Ketika engkau menyanyikan lagu indah,
Meski sendiri dalam sunyi hati musim hujan,
Engkau mesti akan mendapatkan seorang pendengar.
Ini musim hujan,
Kemarilah belahan jiwaku!
Marilah kita berjalan di bukit-bukit kecil,
Karena hujan telah luruh dan kehidupan terjaga dari tidurnya,
Mengembara melintasi bebukitan dan sawah ngarai.
Kemarilah!
Ayo kita ikuti langkah kaki musim ini
Ke padang rumput yang amat jauh.
Kemarilah!
Ayo mendaki lereng terjal dan melihat kehijauan berombak
Di hamparan sawah menghijau.
Fajar musim hujan telah menanggalkan busana
Yang disembunyikan rapi oleh malam musim dingin.
Pohon kelapa dan pandan berdandan bagai pengantin di malam pertama.
Bebijian anggur terbangun, sulurnya jalin-menjalin mesra
bagai sepasang kekasih yang berdekapan.
Arus sungai berlari dan beriak
Di antara batu karang hitam putih yang
menyanyikan lagu gembira.
Kembang-kembang tiba-tiba pergi dari relung semesta
Bagai buih di atap ombak-ombak samudera.
Kemarilah, belahan jiwaku!
Biarlah diriku meminum air mata hujan
Penghabisan dari cawan kembang melati dan
mengisi hatiku dengan musik kicauan burung
Yang semerdu buluh perindu.
Marilah kita peluk angin sepoi dengan harum wewangian
Dan duduk dekat batu karang nan jauh
Di sana tempat bersembunyi kembang ungu,
Saling mempersembahkan ciuman cinta.
Ayo kita pergi ke kebun anggur, belahan jiwaku!
Memeras buah anggur dan menyimpannya dalam tabung bejana kita,
Bagai jiwa menyimpan kebijaksanaan di usia yang hampir lanjut.
Ayolah kita kumpulkan bebijian dan menyunting harum wangi kembang.
Marilah kita pulang ke rumah
Karena daun kekayuan telah menguning dan
Angin menghempaskannya ke mana ia suka,
Demi membuatkan mereka putihnya selembar kain kafan,
Penguburan bagi kembang yang luruh secara haru di simpang musim kemarau.
Kemarilah!
Karena sekawanan burung telah terbang ke tepi laut
Membawa makanan dari kebun di mulut kecilnya,
Meninggalkan duka-cita melati dan wewangian kembang.
Tetes air mata penghabisan telah menitik di atas lempeng rerumputan.
Kemarilah!
Ayo kita pergi,
Karena arus air telah menghentikan alirannya dan musim hujan tak berlangsung lama.
Karena air mata kebahagiaan mereka telah mengering.
Dan bukit kecil telah menyisihkan busana kabutnya.
Kemarilah belahan jiwaku!
Karena semesta telah dikuasai oleh sang embun
Dan mengucapkan selamat tinggal kesadaran, duka-cita, dan melodi ilusi
* ੈ✩‧₊˚* ੈ✩‧₊
τнänκ чöü ᰔᩚ