Elena Feodora, gadis berusia delapan belas tahun yang bersifat periang. Ia adalah anak yatim piatu, orang tuanya sudah tiada sejak ia berusia sembilan tahun. Ia memang merupakan sosok gadis yang periang, namun ia tidak memiliki begitu banyak teman. Bukan tidak ada yang ingin berteman dengannya, tetapi dialah yang memilih-milih temannya. Mengapa?
Karena itulah pesan orang tuanya. Ia ingat betul, pesan orang tuanya.
'Nak... Kau harus berhati-hati dalam mencari teman... Suatu hari nanti, kau akan bertemu seorang perempuan yang akan mengkhianatimu... Jadi... Berhati-hatilah... '
Dulu, ia tak begitu mengerti maksud orang tuanya. Namun kini, ia telah mengerti.
Karenanya, ia benar-benar sangat memilah siapa yang bisa menjadi temannya.
Dan salah satunya, Wilona Anastasia... Teman dekatnya sejak ia berusia lima belas tahun.
*****
"Lona, yakin mau masuk ke rumah ini? " tanya Elena sembari menatap rumah mewah yang menjulang megah di hadapannya dan temannya.
Memang besar. Memang mewah. Namun rumah itu dikenal sebagai rumah kosong bekas pembantaian beberapa belas tahun yang lalu.
Wilona menoleh, menatap Elena. Senyum kecil nan mengejek terbit di wajahnya. "Kenapa? Takut? " tanyanya dengan nada mengejek.
Spontan Elena menggelengkan kepalanya. Ia bukannya takut, ia hanya ragu. Bagaimanapun juga, rumah yang akan mereka masukin untuk uji nyali itu sudah kosong dan tidak terawat selama belas tahun lamanya. Dan sekarang mereka akan memasukinya, hanya berdua? Yang benar saja! Ia hanya takut terjadi sesuatu!
Bagaimana jika rumah itu telah menjadi sarang pembunuh? Bagaimana jika di dalam rumah itu ada hewan-berbisa? Seperti, ular? Kalajengking? Hiii!
Namun perkataan Wilona memecah pemikirannya yang mulai melantur ke mana-mana. "Hey, gak perlu takut! Kan ada aku! " ujar Wilona seraya menepuk dadanya dan tersenyum lebar.
Elena yang melihat senyuman temannya pun menghela napas, lantas tersenyum manis. Ya. Ia tidak perlu takut. Lagipula, mereka berdua. Ia, dan teman dekatnya. Kalau ada apa-apa, tinggal teriak saja. Karena di sebelah kanan-kiri rumah itu masih ada rumah-rumah lainnya. Maklum, rumah kosong ini berada di sebuah komplek perumahan.
Dengan langkah lebar, kedua gadis muda itu berjalan memasuki gerbang rumah mewah bercat putih gading itu.
Baru memasuki halamannya, tubuh Elena sudah merinding. Elena menatap halaman luas itu seraya bergidik. Beberapa pepohonan dan semakin belukar tumbuh liar, rerumputan yang tumbuh tinggi tak terpangkas, dan berbagai sampah yang berserakan. Benar-benar... Ugh... Elena tidak bisa berkata-kata lagi...
"Ayo! " Wilona menarik tangan Elena. Keduanya pun berjalan memasuki rumah itu.
Kriettt
Pintu utama rumah itu berderit saat didoronh membuka, karena engselnya yang sudah karatan.
Wilona dan Elena terus melangkah. Gandengan mereka terlepas, dan mereka beredar mengelilingi ruang depan rumah itu yang tampak sangat luas.
Aneh...
Satu kata itu melintas di pikiran Elena.
Rumah itu sudah belasan tahun kosong. Namun mengapa... Ruangan yang ia lihat itu, tampak bersih? Tidak ada debu yang menempel, hanya ada berbagai perabotan udang yang tertata di ruangan tersebut. Seolah rumah ini ada penghuninya... Ugh, penghuni manusia, maksudnya... Bukan, 'penghuni'.
Elena terlalu asyik menatap sekelilingnya, hingga tanpa sadar, ia tinggal sendiri di ruangan itu.
