!!! Peringatan!!!
Cerita ini hanyalah sekedar kisah fiktif imajinasi saya belaka. Hanya sekedar penyampaian ekspresi saya saat lagi putus asa yang saya kemas dalam cerpen ini. Maaf jika menyinggung. Jika terlalu sensitif akan saya hapus. Sekian terimakasih.
===================================
Hari ini aku sedang berdoa sendiri di dalam Gereja. Tidak ada suara lain yang kudengar selain ucapan religi ku sendiri. Berkata dari kata ke kata. Dari kalimat ke kalimat. Dari paragraf ke paragraf.
Hawa yang tenang dan sepi karena hanya aku di sini. Membuat ku khusyuk saat berbicara dengan tuhan. Sudah pasti kepastian ku akan di terima oleh sang maha kuasa. Dua menit berlalu, dan aku masih melantukan pelan doaku sembari memejamkan mata ku. Namun, seketika aku merasakan bayangan dari cahaya yang lewat melalui kaca besar yang terlukis tokoh agama. Serta, tiba-tiba aku mendengar suara kepakan sayap.
'Apakah itu burung?' renungku dalam hati seraya mata yang masih ku pejam.
Semakin lama suara kepakan itu menjelma suara pijakan. Ini sangat menggangguku. Ucapan doaku sudah tak selancar tadi. Tiba tiba lantunan ku menjadi blepotan dan tidak teratur. Aku penasaran akan hal itu. Aku pun membuka mataku.
Awal dari yang ku lihat setelah membuka mata adalah sesosok wanita berambut panjang berwarna putih, berbaju putih, serta Kulit berwarna putih layaknya orang dongeng dan bukan manusia. Seketika tangan nya terulur kepadaku hingga tangannya menyentuh leherku.
Entah perkara apa yang membuat hal selanjutnya terjadi. Ini sungguh di luar akal sehat. Aku merasa kepalaku terurai berai seperti benang yang terbang terlontar lantir kemana-mana. Mendadak penglihatan ku berganti mata, yang dimana aku sedang menghadap diriku sendiri sekarang.
'Apa aku sekarang melihat dari mata wanita ini?' renungku dalam hati.
Aku melihat diriku yang ternyata benar benar terurai seperti benang-benang yang berwarna warni. Tiba-tiba benang-benang itu terbang berpencar keatas. Sesampainya di atas, gerak-gerik benang itu terlihat sedang meraih sesuatu. Dan benar saja, benang itu bergerak kembali menyatu menjadi kepalaku seperti semula.
Ketika aku melihat fase itu seketika aku terhanyut dalam penglihatan seseorang. Bukan. Ini bukan penglihatan seseorang. Ini seperti gambaran hidup seseorang di masa lampau. Di memori itu aku melihat berbagai macam emosi. Dari amarah, kesedihan, kesepian, kehampaan dan lain-lain yang menggambarkan sebuah keburukan sang jiwa.
Kepalaku sudah menjadi utuh kembali. Penglihatan ku pun juga sudah kembali ke mataku sendiri. Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?
"Terimakasih," Ucap wanita itu kepadaku.
Aku tidak tahu apa maksud dari kata itu. Itu terdengar seperti aku telah menolongnya. Namun, aku merasa aku tidak menolongnya sama sekali. Ini membingungkan.
Dan akhirnya wanita itu pun pergi.
Hari selanjutnya, aku pergi ke Hutan untuk mencari kayu bakar. Di tengah-tengah pencarian, kepalaku masih terbayang-bayang akan kemarin. Itu sangat di luar akal sehat manusia. Bagaimana bisa penglihatan seseorang berpindah dari mata ke mata lain? Kejadian itu seperti mukjizat cerita religius lama. Sudahlah, toh itu sudah lewat. Sekarang aku fokus mencari kayu dulu. Aku harus selesai kan ini agar aku bisa pulang cepat. Dan juga sang surya sudah mulai tenggelam.
Di tengah pencarian, tiba tiba aku melihat kaki putih yang sedang berdiri. Aku tidak tahu siapa pemilik kaki ini. Aku melihatnya sembari menunduk kan kepala ke bawah. Jadi pandanganku hanya menghadap ke bawah. Aku meniatkan diri untuk mengangkat kepalaku, dan ku lakukan itu. Kuangkat pelan-pelan kepalaku.
Semakin ku angkat, aku mulai melihat bajunya bagian bawahnya.
Semakin ku angkat, aku mulai melihat bajunya bagian atas.
Semakin ku angkat, mataku sudah ter arah ke leher nya.
Semakin ku angkat lagi untuk ke terakhir kalinya, mataku melihat wajah yang sama persis dengan wanita kemarin.
Bukan. Ini memang dia. Ini memang wanita sebelum nya yang ku temui di Gereja kemarin. Tapi kali ini wujud nya berbeda dengan yang kemarin. Sekarang di balik punggung nya terdapat objek yang menyerupai sayap. Ya, Wujudnya memang adalah sayap.
