DARAH PERAWAN
Darmi, menatap langit di kegelapan malam ibu kota, suara riuh kendaraan berlalu lalang memecah keheningan di tengah kesendirian nya,yang kini sedang duduk di tepian kali di bawah jembatan penghubung antar kota, sesekali dia menepuk tangan nya untuk membunuh nyamuk nyamuk yang suara nya tak kalah keras dengan suara mesin motor dua tak. sembari membayangkan betapa enak nya hidup orang orang kelas atas di apartemen apartemen mewah yang berdiri megah berseberangan langsung dengan pemukiman kumuh tempat tinggal nya,
Jangankan mengharap kemewahan,untuk mendapatkan senyuman manis dari suami nya sepulang dia dari kerja saja itu sungguh tidak mungkin.
Pikiran nya yang kalut, membawa nya kembali kepada kejadian 5 tahun yang lalu, saat diri nya masih duduk di bangku SMA, pertama kali dia bertemu dengan suami nya mas Jono, yang berprofesi sebagai Supir di sebuah perusahaan pupuk yang ada di daerah nya, Jono yang setiap hari nya melintasi sekolahan tempat belajar Darmi, merasa tertarik dengan gadis lugu yang berwajah manis itu,hampir setiap hari dia merayu kedua orang tua nya dengan bungkusan bungkusan makanan yang di bawa nya ke rumah Darmi sepulang kerja. Kadang sesekali dia mengajak Darmi pergi ke pasar malam, untuk menikmati suasana malam di desa tempat tinggal Darmi.
Jono adalah seorang duda berusia 40 tahun yang memiliki 2 orang anak dari perkawinan nya dengan istri pertama, sudah 3 bulan ini mereka berpisah, namun yang nama nya laki laki, tidak ada yang betah berlama lama hidup sendiri.
Sebenar nya Darmi tak ingin mempunyai hubungan dengan Jono,namun keahlian Jono untuk menyogok dan merayu kedua orang tua nya dengan bungkusan makanan dan sejumlah uang, membuat nya terpaksa harus menerima pinangan Jono, kehidupan di Desa memang lebih keras dari kehidupan di ibu kota,kesulitan ekonomi mengharuskan anak anak muda putus sekolah dan di paksa menikah oleh kedua orang tua nya untuk mengurangi beban keluarga nya yang serba kekurangan, hal itulah yang dirasakan Darmi, dia harus menggantungkan cita cita nya di atas tenda biru yang akan membawa nya kedalam kehidupan yang jauh lebih menyakitkan, dari pada mendengar kata dia harus putus sekolah,untuk menerima pinangan Jono yang sudah ngebet untuk menikahi nya. Bagi Darmi,nasi sudah menjadi bubur, menangisi nasib pun tidak mungkin, mau tidak mau dia harus menuruti apa kata kedua orang tua nya yang sudah sepuh itu,Bapak nya yang sudah sakit sakitan,tidak mampu lagi pergi ke sawah untuk menanam padi dan sebagai nya, sedangkan ibu nya hanya mengandalkan hasil jualan kerupuk yang dia jajakan dari pagi sampai malam, disaat seperti itulah, Jono menyamar menjadi seorang penyelamat di keluarga Darmi.
" Darmi, mas cinta kepadamu!" Jono menyeringai, memperlihatkan gigi nya yang kecoklatan akibat dari Kecanduan nya dengan rokok,
" Iya mas!" Dengan terpaksa Darmin mengatakan itu, hati kecil nya menangis, ingin rasa nya dia kabur dari acara lamaran yang di gelar di rumah nya itu. namun apa daya, Bapak, ibu, dan kakak kakak nya berdiri di hadapan nya, membentuk Pagar betis yang siap menangkap nya jika dia mencoba coba untuk kabur.
Tibalah hari itu, hari pernikahan paling menyedihkan seantero jagad, Darmi di dandani dengan menggunakan kebaya warna putih lengkap dengan jilbab dan kain batik sebagai bawahan nya, sedang kan Jono yang usia nya terpaut 24 tahun dengan Darmi, menggunakan setelan jas hitam lengkap dengan kopiah nya, dia diarak mengelilingi kampung sebelum menuju ke kediaman mempelai wanita nya tersebut, hati nya sumringah tak sabar menjemput bidadari perawan yang akan menjadi istri nya tersebut.
Ijab Qabul pun dilaksanakan, seisi ruangan mengucapkan kata "sah" secara bersamaan.
" Alhamdulillah,!" Ucap Jono,sembari mencium kening Darmi dengan bibir nya yang bau rokok, tamu tamu undangan berdatangan membawa amplop bertuliskan nama mereka berharap uang yang di masukan nya kedalam amplop bisa kembali saat nanti mereka menggelar hajatan, Jono dan Darmi menyalami mereka satu persatu sampai acara selesai,hingga malam pun tiba,ini adalah malam penderitaan Darmi di mulai.
