Setelah sekolah memberikan kuota rekomendasi masuk universitas kepada putri wakil kepala sekolah, aku menyerah sepenuhnya.
Kompetisi fisika? Tidak pergi. Pidato perwakilan? Tidak pergi. Ujian bersama tujuh sekolah? Aku hanya menyerahkan lembar jawaban kosong!
Dewan sekolah datang untuk inspeksi dan memanggilku. Aku harus menemuinya.
Aku langsung menghadapnya dan mengeluh. "Ayah, sekolah ini melakukan praktik yang tidak jujur."
1
Setelah hasil ujian bersama keluar, aku menempati peringkat pertama di kelasku dengan nilai 706.
Namun, alih-alih mendapat ucapan selamat, aku malah disambut dengan tatapan mengejek dari teman-teman sekelas.
Wali kelas menahan lembaran nilaiku. Dia memintaku pergi ke kantor bersama dengan putri wakil kepala sekolah, Clara Hermawan.
AC di kantor itu terasa hangat. Setelah kami duduk, Wali kelas langsung berkata, "Kuota rekomendasi sudah keluar."
Tatapannya tertuju pada kami berdua. Kemudian, dia mengulurkan tangannya pada Clara sambil tersenyum. "Selamat untukmu."
Aku tetap tanpa ekspresi. Sampai dia selesai, aku baru bertanya, "Lalu, bagaimana denganku? Prestasi Clara biasa-biasa saja. Dia merundung teman sekelas dan memanfaatkan kekuatannya untuk menindas yang lemah."
Clara berteriak dengan marah, "Elena, omong kosong apa yang kamu bicarakan? Apa pelajaran terakhir belum cukup bagimu?"
Pelajaran terakhir yang dia maksud adalah dia mengurungku di toilet, menaruh serangga dan tikus ke meja belajarku. Bahkan, mencuri buku-buku dan perlengkapan sekolahku. Kemudian, dia membuangnya ke tempat sampah.
Aku menunjuk wajahnya yang arogan. "Meski begitu, apakah kuota rekomendasi harus diberikan kepadanya?"
2
Wali kelas merasa agak canggung.
"Dengan prestasimu, kamu dapat dengan mudah memilih universitas dalam negeri mana pun. Tapi ...."
Aku menyela. "Bukankah pengumuman menyatakan kuota rekomendasi akan diprioritaskan untuk peraih nilai tertinggi dalam ujian bersama?"
Ketika baru masuk SMA, aku bertaruh dengan ayahku. Selama aku bisa masuk universitas dengan rekomendasi, aku tidak perlu belajar manajemen keuangan. Sebagai gantinya, aku bisa belajar musik.
Aku kembali menatap wali kelas. "Selama tiga tahun di sekolah, aku telah meraih penghargaan tingkat nasional sebanyak lima kali, tingkat kota sebanyak enam belas kali, dan penghargaan tingkat sekolah yang tak terhitung jumlahnya. Setiap kali ujian, aku selalu mendapat peringkat pertama di kelas. Bahkan dengan semua itu, apakah kuota rekomendasi harus diberikan kepadanya?"
Akhirnya, dia menjawab dengan tidak sabar. "Peraturan adalah sesuatu yang kaku, tetapi manusia itu fleksibel. Kuota sudah ditetapkan dan tidak bisa diubah. Lebih baik kamu tetap fokus untuk mendapatkan nilai ujian yang lebih tinggi. Toh, perbedaannya tidak begitu besar."
Ketika aku keluar dari kantor, Clara mengejarku dan memanggil. "Elena, ada orang yang terlahir dengan sendok emas. Ada juga orang yang terlahir dari keluarga biasa . Kalau mau menyalahkan, salahkan saja ayahmu yang tidak becus."
3
Setelah keluar dari kantor, aku mengeluarkan ponselku dan menelepon "ayah yang tidak becus".
Tidak diangkat.
Tidak lama kemudian, ayahku mengirimiku pesan WhatsApp. "Ayah baru saja tiba di Kedutaan Besar Negara Maglary. Putriku sayang, ada apa?"
Aku tersenyum tipis. "Tidak ada apa-apa."
Ayahku mentransfer satu juta kepadaku dengan catatan penyemangat. "Kamu sudah belajar dengan giat. Gunakan uang ini untuk membeli makanan dan memanjakan dirimu sendiri. Ayah akan pergi rapat sekarang. Saat pulang nanti, ayah akan membawakanmu oleh-oleh khas lokal negara ini."
Begitu masuk ke dalam kelas, aku mendengar tawa berlebihan dari Clara. "Ah, itu hanya kuota rekomendasi, bukan sesuatu yang hebat."
Setelah pelajaran berakhir, aku melewati wali kelas begitu saja seolah-olah aku tidak mendengar panggilannya.
Dia menahan lenganku. Sambil menjewer telingaku, dia berkata dengan kesal.
"Pekan depan ada kompetisi fisika di kota. Kamu akan mewakili sekolah kita untuk berpartisipasi. Bagaimanapun, ini adalah kompetisi tingkat kota. Jadi, ini menyangkut reputasi sekolah kita. Persiapkan dengan baik selama minggu ini. Kalau ada yang tidak kamu mengerti, bicarakan dengan guru fisika ...."
Aku meliriknya sekilas. Dengan wajah tanpa ekspresi, aku melepaskan lengannya. "Aku tidak akan pergi."
4
Wali kelas tertegun. Alisnya juga makin berkerut. "Dalam kompetisi kali ini, sekolah hanya punya satu kuota. Kalau kamu tidak pergi, siapa yang akan pergi?"