"Kenapa kamu tidak takut padaku? " ucap wanita itu.
"Bagaimana aku bisa takut, sementara kamu masih berwujud manusia," jawab ku
"Jadi kamu tidak takut kepada makhluk buas jika masih berwujud manusia?"tanya nya.
Aku menjawab nya dengan tenang."Tergantung. Kalo dia tidak terlihat berbahaya tidak masalah. Tapi jika itu berbahaya, aku akan memohon kepada Tuhan agar memberiku sebuah pertolongan. "
"Mengapa kamu begitu yakin akan Tuhan mu? " Lagi-lagi wanita ini bertanya kepada ku. "Aku sangat yakin kepada Tuhan akan pertolongan yang dia berikan kepada hambanya. Dari kecil aku sudah di tanamkan untuk selalu banyak berdoa kepada Tuhan. Jadi bisa di bilang aku sangatlah alim. Akan tetapi, di samping itu aku tidak tahu apakah Tuhan akan mengabulkan semua doaku. Maka dari itu, sebagian besar aku mengandalkan keselamatan ku kepada keberuntungan. "
" Lalu bagaimana jika Tuhan tidak mengabulkan semua doamu dan keberuntungan sudah tidak berpihak kepadamu? " tanya wanita itu untuk ke sekian kalinya.
" Sudah pasti aku akan berserah diri kepada takdir ku. Sudah tidak ada lagi yang bisa ku lakukan kepada ku sendiri," jawab ku.
Sekarang ku tanya balik kepada nya, " Lalu siapa kamu? Dan Makhluk seperti apa kamu? "
Bukannya di jawab. Tubuhku tiba tiba di tusuk oleh nya menggunakan tangan. Ternyata rasa perut yang ditembus rasanya sangat sakit. Ironisnya aku pun tergeletak tak berdaya.
aku terbangun dari tidur ku dengan keadaan perut yang di perban tidak rapi. Aku tidak mengenali tempat ini. Tempat ini terlalu berantakan. Banyak lubang pada dinding kayu ini. Air merembes di mana-mana, dan juga banyak sobekan kain perban ternoda darah yang berserakan. Aku mencoba berdiri dari tempat. Tapi tubuh ku masih terasa nyeri yang hebat. Apalagi bagian perut.
"Maafkan aku, " ucap yang suara sudah tidak asing lagi di telinga ku.
"Ternyata Tuhan tidak mengabulkan doa ku. Dan juga keberuntungan sudah tak berpihak padaku lagi," cakap ku.
Seketika tidak ada lagi yang menyambung percakapan kecil ini. Dan juga dia meninggalkan ku dan pergi keluar. Dia sungguh Malaikat yang payah. Huh? Malaikat? Mendadak saat aku berpikir aku dapat kan nama itu. Bagaimana aku bisa menyimpulkan jika dia adalah malaikat? Kemungkinan itu adalah pola pikir alami manusia. Karena sebelumnya aku melihat dengan wujud bersayap. Tapi bisa jadi dia adalah iblis. Bisa jadi dia adalah bidadari, jadi siapa yang tau.
Aku memberanikan diri untuk berdiri karena haus. Jadi aku harus mengambil minum. Aku melangkah seraya memegang meja sebagai tumpuan untuk mengambil cangkir besi yang ada di meja kayu.
Semakin kesana tidak sengaja aku melihat luar jendela. Ku temukan wanita itu sedang berdiri menatap langit. Entah apa yang wanita itu lihat dari cuaca yang mendung itu. Aku pun mengesampingkan wanita itu dan berjalan menuju gelas besi.
Namun, sesampainya disana gelas itu ternyata kosong. Aku menarik nafas dalam-dalam dan memejamkan mata sebentar. Tiba tiba wanita itu ada di depan ku. Aku tidak merasa terkejut atau apapun. Yang kurasakan hanya lah rasa nyeri pada perut.
Wanita itu memandang ku dan berucap, "Maaf jika aku melukai mu. Aku sudah bertanggung jawab mengobati mu. Namun aku hanya bisa membenahi bagian dalam mu. Jadi aku gunakan perban untuk menutupi lukamu. Seandainya aku bisa menyembuhkan mu lebih baik . Kamu pasti tidak akan kesakitan sekarang. "
"Tidak masalah.lagipula aku tidak terlalu memperdulikan rasa sakit ini, " ucap ku. "Selain itu, apa yang kamu lihat di langit tadi?"
"Sebelum aku menjawabnya, berapa umur mu? " tanya balik wanita itu.
"Umur ku 17."
"Kamu sudah baligh. Jadi kamu sudah bisa kuberi tahu. "
Begitu katanya seraya memegang pundak ku. Namun kali ini kepala ku tidak menjadi sercahan benang. Dia berkata jika ia sedang melihat Mata sang Dewa.
