Adik iparku dimanjakan oleh keluarga. Ketika dia mengalami gagal ginjal, suamiku tidak ragu-ragu untuk memberikan ginjal putri kami pada adiknya.
Suamiku berkata, "Dia masih bisa hidup dengan satu ginjal."
Belakangan ini, putriku juga mengalami gagal ginjal. Namun, tidak ada yang bisa menyelamatkannya dan keluarganya bahkan tidak bersedia membayar biaya pengobatan.
Dia melompat dari gedung dan itu membuatku menjadi gila.
Sebaliknya, suamiku malah berselingkuh dengan sahabat adik iparku.
Ketika sedang menyantap makanan, aku mencampuri makanan mereka dengan 300 gram arsenik.
Ketika membuka mata lagi, aku kembali ke hari sebelum aku meminta putriku untuk mendonorkan ginjalnya.
1
Aku dicekik sampai mati oleh suamiku, Prince.
Kematiannya sangat mengerikan dengan kepala membentur dinding dan darah menodai wajahnya. Dia terlihat sangat mengerikan.
Aku tertawa sambil terbatuk-batuk. Darah menetes dari sudut mulutku.
"Kita semua pantas mati karena Hope sudah mati."
Rasanya sakit, tetapi aku senang karena akhirnya bisa menemani Hope.
Adik iparku, ibu mertua, dan selingkuhan suamiku sudah meninggal.
Satu nyawa ditukar dengan empat nyawa. Aku sama sekali tidak dirugikan.
2
Saat membuka mata lagi, aku sedang membersihkan diri di kamar mandi.
Melihat wajah-wajah yang asing, tetapi juga familier, aku pun bingung!
Pada tanggal 11 April 2023, yaitu hari esok, mereka akan menipu putriku untuk pergi ke rumah sakit dan menjalani pengangkatan ginjal.
Aku segera membeli tiket penerbangan kembali untuk dua jam kemudian. Itu adalah satu-satunya penerbangan hari ini dan aku tidak bisa melewatkannya.
Aku bahkan tidak sempat mengemasi tas. Aku langsung mengambil kartu identitas dan ponsel, lalu menaiki pesawat.
Aku diam-diam berdoa dalam hati, "Hope, tunggu Ibu."
Aku memejamkan mata dan mulai merumuskan rencana balas dendam di benakku.
Aku bukan hanya ingin menyelamatkan putriku, tetapi juga tidak akna melepaskan orang-orang itu.
3
Saat pesawat mendarat, aku pun merasa sedikit lega.
Ini adalah hari Senin dan Hope masih di sekolah.
Aku langsung naik taksi ke sekolah. Aku harus menjemput putriku lebih awal dan menempatinya di lokasi yang aman.
"Halo, ibu dari Hope Winter. Barusan, aku tidak bisa menjawab telepon karena masih kelas. Suamimu telah mengajukan izin untuknya kemarin."
"Jadi, Hope tidak masuk sekolah hari ini!" Aku terperanjat. Situasinya sangat gawat. Aku tidak menyangka bahwa mereka bertindak secepat itu.
Setelah menutup telepon, aku bergegas menelepon sahabatku.
"Helen, situasinya mendesak. Bisakah kamu memeriksa daftar masuk rumah sakit di Rumah Sakit Bolle? Tolong periksa nomor kamar pasien dari Hope Winter dan Rosa Winter?"
Rumah Sakit Bolle adalah rumah sakit tempat mereka menjalani penggantian ginjal di kehidupan sebelumnya.
Rosa Winter adalah adik iparku. Dia adalah orang yang paling aku benci.
"Oke, jangan panik. Tunggu aku setengah jam lagi." Sahabatku tidak menanyakan apa pun. Dia memahamiku.
4
Ketika keluar dari mobil, kakiku terasa lemas.
Ketika aku membuka pintu, tidak ada seorang pun di dalam rumah.
Hope pasti sudah dibawa oleh mereka ke rumah sakit.
Kemudian, aku pergi ke kamar tidur dan mengambil semua dokumen, kartu bank, perhiasan, serta emas yang sudah diberikan kepada ibu mertua dan adik ipar.
Aku langsung pergi.
Mereka tidak pantas mendapatkannya. Aku membelinya dan aku berhak mengambilnya kembali.
Saat aku masuk ke dalam mobil, sahabatku menelepon, "Henny, mereka ada di kamar 413 di Rumah Sakit Bolle. Aku sedang jalan ke sana. Kamu jangan panik."
"Aku sudah menyuruh temanku untuk memeriksanya. Hope sudah aman sekarang." Aku mengiakan dengan lembut, lalu menarik napas dalam-dalam dan menyalakan mobil.
"Terima kasih, Helen! Aku akan tiba di sana dalam waktu setengah jam lagi."
5
Ketika aku tiba di rumah sakit, sahabatku sedang menungguku di depan pintu.
"Hope, ini adalah iPad baru yang Ayah belikan untukmu. Ayah sudah mengunduh lebih dari 50 game dan akan memberikannya padamu setelah kamu selesai operasi besok."
