Getaran handphone berulang kali terdengar di telinga Lea. Ia hanya melirik, tanpa menyentuh. Lelaki itu terlanjur membuatnya muak. Sore tadi Lea menunggu di toko roti, berharap John segera datang dengan kotak merah berukuran kecil yang berisi cincin, tak lupa juga dengan mawar. Tapi itu mustahil. John tak kunjung datang, bahkan tak bisa dihubungi. Rambut panjang gadis malang itu berkibar mengenai terpaan angin dari luar jendela. Sayang, hati tak seindah helaian rambut gelombangnya. Handphone itu masih bergetar diselingi nada dering. Jari lentik Lea perlahan menekan layar benda persegi panjang miliknya.
“Ha–”
“Apa? Kau tidak menepati janji! Tidak usah hubungi nomor ini lagi! Pergi saja dengan perempuan lain!” sergah Lea lebih dulu memotong, seraya memeras bantal yang sedari tadi ia peluk. Hening. Tak ada jawaban dari lelaki bertubuh atletis itu. Menit kelima, helaan napas terdengar, lalu diam sejenak. “Bisa kau dengarkan aku dulu?” suara John lebih tenang dari pada Lea.
“Baik,”
“Sore tadi, aku ada urusan. Ibuku meninggal. Bahkan kau tidak tahu bukan? Sekarang kau boleh memarahiku. Tapi jujur, aku tak bisa meninggalkan masalah tadi sore,” jelas John, sedikit gemetar.
“Maaf,”
“Boleh aku ke rumahmu sekarang?” Lea tercengang.
Semudah itu John memaafkannya? Bahkan kini ingin bertemu. Tapi… Mungkin ini keberuntungan untuk Lea. “Ya,” kata Lea, lemas. Lea menutup telepon, lalu beranjak ke dapur membuat kopi hitam, sekedar mengisi waktu sebelum John datang. Hatinya tetap terasa teriris, mengenang kejadian sore tadi. Namun, apa boleh buat? Ibu John meninggal, entah karena sebab apa. Menanyakan hal itu, lebih baik bertanya langsung, sekaligus memperbaiki hubungannya.
Tak lama, bel berbunyi. Lea membuka pintu yang dibaliknya terdapat lelaki yang ia cintai. John menyambutnya dengan pelukan dan kecupan di kening, lalu menatap Lea. “Boleh aku duduk?” pinta John.
“Iya. Silahkan,” Meja sudah menyuguhkan secangkir kopi hangat, pas untuk kondisi cuaca yang kurang mendukung. Di luar masih hujan lebat, pastinya tubuh John telah basah kuyup.
“Untuk apa pisau itu?” Lea mengernyit. Tangan John kini mengepal pisau tajam dari balik jaketnya.
“Aku lapar. Mau makan. Tadi sore sempat makan, namun terburu-buru,”
“Oh, iya. Aku ada daging bakar kesukaanmu. Tunggu,”
John menahan, “Kau di sini saja,”
“Kenapa?”
“Aku ingin menjelaskan sesuatu. Tutup matamu lebih dulu,”
Lea hanya menuruti, menutup mata dengan bibir yang tersenyum lebar. Lelaki itu pasti akan memberi cincin yang ia janjikan. “Ini,” satu kata terucap di bibir John. Lea masih menunggu. Tak lama. Mata Lea terbuka, wajahnya menyeringai menatap John. Lalu kelopak mata itu tertutup kembali, dan, mati.
Pisau John telah berhasil ******* perut Lea. Ia ******** bagian dalamnya, lalu ******** dada Lea. Terdapat jantung, hati, dan paru-paru. Makanan terlezat di dunia. Tak lupa ******** tengkorak kepalanya, meski sedikit susah, tapi terbantu dengan golok yang sebelumnya ia cari di dapur.
Cairan merah kental, kini berceceran di mana-mana. Mulut John masih asyik mengunyah organ tubuh. Perutnya sudah penuh dengan makan malam, yang sebelumnya telah memakan jantung, hati, paru-paru, dan otak ibunya sendiri. Semua ini dilakukan atas dendam. Intinya, John harus cepat pergi tanpa meninggalkan bekas. Sebelum orang lain masuk ke dalam rumah, dan melihat kondisi Lea.
The End