Lovely Xiao by Haifa Kamila
Genre: Slice of life
***
Sang mega yang elok tampak akan terbenam di ufuk barat, burung camar berseru dan menari-nari membentuk koloni di awan berarak dengan rona jingga di Kota Bontang.
"Masih sore, tapi begitu dingin, brrr ...," keluh Kana yang pulang terlambat memutuskan mengambil jalan pintas melalui gang perumahan BTN-PKT yang cukup sempit. Saat Kana berbelok, gadis itu melihat sekilas seorang laki-laki dengan ... telinga dan ekor, mungkin setengah kucing.
Dia memiliki luka di tubuh dan rambutnya berantakan, bahkan pakaiannya ikut kotor!
Catboy sepertinya menyadari kehadiran Kana, segera berbicara, "Apa yang kamu inginkan?" Nada suaranya terdengar agresif, tetapi ekspresi catboy itu menunjukkan rona ketakutan.
Kana termenung, sebenarnya gadis itu memiliki cukup pengalaman dalam berinteraksi dengan banyak jenis kucing. Kana kini menimang-nimang antara akan membantu atau akan meninggalkannya di sana sendirian.
Namun, begitu memandangi tubuhnya yang menggigil, sebab sebentar lagi menjelang malam—itu artinya catboy itu pasti akan lebih membeku dingin.
Kana menghela napas berat, nurani yang selembut sutra ini tidak bisa sampai hati membiarkan catboy yang malang dan terluka sendirian, jadi ....
Kana berjongkok, berusaha sejajar dengan wajah catboy yang malang itu, tetapi tetap sedikit menjaga jarak. "Hai, kucing manis. Aku ingin mengobatimu, bisakah kamu mendekat sedikit?" tanyanya penuh perhatian.
Catboy yang sebelumnya bertingkah sangat agresif, sekarang membeku ketika Kana mencoba berbicara dengan suara yang menenangkan itu, bahkan helaan napasnya bertambah kencang, seperti tidak percaya bahwa seseorang bersedia membantunya—kentara dari ekspresinya yang berubah menjadi kebingungan.
Namun, meski belum percaya situasi ini, perlahan dia mengambil langkah maju dan mendekati Kana dengan raut waspada dan terus mengawasi gadis itu sambil memantau bagaimana tindakan Kana selanjutnya, seolah ada bagian dari dirinya yang ingin memercayai Kana.
Kana tersenyum lembut. "Oke, kamu kucing yang pintar. Aku akan segera mengobati dan merawatmu, tidak apa-apa, 'kan?" Gadis itu membelai pipinya yang kotor.
Ekspresi catboy itu seketika berubah saat kepalanya dibelai, mengendurkan gestur tegang di lengannya dan mulai mendengkur, tanda bahwa catboy ini telah menurunkan kewaspadaannya pada gadis asing yang begitu baik itu. Ekornya yang lucu bergoyang-goyang, mendengkur perlahan dan laki-laki itu memeluk dirinya sendiri, ketika catboy dihantam rasa syukur karena Tuhan mempertemukannya dengan seseorang yang penyayang dan lembut.
"Jika kamu mau diobati olehku, tolong katakan sesuatu, hm?" Kana mengulum bibir ketika melihat catboy itu hampir santai dibelai olehnya.
"Aku ingin dirawat olehmu." Akhirnya memberikan jawaban, untuk sesaat Kana dapat melihatnya sedikit merah dan tersipu. "Tolong Xiao."
Kana pun dapat melihat bagaimana dia mencoba mengendalikan emosi, tetapi tidak tertahankan saking kuatnya, kemudian dengkuran yang lolos dari bibirnya tak berhenti dan matanya menutup nikmat karena sangat senang pada momen ini.
"Oh, jadi namamu Xiao? Nama bagus untuk kucing yang agresif sebelumnya, lalu izinkan aku?" Kana meraih tubuh Xiao dan mulai menggendong dengan mudah. "Sepertinya kamu luka sedikit parah, jadi daripada memakan waktu menunggumu berjalan, aku akan terus begini sampai rumah, oke?"
Xiao tersentak kikuk, tidak tahu harus berbuat apa kala Kana mengatakan itu, sepetinya catboy tidak mengharapkan Kana melakukan hal ini, tetapi kentara Xiao menikmati perasaan hangat dari pelukannya. "Te-terima kasih."
Terlepas dari keadaannya, Xiao tampak mencoba mempertahankan ketenangan dan tidak mau menunjukkan seberapa banyak wajahnya terbakar, tetapi itu jelas tidak berhasil berjalan dengan baik. Xiao terus mendengkur samar dan ekornya terus bergoyang sedikit saat Kana fokus berjalan dengan menggendong tubuhnya.
