Setelah ditolak oleh pria idaman, aku menangis dengan sedih.
Mungkin karena aku menangis terlalu keras, pria idamanku tiba-tiba
berkata, "Jangan menangis. Aku akan memperkenalkan adikku sebagai gantinya."
Aku terkejut.
Bisakah ganti rugi diterapkan dalam hal semacam ini?
1
Awalnya, aku mengira bahwa pria idamanku hanya bercanda. Namun, begitu aku sampai di asrama, dia langsung mengirimkanku ID WeChat adiknya.
Aku membuka profilnya dan memang benar, dia adalah adik kandung pria idamanku. Tampang mereka mirip sekali.
Aku sedang ragu apakah harus menambahkannya sebagai teman. Tiba-tiba, pria idamanku mengirim pesan lagi di WeChat.
"Aku sudah memberi tahu adikku. Besok, kebetulan sedang libur, jadi kalian bisa bertemu di restoran hotpot yang ada di pintu timur kampus."
"Hanya bertemu saja. Tidak ada maksud lain."
Sebelum aku sempat mengetik kalimat "Aku tidak ....", pesan dari pria idamanku sudah masuk lagi.
"Kalau kamu tidak menyukainya, kamu bisa memperlakukannya sebagai penggantiku. Lagi pula, kami sangat mirip."
"Kita sudah sepakat, ya. Pukul 11.00 besok, kalian akan bertemu di restoran hotpot di pintu timur kampus. Jangan lupa untuk datang."
Kenapa dia langsung membuat keputusan sendiri?
Aku sama sekali belum menyetujuinya!
2
Pukul 10.30, pria idamanku, Harry Karl mengirim pesan suara kepadaku.
"Raina, ada apa denganmu? Adikku sudah memesan makanan. Dia sedang menunggumu datang agar bisa mulai makan."
"Adikku sudah berdiri di depan restoran hotpot sejak pukul 06.30. Berdasarkan temperamennya yang buruk, kalau aku bilang kamu membatalkan janji, dia mungkin akan datang ke kampus kita dan memukulku."
"Raina, anggap saja Senior memohon padamu. Adikku adalah seorang kadet. Gerakan tubuhnya sangat lincah. Meskipun aku dua tahun lebih tua darinya, sejak kecil dia selalu mengejar dan memukulku," ujar Harry dengan suara yang terdengar tercekat. Jelas, dia sangat takut.
"Kalau kamu tidak menyukainya, katakanlah dengan jelas kepadanya." Mungkin karena takut bahwa citra yang dijelaskannya sebelumnya tentang adiknya membuatku merasa takut, Harry langsung menambahkan, "Dia tidak pernah memukul wanita."
"Baiklah ...." Setelah ragu-ragu sejenak, aku juga merasa bahwa menolak adiknya secara langsung merupakan pilihan yang baik.
3
Begitu sampai di restoran hotpot, aku menanyakan meja atas nama Harvey Karl.
Ketika membuka pintu, aku langsung terperangah.
Tujuh orang pria muda berpakaian seragam hijau militer bangkit secara bersamaan dan memberi penghormatan padaku.
"Halo, Kakak Ipar!"
Saat menoleh, aku langsung menabrak dada yang kokoh.
Aku meraba hidungku yang sakit karena terbentur, lalu mengangkat kepala dan langsung menghadap ke wajah tampan yang keren ini.
"Raina Smith?" Harvey memanggil namaku. Dia mengulurkan tangannya untuk menahan pintu. "Kamu mau ke mana?"
Aku pun diam-diam menghela napas. Harvey melihat itu, lalu dia menggerakkan sudut bibirnya dan bertanya sembari tersenyum, "Kamu tidak suka keramaian?"
Aku mengangguk.
Alhasil, Harvey mendongak dan menatap meja di belakangku. Dia berkata dengan nada dingin, "Apa kalian tuli? Pasanganku berkata dia tidak suka keramaian."
