Namaku Zahra, Anindya Keisya Zahra. Ini adalah kisahku, tentang keadaan yang tak dapat menyatukan dua hati yang saling mencintai. Percayalah, setiap dari kita berhak untuk mencintai dan dicintai tapi tidak untuk memiliki.
Randy, seorang cowok yang selalu menyibukkan anganku untuk memikirkannya, senyumnya yang begitu menawan, pembawaannya yang santai, semuanya seolah sempurna dengan prestasi yang diraihnya di sekolah.
Jam telah menunjukkan pukul 12 tepat, namun mata ini tak kunjung terpejam. Aku membalikkan tubuhku, menenggelamkan kepalaku pada bantal, berusaha untuk segera terlelap.
Samar-samar ku lihat seseorang yang sangat akrab dengan mataku, seseorang yang sudah melekat erat di mata, hati dan jiwaku.
"Raa...." terdengar suara yang begitu ku kenal.
Ya, seseorang yang berdiri tak jauh di hadapanku itu adalah Randy. Akupun menghampirinya, terlihat jelas olehku sebuah senyuman yang tergaris indah di bibirnya.
"Raa...." kembali dia memanggilku dengan begitu pelan, hampir tak terdengar.
Namun, tiba-tiba aku merasa ada yang menarikku. Samar-samar ku dengar suara Bundaku tersayang.
"Zahra, bangun sayang," ucap Bunda sambil menarik selimutku.
Ternyata aku hanya bermimpi.
"Kamu tumben nggak denger alarm?"
"Cape' Bun, semalam suntuk Zahra belajar buat ulangan hari ini."
"Ya udah, buruan mandi!"
"Iya Bun."
Seusai menyambar satu potong roti dan segelas susu, aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki.
"Zahra berangkat ya Bun, assalamu'alaikum," ucapku sambil mencium punggung tangan Bunda.
"Wa'alaikumsalaam sayang," jawab Bunda dengan senyum bidadarinya.
Tak berapa lama aku berjalan,
"Ra, ayo bareng kita aja!" ucap seseorang dari dalam mobil yg perlahan sejajar dengan posisi ku berjalan. Dia adalah Kirana, perempuan cantik bak malaikat dengan sikapnya yang lemah lembut yang membuat siapapun akan suka berada di dekatnya.
"Nggak Ran, aku jalan kaki aja,' jawaku dengan tersenyum.
"Udah ayo, udah mau bel masuk loh!" lanjut Randy yang berada di balik kemudi.
Akhirnya aku menerima ajakan mereka. Ya, Kirana dan Randy memang telah menjalin hubungan beberapa bulan terakhir ini. Namun jauh sebelum itu, aku dan Randy sudah bersahabat dari kita masih SD, kita begitu dekat, sangat dekat. Tapi itu dulu, sebelum Kirana datang diantara aku dan Randy.
Sesampainya di sekolah, aku segera turun dari mobil dan segera ke kelas. Tak lupa ku ucapkan terimakasih pada mereka yang telah memberiku tumpangan.
"Ra, tunggu!" teriak Kirana padaku.
Aku yang sudah berjalan tak terlalu jauh menoleh ke arah Kirana dan,
"Cuup!"
Sebuah pemandangan "indah" tersaji di depanku. Randy mengecup kening Kirana sebelum mereka berpisah untuk berjalan ke kelas masing-masing.
Aku segera mengalihkan pandanganku, meski percuma karena otakku sudah merekamnya dengan baik.
"Sungguh pagi yang membuat rusak seluruh hariku," batinku.
Selama pelajaran berlangsung, aku mencoba fokus pada materi yang disampaikan oleh guru, karena kejadian tadi sungguh sangat menggangu pikiranku.
Bel istirahat berbunyi.
"Ran, ke kantin yuk!" ajakku pada Kirana.
Ya, aku memang sekelas dengan Kirana dan Randy berbeda kelas dengan kita.
"Kamu duluan aja Ra," jawab Kirana lemas.
"Kamu kenapa Ran? kok pucet gitu?"
"Nggak papa Ra, cuma pusing aja."
"Hidung kamu berdarah Ran, aku ambilin tissue ya,"
Aku segera mengambil tissue di tasku dan membantu Kirana membersihkan darah yang keluar dari hidungnya.
"Kita ke UKS ya!" ajakku sambil membantunya berdiri.
Belum sempat kami berjalan, Kirana sudah ambruk, beruntung aku masih bisa menopang badannya agar tidak langsung jatuh ke lantai.
Aku dan teman-teman segera membopongnya ke UKS. namun karena keadaannya yang terlalu lemah, guru piketpun mengajakku untuk membawa Kirana ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, Pak Hasan, guru. piket yang mengajakku mengantar Kirana menyuruhku segera kembali ke sekolah karena akan ada ujian setelah jam istirahat.
Bel pulang berbunyi. Seperti yang ku duga, Randy datang ke kelas ku untuk mencari Kirana.
"Dia ke rumah sakit X, tadinya aku mau menemaninya, tapi Pak Hasan melarangku," jelasku pada Randy.
"Kamu mau nemenin aku kesana nggak? aku khawatir sama dia."
"Boleh, aku juga mau melihat keadaanya."