"Dirimu kotor sekali, sebenarnya apa yang terjadi sampai bisa begini?" Kana merogoh saku celananya dan mengambil tisu basah, lantas mulai menyeka wajah Xiao yang cokelat penuh debu.
Perhatian yang Kana berikan terlalu banyak untuk ditangani, laki-laki itu menatapnya penuh kekaguman karena ini adalah sesuatu yang belum pernah Xiao dapat sebelumnya. Perona pipinya semakin dalam dan Xiao tersenyum malu. "Aku bertengkar," jelasnya pelan, Xiao menghindari kontak mata sejenak dan melihat ke bawah, mungkin malu kala Kana melihat penampilannya yang seperti itu sekarang. "Seseorang mencuri uangku dan ketika kucoba menghentikannya, aku berakhir luka begini." Xiao mengangkat bahu kecilnya.
"Ya begitulah, dia sangat besar dan meski pria, tubuh ini kecil. Dia baru saja memukuliku dan mengambil dompet dari kantongku," ungkap Xiao dengan penjelasan sederhana, menunjukkan memar di tubuhnya, mungkin dalam beberapa hari memar itu akan berubah menjadi ungu dan kuning. "Dunia yang kamu lihat tidak seperti itu, kadang bisa sangat kejam ... kamu harus kuat untuk bertahan hidup." Xiao terlihat sedih, sebenarnya tidak ingin terlihat lemah, tetapi di saat yang sama tidak berbohong—membuatnya membuang muka sejenak dan setitik air mata mengalir di pipinya.
"Pasti sakit sekali, ya? Mulai hari ini, aku mengadopsimu dan merawatmu, terdengar baik untukmu?"" Kana menyeka air mata Xiao sekenanya.
Xiao merasa itu berlebihan, bahkan sampai mereka di rumah. Setelah bertahun-tahun hidup di jalanan, dia memiliki persepsi bahwa kebaikan tidak lebih dari fatamorgana, tetapi Xiao mulai belajar menerima kasih sayang dan cinta dari pemilik barunya, terus menangis bahagia karena itu.
"Sorry aku baru pulang, kamu mau martabak telur nggak, Cing?"
"Meow? Mauuu!"
"Aku akan menjadi rumahmu, keluarga yang bisa kamu jadikan tempat untuk pulang di saat kamu lelah atau tidak nyaman, dan ambillah seluruh kasih sayang untukmu sendiri! Biar aku perlihatkan banyak keindahan di dunia yang bisa kamu raba dan rasakan!" imbuh Kana dengan keyakinan dan semangat yang melambung kuat.
"Kenapa kamu begitu baik, Kana? Aku merasa tidak pantas mendapat cinta sebanyak ini dari seseorang."
Seiring berjalannya waktu, usaha Kana mulai membuahkan hasil yang manis, setelah tiga bulan mencoba meluluhkan Xiao yang tidak terbiasa terbuka dan mengungkapkan apa yang dia rasakan atau pikirkan. Suatu pagi di tiga bulan mereka berdua tinggal seatap.
"Kamu pantas mendapatkan cinta dan kebahagiaan, Xiao. Kamu memang sudah cukup layak dicintai dan aku akan terus dan terus menghapus memori menyakitkanmu sebelum kamu bertemu denganku dan masih berpikir tentang sisi kekejaman dunia semata."
Mendengar penuturan Kana yang lembut dan tidak menghakimi, napas Xiao tercekat dan tersengal sesak, seolah dadanya mau meledak karena begitu bahagia. Wajahnya terbakar karena air mata yang membasahi pipinya, tidak bisa mendeskripsikan bagaimana catboy bahagia bertemu seseorang yang mau mencintainya tanpa imbalan, segala tindakan dan perkataan Kana mampu mengubah sudut pandang Xiao terhadap dunia yang sebelumnya hanya tertanam buruk di benak mungilnya.
"Terima kasih, terima kasih sudah mau memberi cinta, rumah, dan keluarga untukku, aku tidak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikanmu. Aku benar-benar ... merasa hidupku sangat bahagia karena kehadiranmu di hidupku yang suram dulu. Sungguh."
Kana mengangguk tulus, membiarkan Xiao meremas pundaknya erat ketika masuk ke dekapan gadis itu yang begitu hangat dan nyaman. Hanya di sanalah, Xiao tahu kebenaran tentang kebaikan yang murni nyata adanya.