Dulu, ia sering kemari. Bisa dikatakan masa kecilnya dipenuhi rasa penasaran akan pengetahuan yang tersimpan di antara lembaran-lembaran kertas tersebut. Buku tak pernah membuatnya bosan. Di kala pelariannya pun, ia sesekali menyempatkan diri membaca buku, untungnya di tempat Sandi dulu ada cukup banyak buku sehingga ia tak mati bosan.
Akan tetapi, Rizal saat ini berada di perpustakaan pusat desa bukan untuk mengenang masa lalu, atau sekedar mengagumi deretan buku yang tersedia di sana. Ia ke perpustakaan untuk mencari informasi yang sedang dibutuhkannya saat ini.
Dia pun melangkahkan kakinya ke deretan buku di mana kemungkinan informasi yang ia cari ada di antara buku-buku di sana. Dia sedikit bernapas lega ketika tidak mendapati seorang pun di rak buku yang ia tuju. Sepertinya, pilihannya benar untuk datang ke perpustakaan di pagi hari karena belum terlalu ramai dan sedikit orang yang berminat datang ke perpustakaan di pagi hari terkecuali memiliki urusan yang penting—seperti dirinya.
Langkahnya terhenti ketika membaca sederetan buku di rak tersebut. Iris kelamnya terhenti di sebuah buku yang cukup tebal bersampul hijau. Rizal segera menarik buku tersebut dan membaca kalimat yang tertera di sampul buku tersebut. Seringai yang cukup lebar terbentuk di wajahnya. Dia kembali menelusuri deretan buku di hadapannya. Setelah menemukan beberapa buku yang mungkin memuat informasi yang ia butuhkan, ia pun beranjak dari sana.
Senyum kepuasan terus menghiasi wajah Rizal sepeninggalnya dia dari perpustakaan. Tangannya membawa sekantong penuh buku. Di rumah nanti, ia akan langsung membaca buku-buku tersebut, mempelajarinya lalu menyimpulkannya—apakah kemungkinan besar dugaan dari yang ia terka benar.
Semoga sih benar. Pinta Rizal dalam hati.
.
.
.
.
Matahari mulai menyembunyikan dirinya ketika Novi keluar dari rumah sakit. Badannya pegal-pegal setelah seharian bekerja di rumah sakit. Hari ini ia kedatangan banyak pasien, beberapa di antaranya cukup parah hingga harus segera di operasi atau akibatnya akan fatal. Novi memijat bahunya pegal lalu beralih ke perutnya yang agak sakit sejak beberapa hari yang lalu. Dia mengeluh pelan lalu mengusap lembut perutnya berharap dengan itu sedikit meredakan sakit di perutnya.
Setelah itu, kedua kakinya melangkah pulang menuju rumahnya. Seperti biasa, Novi akan melewati sebuah taman yang tiap sorenya selalu ramai dengan beberapa ibu yang sedang mengawasi anak-anak mereka bermain. Senyum tersungging di bibirnya melihat anak-anak itu bermain dengan senang dan tertawa tanpa beban. Namun, senyum itu segera menghilang ketika Novi menyadari bahwa ibu-ibu di sana secara terang-terangan menunjuk dirinya.
Novi mengangkat alisnya kebingungan. Bertanya-tanya apa yang salah dengan dirinya atau para ibu tersebut sehingga menunjuk dirinya seperti itu. Novi beralih dari tatapan aneh ibu-ibu tersebut ke dirinya sendiri, menelusuri tubuhnya dan merasa bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya. Novi mengendikkan bahunya mencoba mengabaikan tatapan mencurigakan yang ia terima sepanjang jalan melewati taman itu. Ia sedikit bernapas lega setelah melewati taman tersebut, tapi pikirannya masih terbayang-bayang alasan tatapan aneh yang diterimanya.
"Oi, Jidat Lebar!"
Pikirannya segera teralihkan ketika melihat Sasa menyapanya dengan lambaian tangan kepadanya. Perempuan dengan rambut pirang itu berjalan ke arahnya seraya tersenyum lebar. Manik hijau Novi beralih ke tangan Sasa yang membawa kantong plastik.
