Aku memiliki keluarga yang harmonis, orang tua ku yang sangat menyayangi ku dan kakak lelaki ku yang selalu menjaga ku, namun semua kebahagiaan itu seketika musnah saat orang tua ku mengalami kecelakaan bus saat berangkat kerja.
Masi teringat jelas di ingatan ku hari terakhir aku melihat ibu dan ayah tersenyum hangat pada ku dan kakak, pagi itu cuaca tak terlalu baik, langit di penuhi awan hitam kabut tipis terlihat cukup jelas dari jendela rumah,
“ibu dan ayah pergi dulu ya” ucap ibu sambil menatap aku dan kakak yang sedang menikmati sarapan, “bu apa tidak libur dulu saja sepertinya akan ada hujan badai” “ia bu minta izin saja untuk hari ini” ucap kakak menimpali,
“tidak bisa sayang, jika ayah dan ibu izin untuk tak masuk kerja hari ini, minggu depan mungkin kami tak bisa libur lagi di hari ulang tahun mu” ayah menjelaskan. “tapi yah…” aku mengeluh
“jio jangan lupa kau harus menjaga jia, dia tanggung jawab mu saat di sekolah, dan jia kau harus menuruti perkataan kakak mu” ayah menasihati
“baik yah” kami menjawab serentak, “tapi apa ayah tau aku tak bisa selalu menuruti perkataan jio, kemarin dia menyuruh ku membelikan makanan di kantin saat jam mesuk berbunyi” aku mengarang
“apa kau bilang” kata kakak terkejut, aku menjulurkan lidah mengejek, dan hanya ditanggapi dengan tawa oleh ayah ku
“sudah-sudah, cepat habiskan sarapan kalian dan berangkat sekolah nanti ketinggalan bus lagi seperti kemarin” ucap ibu, “itu karna ulah anak kesayangan ibu itu” ucap kakak ku kesal sambal menunjuk ku
“tapi itu juga salah mu, kenapa kau tak membantu ku mengerjakan PR ku aku kan jadi terlambat” ucap ku jengkel, “lagi pula siapa yang menyuruh mu mengerjakan PR di pagi hari?”
Kakak bangkit dan mengambil buku PR ku, “lihat bahkan kau tak bisa menjawab soal-soal semudah ini dengan benar” ia menyodorkan buku tepat di depan wajah ku, “yang pentingkan aku sudah berusa” tegasku sambal memukul kakak yang berada di belakang ku dengan kesal.
“kau berani memukul ku ya, rasakan ini kekuatan dari ilmu pengetahuan” kakak memukul ku dengan buku di tangannya.
“Jio jangan memukul adik mu” tagur ibu sambal tertawa melihat kami yang sudah memulai perang di pagi hari, “tapi jia yang lebih dulu memukul ku bu… ayah!, ayah juga lihat kan” kakak ku menghampiri ayah yang sedang memperbaiki jasnya,
“em entahlah ayah tak lihat”, “ayah….” Kakak ku merengek seperti anak kecil yang meminta balon pada ibunya
“ya ya kau benar, kenapa ibu hanya memarahi mu seharusnya kan memarahi kalian berdua hhhh” ayah menanggapi tak serius dan segera melangkah ke luar rumah di ikuti oleh ibu yang sedang tertawa di belakangnya.
Beberapa minit kemudian aku dan kakak berangkaat sekolah dengan bus sekolah yang sudah menunggu kami di depan rumah,
Kegiatan belajar mengajar berlangsung seperti biasa meski di luar hujan turun dengan lebat di sertai angin, perasaan ku mendadak tak enak aku teringat orang tua ku.
Beberapa menit kemudian seorang guru memanggil ku untuk kekantor, saat tiba di kantor aku bisa melihat wajah semua orng di kantor terlihat sedih menatap ku, di antara mereka aku melihat kakak ku yang menangis dengan tubuh yang lemas di pegangi oleh seorang guru,
“ada apa ini” tubuh ku gemetar karna takut mendengar jawaban dari para guru. Mereka mengatakan kedua orang tua ku meninggal dalam kecelakaan bus beberapa jam yang lalu tubuh mereka terbakar hingga hampir tak bisa di kenali bersama penumpang bus yang lain.
Seketika aku seperti mendapat sambaran petir di siang bolong, aku terjatuh dan tak sadarkan diri, saat aku bangun aku sudah berada di rumah, aku dan kakak ikut mengantarkan ibu dan ayah ke tempat peristirahatan terakhir mereka dengan deru tangis yang bahkan tak bisa ku hentikan meski aku menginginkannya
Beberapa saat kemudian orang-orang mulai meninggalkan pemakaman satu persatu, meninggalkan aku dan kakak yang masi duduk menagis di pingir makam orang tua kami,
“ayah, ibu jia harus bagai mana sekarang, kenapa kalian meninggalkan jia, jia mau ikut ayah hik hik hik” aku menangis meratapi nasip buruk yang datang tampa memperdulikan aku dan kakak yang masi sangat membutuhkan keberadaan orang tua kami.
