuke.
Deni bisa melihat kebohongan jelas di emerald istrinya. "Kau membiarkan ku untuk mencari tahu sendiri," kata Deni akhirnya, dan dalam sekejap manik kelamnya kini berubah merah.
Poppy langsung mengalihkan tatapannya dari tatapan suaminya.
Deni hanya mendesah melihat sikap istrinya, "Poppy…" panggilnya.
Poppy menggeleng, belum berani melihat langsung pada mata suaminya.
Deni yang melihat hal itu hanya mendesah berat. "Kau tidak percaya padaku?" tanyanya.
Seringai kecil langsung tercipta di bibir Deni ketika melihat istrinya langsung menggeleng kencang.
"B-bukan begitu, Deni," tegas Poppy. Wanita itu memberanikan diri menatap suaminya, dan ia langsung lega melihat mata suaminya sudah kembali berubah menjadi sepasang onyx yang menatapnya lembut. "Aku hanya…"
Poppy tidak melanjutkan ucapannya, dirinya terlebih dahulu ditarik oleh Deni ke dalam pelukannya.
Tanpa sadar, air matanya mengalir deras. Poppy mulai sesenggukan, merasa sangat bersalah pada suaminya. Seharusnya ia bisa melupakan semuanya dan tidak membuat Deni khawatir seperti ini. Tapi, mimpi itu terus saja menyambanginya, meski ia tahu itu hanyalah peristiwa di masa lalu mereka yang seharusnya sudah terkubur dalam ingatannya. Karena Deni disini sekarang, bersamanya, memeluknya.
"Poppy…" desah Deni di atas pucuk kepala istrinya. Melonggarkan pelukannya, Denni mengangkat dagu Poppy. Manik kelamnya menatap lembut wanita yang sudah seringkali disakitinya dahulu. Dengan ibu jarinya, Deni menyeka air mata yang kian mengalir deras dari emerald istrinya. "Ada apa?" tanyanya lembut.
Poppy memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut suaminya. Dengan perlakukan Deni yang seperti ini, kembali rasa bersalah menggerogoti dirinya. "Maafkan aku…" gumamnya pelan, namun cukup keras didengar oleh Deni.
Deni masih diam, membiarkan Poppy menjelaskannya sendiri.
Poppy menatap tepat di bola kelam Deni, kedua tangannya mengepal di dada bidang suaminya. "Aku memimpikan hari itu, Den." Poppy menggigit bibirnya, tidak menyadari setitik liquid merah keluar dari bekas gigitannya. "Waktu kau mencoba untuk membunuhku," lanjutnya dengan suara sangat pelan di kata terakhirnya.
Sejenak, tubuh Deni menegang. Dan secara tidak sadar, kata itu kembali terucap dari mulutnya. "Maaf," ujarnya rendah namun tulus.
Poppy menggeleng, menyandarkan kepalanya di dada Deni. Seharusnya ia tidak menceritakan ini pada Deni, karena ia tahu hal itu bisa melukai suaminya. "Maafkan aku," ucapnya tersedak, "aku tidak bermaksud… a-aku sudah melupakan, tapi—"
"Aku mengerti," potong Deni.
Poppy semakin mencengkram erat baju Deni, air mata kian mengalir deras karena rasa bersalah. "Deni…"
Deni menghela nafas, lalu memperbaiki posisinya agar lebih nyaman. "Aku sangat mengerti Poppy," ujarnya serak. Ia mengelus pelan helaian Poppy yang sedikit basah karena keringat dan air mata. "Kita memang bisa memaafkan, tapi belum tentu melupakan," imbuhnya.
Deni memang sangat mengerti, karena dirinya pernah mengalami hal yang sama Poppy. Tetapi yang membuatnya merasa sangat bersalah adalah karena mimpi buruk Poppy itu karena dirinya.
Poppy mengangkat kepalanya, menatap wajah Deni dengan air mata yang membajiri pipinya.
Deni tersenyum sangat tipis, lalu kembali menyeka air mata istrinya. Pria itu memang tidak tahan melihat Poppy menangis, apalagi karena dirinya. "Aku memang sudah bisa memaafkan perbuatan Kakakku malam itu, tapi aku tidak pernah melupakannya," jelasnya dengan rasa sakit karena mengingat malam pembantaian keluarganya, oleh orang yang paling dipercaya dan dikaguminya.
Kembali, air mata Poppy meluap. Wanita itu tahu, suaminya memiliki masa lalu kelam, yang mungkin bagi orang lain tidak akan sanggup diterimanya. Tapi disini, Deni bisa kuat dan terus hidup dari masa lalu menyakitkan tersebut. Tidak ada apa-apa dibandingkan dengan dirinya.
"Karena itu…" Deni menggantung ucapannya.
Poppy menangkap tangan Deni yang tengah membelai lembut pipinya, lalu membawa jemari panjang itu ke bibirnya. "Aku mencintaimu." Poppy kemudian mengecup sekilas bibir tipis Deni.
Deni membalas kecupan Poppy, singkat namun penuh makna. "Karena itu, aku akan membuatmu melupakannya, Poppy," kata Deni memastikan. Karena ia tahu, bagaimana rasanya memiliki mimpi buruk yang selalu menghantui setiap malam.
Poppy tersenyum, senyum yang nyata. "Terima kasih, Den. Aku selalu percaya padamu," katanya agak sesenggukan.
Deni kembali membawa Poppy ke dalam rengkuhannya. "Terima kasih sudah percaya."
Karena bagi Deni, kepercayaan Poppy adalah segalanya. Dan Poppy, ia memercayai Deni dengan hidupnya.
.
.
.
FIN