"Saya dengar kamu meminta upah untuk hasil kerjamu di kantor saya, benar?" tanya seorang pria muda dengan tatapan tajam yang kini tengah duduk di kursi kebesarannya.
Bryano yang juga ikut mendampingi atasannya pun sedikit heran akan apa yang dia dengar.
'Tunggu. Bukannya dia mau berterima kasih pada anak magang ini. Kenapa dia justru menanyakan hal lain?' batin Bryano.
"Ehm.... Izin perbaiki. Lebih tepatnya bukan upah, karena saya hanya karyawan magang di sini. Tapi lebih ke..... sedikit bonus. Itupun kalau Tuan Muda tidak keberatan," ucap Emely hati-hati.
Emely mengetahui betapa tegasnya atasan di kantor itu. Jadi dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak menyinggung beliau.
"Kalau boleh saya tahu, untuk apa bonus itu kau gunakan nantinya?" tanya sang atasan dengan serius.
"Untuk membayar sewa kos selama saya magang," jawab Emely polos.
Pria muda hanya berdehem ringan sembari nampak sedang berpikir.
"Bisa saja saya mengabulkan permintaan kamu. Tapi ada syaratnya," tegas Elvano.
"Benarkah Tuan Muda? Apa syaratnya?" tanya Emely antusias.
Elvano hanya tersenyum smirk. Pria itu kembali menatap netra Emely tajam.
"Selama masa magang, kamu harus meninggalkan kos-kosanmu itu dan menempati apartemen yang sudah saya sediakan. Tenang saja, apartemen itu milik saya. Jadi kamu tak perlu pusing memikirkan biaya sewa," jelas Elvano.
"Ok. Hanya itu saja?" tanya Emely sembari sempat berpikir.
Elvano hanya menggeleng, itu membuat Emely heran.
"Lalu, apalagi syarat lainnya?" tanya Emely lagi.
"Setelah masa magangmu selesai, saya mau kau pindah sekolah ke kota ini. Jadi kau bisa tinggal di apartemen itu sampai kamu lulus. Bahkan sampai kau melanjutkan pendidikanmu ke perguruan tinggi. Bagaimana? Kau sanggup?" tanya Elvano intens.
"Hm... Gimana ya? Saya tidak terbiasa merepotkan orang lain," sanggah Emely.
"Itu kembali padamu. Karena pada dasarnya karyawan magang itu memang tidak memiliki upah sejenis uang. Mereka ikut membantu tak lebih hanya untuk belajar dan mendapatkan nilai bagus. Benar, kan?" ucap Elvano sedikit menyudutkan.
"Huh... Saya akan coba pikirkan tawaran Tuan. Berikan saya waktu dua atau tiga hari," pinta Emely kemudian.
"Baiklah. Saya harap kamu dapat memilih jawaban terbaik."
"Terima kasih, Tuan Muda. Saya pamit ke ruangan saya. Permisi," seru Emely sembari berlalu.
Setelah Emely benar-benar menghilang dari pandangan, Bryano menatap Elvano dengan raut penuh tanya.
"Van, bukannya kau mau berterima kasih pada anak magang itu. Kenapa kau justru bertanya hal lain? Kau pun memberikan apartemen itu pula," berondong Bryano dengan banyak pertanyaan di benaknya.
"Huh... Aku melakukannya tak lain adalah supaya aku lebih mudah melindunginya," jawab Elvano singkat.
"Bagaimana bisa.... Tapi tunggu, jadi.... Jangan bilang kalau gadis magang itu...."
"Iya. Dialah reinkarnasi istriku. Kau tak lihat wajahnya saja begitu mirip dengan wajah istriku? Bahkan karakternya tak beda jauh," ucap Elvano lagi.
"Lalu bagaimana dengan sahabatnya? Bisa jadi sahabatnya juga diincar oleh para vampire merah itu," ucap Bryano meminta pendapat sahabatnya itu.
"Memang benar. Tapi yang paling diincar tetap istriku. Kalau untuk sahabatnya, kau bisa ikut membantuku menjaga sahabatnya itu," titah Elvano tegas tanpa penolakan.
Sebenarnya Bryano ingin membantah. Namun melihat tatapan matanya Elvano yang begitu mengerikan, pria itu pun terpaksa mengiyakannya.