Gadis itu terus berayun dengan tawa, tetapi aneh kenapa dia tertawa jika kapak itu masih tertancap di lehernya. Sedangkan gadis yang mendorongnya menangis, tanpa. Aku mendekati mereka,tapi semua menjadi gelap. Yang kurasakan adalah kesakitan. Dua gadis itu berada di depan ku. Gadis ayunan itu tersenyum dan berjongkok.
"Kakak,ayo pergi. Ayo bermain"
Aku hanya melihat gadis itu tanpa ekspresi. Lagi-lagi hitam. Gelap.
"Aluna! Bangun!"
Teriakan itu membangunkan ku. Dimana gadis itu?
Pintu kamarku terbuka paksa, "Berapa kali aku harus memanggilmu ha!"
"Ayah sakit"
"Anak gak tahu diuntung!"
Pukulan ayah semakin keras. Sesuatu mengalir dari kepala ku.
"Mati saja kau seperti ibumu!"
Gadis ayunan itu muncul lagi.
"Ayo main lagi, Kak"
Aku mendorong ayunan itu. Aneh,seperti ada yang kurang. Yang kurasakan sekarang, hanya hampa.
"Kan sudah kubilang" gadis itu mendongak dan menatapku, "Dunia ini hanya ada Iblis" suara gadis itu berubah menyeramkan.
Aku mengangguk, tak bisa menjawab. Ah sekarang aku ingat, kepalaku di pajang oleh ayah di kamarnya ya. Miris.
"Ingin ambil kepalamu, Kak?" tawar gadis itu.
Sekarang aku merasa senang. Tak ada hampa, tapi masih terasa aneh.
"Ayah, mau bermain?" tanya ku yang memasangkan kepala ayahku di tempat kepalaku di simpan.
Perempuan itu melihatku dengan tatapan dingin. Dia mendekatiku tanpa berkata datu kata pun. Beberapa menit dia hanya melihatku. Eh, dia melihatku? Tiba-tiba perempuan itu tersenyum.
"Iblis kecil itu benar-benar" gumam perempuan itu, "Hei nak, kau tak ingin pergi dan merasakan ketenangan?"
Aku menatap bingung perempuan itu, "Apa itu ketenangan? Memang aku harus pergi kemana?"
Perempuan itu menunduk lalu tertawa kencang, "Ternyata kau masih sepolos itu"
Eh? Apa ini? Kenapa pandangan ku…
Bukan ini, kepala ku!
Aku melihat perempuan itu membersihkan pedang berwarna hitam dengan kain putih.
"Selamat datang di neraka, Nak"
Perempuan itu tersenyum lalu menghilang. Ah jadi ini ketenangan?