Bukankah ini baru pertemuan pertama?
Mengapa dia mengaku sebagai pasanganku?
"Mereka semua adalah saudaraku dan tidak berniat jahat. Tolong jangan terlalu dipikirkan." Harvey bisa melihat kegugupanku sehingga bersuara untuk menjelaskan.
"Jangan berdiri saja. Ayo, masuk dan makan hotpot." Melihat aku diam, Harvey pun menutup pintu ruang VIP dan memberiku isyarat untuk duduk.
Kini, hanya tinggal kita berdua. Ini adalah kesempatan yang tepat untuk menolaknya dengan jelas.
Aku menyukai kakaknya, tetapi selain tampangnya yang sedikit mirip dengan kakaknya, karakter dan gaya Harvey jauh berbeda dari Harry.
Aku mengambil napas panjang, lalu menaruh sumpitku dan melihat ke arah Harvey. Kemudian, aku berkata, "Aku menyukai kakakmu."
"Kakakku sudah bilang kepadaku bahwa dia tidak menyukaimu. Dia memintaku menjadi penggantinya. Jadi, kamu jangan terbebani. Anggap saja aku sebagai penggantinya." Ekspresi Harvey terlihat cuek.
4
Setelah pulang ke asrama dan belum sempat duduk terlalu lama ....
Teleponku pun berdering.
Itu adalah nomor yang tidak dikenal.
Setelah ragu sejenak, aku mengangkatnya.
"Turunlah, aku ada di bawah asrama kalian."
Itu suara Harvey.
"Aku benar-benar tidak butuh pengganti. Sebaiknya, kita jangan bertemu lagi." Lantaran tidak berbicara secara langsung, tekanan yang dia berikan padaku tidak terlalu kuat. Akhirnya, aku bisa mengungkapkan perasaanku dengan lebih jelas.
"Baiklah." Dia terdiam sejenak, lalu berkata, "Tolong terima dulu bunganya."
Sebelum aku bereaksi, dia sudah datang ke hadapanku dan menyerahkan pot kaktus ke tanganku.
"Ini adalah dua tiket bioskop. Ajaklah temanmu untuk menonton," ucap Harvey sambil mengeluarkan dua tiket yang agak kusut dari saku celananya, kemudian memberikannya padaku.
"Kalau kamu tidak bisa menemukan teman, aku bersedia menjadi pengganti." Harvey mencoba untuk menawarkan diri saat aku tidak meresponsnya.
"Bukan pengganti seperti itu yang kumaksud." Tampang keren Harvey mendadak memerah, "Maksudku, aku bisa menemani kamu menonton film."
Aku membawa pulang kaktus itu ke asrama, kemudian pergi ke bioskop bersamanya.
Setelah menonton film, Harvey mengantarkanku ke pintu gerbang kampus. Kemudian, dia tiba-tiba bertanya, "Apa yang kamu suka dari kakakku?"
Aku tertegun sejenak. "Aku merasa dia orang yang rapi dan lembut."
"Baiklah." Harvey pun melambaikan tangannya. "Masuklah."
5
Sebenarnya, aku tidak mengatakan yang sebenarnya di pintu gerbang kampus barusan.
Aku menyukai Harry karena selain tampan, dia juga memiliki karakter yang lembut dan bahkan pernah menyelamatkan hidupku.
Tiga tahun yang lalu, aku mengalami kecelakaan mobil.
Pada saat itu, tekanan darahku meningkat. Hal itu menyebabkan aku mengalami kebutaan sementara selama beberapa menit.
Aku dibawa ke rumah sakit oleh seorang anak laki-laki.
Ketika penglihatanku mulai pulih perlahan, aku hanya bisa melihat gambaran kasar.
Saat hendak pergi, aku mendengar seseorang bersuara.
"Harry, di mana dia?"
Ternyata, namanya adalah Harry!
Tiga tahun kemudian, ketika aku hampir lupa tentang kejadian masa lalu ini, aku kembali mendengar nama itu di di perpustakaan kampus.
