Disclaimer: nama tokoh, peristiwa, dan kasus di dalam cerita hanyalah fiksi.
Panggilan darurat Indonesia, 110. Sudah berapa kali jari-jari ini terus mengetuk-ngetuk layar gawai, mencoba menelepon 110. Ketika tidak tersambung, dia terus menerus menelepon tanpa henti. Namun, usahanya itu percuma. Hingga jasadnya membusuk ditemukan tanpa kepala, panggilan itu tidak ada gunanya. Ada apa dengan layanan darurat? Kenapa mereka tidak menjawab panggilan yang jelas-jelas si penelepon sedang berada dalam situasi genting?
Tentu saja, mereka tidak apa-apa. Bukan karena mereka—pelayanan darurat—sedang bermasalah. Akan tetapi, ada hal yang susah untuk dipercaya.
Korban selamat mengatakan bahwa dia menelepon 110 hampir genap seratus kali. Namun, pihak Call Center bersumpah bahwa tidak ada panggilan apapun selama satu hari penuh. Korban tersebut tetap bersikukuh bahwa dia sudah menelepon berkali-kali, namun riwayat panggilan dalam gawainya berkata lain. Riwayat panggilan yang membuktikan bahwa dia sudah menelepon 110 itu sama sekali tidak ada. Lantas, kenapa bisa begitu?
Agak tidak masuk akal memang. Setiap tanggal satu dan sebelas, jam 11:11 malam, panggilan darurat tidak berfungsi dan pembunuh melakukan aksinya. Bukan karena ada gangguan teknis, tapi memang betul-betul tidak berfungsi secara misterius—tidak dapat dijelaskan oleh akal.
Ingat, saat tanggal satu dan sebelas, tepat jam 11:11 malam, pembunuhan akan dimulai. Pastikan untuk tidak keluar rumah dan pulang sebelum jam sebelas malam. Perlu diperhatikan. Dunia kian aneh, tapi kita harus menerimanya.
Suasana kantor benar-benar sibuk. Kepolisian daerah Bandung terus menerus mendapatkan panggilan. Siapa lagi jika bukan dari masyarakat yang resah dengan rumor tentang pembunuh itu. Terlebih lagi, pembunuh itu beroperasi di Bandung dan mulai melebarkan sayapnya ke sekitaran ibukota Jabar.
Bandung, Kota Kembang. Kini julukan tersebut kian memudar setelah para pemburu berita menerbitkan peristiwa lima penemuan mayat tanpa kepala kepada seluruh jajaran masyarakat. Dan, kelima penemuan mayat itu ditemukan di Bandung. Penemuan tersebut ditemukan di tong sampah, selokan besar, rumah yang tidak dikunci, menggantung di tiang listrik, dan di dalam sebuah mobil.
Ngeri? Sudah tentu. Siapapun yang melakukannya, dia cerdik. Entah sihir apa yang dia gunakan sehingga dapat membuat panggilan darurat tidak berfungsi. Entah alasan apa pula dia mengambil tanggal dan jam yang terdiri dari angka satu saja.
"Eh, si horeng. Mau mati maneh?!" teriak Iptu Dion, tepat di depan wajahku. "Buat apa kamu obrak-abrik lagi kasus yang sudah ditutup?!"
Aku hanya dapat mendengus dan tertunduk. Entah kenapa, diriku begitu terobsesi dengan kasus kebakaran sebuah mobil di dekat Kalimalang. Walau bukan wilayah dinasku, tapi aku sangat yakin bahwa itu bukan sekadar kasus kebakaran biasa.
"Saya yakin, Pak, ada konspirasi. Kebakaran itu bukan karena kebocoran tangki bensin, tapi pembunuhan!" ucapku, menatap Iptu Dion dengan sungguh-sungguh.
Wajah Inspektur semakin merah marah. Dia menampar pipiku dengan sekumpulan kertas yang dipegangnya. Kertas berisi coretan-coretan yang kubuat mengenai kasus kebakaran mobil itu berhamburan ke lantai.
