Dia masih menatap lurus dengan raut wajah tembok. Menatap seorang gadis yang masih terlelap damai dalam mimpinya. Dia tahu, gadis itu sangat anti dengan orang asing. Jadi dia tetap menjaga jarak dengan gadis itu.
Meskipun demikian, dia masih penasaran dengan si gadis. Perlahan dia mendekati ranjang dan menatap wajah polos itu dari samping, dari dekat. Lalu sesaat kemudian, dia menarik sudut bibirnya tipis.
Hingga nampak gadis itu mengerjap beberapa kali dan tak lama kemudian dia pun membuka matanya.
"Dimana aku?" lenguh Emely.
Gadis itu melihat sekeliling dan tersentak kaget kala netranya berhadapan langsung dengan tubuh kekar seorang pria.
"Tu-Tuan.... Kenapa saya ada di sini? Dan ini dimana?" gugupnya sembari bergeser mundur.
Dengan raut datar, pria itu menjawab, "Kau ada di apartemen saya."
Emely hanya mengangguk paham. Hingga beberapa saat kemudian, dia seperti menyadari sesuatu.
"Eh. Tunggu dulu. Ini jam berapa, Tuan?" tanya Emely cemas.
"Jam 9," singkat Elvano.
"Malam?"
Pria itu hanya menggeleng dan berkata, "Pagi."
"PAGI!!!! Lama kali saya pingsan. Aduh.... Saya bisa telat lagi nyampe kantor," keluh Emely tak karuan dan langsung bangkit dari ranjangnya serta berlari menuju pintu.
"Tunggu!"
Seketika langkah gadis itu terhenti. Dia pun menoleh ke arah si pria.
"Kenapa? Saya harus segera ke kosan. Saya sudah terlalu telat buat ke kantor," kesal Emely.
"Kau lupa. Saya CEO kantor tempat kau magang. Jadi saya bisa meminta pihak absensi untuk memberikan izin atas ketidakhadiranmu," ucap Elvano.
"Iya juga ya. Tapi....."
"Tidak ada bantahan. Mulai sekarang dan seterusnya, kamu akan tinggal di apartemen ini. Saya akan segera mengurus kepindahan sekolahmu ke kota ini," finalnya dan pria itu pun melenggang pergi.
"Hey, tunggu dulu Tuan Muda!" cegah Emely sembari menarik lengan Elvano. Dan tanpa sengaja dia menyentuh kulit putih pria itu.
"Eh."
Gadis itu terkejut kala mendapati kulit Elvano terasa sedingin es kutub. Dia reflek langsung melepasnya dan itu berhasil membuat pria itu mengalihkan perhatiannya.
"Anda memang bos di tempat magang saya dan Anda juga punya kuasa untuk memberikan berapapun nilai kepada saya. Tapi Anda tidak bisa seenaknya mengatur-atur hidup saya. Masih banyak barang-barang saya di kosan dan saya juga belum mengatakan setuju atas penawaran Anda," nyalang Emely dengan tatapan tajam.
Pria itu hanya tersenyum smirk dan membalas tatapan tajam gadis itu. Dia pun menundukkan tubuhnya yang tinggi agar sejajar dengan tinggi tubuh mungil Emely yang hanya sebahu itu. Lalu pria itu mulai mendekati telinga Emely yang tertutup hijab dan berbisik, "Apa perlu saya beritahu apa yang terjadi semalam? Apa kau mau dibawa dan dicelakai lagi oleh para pemuda itu?"
Bisikan Elvano terkesan mengancam dan membuat gadis itu mengingat memori semalam. Setelah berhasil mendapatkan potongan memori itu, Emely mulai bergidik ngeri.
"Kalau kau mau, silakan. Tapi jika terjadi sesuatu padamu, aku takkan ikut campur," ujar Elvano.
Emely hanya terdiam mematung mendengar penuturan bosnya itu.
"Beristirahatlah. Kalau kau lapar, di dapur ada makanan. Saya pergi dulu," ucap Elvano kembali melengang pergi.
Kini Emely masih terdiam mematung tanpa mencegah pria itu pergi. Gadis itu masih terdiam dan mulai mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. Sampai dia menemukan satu potongan memori yang membuatnya berlari keluar mencari seseorang.
Namun sayangnya, orang yang dia cari sudah tak ada di tempat.
'Manusia gila! Gimana bisa dia mengatakan kalau aku ini istrinya? Sebenarnya apa maksudnya?' umpat Emely tak karuan.
Tetapi karena dia tak menemukan apa yang dia cari, dia pun kembali lagi ke kamar yang luas itu.