Jono yang sudah tidak sabar mencicipi darah perawan Darmi, mulai mengunci kamar nya rapat rapat,dia melancarkan aksi nya untuk membuat Darmi bertekuk lutut di hadapan nya malam ini, serangan demi serangan dia lancarkan kepada Darmi yang diam tak berkutik, lagi pula ini adalah pengalaman pertama bagi Darmi, dengan menahan jijik, Darmi menangis dalam hati nya, seperti inikah rasa nya ditakdirkan menjadi orang miskin? Bahkan untuk masa depan saja dia tidak bisa memilih? Cita citanya untuk menjadi pengacara hilang seketika, dan berakhir di atas ranjang reot kamar nya. Jono, terus melancarkan serangan nya, sampai dititik akhir serangan terbesar nya, Jono merasakan jalan itu sangat sempit, sehingga harus berkali kali dia melewati nya agar sampai pada titik terakhir tujuan nya,
Darmi meringis kesakitan, dia merasakan ada sesuatu dari tubuh nya yang hilang, Jono tersenyum lega, lagi lagi memperlihatkan gigi nya yang coklat, membuat Darmi mual melihat nya.
Saat Jono menarik pusaka nya, dia terkejut akan satu hal.
" Kenapa tidak berdarah?" Matanya menjadi merah padam, rasa nya sia sia sekali, dia mempersunting Darmi dengan mahar 100.000 rb rupiah. Kekecewaan nya memuncak hingga ubun ubun.
Darmi yang tidak tahu menahu tentang hal itu, merasa takut melihat monster jelek di hadapan nya itu mengamuk.
" Kamu tidak perawan, kamu perempuan jalang ternyata, sama saja dengan perempuan penjajah di tepian kota!" Seperti ada kilatan petir yang menyambar nyambar hati nya, mendengar ucapan menyakitkan suami nya tersebut, sejauh ini, Darmi anak baik baik, dia tak pernah pacaran atau berhubungan dengan laki laki lain selain Jono, dia mengingat ingat apa yang terjadi pada nya? Kenapa dia biasa kehilangan darah perawan nya?
Lama sekali dia terdiam dalam keheningan,dia mengingat pernah belajar naik sepeda kebo yang jauh lebih tinggi dari nya, saat dia berhasil menggoes sepeda itu, tiba tiba kaki nya tergelincir, sehingga membuat barang berharga nya terbentur ujung sadel sepeda itu dengan keras.
Secepatnya dia menceritakan kejadian itu kepada Jono, suami nya kini, namun Jono dengan kebodohan nya, tetap menganggap Darmi sebagai seorang yang tidak perawan sebelum menikah,
Gagal sudah Darmi menjadi istri sempurna di mata Jono yang tidak sempurna, hingga saat ini Jono yang memboyong Darmi ke ibu kota, tidak pernah menghargai Darmi, sering kali dia melakukan kekerasan untuk menyalurkan rasa kecewa nya kepada Darmi, dia tak segan memukul, meninju bahkan menendang Darmi yang sedikit saja melakukan kesalahan, hidup Darmi sehari hari nya seperti di neraka, dia selalu merasa ketakutan setiap suami nya itu pulang dari tempat kerja nya, ingin rasa nya dia kembali pulang ke kampung halaman nya, dan menceritakan semua yang di alami nya kepada keluarga besar nya, namun dia tak punya keberanian, karena sudah jelas mereka tidak akan percaya kepada nya, sebab Jono pandai merayu hati keluarga nya,
Kini Darmi hanya pasrah, dia selalu menyesali kehidupan nya,
" Ibuk, bapak, menjadi miskin itu boleh, tapi menjadi bodoh itu jangan!" Ucap nya lirih, pada nyamuk nyamuk yang semakin senang menghampiri Darmi setelah mendengar tepuk tangan nya.
Ingin sekali dia mengedukasi kepada warga di kampung nya, bahwasanya, pernikahan itu bukan menyelesaikan masalah bagi anak anak yang putus sekolah, justru pernikahan akan menjadi sumber masalah, apa bila mempelai nya kurang berpendidikan seperti kasus Jono yang menindas Darmi hanya karena kebodohan nya yang menyebabkan ke salah pahaman yang tak pernah ada ujung nya, sekali stigma itu melekat, orang bodoh akan terus mencari kesalahan nya, sedang orang pintar akan mencari alasan nya. Sayang Jono bukanlah orang pintar, itulah yang di sesali Darmi.