"Kau baru berbelanja?"
Sasa mengangguk. "Riki hari ini pulang dari kerja. Aku akan memasakkan sesuatu untuknya."
"Oh. Apa itu salah satu alasanmu mengapa hari ini tidak ke rumah sakit?" tanya Novi sebal mengingat sibuknya ia hari ini mengingat banyaknya pasien yang harus ia rawat karena rekan kerjanya tidak masuk.
"Oh itu." Sasa tertawa gugup. "Sedikit karena itu, tapi sungguh bukan hanya karena kepulangan Riki Aku ada urusan lain juga makanya meminta cuti hari ini," jelas Sasa. Senyumnya kembali lagi dan sorot matanya berbinar-binar menelusuri tubuhnya. Novi mendelik tak nyaman melihat kelakuan aneh dan tak biasa Sasa.
"Apa—"
Sasa tiba-tiba memotongnya dan mengucapkan kalimat dengan menyesal. "Seandainya aku tahu lebih awal, aku tak akan cuti hari ini. Maaf, Nov. Kau pasti sangat lelah hari ini."
"Ya, aku memang merasa lelah, tapi … tahu apa?" tanya Novi kebingungan dengan kalimat Sasa sebelumnya.
"Ya kau! Kau itu—" Mendadak, Sasa menghentikan kalimatnya lalu membekap mulutnya sendiri dengan tangannya. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat lalu menatap Novi dengan sorot prihatin. "Oh astaga! Kau sendiri bahkan tidak tahu."
"Tahu apa?" Novi bertanya jengkel.
"Tidak, tidak. Aku bukan orang yang pantas untuk mengatakannya kepadamu," ucap Sasa putus asa.
"Katakan apa?"
"Sesuatu itu!"
"Apa?!"
"Kalau kau itu—" Sasa lagi-lagi menggelengkan kepalanya lalu dengan dorongan ringan menepuk bahunya. "Bagaimana kalau kau pulang sekarang, Nov? Rizal pasti menunggumu."
"Kau masih belum menceritakan sesuatu-entah-apa-itu kepadaku. Kau amat mencurigakan," ucap Novi dengan tajam.
"Kau akan tahu," balas Sasa menenangkan. "Aku sebaiknya pergi. Em, Iki akan membunuhku kalau aku terlambat," ucapnya dengan cekikikan geli yang samar. Ia melambaikan tangannya kepada Novi lalu pergi dari hadapannya tanpa menoleh lagi kepada Novi.
.
.
.
.
"Aku pulang," ucap Novi sesampainya di rumah. Dia melepas alas kakinya lalu beranjak memasuki rumah namun terkaget ketika mendapati Rizal berdiri tak jauh darinya. "Izal?"
Senyum tipis menghiasi wajah Rizal. Dia berjalan ke arahnya lalu menarik Novi lembut ke dalam pelukannya. "Kau pulang," bisiknya pelan lalu mengecup kepalanya. Setelah itu ia melepas pelukannya dan menatap Novi dengan sorot lembut. "Apakah kau lelah? Kau lapar? Ingin memakan sesuatu?" tanya Rizal.
"Em, tidak?" Novi menjawab ragu. Kemudian iris klorofilnya mengamati Rizal dan berpikir apa yang salah dengan suaminya itu. Tidak biasanya dia semanis dan seperhatian ini. Bukan berarti Novi tidak menyukainya, hanya saja perubahan yang terlalu mendadak ini sedikit mengganggunya.
"Bagaimana kalau mandi? Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Setelah itu kau bisa langsung makan," ucap Rizal.
Novi mengangguk setuju. "Ide bagus. Tubuhku lelah sekali dan bau," ucapnya seraya mengernyitkan hidungnya membaui tubuhnya yang seharian ini di rumah sakit.
Rizal tertawa lalu menepuk kepalanya, kemudian dengan pelan, tangan Rizal tiba-tiba mengitari bahunya dan mendorongnya seraya menuntunnya ke arah kamar mandi.
"Aku bisa jalan sendiri, Zal," ucap Novi seraya meliriknya sebal.
"Aku tahu."
