Petang lalu, aku memandangi seorang hawa yang bersandar di kursi penantian. Berbaju gelap . Bergaun gelap. Dia singgah dengan kakinya yang menyilang. Serta tatapan nya yang mengarah ke sebuah buku yang terbuka.
Satu buah kacamata bertengger di wajahnya. Itu semakin membuat pesona anggun pada dirinya bertambah. Seketika angin berhembus menarikan helaian rambutnya yang terurai hitam itu.
Dia begitu tenang.
Dia begitu tentram.
Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran wanita sepertinya. Rasa keinginan tahu ku seakan akan ingin mempunyai kekuatan pembaca pikiran. Tapi aku hanyalah makhluk biasa. Mempunyai kemampuan sama rata dengan sejenis ku.
Tetapi, sesekali raut wajahnya melukiskan kegelisahan. Menutup buku dan menyerana. Pikiran nya terbengkalai kemana-mana. Terkadang, seutas senyuman kecil menyambung di mulutnya. Mungkin dia sedang mengingat kenangan indahnya di masa lalu.
Suara decakan kereta sudah mulai terdengar. Siulannya pun juga berbunyi dari kejauhan. Wanita itu tersadar dan mengemasi barang miliknya. Ketika kereta sampai. Dia memijakan beberapa tapak hingga menuju pintu kereta dan masuk.
Hatiku sedikit lara ketika ia akan pergi. Aku merasa jika pertemuan ini hanya lah beberapa detik. Aku ingin lebih lama memandangi nya. Apalagi saling berargumen dengan nya.
Masinis membunyikan bel nya yang menandakan jika kereta telah memulai perjalanan. Gerbong belakang pun mulai mengikuti gerbong paling depan. Dan hingga pada akhirnya dia pergi. Aku mendongak ke atas langit dan teringat akan tentang ini.
Dia satu darah dengan ku. Di lebih muda dengan ku. Banyak album yang kami ciptakan bersama sama. Banyak kesan yang kami bangun bersama sama. Ceria lara kita hadapi bersama. Tapi aku ingin minta maaf kepada nya untuk hari ini. Karena aku tidak bisa mendampingi perjalanan nya. Itu karena kau pergi menuju rumah kecil ku.