Jakarta daerah Cipete .
Namaku Jane .
Aku sedang mencari kost karena harus pindah dari kost lama karena merasa terlalu jauh dari tempat kerja yang sekarang .
Aku SPG disebuah butik daerah Fatmawati.
Setelah kelah berputar dan bertanya sana sini akhirnya aku mendapatkan juga kost yang menurutku lumayan bagus dan murah.
Ada sekitar tujuh kamar yang terletak dibelakang bangunan utama ,maksudnya rumah yang empunya kost.
Pak Budi sang pemilik kost adalah ketua RT setempat ,umur sekitar empat lima .
Istrinya masih muda ,mungkin seusiaku sekitar dua lima dan memiliki dua anak cowok yang masih balita.
Setelah berbincang dan deal sorenya aku pun mengurus perpindahan .Aku mendapat kamar urutan no dua .
Cukup trategis , tak jauh dari kamar mandi yang ada diluar dan tak terlalu jauh juga dari pintu gerbang .
Setelah selasai berberes waktu sudah magrip ,akupun segera mandi dan bersiap sholat untuk sholat .
Malamnya saat para penghuni kost berdatangan akupun memperkenalkan diri.
Anak kost yang tadi sore sudah berada dikamar tentunya sudah berkenalan sedari tadi .
Semua ramah dan terlihat baik.
***
Seminggu berlalu ,semuanya semakin akrab dan sering kumpul diruang tengah yang memang biasa dipake untuk ngobrol atau sekedar nonton tv .
Biasanya kalo sedang malas nonton tv mbak Lina ,anak Palembang akan memetik gitar sambil bernyanyi.
Dia mahasiswa dan penyanyi kafe didaerah Blok M ,begitu katanya .
Samping kamarku ada mbak Rena anak Serang Banten. Mahasiswa yang nyambi kerja di restoran.
Depan kamarku kakak sepupu mbak Rena, mbak Salsa kerja di lapangan golf daerah Senayan.
Yang lain aku tak begitu tahu karena belum banyak ngobrol.
Aku hanya tahu mereka kerja di bank swasta.
***
Malam ini aku tidur sedikit gelisah, entahlah sepertinya mataku tak kunjung terpejam sempurna.
Kembali aku terbangun, dan saat melihat jam ternyata baru pukul sebelas.
Aku berniat keluar menuju kamar mandi.
Saat aku membuka pintu mataku tertuju pada pintu mbak Rena yang tepat disebelah kamarku.
Aku urung keluar karena melihat mbak Rena dan mbak Salsa sedang sholat didepan pintu kamarnya.
Gak mungkin aku berjalan ke kamar mandi tanpa melintas didepan orang yang lagi sholat.
Setelah sepuluh menit aku pun keluar dan menuju kamar mandi karena didepan sudah sepi.
Begitu keluar kamar mandi aku kaget karena dari arah pintu gerbang tampak mbak Rena dan mbak Salsa baru saja pulang.
Lalu siapa tadi yang aku lihat sholat didepan kamar???
Dengan raut bingung aku pun masuk kamar.
Mengingat ingat wajah ataupun kebiasaan meraka berdua.
***
Pikiranku tak enak dan tenang setelah kejadian malam itu.
Setelah aku pikir-piki, aku memang tak pernah lihat mereka berdua sholat atupun sekedar menjemur mukena saat mencuci.
Orang yang aku liat saat sholat malam itu juga gak jelas.
Aku sedikit merinding mengingatnya, tapi untuk lebih jelasnya biar aku tanyakan saja lah nanti saat ada kesempatan.
Malam ini sekitar pukul sembilan kebetulan sudah pada kumpul, akupun akhirnya keluar kamar.
Seperti biasa mbak Lina memetik gitar dan yang lain ikutan bernyanyi.
Melihat aku keluar mereka pun menyuruhku ikut bergabung.
Setelah ikut bernyanyi dan beberapa kali ngobrol sesuatu yang gak penting aku pun akhirnya bertanya.
"Mbak... Yang punya kebiasaan sholat di ruang tengah ini sapa ya?" Tanyaku hati-hati, takut menyingung.
Mereka tampak bingung dan saling pandang.
"Gak da Jane, kan loe tau gue sama Rena gak pernah sholat" jawab mbak Salsa gamblang.
Maka Lina pun angkat bahu dan mengeleng.
"Mungkin mbak yang dikamar ujung?" Aku kembali bertanya.
"ihhh ngapa juga sholat diluar, didalam kamar juga bisa." mbak Rena yang menjawab cepat.
Akupun mengangguk-angguk.
"Kenapa?" Mbak Lina bertanya.
Setelah aku menarik nafas panjang akupun mulai bercerita, seperti apa yang aku lihat malam itu.
Mereka bertiga tampak serius menyimak dan kaget setelah aku selasai bercerita.
Mbak Salsa yang paling lama jadi penghuni kost pun mengangguk tanda mengerti sesuatu.
Setelah berdehem dia berkata sambil menatapku serius .
"Loe beruntung!"
"Maksud mbak beruntung?"
"Lho dikasi liat penunggu rumah ini."
Aku semakin bingung dan tak mengerti apa maksud mbak Salsa.
Akhirnya Mbak Salsa pun bercerita.
Katanya dulu rumah ini tidak nyaman, banyak barang-barang hilang dan entah kejadian apa lagi yang membuat anak -anak kost tidak ada yang betah.
Akhirnya pak Budi pun berinisiatif ke orang pintar dan diberikan dia dua pocong untuk menjaga rumah dan kostnya.
Aku semakin merinding setelah mendengarnya.
"Masa gitu dibilang beruntung mbak ..."
"Nakutin tau..!"
Ha ... Ha...
mereka bertiga malah tertawa.
"Kami aja yang orang lama gak pernah dikasi liat." kata mbak Salsa.
Dan setelah tahu cerita itu aku demam selama seminggu.
Apa aku beruntung ????
End 😁😁✌️