Sejak kelulusan SD, teman teman yang akrab denganku, sekarang mereka mulai menjauhiku. Dulunya mereka memang orang yang asik namun sekarang mereka bersifat cuek dan asing kepadaku. Ya, Sekarang Mereka memiliki teman teman baru yang lebih asik dariku. Walaupun menyakitkan tapi tidak masalah, aku masih mempunyai sahabat dan teman baikku.
Alisa, dia adalah sahabatku. Baik, ramah, rendah hati, itu adalah sifatnya. Alisa orang yang selalu ceria meskipun dia sedang terluka. Terkadang dia menutupi semua luka itu dariku, namun raut wajahnya tidak bisa membohongiku.
Teman baikku, dia orang yang asik dan sangat spesial di mataku aku. Walau aku tidak tau apakah aku spesial di matanya atau tidak? Tak ingin ku sebut namanya dalam sebuah cerita.
Sekarang, aku hanya mempunyai sahabat dan teman baikku. Hanya merekalah tempatku bercerita. Merekalah yang membuatku tertawa ketika aku sedang terluka. Mereka yang menolongku disaat aku sedang butuh bantuan.
Alisa dan teman baikku mereka melanjutkan sekolah yang sama. Namun sayangnya, aku tidak satu sekolah dengan mereka. Mungkin bagi Aku dan alisa itu tidak masalah karena rumah kami yang masih berdekatan, walau suasana sekolah tidak sama lagi.
Meskipun Aku dan Alisa tidak bisa melanjutkan ke sekolah yang sama, namun kami sering mengerjakan tugas bersama, bercerita dan mengobrol santai tanpa pokok pembicaraan tertentu di teras rumahnya hingga larut malam.
Jika alisa sedang sibuk, aku menghabiskan malam dengan teman baikku. Waktu malam itu terasa begitu singkat. Rasanya sudah lama aku tidak bertemu dengan teman baikku, karena rumahnya yang jauh dari rumahku, dan aku juga tidak satu sekolah dengannya.
Malam malam ku selalu dipenuhi dengan canda dan tawa. Tidur dengan perasaan bahagia. Hari hariku yang berwarna yang membuatku selalu ceria.
Namun... Karena sekolahku yang jauh dari rumah, terpaksa aku harus pindah rumah yang lebih dekat dengan sekolah.
Hari hariku masih sama seperti yang telah lalu. Kami masih sering mengobrol, mengerjakan tugas dan hal hal lain bersama, walau hanya melalui ponsel. Rasanya aku ingin seperti dulu, bisa langsung bertemu dengannya. Namun, aku hanya bisa menerima ini.
Sesibuk apapun, berusaha meluangkan waktu untuk mereka walau hanya cuma bertanya kabar. Namun terkadang, mereka jarang meluangkan waktu buatku ketika mereka sibuk. Karena itu, aku harus menunggu hingga mereka ada waktu luang.
Suatu ketika, aku bercerita kepada alisa. Namun, tak seperti biasanya. Dia membalas pesanku dengan respon yang lambat, singkat dan memberikan alasan yang tak masuk akal.
keluargaku mengajakku jalan jalan keluar kota. Aku yang merasa tidak mood lebih memilih untuk tinggal di rumah sendiri. Di sisi lain aku juga masih bersekolah dan masih banyak tugas yang belum aku selesaikan.
Aku dan Alisa yang akhir akhir sudah jarang mengobrol bersama. Sifat alisa yang biasanya peduli kini, ia menjadi cuek denganku. Aku yang merasa bosan pun mengirimkan pesan teman baikku bermaksud ingin mengobrol. Namun pesanku tak kunjung dibalas.
