Ada seorang wanita desa berusia 60 tahun yang datang meminta tolong agar aku membantunya bercerai. Aku tak pernah menduga bahwa hanya karena perkataan orang tuanya bahwa dia tidak boleh bercerai setelah punya anak, dia telah menjadi korban kekerasan dari suaminya selama 39 tahun. Wanita itu mencoba untuk membunuh diri sebanyak tiga kali, yaitu dengan memotong nadi, gantung diri, dan loncat ke kloset.
1
Namanya Melia Tanaka. Setelah melaporkan suaminya karena kekerasan, suaminya tidak mengakui sehingga polisi setempat pun memberikan nomorku padanya.
"Kapan hal ini terjadi?"
"Sudah sebulan yang lalu."
Mencari bantuan setelah mengalami kekerasan sebulan kemudian tidaklah biasa. "Apakah kamu baru melaporkannya sekarang?"
"Tidak, aku sudah melaporkannya pada hari itu juga. Ketika polisi memberikan nomor teleponmu kepadaku, itu adalah waktu makan, jadi aku melupakan masalah ini. Hari ini, suamiku mengancam akan membunuhku, barulah aku teringat untuk mencarimu."
"Terima kasih banyak atas kepercayaanmu kepada kami! Bisakah kamu menjelaskan tentang apa yang terjadi secara spesifik?" Dia tertegun sejenak, lalu berbicara dengan mata yang memicing sembari menunduk, seolah-olah sedang mengumpulkan kata-kata. Ketika menoleh padaku, dia hanya mengatakan satu kalimat, "Tolong bantu aku bercerai!"
Wanita yang menjadi korban kekerasan sering menggunakan kata "perceraian" sebagai semacam ungkapan, lebih dari 70% istri yang menjadi korban akan dengan tegas mengatakan bahwa mereka ingin bercerai. Namun, kenyataannya hal itu hanya merupakan ekspresi emosi. Mereka ingin menyampaikan kepada orang lain betapa marahnya mereka. Maka dari itu, aku perlu memastikan apakah keinginan untuk bercerai itu nyata atau tidak.
Mungkin karena sudah sering mengalami kekerasan, ketika berbicara tentang perceraian, selain keputusan yang mantap dan tegas, aku tidak melihat hal lain. Ini mungkin adalah keputusannya setelah dipikirkan dengan matang.
2
Dia lahir pada tahun 1959 dan adalah anak tertua di keluarganya. Melia memiliki dua adik perempuan dan satu adik laki-laki. Lantaran keluarganya sangat miskin, hanya adiknya yang bisa bersekolah. Ketika dia berusia 19 tahun, kerabat yang menjadi pejabat desa datang untuk mengenalkan calon suami kepadanya, yang sekarang adalah suaminya, Jimmy Zayn. Jimmy lebih tua dua tahun darinya dan berasal dari desa di sebelah kantor pemerintahan desa. Dia adalah seorang tentara dan memiliki seorang adik perempuan serta laki-laki. Pada masa itu, status sosial seorang tentara sangat tinggi sehingga orang tua Melia sangat senang.
Aku bertanya, "Saat itu, apa yang kamu pikirkan?"
"Orang tuaku setuju, jadi aku tidak punya masalah. Hanya saja, keluarga kami terlalu miskin, aku khawatir dia akan merendahkanku."
Setelah Jimmy pergi, kerabat kembali memberikan tanggapan bahwa dia puas dengan tinggi badan dan penampilan Melia. Setelah Jimmy setuju, orang tua dari kedua belah pihak pun mulai menyiapkan pernikahan. Pada bulan pertama tahun berikutnya, mereka mengadakan upacara pernikahan yang sederhana. Pada saat itu, kondisi ekonomi sangat sulit. Melia tidak memiliki apa-apa sebagai mas kawin. Keluarga Jimmy juga tidak memberikan mahar.
