Sengaja ku duduk di dekat jendela. Memandangi luar kelas. Melihat satu per satu orang yang melewati gedung fakultas. Berharap lelaki itu berjalan di jam yang sama 09.00 WIB.
Ini sudah berlalu dua purnama sejak pertama kali ku mengenal senior itu. Waktu itu, lelaki yang sering dipanggil dengan 'Ethan' itu hanya melewati fakultas sastra, dimana aku belajar tentang kata. Dan lorong itu seperti pengikat rasa antara fakultasku dan fakultas teknik, tempat ia berjibaku dengan banyak kode dan angka-angka.
Ah, aku sendiri tak bisa membayangkan persatuan antara 'kata' dan 'kode/angka'. Bisakah menjadi rumus yang indah atau justru sebaliknya saling bertolakan. Sudahlah, ini soal rasa yang terkadang sulit untuk diutarakan dengan kata atau dilogikakan dengan bilangan angka. Cukup rasakan. Apa hal itu membuat senyum merekah dan berbinar penuh harap bertemu dengannya?
"Sudah tidak apa-apa biar aku saja yang membereskannya. Nanti kamu kena hukum, loh," ucapnya kala itu, saat pertama kali membantuku membereskan barang-barang pribadi sekaligus milik teman yang sengaja ditinggal sebab takut terlambat mengumpulkan tugas pada senior yang juga aktifis kampus.
Tak banyak pilihan yang bisa aku lakukan saat itu kecuali mengikuti saran dan menerima bantuannya. Meski aku sendiri merasa tak enak hati. Bagaimana bisa seorang mahasiswa baru, merepotkan seorang seniornya. Padahal ada aturan di kampus ini. Senior tak boleh membantu mahasiswa baru terutama saat masa orientasi. Semoga dia tidak kena masalah.
Segera berlari menuju sang senior yang siap menerima tugasku dan meninggalkan senior lain yang masih sibuk membereskan semua peralatanku yang bercecer di mana-mana. "Terima kasih, Kak," teriakku sambil bersiap berlari walau dengan keringat membasahi.
Nihil, aku berlari lebih cepat menemukan sosoknya. Dimanakah gerangan senior itu? Menoleh kiri-kanan. Tetap saja tak kutemukan.
Berniat duduk sebentar di taman fakultas sebab lelah yang mendera. Tak disangka, pria dengan hem kotak-kotak lengan pendek itu berada di sana. Ia tersenyum saat melihatku. Gegas kuhampiri dirinya.
"Namamu Puspita, ya?" tanyanya saat aku sudah berjarak tiga jengkal di hadapan. Mungkin ia sempat melihat nama pada sampul buku-bukuku tadi.
"Iya, Kak. Maaf ya! Gara-gara aku, Kakak malah tidak jadi ikut kelas." Dia hanya tersenyum menyunggingkan bibirnya sedikit ke atas, saat melihat tangan kutangkupkan sebagai permohonan maaf.
Ia begitu tenang, dari dirinya juga akhirnya kuketahui bahwa seorang mahasiswa punya kesempatan untuk bisa bolos hingga tiga kali. Ah, dunia baru, yang tak lagi berseragam abu-abu.
"Ta ... lihat itu, kan, cowok yang Lo tunggu?" Perkataan Lussy teman karib membuyar lamunanku.
Kuedarkan pandangan keluar cendela kelas. Benar, itu senior yang selalu kutunggu kedatangannya. Melihatnya dari kejauhan saja sudah membuatku senang.
"Ta ... ta ... dia menoleh kesini," tutur Lussy kembali menggodaku.
Aku tersenyum. Saat tak sengaja bertatap dari jarak jauh. Ada sesuatu yang kurasakan, lembut tapi menyenangkan saat kulihat dia tersenyum balik padaku. Pandangan tak beralih sampai akhirnya tak lagi kulihat sosoknya sebab ia telah berbelok arah.
***
Sepulang dari kampus, Lussy mengajakku untuk ke toko buku. Melihat-lihat beberapa novel dan karya-karya sastra terbaru. Sebenarnya sedikit malas. Tak melihat Kak Ethan hari ini, membuat moodku sedikit anjlok. Tak bersemangat.
Lussy memintaku menunggu sebentar di depan pelataran toko, ia hendak memarkirkan sepeda motornya.
"Ayo masuk!" ucap Lussy sambil merangkul pundakku. Berkeliling di rak buku. Membaca satu per satu judul yang tertera di sampul buku. Sesekali melanjutkan membaca sipnosis kala judul menarik perhatian. Saat hendak mengambil novel dengan judul 'Maryamah' karya Andrea Hirata. Tiba-tiba seseorang yang kukenali dengan jelas suaranya menyapa.
"Suka baca novel, ya," tanya Kak Ethan.
"Iya, Kak. Lho Kakak juga suka baca novel, ya?"
Lelaki yang suka berkemeja hem itu hanya mengangguk pelan sambil memperlihatkan novel di tangan, yang sedari tadi kuperhatikan.
Ia memberiku banyak informasi beberapa judul novel untuk referensi bacaanku. Dari romansa hingga thriller. Sungguh di luar duga, pria yang saat ini sedang menempuh pendidikan di teknik, tapi dunia sastra juga menjadi minatnya. Ah, benar saja itu membuatku semakin mengagumi sosoknya.
"Aku suka saat kau diam-diam memperhatikanku dari balik jendela kelas saat aku melewati lorong fakultasmu," tuturnya membuat mukaku merah padam sebab malu atas tingkahku.
"Maaf, ya, Kak." Hanya kalimat itu yang mampu terucap dari bibirku.
Berada hanya sejengkal darinya, membuat degup jantungku seperti berloncatan. Desir aneh juga sesekali kurasakan. Semoga lelaki ini tak mengerti kalau sebenarnya aku sedang menyembunyikan gugup. Bersikap sebiasa dan sewajar mungkin. Beberapa kali menggaruk rambut yang tiba-tiba serasa gatal saat otakku tak lagi bisa dikompromikan.
Semoga Kak Ethan tidak mengerti debaran yang semakin kencang.
Ia menyodorkan selarik kecil kertas dengan tulisan angka di sana.
"Ini nomorku, simpan ya!" Dia mengambil tanganku dan meletakkan kertas di telapak dan pergi berlalu. Sementara aku masih belum percaya dengan apa yang sedang terjadi. Tanganku saja masih bergetar disentuh olehnya. Ternyata cinta itu semenakjubkan ini.
"Ta, ngapain sih kamu diem mematung gitu?" Suara Lussy tiba-tiba dari samping rak.
"Tidak, Lus. Tak ada apa-apa." Segera kumasukkan kertas itu ke saku celanaku. Kumasukkan ke daftar kontak, nanti saja setelah sampai di rumah.
Menit menuju jam, kami sudah menemukan buku yang menjadi pilihan untuk dibeli. Menuju kasir dan pulang ke rumah.
Lussy melambai tangan dan meninggalkanku di pelataran rumah. Ia sudah melaju dengan sepeda maticnya.
Segera ku ambil handphone di saku celana dan memasukkan nomor Kak Ethan di handphone. Kukirim pesan padanya. Tentunya, dengan salam pembuka yang baik.
Lelaki itu merespon cukup baik. Siapa sangka. Lorong yang tadinya sempat kusebut sebagai lorong pembawa sial. Ternyata sekarang justru menjadi jalan cintaku terhadap sang senior kesukaan.
~Sekian dan terima kasih~
~Maaf jika ada kesamaan nama tokoh atau alur ceritanya~