"Ini bukan saat yang tepat, Tan! Kamu seharusnya mengerti, dong!" tegur Inspektur, "Ada lima pembunuhan baru-baru ini, dan kamu malah mengurus kasus lawas?!"
"Sadar diri, Tan!" Inspektur Dion menggoyangkan kedua bahuku, menyadarkan diriku bahwa ini bukan saatnya memikirkan konspirasi di balik penutupan kasus yang belum jelas. Ya, aku menyadarinya dan mengakui bahwa aku sudah melampaui batas.
Aku menghela napas, "Maafkan saya."
Iptu Dion menarik rambutku. Membuat wajah yang awalnya tertunduk ke bawah ini menjadi tegak dan menatap ke arahnya. "Kembali bekerja," titahnya. Setelah itu, dia melenggang pergi.
"Masih sersan jangan sok keras," ledek Aiptu Danang, seraya menahan tawa. Aku hanya membalasnya dengan tatapan sinis dan mendesis layaknya seekor ular.
Di atas meja, sudah ada lembaran kertas yang ujungnya tersapu angin sepoi. Bukan sekadar kertas kosong, melainkan berisi data pribadi kelima korban pembunuhan tersebut.
Korbannya bervariasi. Dari anak kecil hingga orang tua. Tentunya dengan cara membunuh yang sama. Kepala mereka diambil, dan sisanya diterlantarkan begitu saja.
"Kalau ditanya soal motif, sepertinya orang ini hanya asal pilih korban saja," ucapku pada Kang Danang yang mejanya berada di sebelah diriku. "Lihat. Bahkan latar belakangnya saja tidak jelas. Ada dari kalangan anak kecil yang belum melakukan kesalahan fatal sehingga dapat menimbulkan dendam. Tidak etis jika dia membunuhnya hanya karena sepatunya terkena es krim milik anak itu saja."
"Wah, cepat sekali kamu membacanya. Tapi, jika Pak Dion dengar ucapanmu itu, dia akan marah lagi, loh," respon Kang Danang, mengecilkan suaranya pada kalimat terakhir. "Dia yakin kalau pembunuh itu punya motif tertentu."
Aku tersenyum kecut, "Sia-sia saja Pak Dion berusaha mempertahankan praduga tersebut. Karena sudah jelas, pembunuh itu hanya membunuh untuk kesenangan saja."
Sedangkan Kang Danang hanya terkekeh menanggapinya.
Mengembuskan napas, manik mataku beralih menatap kembali sekumpulan kertas yang kini susunannya sudah acak. Membaca satu persatu lembar kertas dengan teliti, kemudian beralih pada lembar lainnya.
"Semoga saja besok tidak ada kejadian pembunuhan lagi. Apakah seorang psikopat bisa hiatus?" Kang Danang bertanya dengan nada candaan.
Aku tertawa kecil, "Mana ada. Akang pikir, psikopat adalah sebuah profesi?"
Kang Danang mengerutkan alisnya, lantas membalas, "Bisa jadi, kan?"
Aku terdiam. Menatap Kang Danang dengan penuh kebingungan. Hingga Joni datang, membuyarkan segala kebingungan itu. Dia menepuk punggungku. Lebih tepatnya sih, dia memukul keras punggungku. Lalu merangkul pundakku sembari menggoda, "Cie ... yang kena bentak Pak Dion."
Dia memang selalu mengejek. Joni selalu membuatku jengkel setiap harinya. Tapi, satu hari tanpa dia, rasanya ada yang kurang. "Kepolisian akan merasa sangat kehilangan ketika aku cuti satu hari." Kalimat itu selalu Joni ucapkan dan sudah menjadi sebuah slogan yang melekat dalam dirinya.
"Maneh kemana? Pak Dion nyari, tuh. Siap-siap, ronde kedua akan dimulai," balas Kang Danang. Membuat Joni terbelalak, "Serius?! Waduh." Pria itu langsung berlari menghadap Pak Dion.