Momen itu membangkitkan kenanganku akan musim panas waktu itu.
Waktu berlalu dalam sekejap dan sekarang sudah bulan Mei.
Sejak mengucapkan selamat tinggal pada Harry di hari itu ....
Dia pun menghilang dari duniaku.
"Oh ya, bukannya kamu mengatakan bahwa orang yang menyelamatkanmu itu adalah teman kuliahmu?" Ibuku teringat dengan sesuatu, lalu mendorong ayahku dan berkata, "Ini sudah tiga tahun. Kita harus membelikan sesuatu dan mengucapkan terima kasih kepada orang itu dengan baik."
Aku terdiam. Apakah aku bisa menolak permintaan mereka?
6
Ibuku memiliki karakter terburu-buru. Pada hari itu, dia membeli tiket kereta api untuk keluarga kami yang terdiri dari tiga orang.
Dia berkata hendak pergi ke kampusku untuk mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah menyelamatkanku itu.
Setelah mendengar itu, Harry tampak agak keberatan, lalu bertanya, "Bolehkah aku meminta adikku untuk menggantikanku bertemu dengan ayah dan ibumu?"
Keesokan harinya, Harvey mengenakan kemeja putih dan celana santai berwarna abu-abu.
"Harvey, terima kasih banyak karena telah menyelamatkan Raina. Di dalam ini, ada makanan khas Kota Nanda. Bawa pulanglah untuk dibagikan kepada keluargamu."
Ayahku berbicara seraya mendorong sebuah koper besar berukuran 28 inci ke arah Harvey.
"Terima kasih, Paman." Harvey menerimanya tanpa ragu.
Saat ibuku memasuki mobil, dia mulai melontarkan berbagai pertanyaan. Dimulai dari anggota keluarga, hingga jumlah kucing yang dipelihara Harvey.
Untungnya, Harvey sangat kooperatif dan menjawab dengan baik.
Ibuku merasa sangat puas. Dia menepuk pahanya dan bertanya, "Apakah kamu punya pacar?"
Harvey tidak mengatakan apa-apa. Dia diam-diam menatapku dan berkata, "Pernah ada."
"Sudah putus?" Antusias ibuku agak berkurang saat mendengar bahwa Harvey pernah punya pacar.
"Sudah hampir." Harvey tampak menghela napas.
9
Setelah meladeni orang tuaku, Harvey pun mengantarkanku kembali ke kampus terlebih dahulu.
Hotel yang ditinggali orang tuaku tidak jauh dari kampus.
Kami kembali ke kampus dengan berjalan kaki.
Aku teringat dengan perkataan Harvey sebelumnya di dalam mobil bahwa dia telah putus dengan pacarnya.
Jadi, apakah dia ingin menjadi pengganti pria idamanku hanya karena sakit hati sehingga menyerahkan dirinya begitu saja?
Harvey ingin mengajakku untuk menonton film.
Lantaran aku tidak menjawab, dia mengeluarkan dua tiket bioskop dari saku celananya. "Ini film perang. Aku juga terlibat di dalamnya."
Film ini cukup populer akhir-akhir ini. Ruang bioskop dipenuhi oleh penonton.
Film ini sangat terkenal. Hanya saja, setelah menonton sampai habis, aku tidak dapat menemukan Harvey.
Aku menoleh untuk menanyakan hal itu, tetapi malah melihatnya tertidur dengan kepala miring.
Dia masih terlihat keren ketika sedang tidur.
Menjelang akhir film, Harvey akhirnya terbangun.
Kemudian, setelah menunggu selama dua menit, dia mencondongkan tubuhnya ke dekat telingaku dan berkata, "Lihat, aku yang memerankan orang yang baru jatuh itu."
Aku tidak bisa berkata-kata. Dalam film berdurasi dua setengah jam, Harvey hanya memperlihatkan separuh wajahnya.