Mata dewa ya. Di kepercayaan ku tidak ada dewa. Kami sebagai penganut agama ku sendiri tidak ada yang namanya Dewa. Tapi yang ku dengar ini seperti hal yang bertentangan dengan kepercayaan ku.
"Sebelum nya, Aku melihat sayap ada di punggung mu. Apa kamu semacam bidadari?"
"Lebih tepatnya aku adalah malaikat. Malaikat yang di utus untuk menyelesaikan tugas agar dapat terlepas dari hukuman. " jelasnya.
"Jujur, setelah mendengar penjelasanmu, aku tidak ingin tahu apa masalah mu dengan Dewa mu. Tapi yang ku ingin tahu adalah mengapa kamu harus mendatangi ku?"
Dia menjawab jika aku adalah orang yang tepat. Meskipun aku memahami nya, aku tidak tahu alasannya. Yang kutahu aku adalah tumbal untuk tugasnya.
Hujan sudah mulai rintik rintik. Tempat ini pun menjadi gelap. Semakin lama suara hujan mengeras. Aku juga mulai merasa kedinginan. Malaikat itu menghilang dari pandangan ku. Namun aku tak acuh terhadap dia. Karena dia tidak memiliki hubungan dengan ku. Jadi meskipun dia mati. Aku tak peduli.
Hari selanjutnya, kami jadi sering bertemu. Lama kelamaan kami semakin akrab. Kami saling berbagi pengalaman. Dia membagi pengalaman nya kepada ku tentang kehidupan nya di dunia malaikat, dan aku membagi pengalaman ku kepada nya tentang kehidupan ku di dunia manusia.
Di fase ini, kepala ku penuh dengan keheranan dan kebingungan. Mengapa aku tidak di bawa pulang olehnya? Mengapa aku boleh mengetahui tentang dunia malaikat? Mengapa aku percaya dengan dia dan juga dewa? Sebelumnya aku pernah bertanya kepadanya tentang itu semua. Namun jawaban nya ialah "Kamu akan tahu jika sudah saatnya. "
Sekali lagi, aku bisa memahami perkataan nya. Tapi tidak dengan alasannya. Karena aku tidak diberitahu tentang alasan yang malaikat itu miliki.
Lalu di hari-hari selanjutnya kami mulai bisa saling mengerti satu sama lain. Kecuali urusan nya dengan dewa nya. Aku tidak di perbolehkan untuk mengetahuinya. "Karena itu rahasia. " Ucapnya ketika aku menanyakan hal itu.
Kami saling melakukan hal hal yang saling melengkapi satu sama lain. Aku membantunya untuk menyelesaikan tugas nya. Dia membantuku untuk membantu kelangsungan hidup ku.
Aku membantu nya dalam bentuk tugas yang diberikan Dewa untuknya. Yaitu terkadang aku di masukkan nya ke dalam ruang ghaib untuk di siksa dan di bunuh, Lalu di hidup kan kembali. Selain itu, aku juga membantu melakukan ritual dan lain lain. Lalu dia membantuku untuk kelangsungan hidup ku dalam bentuk berburu hewan, mencari bahan kebutuhan, mengobati lukaku, dan lain lain meskipun dia selalu ceroboh dalam apapun. Aku selalu mengamati kebiasaan nya itu. Hingga aku menyimpulkan jika dia adalah malaikat yang payah.
Ini cukup aneh jika di dengar. Tapi inilah hidup nyata ku. Aku bisa hidup berdampingan dengan malaikat. Aku bisa bertemu dengan malaikat. Aku bisa berbicara dengan Malaikat.
Pasti keluargaku merindukan ku. Sudah pasti. Apalagi kalo aku tidak pulang berhari hari. Ayah, ibu, maaf bikin kalian khawatir. Tapi pasti setelah ini aku akan kembali ke rumah, tunggu saja yah.
Ini sudah hari ke 30 aku hidup bersamanya. Ya, 1 bulan. Itu cukup lama. Dan sebentar lagi tugas nya akan selesai, Katanya. Aku senang jika tugas nya sudah selesai. Aku bisa kembali kerumah dan bertemu dengan keluarga ku.
Namun aku juga sedih jika ini berakhir. Entah mengapa hati ku terasa gelisah jika tidak bersama wanita ini lagi. Aku masih ingin sedikit lebih lama lagi bersama nya.
Jika di cerna kembali, Perasaan ku ini seolah-olah seperti seseorang yang sedang jatuh cinta. Ya, seperti nya aku mulai jatuh cinta dengan malaikat itu. Meskipun dia begitu payah. Dia terlalu banyak memancarkan kehangatan kepadaku. Aku tidak tahu di sebelah mana. Tapi aku bisa merasakan nya.