Aku melirik Kang Danang dengan tatapan bertanya-tanya. Dia membalas tatapanku, kemudian tertawa lepas. "Hanya iseng," katanya.
Malam semakin larut. Aku pulang dengan beberapa bagian tubuh yang pegal dan nyeri. Bukankah setelah melakukan aktivitas yang melelahkan paling enak jika tidur? Kuharap begitu. Sampai ... aku mendapatkan kabar yang membuat tubuh ini harus bergerak kembali. Penemuan mayat. Lebih awal dari biasanya.
Telah sampai di TKP, lampu dua warna yang terpasang di atas atap mobil patroli langsung menyerang penglihatan. Garis polisi telah dipasang, warga mulai berkerumun, seakan sedang mengantre untuk mendapatkan sembako gratis.
Pak Dion sudah ada lebih dulu. Dia kelihatan syok ketika melihat jasad tersebut. Kucoba meliriknya. Kepalanya masih utuh. Namun, yang membuat Pak Dion tak kuasa melihatnya bukanlah luka tusukan di dada korban, melainkan korban itu sendiri. Aiptu Danang. Atau yang sering kupanggil Kang Danang. Dia datang, menepuk pundakku.
"Sabar," ucap Kang Danang, "Padahal, dua jam yang lalu kami sempat bertemu di parkiran."
Jasad itu adalah Joni. Tangannya yang berdarah menggenggam kuat sebuah gawai. Apa itu artinya ... Joni mencoba menelepon 110 sebelum dia terkulai tak berdaya?
"Saya yakin, pembunuhnya orang yang sama!" tegasku, menatap Kang Danang dengan emosi yang meledak—sedih bercampur marah. Dia hanya mengangguk dan mengusap-usap punggungku. Tak kusangka. Padahal, Joni terlihat baik-baik saja pagi tadi. Kematian memang tidak ada yang tahu.
Kantor kembali sibuk. Kasus Joni masih ditangani Polsek setempat. Tapi tetap saja tidak membuat kesibukan mereda.
Aku mengambil sebuah peta wilayah Bandung. Kutandai TKP dari kelima pembunuhan dengan spidol merah milik Kang Danang. Mataku menyusuri tiap inci peta tersebut. Menghubungkan yang satu dengan yang lain.
Kuserahkan hasilnya pada Kang Danang. Matanya melotot, "Kok saya gak kepikiran?" tanyanya. Aku hanya menaikkan bahu, mana kutahu.
Titik temuan mayat, apabila dihubungkan satu sama lain, membentuk anak panah. Tanda panah itu mengarah ke sebuah tempat terpencil di Bandung. Apa artinya itu? Hanya pembunuh yang tahu.
Segera Kang Danang memberitahu Pak Dion. Walaupun aku tidak yakin jika Inspektur itu mudah menerimanya. Tak lama setelah itu, Kang Danang kembali, menatap diriku dengan serius, lalu mengangguk pelan.
Malam-malam, aku mengunjungi tempat tersebut dengan kuda besi kesayangan. Gegabah memang. Komando belum diberikan oleh Pak Dion, tapi aku nekat ke sana sendiri. Malam hari pula.
Sebuah gedung sekolah yang terbengkalai adalah titik yang kutandai. Kalau tidak salah, pekan depan gedung ini akan dihancurkan. Itu lebih baik daripada gedung tersebut digunakan untuk uji nyali atau kanvas bagi anak nakal yang sering melakukan vandalisme.
Kutelusuri bagian luar sekolah. Hanya bermodalkan senter saja. Orang mungkin mengira bahwa aku sedang uji nyali, menantang makhluk astral untuk menampakkan diri. Tapi sungguh itu tidak benar. Aku akan menangkap pelakunya.
Hingga tepat di bagian belakang gedung. Aku mendengar suara gemerisik, seperti rerumputan yang terseok oleh kaki-kaki. Dan benar saja. Seseorang ada di sana. Dia adalah pembunuhnya. Aku sangat yakin.
Tak pernah takut, kusorot punggung orang tersebut dengan cahaya senter. Pelan, aku berjalan mendekat. Semakin mendekat hingga tepat berada di belakang orang tersebut.