Sejak saat itu kakak berhenti sekolah dan bekerja menjadi kuli bengunan untuk menafkahi ku, namun seberapa keras pun usaha kakak ia tetap tak bisa menghasilkan uang lebih, uang yang ia dapat dari pekerjaan yang membuat banyak goresan di tangannya dan membuat ia merintih setiap malam menahan sakit di punggungnya itu hanya cukup untuk membeli makanan sehari-hari,
Bahkan lampu di rumah kami telah mati sejak lama karna kakak tak mampu membayar tagihan listrik, setiap kali aku mengatakan ingin keluar sekolah agar bisa membantu kakak mencari uang kakak selalu memarahi ku,
Namun karna tak tahan melihat tubuh kakak yang terluka setiap harinya di tambah rintihannya di malam hari yang selalu sukses membuat ku menangis seorang diri di kamar ku, aku pun memutuskan untuk bekerja di sebuah cafe setelah pulang sekolah tampa sepengetahuan kakak, beruntung pemilik cafe mengizinkan ku pulang jam 17:30 sebelum kakak pulang.
Aku membeli semua buku dan membayar uang les dengan uang itu terkadang aku membeli behan mekanan yang sama seperti yang di beli kakak agar ia tak menyadari jika aku menanbahkan bahan makanan di rumah.
Hingga suatu hari kakak dan beberapa orang kuli mampir di cafe tempat ku bekerja, kakak membawa ku pulang kerumah dan mulai memarahiku seakan aku telah melakukan kesalahan besar yang tak termaafkan lagi.
“apa aku sudah tak bisa di andalkan lagi, apa kau merasa aku tak bisa membiyayai semua kebutuhan mu, oh kau pasti mengasihaniku ya” ia menatap ku dengan tatapan penuh kebencian
“aku…aku hanya ingin membantu mu jio”, “membantu kata mu, aku tak butuh bantuan, bukankan sudah ku katakana kau hanya perlu belajar seperti biasa”
“tapi aku tak tahan melihat mu merintih setiap malam hanya untuk membiayayai sekolah ku” aku menjelaskan dengan mata berkaca-kaca
“jadi di mata mu aku semenyedihkan itu ya, hingga kau tak bisa mengandalkan ku meski aku sudah bilang berkali-kali bahwa sekarang kau adalah tanggung jawab ku” ia masih meatap ku kesal
“jio kau tau, setiap kau mengatakan itu aku selalu merasa menjadi beban untuk mu” aku tak bisa membendung tangisan ku lagi
“beban kau bilang. Ya lagi pula kau sudah lama bekerja tampa memberi tahu ku bukan, sepertinya kau tak menganggap ku lagi sekarang, baik kau boleh mengurus diri mu sendiri mulai sekarang” ia memalingkan pandangannya dari ku
“apa kau tau jio, kau menyakiti perasaan ku… kau membuat ku kecewa, dan yang lebih buruk lagi kau adalah satu-satunya keluarga yang ku punya. Jika itu mau mu aku akan pergi, tak perlu mencari ku karna mulai sekarang kau bukan kakak ku lagi”
Aku mengemasi barang ku dan pergi ke rumah teman ku bella, setelah beberapa hari di sana ternyata tante laras ibunya bella tertarik dengan gaya bicara ku, ia mengajak ku untuk kerja bersamanya menjadi penyiar radio, sejak saat itu aku mulai memiliki gaji yang bisa menutupi semua kebutuhan ku, sesekali aku mendengar kabar kakak dari beberapa orang yang ku kenal, sekarang kakak bekerja di perusahaan tempat ayah dan ibu bekerja dulu.
Aku merindukannya, namun bahkan ia tak pernah mengirinkan pesan pada ku. Malam mulai larut, tante laras mebuka pintu kamar dan mengatakan ada tamu yang menunggu ku di luar, bella mengangguk memberi isyarat agar aku menemui orang itu,
Aku keluar dari rumah dan melihat kakak di depan pintu, seketika hati ku terasa sesak membuat ku ingin menagis. “ada apa mencari ku”, ucap ku ketus menutupi perasaan rindu ku pada kakak
“aku selalu mendengar siaranmu… jadi…” ia menatap ku gugup “maksud ku aku minta maaf, waktu itu aku….”
Aku segera memeluk kakak, air mata ku mulai mengalir tanpa ku sadari “dasar bodoh, apa kau tau berapa lama aku menunggu mu minta maaf, kenapa kau lama sekali datang, padahal kau tau jika kau satu-satunya orang yang ku miliki” deru tangis ku tak lagi bisa ku tahan aku meluapkan semua air mata yang selama ini ku sembunyikan.
Kakak membelas pelukan ku lembut di sela-sela tangisanya, “ayo pulang ke rumah….” Kakak berkata lirih
-TAMAT-