Tapi bagaimana dengan dia? Apa malaikat punya perasaan? Sepertinya tidak. Malaikat adalah utusan dewa /tuhan yang hanya melakukan tugas nya mereka sendiri. Jadi mereka mana sempat untuk memiliki perasaan kepada makhluk lain. Apa lagi kepada manusia muda seperti ku. Itu sangatlah mustahil.
Berbeda dengan ku. Aku adalah manusia. Manusia diciptakan untuk mempunyai perasaan. Perasaan timbul karena adanya saling interaksi yang sangat dekat atau istimewa.
Contoh nya seperti ku, aku bisa jatuh cinta dengan sesuatu jika aku melakukan interaksi dengan subjek lain yang bahkan bukan sejenis dengan ku. Ini memang aneh, Tapi ini yang dinamakan hidup.
Hari ini adalah hari ke 31 aku tinggal setempat dengannya. Hari ini adalah giliran ku untuk menyelesaikan tugas barunya. Kuharap ini tidak terlalu sakit. Aku sudah melakukan seperti ini selama 8 kali sebelumnya. Jadi sudah pasti tubuh ku akan terbiasa dengan itu.
Aku berjalan menuju tempat yang biasanya kami lakukan untuk menebus hukumannya. Yaitu darah manusia. Sesampainya aku di tempat yang di janjikan. Aku berdiri di depan pohon yang besar. Aku pun berdiri tegak di sini seraya menunggu dia bertindak.
Tidak lama kemudian, malaikat itu datang. Tidak seperti biasanya. Kali ini dia membawa sebuah sabit. Dia berjalan menuju ke hadapan ku yang lebih dekat. Sebelumnya, kehadirannya selalu membawa kehangatan. Namun di detik ini, apa yang di namakan kehangatan itu sirna. Yang ku rasakan di sini hanyalah dingin dan hawa yang kaku.
Mata nya memandang mataku, hidung nya sejajar dengan ku, mulut nya searah dengan mulut ku. Aku baru sadar, betapa cantik nya dia. Baru pertama kali aku melihat malaikat, dan ternyata secantik ini kah sang malaikat?
Aku melihat Mata yang searah dengan mataku tiba tiba berkaca-kaca. Perasaan ku mulai tidak enak. Ini tidak seperti yang sebelumnya. Rahasia yang sebenarnya akan terungkap.
Sabit yang ia pegang mulai dia ayunkan dari atas. Ketika ayunan itu kebawah. Mulut ku dengan tidak sengaja mengucapkan :
"Aku mencintaimu. "
*sabit terayunkan.
*jeb (suara tombak menusuk perutku)
Aku masih kuat untuk sadar. Bagaimana ini bisa terjadi padaku. Aku melihat diriku sendiri yang terluka sangat parah karena sayatan dan tusukan. Ya, Ini adalah matanya. Aku melihat diriku sendiri dari matanya lagi. Lalu aku di kembali kan ke mataku sendiri.
"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Ini semua adalah perintah. Layaknya seperti manusia yang taat kepada Raja. Itu sama seperti yang kulakukan saat ini."
"Di detik ini, aku akan cerita kan rahasia ku. Aku adalah malaikat yang di tugas kan untuk melindungi mu. Pada awalnya aku tidak di hukum. Aku hanya menguji apakah kamu akan masih sombong akan kebebasan mu seperti manusia yang lainnya. Ternyata tidak. Di hari-hari sebelumnya. Aku tidak memulangkan mu karena aku tidak ingin kamu mati di tangan mereka. Ya mereka, keluarga mu. Pada awal nya keluarga mu sudah membenci mu dan ingin membunuh mu. Namun mereka menunggu waktu yang tepat untuk melakukan nya. Aku tidak ingin kamu harus menanti kematian mu dengan rasa sedih. Maaf karena telah menyembunyikan ini semua dari mu. Dan sekali lagi maaf, karena sudah menyiksamu. Sekali lagi, maafkan aku Aimo. "
Untuk ke terakhir kalinya namaku di panggil. Untuk ke terakhir kalinya namaku terucap. Untuk ke terakhir kalinya nafas ku berhembus. Untuk ke terakhir kalinya jantung ku berdetak. Untuk ke terakhir kalinya darah ku menetes keluar.
Namun, ini adalah pertama kalinya aku bisa merasakan hadirnya hawa keluarga.
Sakit, Sekali lagi sangat sakit. Hatiku terasa sesak.
Ternyata Malaikat mempunyai perasaan.
Itu terbukti kan oleh air mata yang keluar dari mata malaikat itu.
Aku tidak tahu air mata apa itu.
Tapi yang terpenting adalah perasaan ku.
Untuk ke terakhir kalinya atau bahkan yang paling akhir aku berkata,
"Aku mencinta mu nona malaikat, terimakasih "
Tamat.