Akulah permata perak.
Dewa mencurahkan diriku dari surga
Firdaus, semesta merebut ku untuk
Mendandani kebunnya dan sawah ngarai.
Akulah mutiara indah.
Yang diambil oleh bidadari sang fajar untuk
Mendandani taman-tamannya
Di istana Sang Putri Raja.
Kala aku meronta, bukit pun tertawa.
Kala engkau turun, kembang-kembang pun menari
Kala aku menunduk, Semua benda bersuka ria.
Kebun dan awan ialah pasangan jiwa.
Dan aku ialah sang pembawa rahmat untuk
Mereka. Aku puaskan haus dahaga semua
Orang yang haus. Dan kesembuhan Duka Nestapa mereka.
Kedatanganku diiringkan suara gemuruh gelegar.
Kepergianku di antar pelangi indah.
Aku bagaikan kehidupan dunia.
Bermula dari kaki unsur yang gila
Dan berakhir di bawah sayap kematian.
Aku muncul dari palung laut.
Dan naik ke langit bersama angin.
Kala aku melihat kebun yang membutuhkan ku,
Aku pun turun dan memeluk kembang-kembang
Dan pohon-pohon dengan segala cara.
Dengan jari-jemari lentik ku,
Kusentuh kaca jendela, Dan itu ialah sebuah
Tembang selamat datang.
Semua bisa mendengar, tapi sekedar yang
Berhati lembutlah yang bisa memahamiku.
Aku angin yang lahir dari panas udara.
Tapi aku jua yang telah memadamkannya.
Sebagaimana wanita mengalahkan lelaki
Dengan kekuatan yang diambil darinya.
Akulah desahan lautan, tawa daratan,
Air mata surga Firdaus
Demikianlah sang cinta.
Sebuah desahan dari dasar laut birahi.
Seulas senyum dari daratan jiwa yang
Membentang. Setetes air mata dari
Cakrawala yang tak Berakhir.