Berhenti tersenyum, karena ini diadaptasi dari kisah nyata. Siapa aku? Identitasku akan disembunyikan oleh Author. Simak cerita ini, mungkin sebagian dari kalian pernah mengalaminya.
Cerita ini telah mendapat persetujuan dari tokoh yang mengalami untuk dijadikan karya cerpen dan mengikuti kontes lomba #1111 di Noveltoon.
***
Hari itu tanggal 11 November 2015, hari di mana adikku berangkat ke luar kota karena prestasinya yang mewakili Kabupaten untuk bersaing di suatu lomba keagamaan. Keluarga kami memang memiliki ikatan spiritual yang kental. Rumah kami tak pernah terdengar hening, meski sebentar saja. Lantunan ayat-ayat suci akan terus berterbangan dan terserap oleh telinga siapa pun di setiap sudut ruangan.
Ku akui, imanku memang tak sekuat adikku. Aku memang tak bisa melihat mereka yang tak kasat mata, tetap saja aku takut pada mereka. Meski ribuan kali Ayahku mengatakan bahwa tak seharusnya takut pada mereka yang lemah.
Juga jutaan kali aku membaca bahwa mereka lemah pada semua yang bersifat keagamaan. Apa pun itu agamanya. Mereka akan luluh-lantah setelah mengetahui bahwa seseorang memiliki iman yang kuat.
Berbeda dengan adikku. Dia sering melihat mereka yang seharusnya tak nampak di mata manusia normal. Namun, dia cukup berani untuk mengatasi itu. Perlu kalian ketahui, adikku berusia 13 tahun dan aku berusia 15 tahun, kala itu.
Pengalaman yang cukup berkesan untukku saat ia pergi meninggalkanku ke luar kota. Di mana, saat itu aku diharuskan untuk tidur sendirian di kamar yang biasa kami tiduri bersama.
Ayahku juga ikut bersama adkikku sebagai pembimbingnya di sana. Tinggallah aku dan Ibu di rumah kami yang lumayan cukup besar menurutku untuk didiami oleh empat orang.
Dari sore semenjak keberangkatan adikku, aku sudah merasa tak nyaman. Suara Ibuku yang sedang mengaji di ruang tamu, membuatku sedikit lebih tenang. Mungkin hanya perasaanku saja, karena saat itu terasa gerah yang teramat di dalam rumah.
Tibalah saat kami hendak menunaikan ibadah di sore hari. Raungan yang meramaikan langit dan bumi itu mengajak kami untuk menunaikan kewajiban kami sebagai umat beragama. Tidak ada yang aneh sejak kami mulai membersihkan diri hingga siap untuk melakukannya.
Ada satu tempat khusus untuk kami menunaikan ibadah. Lampu kekuningan yang berada di ruangan itu, membuatku kembali merasa takut. Entah apa yang ada di dalam dadaku, aku terus merasakan ada sesuatu yang menunggu kami untuk masuk ke dalam sana.
Aku berdiri di depan pintu, tak berani menoleh ke mana pun selain menatap wajah Ibuku yang sudah mengenakan mukena di tubuhnya.
"Ayo, kenapa diam saja?" perintah Ibuku agar aku segera bersiap. Aku masih enggan masuk ke sana. Jujur saja, aku terlalu takut.
"Aku akan sholat di kamar," ucapku berbalik dan berjalan ke kamar. Sesuai dengan kataku, aku melakukannya di sana dan semuanya baik-baik saja.
***
Semuanya biasa saja, hingga tiba saat aku hendak tidur di kamarku. Waktu itu, jam 9 malam. Tubuhku kembali gemetar saat berbaring. Aku bisa merasakan aliran darahku secara tiba-tiba tersendat.
Segera aku membaca doa, namun itu semakin membuatku ketakutan. Karena aku berpikir, doa adalah musuh mereka dan bisa saja mereka melawan karena aku membaca doa. Kepastian akan kalimat 'Jin lemah pada iman' itu membuat aku kembali melemahkan imanku. Aku tak ingin menjadi orang beriman karena aku akan diserang oleh mereka.
Mukena yang aku gantung di depan lemari, secara tiba-tiba terjatuh dan itu cukup membuatku terkejut sekaligus ketakutan. Kutarik selimut dan menutupi seluruh tubuhku. Setidaknya, apa pun yang ada di hadapanku. Aku tidak akan melihatnya.
