BULAN DAN BINTANG.
Sebagaimana bulan dan bintang yang saling membutuhkan, ah tidak. Hanya bintang yang membutuhkan bulan untuk mendapatkan Cahaya
pantulan dari rembulan yang banyak didambakaan oleh banyak orang dan juga banyak yang ingin menggapainya. Tapi bulan tetaplah bulan nan jauh diangkasa,. Hanya bisa dinikmati Cahaya dan pantulannya dari si bulan.
Bagaimana cara mendapatkana bulan tersebut? Apakah akan berhasil menggapainya atau hanya akan menjadi angan belaka dan menyakiti diakhir.“menurutku kamu harus segera melupakan untuk
mendapatkannya bob!”
Ucap pemuda dengan tinggi semampai dihapadan seorang pemuda lainnya yang terlihat lesu.
“aku akan tetap mencintainya bagaimanapun
keadaanya.”
Pagi ini begitu cerah dan nyaman, angin berhembus tipis. Dibawah pohon mangga ini siapapun
pasti akan tertidur karna nyamannya hari ini dan tempat ini. Pohon yang terdapat dibelakang sekolah yang diapit oleh dingding beton itu begitu rindang dan nyaman, dibagian bawahnya Terdapat bangku Panjang dan meja. Yang sepertinya sudah terisi pemuda-pemuda berisik
dengan ponsel mereka, ada beberapa yang mengobrol dan -
"Weh sumpah, kalian harus lihat ini."
Ucap seorang pemuda berambut cepak dia menyodorkan sebuah buku bersampul merah yang
bertuliskan 'MATEMATIKA'
"Waduh!! Aksa! Itu pr kemarin kah?"
Pemuda berambut cokelat lebat menyaut dengan nada linglung. Yang ditanya hanya
mengangguk dan membuka buku bersampul merah itu.
"Gue belum. Bobi, Ian. Lu udah belum?!!"
"Aelah sans brooo, mending Mabar game"
'plak'
"OALAH!! NGAPA PALA KU KAU GEBUK?"
"Ian. Gak naik kelas tau rasa Lo!"
"Bob! Kita harus menikmati masa-masa SMA kita!"
"Ini namanya pembodohan. Otak lu rusak!!"
Ketika ke-empat pemuda tersebut sedang asik adu mulut satu sama lain, dialain arah ada Seorang pria paruh baya yang mengenakan baju khas PNS nya.
"BOBI, IAN, AKSA, FIRMAN!!!"
Sontak semuanya menoleh kearah sumber suara dan mendapati gurunya sedang berkacak
pinggang.
"WADOHH SIAGA 1"