Saat tersadar, ia menoleh ke sekeliling. "Na? Lona?? "
Ia berjalan seraya menyerukan nama temannya. Ke mana kiranya temannya yang satu itu?? Apa dia berjalan melihat-lihat ruangan lain?
Elena terus berjalan mencari keberadaan temannya. Kini ia berada di lantai tiga rumah tersebut. Ia terus berjalan hingga memasuki sebuah ruangan. Ruangan itu tampak rapi, walaupun berdebu.
Sepertinya ini kamar...
"Wilona...? " katanya dengan nada hati-hati.
Brakkk!!
Elena tersentak kaget. Ia menoleh ke belakangnya. Pintu kamar itu telah tertutup. Ia berjalan ke arah pintu itu dan berusaha membukanya. Nihil, pintu itu seolah terkunci dari luar.
Apa-apaan ini?!
Awalnya ia mengira mungkin pintu itu tertutup sendiri karena tak sengaja ia senggol. Atau mungkin tertiup angin? Tapi tunggu. Jendela di ruangan itu tertutup rapat. Bagaimana mungkin angin bisa masuk? Ia juga berada sekita satu setengah meter jauhnya dari pintu itu, jadi tak mungkin ia menyenggolnya, kan?
Srettt
Ctashh!
Elena tersentak. Tepat saat ia bergeser ke kiri, sebuah pisau melesat di samping kanan kepalanya dan menancap di dinding di hadapannya.
Elena meneguk salivanya. Apa rumah ini telah dijadikan sarang pembunuh?!
"Wah.. ~ Meleset~ "
Elena menoleh ke belakang dengan waspada saat suara itu terdengar.
"Hahaha, baiklah. Tidak masalah. " Di hadapan Elena, berdiri sesosok perempuan yang memakai hoodie hitam dengan tudung hoodienya menutupi wajahnya. Elena hanya bisa melihat mulut perempuan itu yang tampak tersenyum. Bukan senyum ramah, melainkan seringaian keji.
Namun... Mengapa ia merasa mengenali suara itu...?
Sosok itu berjalan ke arah Elena. Elena berjalan mundur, lantas bergerak ke kiri berusaha menghindari sosok itu.
Syukurlah. Sosok itu bergerak ke arah lain, bukan ke arah Elena. Sesaat, Elena menghela napas sedikit lega. Namun perasaan leganya itu sirna kala sosok itu berdiri memandangnya dengan tangan kanannya memegang sebilah pisau yang sosok itu cabut dari dinding. Pisau yang hampir melukai Elena tadi.
Sosok itu berjalan mendekati Elena. Elena terus berjalan mundur, jantungnya berdegup kencang. Perasaan takut menghinggapi hatinya. Ya Tuhan!! Apa yang harus ia lakukan??
Elena dapat melihat seringaian sosok itu, membuatnya semakin gemetar. Saat sosok itu tepat berada di hadapannya, dengan keberanian yang entah muncul dari mana, Elena membuka paksa tudung hoodie sosok itu.
Deg
Wajah sosok itu membuat Elena seolah mendapat serangan jantung.
Wajah sesosok gadis yang sangat ia kenali.
"Wilona... " Tanpa sadar, suara lirih itu berhasil lolos dari bibir mungil Elena.
Gadis itu, Wilona, tampak sedikit terkejut, benar-benar sedikit, lantas tertawa. "Hahaha! Ups! Identitas ku sudah terbongkar ya~? " Tawa khasnya. Tawa yang terdengar seperti psikopat. Dulu, Elena kira itu hanyalah tawa biasa yang entah mengapa terdengar menyeramkan, mungkin akibat kebanyakan menonton film horor.
Namun kini, anggapan itu sepenuhnya musnah dari pemikiran Elena.
"K-kau... —" Elena tercekat, ia tak tahu harus berkata apa.
Wilona menghentikan tawanya, lantas menatap Elena seraya tersenyum manis. Namun sepersekian detik kemudian, senyum itu berubah menjadi senyum iblis.
"Kau sungguh naif, Elena Feodora. " Wilona menyeringai seram.
Entah tali dari mana, tiba-tiba saja Wilona menarik paksa kedua tangan Elena ke depan dan mengikatnya.