Namun, aku salah. Aku bisa merasakan, seseorang ikut berbaring di sebelahku. Tubuhnya begitu hangat menyentuh pundak dan lenganku. Tubuhku mematung. Berdoa pun aku tak ingat caranya kala itu. Otakku sudah kehilangan akal sehatnya. Aku hanya memikirkan bahwa, siapa yang berbaring di sebelahku.
Aku tak berani menoleh dan membuka mata. Selimut yang aku gunakan untuk menutupi tubuhku, terasa semakin pengap. Seseorang itu bergerak. Aku benar-benar bisa merasakannya. Aku merasakannya! Dia bergeser dan menjauhkan tubuhnya dariku.
"Kak, Kakak!" panggilan ibuku itu menyelamatkan nyawaku kali itu. Ibuku membuka selimutnya dengan tubuhku yang masih terbaring, mematung di dalamnya.
"Tidur sama Ibu, Yuk! Ibu ga bisa tidur," begitu ucapnya membuatku kembali mendapatkan kehidupanku. Darahku mengalir cukup deras mengisi seluruh urat yang ada di tubuhku.
"Kenapa?" tanya Ibuku. Ia mengelap keringatku yang sudah membajiri seluruh wajah bahkan tubuhku.
"Ibu tidur di sini ya?" pintanya sambil berjalan ke sebelahku. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berbaring di sebelahku.
Lidahku masih keluh mengingat apa yang baru saja terjadi. Aku pun merasakan tubuh Ibuku yang berbaring dan menyentuh pundak dan lenganku. Tidak, itu tidak sama. Tubuh ibuku bersuhu normal dan lengannya terlalu besar daripada yang tadi.
Aku mencoba untuk berpura-pura biasa saja. Kembali ku tarik selimut, namun napasku kembali tersendat karena mukena yang tadinya terjatuh, sudah kembali tergantung di tempatnya.
Namun, aku tak perlu menghiraukannya. Di sini ada Ibuku, aku akan aman jika bersama dia.
***
Malam itu, aku terbangun karena selimut yang aku gunakan, terjatuh ke lantai secara tiba-tiba dan membuatku kedinginan. Ibu sedang tertidur pulas di sebelahku. Kembali aku mengambil dan memakainya. Baru saja aku hendak terlelap, selimut itu kembali begerak turun hingga pinggangku.
Karena aku sudah terlalu mengantuk saat itu, aku tak peduli setan apa yang menggangguku. Ku tarik kembali selimut itu, namun kali ini ada yang menahannya. Seperti ditarik dari bawah kasur. Aku benar-benar sudah mengantuk. Kuhentakkan selimut itu sekuat tenaga dan kembali memakainya.
Tepat jam 11 malam. Seseorang membelai rambutku. Aku kembali terbangun. Ku kira itu Ibu. Jadi, kubiarkan saja dia melakukannya. Namun, aku mulai merasa janggal, karena Ibuku tak sekuat itu jika membelai rambutku.
Biasanya ia akan lembut sambil menyisir rambutku dengan jarinya. Kali ini, terasa seperti ia menepuk kepalaku terus menerus. Aku tak cukup berani untuk menoleh, awalnya. Hingga akhirnya, aku mencoba memberanikan diri.
Jika itu setan, aku hanya perlu berteriak agar Ibu terbangun. Jika itu setan, aku hanya perlu menggerakkan kakiku agar ibu terbangun. Ibu ada di sebalahku, setan jenis apa pun tidak akan bisa menyakitiku.
Terus kuucapkan kalimat itu berkali-kali dalam hatiku. Hingga akhirnya aku menoleh ke arah ibuku tak ada apapun di sana. Ibuku tertidur dengan pulasnya. Tangannya juga jauh dari kepalaku. Ia memeluk guling dan membelakangiku dan aku tak merasakan ia bergerak sedikit pun.
Ku lirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 11:11. Tepat jam 11 lewat 11 menit, aku kembali berbalik dan hendak tidur. Satu sosok wanita berambut panjang merayap dari lantai dan menaiki lemari, ia juga menabrak mukena hingga mukena itu terjatuh ke lantai.
Aku hanya bisa terdiam. Jangankan berteriak, untuk mengalihkan pandanganku pun aku tak sanggup. Tubuhku melemah dan aku jatuh pingsan.
[End]
***
Jangan lupa tekan tombol love untuk mendukung author dalam kontes lomba #1111 Noveltoon. Terima kasih.