Perlahan aku menyadari mereka yang mulai menjauhiku entah karena bosan atau risih denganku. Kini, Pesan pesanku hanya dilihat tanpa di balas. Cerita cerita ku hanya dibalas singkat. Telfon ku yang kini tidak pernah diangkat. Sejak saat itu aku tak pernah saling mengobrol dengan mereka.
malam hari aku selalu diingatkan dengan mereka yang biasanya menemani malam ku. Waktu malam ku terasa begitu singkat ketika bersama mereka. Dulu, tidur larut malam ku karena mengobrol, bercerita, bercanda dan tertawa bersama mereka. Namun sekarang, tidur larut malam ini sudah tidak berarti. Yang dulu, hari hariku penuh dengan kesenangan. Sekarang, kesepian yang aku rasakan walau itu tempat ramai.
Semalaman aku tidak bisa tidur. Mataku mengantuk namun pikiranku tidak ingin beristirahat. Pagi ini aku merasa sedikit pusing. Namun aku paksakan untuk membersihkan kamar, rumah dan mengerjakan tugas, agar aku merasa lelah dan mudah untuk tertidur.
Tapi, Lagi lagi malam ini aku masih tidak bisa tidur. Walau lelah sekalipun aku tetap susah untuk tidur. Sudah dua malam ini aku tidak bisa tidur. Pagi ini aku hanya bisa terbaring lemas di kasur. sesak nafasku kambuh, kepalaku terasa sangat pusing. Entah karena kurang istirahat atau terlalu banyak pikiran.
Aku kehilangan nafsu makan. Membuat keadaanku semakin memburuk. Aku berusaha untuk menenangkan diriku. Tapi sangat sulit. Sudah berminggu-minggu keadaanku terus seperti ini. Aku lelah dengan pikiran ini.
Aku melihat diriku ke cermin, wajah yang pucat, mata yang sembab, mata panda yang semakin menghitam mengelilingi mata. Tak pernah ku sadari pikiran ini aku hanya menyakiti diriku sendiri. Mataku tertuju pada kalender dalam kamarku, dan baru aku sadari kalau bulan depan adalah bulan yang sama spesial bagiku
Pikiranku ini adalah benang kusut yang harus ku luruskan. Memang tak mudah namun aku berusaha. Mulai hari ini aku ingin merubah diriku. Aku harus ceria di bulan yang spesial itu. Walau, aku sudah tidak bersama mereka. Tapi, Aku masih berharap mereka kembali seperti dulu.
Aku mulai mengatur waktu tidurku, walaupun aku masih susah untuk tidur, namun aku paksakan diriku untuk tidur. Dan mengatur waktu lainnya. Namun, Aku masih tidak nafsu untuk makan.
Hari demi hari aku lalui, keadaanku mulai membaik. Entah kenapa hari ini aku terbangun ditengah malam, dan tidak bisa tertidur kembali. Baru saja keadaanku membaik, aku kembali teringat momen dengan mereka. Momen momen itu terus terbayang bayang dalam pikiranku. Tak tau apa yang harus aku lakukan, aku hanya bisa menerima kenyataan ini. Aku tidak bisa memaksa mereka untuk menemaniku. Walau sebenarnya aku ingin mengobrol dan menghabiskan waktu seperti dulu, namun aku merasa mereka risih dengan kehadiranku. Aku memilih untuk tidak mengganggu kehidupan mereka lagi.
Pagi ini keadaanku kembali memburuk. Aku putuskan untuk pergi berobat ke rumah sakit. kepalaku sangat pusing dan sesak nafasku kambuh kembali. Belum aku sampai di rumah sakit, aku sudah tak sadarkan diri.
Saat aku terbangun, aku melihat kondisi tanganku yang sudah di infus dan bernafas dengan bantuan tabung oksigen. Sakit ku kali jauh lebih parah dari sebelumnya. aku termenung meneteskan air mata, entah rasa sakit mana yang aku rasakan saat ini. Pikiran yang kacau dan kondisi fisik ku sekarang yang terbaring lemas.
Setidaknya aku sudah berusaha untuk merubah diriku, walau kenyataanya aku tidak bisa. Ingin rasanya aku memberi tau kabarku saat ini, namun apakah mereka masih peduli? Rasanya tidak. Walau di sini aku masih berharap mereka kembali menemaniku disini, walau aku rasa itu tidak mungkin terjadi.