"Kalau kau tahu, bisa kau lepas tanganmu dari bahuku dan biarkan aku jalan sendiri." Itu sebuah pernyataan, namun Rizal hanya meresponnya dengan kedikan bahunya lalu masih menuntunnya ke kamar mandi.
Novi menggelengkan kepalanya tak percaya. Oh, sungguh! Sebenarnya apa yang merasuki Rizal?! Ia tak lebih aneh dari Sasa dan dari ibu-ibu di taman tadi. Sebenarnya apa yang terjadi hari ini? Kenapa Novi merasa orang-orang tahu sesuatu yang dirinya sendiri pun tak tahu.
Sebuah dorongan kecil menyadarkannya dari lamunan. Dia sudah berada di dalam kamar mandi, tatapannya beralih ke Rizal yang berada di ambang pintu kamar mandi.
"Pakaianmu sudah kusiapkan. Setelah selesai, pergilah ke ruang makan, aku akan menghangatkan masakanku tadi."
"Kau memasak?" tanya Novo tak percaya.
Rizal mengangguk acuh tak acuh lalu menutup pintu kamar mandi di hadapannya meninggalkan Novi dengan keheningan yang ganjil. Novo menarik napas panjang dan menghembuskannya dalam-dalam.
Keanehan ini … Novi harus menemukan penyebabnya.
.
.
.
.
Setelah berganti pakaian dan menyisir rambutnya, Novi berniat beranjak dari kamar menuju meja makan, namun langkahnya terhenti ketika mendapati sesuatu di atas kasur. Tadi, saat masuk kamar ia tidak terlalu memperhatikannya. Beberapa buku tersebar di kasur, ada sekitar empat buku. Novi segera meraih keempat buku tersebut dan membaca judulnya; Hormon-Hormon Wanita, Gejala Awal Kehamilan, Emosi Ibu Hamil, dan Mengenali Sejak Dini Tanda-Tanda Kehamilan.
Novi terkesiap membaca keempat judul buku tersebut. Tatapannya berubah dari tak percaya menjadi sebuah kengerian. Ya, ngeri, karena ia mulai mengerti penyebab semua keanehan yang terjadi hari ini. Dengan hentakan keras, Novi membawa keempat buku tersebut lalu keluar dari kamar menuju meja makan di mana Rizal sedang duduk bersila seraya membaca sebuah gulungan dengan teramat serius.
Merasakan kehadirannya, Rizal mengangkat kepalanya lalu tersenyum kepadanya. Senyumnya menghilang ketika mendapati tatapan marah bercampur jengkel di wajah Novi. Tumpukan buku di genggamannya diletakkannya dengan suara cukup keras di sebelah gulungan yang baru Rizal baca.
"Tolong. Jelaskan. Ini."
Rizal mengangkat alisnya bingung. Dia meraih satu buku tersebut lalu tersenyum setelahnya. "Kau tahu, Nov. Aku seharian menyelesaikan semua buku itu dan—"
"Dan kau menyimpulkan aku hamil lalu menyebarkannya ke seantero desa!"
"Tidak, tidak, maksudku ya aku menyimpulkan kau hamil tapi aku belum mengatakan kepada siapapun," sanggah Rizal.
Novi mendengus tak percaya. "Sayang sekali."
"Apa?"
Novi menatap Rizal dengan sorot menyesal. "Aku tidak hamil."
Manik hitam Rizal terbelalak tak percaya. "Tidak mungkin."
"Ya, mungkin karena aku memang sedang tidak hamil. Oh ayolah Zal, aku seorang dokter, mana mungkin aku sendiri tidak tahu bahwa aku hamil?"
"Tapi beberapa hari kau sering muntah-muntah di pagi hari."
"Lambungku sedikit terinfeksi, dan salah makan juga kurasa. Jadi beberapa hari ini perutku sakit dan sering muntah," jelas Novi.
"Kau sering marah-marah."
"Perasaanku sedang buruk saja. Maaf untuk itu."
"Kau tidak mau ku sentuh."
"A-ap—" Novi kehilangan kata-katanya mendengar kalimat terakhir Rizal. Dia mendesah panjang. "Itu karena aku sedang lelah, pekerjaan di rumah sakit menyita waktuku."