Setelah menyelesaikan pernikahan, begitu cuti dari suami Melia habis, dia pun kembali ke unit militer. Melia tinggal bersama mertua serta kedua adik iparnya. Mereka makan dan bekerja bersama. Karena kemiskinan yang dialami, Melia mulai merencanakan bagaimana cara membantu keluarga suaminya untuk mencari uang. Dia menemukan bahwa rumahnya sangat dekat dengan jalan sehingga dia bisa melakukan beberapa bisnis kecil. Ketika Melia mendiskusikannya dengan keluarga, mertuanya langsung menentang, "Kami adalah petani dan hanya bisa bertani. Jangan berpikir terlalu jauh."
3
Pada waktu itu, semua hasil panen di keluarga mereka menjadi milik mertua. Dia ingin memiliki sedikit uang untuk dirinya sendiri. Melia ingin mandiri secara finansial. Setengah tahun kemudian, dia mengusulkan untuk pisah harta.
Pada saat itu, mertua menunjukkan sikap yang kesal terhadap Melia.
Namun, Melia tetap berpegang teguh pada pendiriannya sehingga mertuanya tidak memaksa lagi.
Akhirnya, harta mereka pun terpisah. Melia sangat bahagia, tetapi dia tidak pernah menduga bahwa pemisahan ini menjadi ancaman kekerasan dalam rumah tangga selama puluhan tahun.
Hubungannya dengan mertua dan adik ipar menjadi retak setelah mereka berpisah. Setelah pisah harta, dia memulai kehidupan bekerja keras untuk mencari uang. Dia menggarap tanah seluas 15 hektare yang tidak ditanami oleh orang-orang sendirian.
Pada panen musim panas tahun pertama setelah menikah, Melia berhasil memanen sawi sebanyak 60 kilogram. Beberapa hari kemudian, dia menemukan bahwa sawi yang dia simpan di kamar sudah habis. Dia bertanya kepada mertuanya apakah mereka melihat ada yang mengambilnya atau tidak. Mertuanya tidak menjawab. Melia mengira bahwa sawinya telah dicuri, jadi dia berdiri di depan pintu sambil mengumpat si pencuri.
Saat mereka pisah harta, bibit sawi yang didapatkan oleh Melia dan suaminya memang ditanam oleh ibu mertuanya. Namun, yang membuat Melia kesal adalah dia seharusnya mengatakan kepadanya dan tidak melakukannya dengan sembunyi-sembunyi, apalagi berpura-pura tidak tahu. Melia pun membantah beberapa kalimat. Alhasil, ibu mertuanya yang sudah lama tidak menyukainya sontak menamparnya beberapa kali.
Ini adalah kali pertama Melia dipukul setelah menikah. Dia masih belum bisa bereaksi. Ibu mertuanya dibawa pergi oleh ayah mertuanya. Sementara itu, dia hanya bisa pergi sendirian ke dalam kamar dan menangis.
4
"Apa kamu membencinya?" tanyaku.
"Tidak. Ketika masih kecil, ibuku pernah bercerita bahwa menantu perempuan harus nurut pada ibu mertua. Sebelum menikah, ibuku masih menasihatiku untuk memperlakukan ibu mertua seperti ibuku sendiri. Tapi, setelah kejadian ini, ada jarak antara aku dengannya."
Pada paruh tahun kedua, dia membeli sepeda dan berkeliling dari satu toko ke toko lainnya di sekitar desa untuk menjual barang-barang. Selama melakukan transaksi, dia harus berurusan dengan berbagai macam orang. Demi bisnisnya, meskipun ada beberapa pemuda yang menggoda Melia dengan kata-kata, dia hanya tersenyum menghadapinya. Lama kelamaan, desas-desus tersebut sampai kepada mertuanya dan adik ipar. Keluarga suaminya menganggapnya memiliki perilaku yang kurang patut dan merusak reputasi keluarga.
Adik iparnya mulai beraksi karena Melia yang tidak peduli. Entah dengan mengempeskan ban sepedanya atau dengan sengaja mengunci pintu saat malam hari untuk melarangnya masuk ke dalam rumah.