"A-apa?! Apa-apaan?! " Elena berseru geram.
Wilona tak mengindahkan seruan geram Elena. Ia menyeret Elena dan membanting nya ke lantai di sudut kamar.
"Auchh!! " ringis Elena saat siku kirinya terbentur lantai.
"Haha, kau memang naif, Elena... Kau sungguh sangat naif. Atau, bodoh, ya? " Wilona berceloteh dengan tangan kanannya memutar-mutar pisau di tangan seperti memutar-mutar spinner.
"Kau tau~? Aku sudah lama menantikan saat di mana aku bisa membunuhmu~ Ah, tidak. Menyiksamu. Aku benar-benar sangat senang saat kau dengan naifnya, menerima ajakanku ke rumah ini~ " Wilona terus berceloteh, namun kali ini dengan menggoreskan pisaunya di pipi kiri Elena.
"Akh! " Elena meringis kesakitan. Air mata tampak menggenang di pelupuk matanya. Ia tak menyangka, teman dekatnya yang sudah bersamanya sejak ia berusia lima belas tahun, mengkhianatinya seperti ini.
Setengah jam berlalu, tubuh Elena sudah penuh sayatan pisau. Tak terlalu dalam, namun cukup menyakitkan dan membuatnya lemas.
Wilona tertawa puas. Melihat keadaan mangsanya, Wilona berpikir bahwa tak mungkin Elena melarikan diri. Sehingga ia melepas ikatan di tangan Elena dan ia melepas pengawasan dengan berbaring di ranjang dalam ruangan itu.
Melihat situasi, Elena pun mengumpulkan tenaganya. Ia melihat pintu kamar itu sedikit terbuka, tak lagi terkunci. Entahlah... Mungkin sudah dibuka...?
Dengan cepat, Elena bangkit berdiri dan berlari secepat mungkin ke arah pintu kamar.
Wilona yang menyadarinya, tentu saja berseru geram. "KAU—! "
Kejar-kejaran pun tak terelakkan lagi. Elena terus berlari dengan keadaannya yang terluka cukup parah, dikejar oleh Wilona yang bahkan tak memiliki luka sedikitpun.
"BERHETI! " seru Wilona marah.
"Gak! " Elena balas berseru.
Elena terus berlari dengan sesekali menoleh ke belakang, ke arah Wilona yang masih mengejarnya dengan murka. Entah apa yang membuat Wilona semurka itu, bahkan sampai ingin menghabisinya.
Tanpa sengaja, Elena tersandung kakinya sendiri tepat saat berada di mulut tangga. Tentu saja ia jatuh terguling ke bawah. Dari lantai tiga.
Setelah terguling-guling selama beberapa menit, kini tubuh Elena tergeletak lemah di lantai. Darah mengucur dari kepala, tubuhnya kini berlumuran darahnya sendiri.
Pandangannya memburam. Namun, ia masih bisa melihat Wilona yang berdiri di atas sana, di mulut tangga, lantai tiga, tempatnya tersandung tadi.
Dapat ia lihat seringaian puas bak iblis pada wajah temannya itu.
Wilona...
Satu nama itulah yang terakhir melintas di pikiran Elena, sebelum semuanya berubah menjadi gelap.
*****
"Bagaimana, Wil? " tanya sesosok pria bertubuh tinggi tegap.
Gadis yang dipanggil 'Wil' itu mengangguk. "Beres, " ujarnya tenang.
"Kau apakan tubuh anak itu? " tanya pria itu.
Gadis itu mengangkat kedua bahunya enteng. "Kutinggalkan. "
Pria itu berdecak pelan, lantas tersenyum bak iblis. "Kau ini... Memang iblis, ya? Teman dekatmu sendiri, yang sudah menemanimu selama tiga tahun, kau lenyapkan tanpa rasa bersalah? Wilona Anastasia... "
Gadis itu, Wilona, tersenyum misterius. "Aku tidak membunuhnya, Tuan Alfred. Dia sendiri yang tersandung. "
Pria itu, Alfred, tertawa bak iblis. "Inilah anak didik ku, " katanya dengan suara baritonnya.
Kedua orang itu tertawa puas. Hingga...
"Beraninya, kalian... "
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
—TAMAT—