"Zal?" Melihat Rizal yang diam saja membuat Novi khawatir padahal baru beberapa saat yang lalu Novi melihat Rizal dengan 'emosi' di wajahnya selain wajah datarnya.
Rizal mendesah pendek lalu mengalihkan tatapannya darinya. "Jadi, kau tidak hamil," ucap Rizal pelan.
"Ya," balas Novi tegas. "Tapi, Zal, aku bisa memaklumi kesalahpahaman mu tapi aku tidak menolerir kau menyebarkannya ke orang-orang—"
"Sudah kukatakan bukan aku," desisnya sebal.
"Lalu siapa? Mana mungkin mereka mengetahuinya tanpa mendengarnya dari orang lain?"
"Lalu kau berpikir aku berjalan-jalan di desa dan mengatakan kepada orang-orang istriku hamil? Lucu sekali," ucapnya sarkatis.
"Ya—tidak, maksudku." Aku tidak bisa membayangkan Rizal seperti itu juga. Gumam Novi dalam hati. "Jadi kalau bukan kau, siapa? Kau tahu, orang-orang tadi melihatku dengan tatapan aneh," ujarnya kesal.
Dia mengangkat bahunya tak tahu, kemudian tatapannya tertuju ke tumpukan buku di depannya. "Atau mungkin mereka melihatku meminjam buku tersebut di perpustakaan tadi pagi. Kurasa mereka menyimpulkan hal yang sama sepertiku."
"Oh, benar juga."
"Hn." Rizal berdiri lalu pergi ke dapur, tak berselang lama kembali lagi dengan nampan berisi makanan di atasnya. "Makanlah sebelum dingin," ucapnya setelah meletakkan sepiring nasi dan sup yang terlihat sangat menggiurkan di mata Novi.
Novi mengangguk lalu menyadari bahwa perutnya sangat lapar. Dia pun segera menyendokkan nasi tersebut ke dalam mulutnya beserta sesendok sup setelahnya. Tak butuh waktu lama untuk menghabiskannya.
Dalam diam, Rizal menyodorkan segelas air minum kepadanya yang segera diterima Novi lalu meneguknya hingga habis.
"Masakanmu enak sekali," ujar Novi senang.
"Hn." Rizal mengangguk seraya mengembalikkan atensinya ke gulungan tadi.
Novi menaikkan alisnya ketika mendapati Rizal kembali ke karakter aslinya—dingin, cuek, tak peduli dan … menyebalkan. Novi melirik sebal lalu berkata tanpa sadar. "Jadi, kau kecewa aku tidak hamil?"
Rizal mengangkat kepalanya. "Tidak," ucapnya datar lalu kembali ke gulungan tadi.
"Oh, jangan berbohong kepadaku, Zal. Terlihat sekali kau kecewa dan kesal!" ucapnya geram.
"Apakah kau hanya senang dan perhatian kepadaku apabila aku hamil? Kau menikahi ku hanya karena ingin meneruskan keturunanmu itu?!"
Kini, Rizal menaruh atensinya penuh kepadanya. "Tidak seperti itu, Nov."
"Kelihatan sekali seperti itu!" Novi berkata marah. "Kau bahkan tak pernah memelukku dengan senang saat aku kembali bekerja sebelum ini. Kau tak pernah memasakkan ku ataupun menyiapkan sesuatu yang lain untukku sebelum kau berpikir aku hamil. Aku berarti apa bagimu selain alat untuk meneruskan keturunan-mu itu?! Tidak, aku tidak memiliki arti pun."
"Kau bukan alat, Nov," ucap Rizal geram. "Jangan ungkit masalah ini lagi."
Novi mendengus. "Terlihat sekali kau ingin kabur dari percakapan ini. Baiklah aku mengerti!" Novi berdiri dari duduknya, membalikkan badannya berniat kembali ke kamar, namun terhenti ketika lengannya digenggam lalu ditarik. Tubuhnya terdorong dan punggungnya bersinggungan dengan sesuatu yang hangat—tubuh Rizal.