Kutepuk pundaknya, dan dia menoleh. Dia tak terkejut melihatku, dan aku pun begitu. "Kang Danang," ucapku, "Sudah lama menunggu?" Padahal aku tidak janjian untuk bertemu dengannya.
"Iya ...," sahut Kang Danang, "Tan, kamu—"
"Kenapa Akang membunuhnya?" pertanyaan itu keluar dari mulutku. Membuatnya mengerutkan alis, "Maksudmu?"
Aku mengembuskan napas. Tersenyum kecut seraya memandang tajam pria itu. Kulempar sesuatu ke arah wajahnya dengan penuh emosi. Kang Danang mengutip barang tersebut, lantas terbelalak melihatnya.
Sebuah tutup spidol. Ya, Kang Danang meminjamkan spidol merah padaku tanpa tutup, sehingga ujung spidol tersebut mengering. Aku harus mencelupkannya pada air terlebih dahulu agar dapat dipakai. Dan, tutup spidol itu kutemukan di sisi jenazah Joni.
"Hanya tutup spidol, kau berasumsi bahwa aku membunuh Joni? Lawak sekali," sanggahnya, terkekeh kecil untuk menghiasi kalimat terakhir. "Jangan mengelak lagi, Kang!" teriakku parau.
Kang Danang nampak santai. Dia mengembuskan napas, kemudian memasukkan kedua tangannya pada saku jaket.
"Kenapa, Kang?" Aku kembali mendesaknya untuk mengaku.
"Joni itu polisi busuk," ucap Kang Danang, "Dia menerima suap dari seorang Jaksa untuk menggelapkan barang bukti." Secara tidak langsung dia mengakui bahwa memang benar dia yang membunuh Joni.
"Akang yang lebih busuk!" Kutarik jaketnya, berteriak di hadapan wajahnya dengan penuh emosi.
Kang Danang menatapku datar. Dia menggerakkan rahangnya seperti sedang mengunyah sesuatu. "Sama-sama busuk jangan sok keras," ujarnya. Membuat tanganku perlahan lepas dari jaketnya.
"Kau kemanakan lima kepala itu?" pertanyaannya menghentakkan jantungku. Kini mataku yang terbelalak kaget. "Kembalikan. Orang tuanya mencari."
Bagaimana orang ini ... bisa tahu?
Tanpa sadar, seutas senyum terlukis pada wajahku. Kembali menoleh pada Kang Danang yang nampaknya tidak ada rasa takut sama sekali.
"Kenapa kamu melakukannya?" tanyanya kembali, tetap saja terlihat santai.
Aku tersenyum tipis, lalu menjawab, "Tak henti-hentinya aku mengingatkan manusia tentang kematian."
"Mengingatkan manusia soal kematian dengan membunuh manusia itu sendiri secara acak?" Kang Danang terkesan mengejek.
"Aku akan berhenti ketika korban menginjak angka sebelas."
Kang Danang masih terlihat santai. Tapi aku tahu, hatinya kalut dengan emosi dan jantungnya memompa darah dengan cepat. "Kenapa harus sebelas?" tanyanya, seraya melepaskan kaca mata. "Aku suka angka satu," jawabku cepat.
"Kenapa harus satu?"
Kang Danang banyak bertanya. Aku dan dia sudah mengaku bahwa kami sudah membunuh insan dan menjadi incaran polisi saat ini. Tapi dia terlihat biasa saja. Bahkan amarah yang terpancar dalam matanya tidak ada sama sekali.
Aku menunjuk leher sendiri dengan jari, kemudian beralih pada mata, dan terakhir adalah telinga. Kang Danang yang mengerti isyarat itu langsung melotot.
Kutunjuk pula gundukan batu-batu kecil di sisi tembok bangunan. Kira-kira, tinggi gundukan itu satu setengah meter. Orang awam tiada yang curiga dan mengira bahwa itu hanyalah bahan bangunan.
"Kepala anakmu ada di sana."