Mungkin ini bukan sebuah cerita, melainkan hanya sebuah ungkapan untuk seseorang.
Sampai saat ini,entah sudah purnama yang ke berapa dari terakhir kali kita bercerita, ternyata aku masih belum beranjak juga, masih disini, di saat pertama kali kau mengabaikanku, dengan semua pertanyaan yng sampai saat ini tak kunjung kau jawab.
Bagaimana aku bisa dengan mudah lupa, sedang yang ku ingat adalah "kau menemukanku di saat aku bahkan tak menemukan siapa-siapa" (selain Tuhan tentunya),di saat aku merasa berada di titik terendah dalam hidupku. Kau hadir menawarkan tawa dan ruang untuk bercerita. Terdengar sederhana tapi saat itu,itulah yang ku butuhkan.
Lingsir wengi
Sepi durung biso endro
Kagodho mring wewayang
Angreridhu ati
Kawitane mung sembrono
Njur kulino ra ngiro
Yen bakal nuhun tresno
Nanging duh tibane
Aku dhewe kang nemahi
Nandang bronto kadung loro
Sambat, sambat sopo?
( Lingsir Wengi, cipt Sukap Jiman)
Seperti katamu, lagu itu seperti kita.
Seiring berjalan nya waktu,dengan kamu aku seperti menemukan dunia baru, dengan seseorang yng bisa membuatku tersenyum meski hanya dengan sekedar sapaan, atau tertawa lepas karna sebuah cerita absurd atau guyonan,seseorang yang bersedia mendengarkan semua hal yang ingin ku ceritakan,atau sekedar mendengarkan tangis yang tak lagi bisa ku tahan. Aku bahagia dengan itu dan mampu melupakan apa yang membuatku sesak. Bahkan dari semua yang kamu ceritakan,aku seperti melihat belahan bumi lain tempat mu tinggal.
Terlalu banyak yang sudah kita ceritakan hingga aku merasa apapun yng terjadi kini,selalu bisa membuatku mengingat mu.
Ku kira semua akan berlangsung seperti katamu dulu "selama aku mau", itu berarti selama keadaan memungkinkan, tapi ternyata suatu ketika tiba-tiba kau mengabaikanku, dan saat ku tanya "kenapa?", kau menjawab " karna kamu baru sadar ternyata aku melibatkan perasaan hingga merasa ini salah" , ya... Alasan klasik tapi bikin sakit.
Bagaimana itu bisa jadi alasan padahal aku mengatakan kemungkinan itu sejak awal, "aku terlalu lemah dengan perasaan ku dan kita sama-sama sadar kalau kita memang tidak seharusnya" ,kamu sendiri bahkan memperingatkanku jika kita lanjutkan maka "aku seperti menerjang badai yng bisa menghanyutkan bahkan menenggelamkanku", dan aku tetap memilih menerjang badai itu hanya demi kebahagiaan semu, dan aku tau akhir yng sebaik apapun itu akan tetap menyakitiku. Tapi kenyataan nya ketika aku hanyut dan tenggelam justru kamu yang tidak siap. Lebih memilih abai dan menghindar,dan itu adalah akhir yang tak pernah ku bayangkan
Aku memang pakai rasa tapi logikaku tidak mati rasa, aku cukup tau diri untuk tidak ber espektasi lebih, sekedar berkabar bercerita dan tertawa bersama itu sudah lebih dari cukup bagi ku. Tidak pernah berharap lebih dari yang sudah ku terima, hanya waktu mu, itu saja.
Arungi malam
Terjaga kala semua tlah terbenam
Berkaca bertanya apa ku buat salah
Kalaupun iya, apa?
Apakah sebesar itu hingga
Kau pergi tanpa aba-aba
Bahkan tanpa alasan
Hingga ku harus menerka-nerka
Salah ku dimana?
Apa mungkin caraku bicara
Apa mungkin caraku tertawa
Apa mungkin dengkurku saat tertidur lelap
Atau mungkin kamu yang tak lagi cinta
Sampai sekarang
Dariku belum ada yang berubah
Ku bisa salah maka itu jelaskanlah
Dimana letak yang tak kau suka
Dari dulu semua burukku kau terima
Katamu tiada yang mengganggu
Mengapa tiba-tiba jadi masalah
( Bernadya, Apa mungkin)
Sejak saat itu tak ada lagi alasan atau penjelasan,lalu aku harus mengatasi sepiku sendiri, tapi aku "seperti menunggu titik akhir dari sebuah cerita yng sudah di tinggalkan penulisnya".
Mungkin di cerita kita ada yang ku lupa, "kalau aku hanya seorang pemeran dan kamu Authornya "
Sebaik apapun akhir yang ku inginkan tak akan terjadi jika Author nya tak berkehendak.
Dari semua kemungkinan alasan yang ku pikirkan bolehkah sekali saja aku berpikir "bahwa sebenarnya kau juga terluka, dan berusaha agar kita sama-sama tak tersakiti lebih dari ini"
Terkadang saat aku kembali melewati hal tak menyenangkan, dan aku ingin bercerita, aku berharap moment kita terulang, meski sekali saja,atau untuk terakhir kalinya.
I still think of you too if only you knew
When I'm feeling a bit down I know
Wanna pull through
I look over to your photograph and I how much I miss you, I miss you
( Honne,locations unknown)
" kita hanya fatamorgana, dan aku harus kembali pada kenyataan bahwa tidak ada satu orangpun yang bisa ku paksa bertahan ada dalam ceritaku meski aku ingin"
Bagaimanapun akhirnya aku senang "pernah menemukanmu di dunia yang luas ini"
Akan ada yang beranggapan ini terlalu berlebihan, tapi di luar sana aku yakin banyak orang yang merasakan hal yang sama.
sekedar "nyaman", tapi katanya nyaman itu jebakan,lebih berbahaya dari pada jatuh cinta, dan ketika di tinggalkan kamu akan benar-benar berantakan, karna dengan orang yang kita cinta terkadang kita hanya berusaha menunjukan sisi baik kita, tapi dengan orang yang kita rasa nyaman kita bahkan tak segan menunjukan sisi buruk kita.
Hubungan tanpa status itu tidak akan pernah selesai, karna tidak ada kata memulai di dalamnya, dan kamu membuktikan kata-kata itu nyata adanya
Terimakasih pernah jadi pelangi di tengah badai yang menerpaku,semoga aku segera menemukan kembali pelangi ku dengan orang yang seharusnya.
Dan untuk mu,semoga segera menemukan seseorang yang mampu membuatmu merasakan bahagia yang sesungguhnya,bukan kebahagiaan yang semu seperti saat bersama ku, meski kamu bilang "di dunia ini tidak ada yang bahagianya sempurna".
Every hi every bye every i love you've
Ever said
Couse all of the small thing that you do
Are what remend me why i feel for you
And when we're apart and I'm missing you
I close my eyes and all I see is you
And the small thing you do
( New west, Those eyes)
Sukabumi, 16 April 2023