"Ayah, apakah itu benar-benar tidak sakit? Apakah memberikan ginjal kepada bibi adalah anak yang baik?"
"Sama sekali tidak sakit. Beberapa hari lagi, Ayah akan mengajakmu makan hotpot, burger, ayam goreng ...."
Aku sangat murka. Begitulah cara dia menipu putrinya untuk memberikan ginjal kepada adiknya.
Aku menendang pintu kamar dan wajah Prince langsung menjadi suram.
Aku menampar wajahnya.
Plak! Seiring terdengarnya suara nyaring, ekspresi Prince langsung tampak kebingungan.
Aku berkata dengan dingin, "Siapa yang memberimu izin untuk mengambil ginjal Hope?"
Dia mengusap wajahnya. "Aku adalah ayahnya. Aku yang memberinya nyawa. Lagi pula, hanya satu ginjal. Kenapa tidak boleh?"
Aku teringat akan kehidupan masa lalu ketika dia melihat kesehatan putrinya memburuk dan bahkan tidak mau membayar tagihan medisnya. Prince menyalahkan Hope karena tidak menjaga kesehatannya sendiri.
Aku meminjam uang dari berbagai tempat untuk mencari bantuan medis dan tidak melewatkan kesempatan apa pun.
Sebaliknya, mereka membuat perhitungan di belakang Hope karena menjadi beban keluarga. Semua uang itu seharusnya digunakan untuk merawat Rosa.
Pada saat aku pulang dengan kondisi lelah, Hope telah melompat dari lantai 28 dan jatuh dengan kondisi yang mengenaskan.
Aku memegang abunya, melihat surat yang dia tinggalkan untukku dan menangis selama tiga hari penuh.
Isi surat Hope, "Ibu, aku mencintaimu! Aku tidak ingin ibu berlutut dan mengemis untuk mendapatkan uang. Aku menyesal telah memberikan ginjalku pada bibi. Ayah bukan orang yang baik. Dia tidak mencintaimu dan tidak mencintaiku. Tinggalkan ayah sekarang juga! Aku harap ibu bahagia. Aku tidak ingin menjadi anak perempuan ayah lagi."
6
Aku menendang bagian bawah tubuhnya dan mencengkeram rambutnya dengan sadis dan meninjunya.
"Ah, sakit sekali, tolong dokter ...."
"Aku akan melapor polisi, kamu masuk penjara saja!“ Masuk penjara?
Hope baru berusia 13 tahun. Dia sama sekali tidak bisa mendonorkan ginjal. Mereka membuat dokumen palsu dengan bantuan teman agar bisa mengambil ginjalnya.
Tunggu saja, setelah polisi datang, lihat siapa yang akan masuk penjara.
Di kehidupan sebelumnya, segala energiku hanya untuk uang dan Hope. Sekarang, putriku dalam keadaan baik-baik saja sehingga aku hanya perlu menghabisi mereka saja.
Aku menendangnya dengan keras
lagi di bagian bawah. Dia tidak layak menjadi seorang ayah, jadi dia harus dihancurkan.
Aku berkata dengan dingin, "Dia tidak punya ayah. Ayahnya sudah meninggal. Orang-orang dari Keluarga Winter harus mati."
Ketika hendak menendangnya lagi, terdengarlah suara marah dari luar pintu.
"Henny Liam, apa yang kamu lakukan?"
Ibu mertuaku datang bersama putrinya.
Bagus sekali mereka datang sendiri, jadi aku tidak perlu pergi mencari mereka.
Aku berbalik dan tersenyum menyeringai pada mereka.
"Apa kalian tidak melihatnya? Akusedang menghajar sampah manusia ini."
7
Raut wajah ibu mertuaku seketika menjadi suram. Dia mendekatiku dengan langkah besar dan mengangkat tangan untuk menamparku.
Aku menendang tubuh Prince dengan keras. "Pukul saja, asalkan kamu berani, aku akan menghancurkan kemaluannya."
Ibu mertua ketakutan. Dia mundur perlahan dan berdiri di samping adik iparku.
"Aku adalah orang tua. Apa kamu berani memukulku? Kamu akan mendapatkan balasannya."
Balasan?
Aku menendanginya lagi, "Bicara dengan baik, kalau tidak aku akan memukulnya sampai mati."
Benar saja, orang yang lemah takut pada yang kuat. Orang yang kuat takut pada yang tak kenal takut.
Adik iparku tersenyum. "Kak Henny, jangan marah. Mari duduk dan bicarakan dengan baik. Kita adalah keluarga, kenapa harus sampai segitunya?"
Aku menoleh kepadanya dengan dingin. "Tidak ada yang perlu dibahas. Aku tidak akan memberikan ginjal Hope kepada kalian."
Senyuman di sudut bibir adik iparku seketika hilang.
Ibu mertua tersenyum, lalu memandang ke arah Hope. "Kamu jangan ikut campur. Kita sudah sepakat untuk mengambil ginjalnya besok."
Wajah adik ipar makin suram, tetapi dia berusaha tersenyum dengan susah payah.
"Kak Henny, jangan menendang Kak Prince lagi. Semua ini salahku. Kenapa aku yang terkena penyakit ini?"