Aku bersandar di dinding dan menjawab. "Siapa pun yang ingin pergi boleh pergi."
Pada saat itu, Clara menghampiriku dengan angkuh. "Bu Guru, kalau dia tidak pergi, biar aku saja yang pergi. Pada ujian bersama sebelumnya, nilai fisikaku hanya kehilangan lima poin. Tapi, aku sering berlatih soal di rumah. Jadi, tidak akan ada masalah."
Wali kelas mengangguk. "Clara, kamu benar-benar pengertian. Ibu tidak salah menilai kamu."
Karena tidak perlu mengikuti kompetisi, aku memiliki waktu luang di akhir pekan. Jadi, aku pulang ke rumah yang sangat jarang terjadi.
Di ruang tamu, hanya ada kakak iparku yang sedang menjaga keponakanku. Ketika melihatku, dia bertanya dengan heran, "Elena, kamu tidak bersiap-siap untuk kompetisi?"
Aku menggelengkan kepala dan bertanya dengan bingung, "Kak, bagaimana kamu tahu ada kompetisi?"
"Aku diundang untuk mengawasi ruang ujian dalam kompetisi fisika tingkat kota besok." Kakak iparku menjelaskan. Kemudian, seakan dia teringat sesuatu dia berkata, "Karena kamu sudah pulang, ayo ikut denganku."
"Kamu tidak ingin mencoba soal fisika kali ini? Kabarnya ada dua tipe soal baru yang cukup sulit."
Minatku langsung tergugah
Selain musik, hobiku yang paling besar adalah memecahkan berbagai soal yang sulit. Perasaan memecahkan teka-teki selalu sangat memikatku.
Oleh karena itu, keesokan harinya, aku pergi ke tempat ujian bersama kakak iparku.
Setelah ujian dimulai, dia menempatkanku di sebuah ruangan agar aku bisa mengerjakan soal.
Saat ujian hampir berakhir, kakak ipar masuk ke ruangan dengan ekspresi kesal dan membanting kunci di atas meja.
Konsentrasiku terganggu, Jadi, aku mendongak untuk bertanya, "Ada apa?"
Kakak iparku merapikan rambutnya yang panjang dan berkata, "Bukan masalah besar. Hanya ada seorang gadis yang menyontek saat ujian."
5
Setelah keluar dari ruang ujian, aku langsung bertemu dengan Clara dan wali kelas.
Wali kelas sangat memperhatikan kompetisi fisika ini. Jadi, dia mendampinginya secara pribadi selama ujian. Ada juga beberapa pengikutnya yang menunggu bersama.
Mereka menatapku dengan tajam, menghampiriku, dan mengerumuniku.
"Elena, apa yang kamu lakukan di sini?"
Wali kelas menginterogasiku.
"Kamu tidak memanfaatkan kesempatan yang diberikan. Lalu, kenapa sekarang kamu mengikuti kami?"
Aku menjawab dengan santai. "Bukan urusan kalian."
Melihat hampir terjadi pertengkaran, wali kelas akhirnya angkat bicara.
"Baiklah, berhenti bicara tentang ini. Clara, menurutmu bagaimana hasil ujianmu?"
Ekspresi marah di wajah Clara langsung berubah menjadi sombong.
"Aku pikir tidak ada masalah. Soalnya sangat mudah sehingga aku bisa mengerjakannya dengan cepat. Seharusnya aku bisa memenangkan peringkat pertama."
6
Wali kelas terkejut dan menepuk pundak Clara dengan penuh semangat.
"Aku dengar kali ini ada tambahan jenis soal baru. Bahkan, aku, Elena, tidak berani menjamin bisa meraih peringkat pertama. Kamu sangat percaya diri, benar-benar membuat Bu Guru senang!"
Entah apa yang dia katakan kepada ayahnya yang merupakan wakil kepala sekolah di rumah.
Pada upacara bendera di minggu kedua, wakil kepala sekolah memegang mikrofon dan dengan penuh semangat memuji Clara.
"Clara, siswa Kelas 12-1, telah mencapai prestasi yang sangat baik dalam kompetisi fisika tingkat kota. Mari kita terlebih dahulu mengucapkan selamat kepadanya!"
"Selain itu, aku ingin mengkritik seorang siswa yang sombong dan merasa lebih hebat dari orang lain. Dia melibatkan emosi pribadinya di atas kepentingan sekolah, tanpa mempertimbangkan ...."
Belum selesai berbicara, sebuah mobil hitam tiba-tiba berhenti di luar gerbang sekolah. Kemudian, tiga pria yang mengenakan jas berjalan ke lapangan.
Wali kelas langsung mengenali mereka. Dia dengan penuh semangat memberi tahu wakil kepala sekolah.
"Mereka adalah tim pengawas dalam kompetisi fisika ini."
Ketika ayah Clara, Cakra, mendengarnya, dia langsung meletakkan mikrofon. Dengan senyum hangat, dia pun menghampiri mereka.
Aku bersandar di dinding. Samar-samar aku mendengar seseorang berkata, "Elena."
Naura melanjutkan, "Aku ingin bertanya kepada dia tentang metode penyelesaian untuk bagian terakhir dari soal fisika ini."
7
Naura dan aku berjongkok bersama di sudut luar ruang kelas. Dia mendengarkan penjelasanku tentang metode penyelesaian.
Tak peduli seberapa sering wali kelas memanggilnya untuk duduk di dalam kelas, dia menolak dengan ekspresi datar. "Tidak, terima kasih."