"Kau tidak mengerti apapun," bisik Rizal pelan. Rizal memutar tubuh Novi hingga kini mereka berhadapan. Tatapannya lurus menatap sepasang emerald di mata Novi yang berkaca-kaca—seakan menahan tangis. "Nov, aku tidak mungkin menikahi mu jika kau tidak berarti apa-apa bagiku."
"Lalu kenapa—"
"Aku hanya sedikit kecewa bahwa perkiraanku salah, tapi bukan berarti kau adalah alat dan aku hanya menginginkan anak darimu. Kau … lebih dari itu."
"Apakah kau mencintaiku?" tanya Novi tiba-tiba, ia sendiri tanpa sadar mengucapkannya, tapi sudah terlanjur, ia tidak mungkin menelan kembali perkataannya. Dengan gugup ia melihat Rizal yang terdiam mendengar pertanyaannya. Diamnya Rizal membuat hati Novi perih, apakah ini berarti bahwa Rizal tidak pernah mencintainya? Sekalipun? Bahkan setelah mereka menikah? Novi bertanya-tanya dalam hatinya, rasa perih makin menggerogotinya.
"Kau masih menanyakannya?" tanya Rizal balik.
"Kau bahkan tidak pernah mengatakannya, apakah aku salah ingin memastikan hal tersebut?" Novi berucap sedih. Dia mundur satu langkah ke belakang lalu menggelengkan kepalanya tak percaya. "Kau tidak pernah mencintaiku," gumamnya putus asa.
"Tidak—"
"Yang kau inginkan hanyalah anak dariku."
"Tidak, Novi."
"Kau membenciku."
"Tidak, sama sekali tidak." Rizal maju mendekatinya lalu menggenggam bahu Novi erat. "Dengarkan aku, jangan potong satupun kalimatku." Dia menarik napas panjang sebelum meneruskan, "Novi, aku pernah mengatakan kepadamu saat aku memintamu menikah denganku bahwa aku menginginkanmu, membutuhkanmu, tapi itu bukan karena yang kau pikirkan sekarang bahwa aku hanya menginginkan anak darimu. Tidak sama sekali! Tapi memikirkan bahwa kau hamil anakku, darah dagingku, aku merasa … senang. Hal itu menyadarkan ku bahwa kehidupan damaiku sekarang bukan hanya sekedar mimpi. Ada suatu bukti nyata bahwa kau benar-benar milikku. Anak kita—" Rizal meletakkan tangannya di perut Novi lalu tersenyum lembut padanya.
"—nanti, membuatku tahu bahwa aku tidak sedang hidup dalam mimpi lalu terbangun suatu hari tanpamu di sisiku. Dan—"
Novi merasakan elusan lembut di kepalanya. Sebuah tarikan lembut membuatnya terjatuh dalam dekapan Rizal. Tangan Rizal melingkari pinggangnya, mendekapnya erat.
"—aku mencintaimu. Sungguh mencintaimu."
Novi terkesiap lalu perasaan hangat melingkupi hatinya, dia tersenyum lalu balas memeluk Rizal. "Aku juga sangat mencintaimu. Maaf aku sudah meragukan mu."
Rizal menggeleng pelan. "Tidak, aku yang salah. Sikapku selama ini kepadamu tidak benar. Seharusnya aku lebih memperhatikanmu. Maafkan aku."
"Aku menyukai perhatianmu tapi aku lebih menyukai dirimu yang apa adanya." Novi mendorong dada Rizal lembut, melepaskan dekapan mereka. Dia tersenyum kepada Rizal lalu berkata, "Baiklah."
Rizal memandangnya bingung. "Apa?"
"Bukankah kau ingin aku hamil?"
"Aku tidak—"
"Kau pikir hanya kau yang ingin memiliki anak? Aku juga ingin punya anak darimu."
"Aa—" Rizal mengangguk kaku, seakan bingung ingin berkata apa.
Dengan senyuman lebar, Novi menuntun tangan Rizal ke perutnya, rasa malu mulai merayapi punggungnya meninggalkan sensasi gugup di perutnya, tapi ia mengabaikannya dan berkata, "Ayo kita buat."
.
.
.
.
.
FIN