Aku dan Randy pergi ke rumah sakit tempat Kirana dirawat. Entah kenapa dalam perjalanan hanya ada kebisuan diantara kita. Semuanya sudah berbeda, aku dan Randy sudah tak seperti dulu lagi, seperti ada jarak yang memisahkan kita meski kita berada dekat satu sama lain. Aku sangat menyadarinya, karena kini ada Kirana yang harus ia jaga perasaannya.
Ketika aku hendak menyalakan radio, tanpa sengaja Randy juga melakukannya, sehingga tangan Randypun menggenggam tanganku. Jantungku berdebar begitu hebatnya.
"Randy," ucapku dalam hati sambil menarik tanganku dengan cepat.
"Eh, sorry, aku mau nyalain radio tadi," ucap Randy yg terdengar gugup.
"I.. i... iyaa, aku juga tadi," ucapku yang tak kalah gugup.
Aku dan Randy pun hanya tersenyum. Rasa di hatiku seolah tersiram kembali karena kejadian tadi.
"Mmmm, Ra, gimana kabar kamu?" tanya Randy memecah keheningan.
"Baik, kok aneh ya rasanya kamu nanyain kabar gini hehehe," jawabku dengah sedikit terkekeh.
"Hehehe, aneh kenapa Ra?" tanya Randy sambil menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak sedang gatal.
"Ya aneh aja, kan kita tiap hari ketemu di sekolah,"
"Kamu bener Ra, kita tiap hari ketemu di sekolah, tapi aku ngerasa kalau kita sekarang makin jauh Ra, nggak kayak dulu."
"Iya, kamu sekarang kan udah sama Kirana, jadi kamu sering ngabisin waktu sama dia."
"Tapi Ra..."
"Apa?"
"Mmmm, enggak, aku seneng bisa ngobrol lagi sama kamu,"
Aku tak menjawab, hanya tersenyum. Seperti ada sesuatu yang dia simpan, sesuatu yang terlihat sulit untuk diungkapkan, tapi entah itu apa.
Akupun merasakan apa yang Randy rasakan, bahagia. Ya, satu kata yang mampu menggambarkan hatiku saat ini.
Sesampainya di rumah sakit, aku dan Randy segera menuju ke kamar Kirana.
"Kamu kok nggak bilang sih kalau kamu sakit?" tanya Randy cemas.
"Aku nggak papa kok, cuma pusing aja," jawab Kirana yang masih terlihat lemah.
"Sekarang gimana keadaan kamu?" tanyaku pada Kirana.
"Udah baikan kok, makasih ya kalian udah jenguk aku."
"Ya udah aku balik dulu, kamu cepet sehat ya," pamit Randy pada Kirana.
Aku pun berniat untuk keluar terlebih dahulu sebelum melihat Randy mengecup kening Kirana. Namun Randy memegang tanganku, mencegahku keluar ketika ia mengecup kening Kirana. Entah apa maksudnya, kamipun keluar bersama dan pulang.
Dalam perjalanan pulang, sama seperti sebelumnya kita hanya terdiam membisu. Entah apa yang dipikirkan Randy saat ini, tapi aku sudah pasti memikirkan kejadian tadi, ketika Randy menahanku untuk keluar terlebih dahulu.
"Ra..." panggil Randy di tengah kebisuan.
"Ya, kenapa?"
"Apa kita nggak bisa kayak dulu lagi? aku kangen kamu Ra, aku pingin kita deket kayak dulu lagi," ucap Randy serius membuatku bingung harus menjawab apa.
"Kamu ngomong apa sih, kita kan masih sahabatan, walaupun nggak sedeket dulu."
"Tapi Ra,"
"Udah nyampe', aku turun dulu ya," ucapku memotong perkataan Randy.
"Nanti malem aku jemput kamu ya."
Aku hanya tersenyum, tak menjawab sepatah katapun.
Pukul 7 malam, aku gelisah di dalam kamar.
"Apakah Randy mengajakku berkencan? Ah, tidak, mungkin ia mengajakku untuk menjenguk Kirana lagi," batinku.
Tiba-tiba bel rumah berbunyi dan Randy sudah berada di depan rumahku.
"Kamu cantik banget Ra," ucap Randy yang membuatku tersipu.
Diapun menutup mataku dengan syal yang dibawanya. Aku hanya menurut meski dalam hati bertanya-tanya.
Dalam perjalanan, tak henti-hentinya aku bertanya pada Randy tentang tujuannya mengajakku keluar dan menutup mataku seperti ini, namun ia tak pernah menjawab.
Akhirnya Randy menghentikan mobilnya dan membantuku turun dari mobil.
"Buka mata kamu pelan-pelan ya Ra," ucap Randy sambil melepas ikatan syal yang menutup mataku.
Aku pun mengerjapkan mataku, memfokuskan pandanganku pada apa yang terlihat. Sebuah pemandangan yang tak asing bagiku, tapi telah terkubur dalam memori kenangan di hatiku.
Gemerlap bintang terhampar luas dalam jubah hitam malam ditemani sinar kecil kunang-kunang yang menari riang diantara ilalang. Inilah yang selalu ku rindukan. Ditempat ini, aku dan Randy dulu sering menghabiskan waktu bersama. bercanda ria dalam hangatnya persahabatan.
Randy mendekat padaku, memegang erat tanganku. Tatapannya yang tajam membuatku terdiam, aku seperti terhipnotis oleh suasana ini.
"Ra, mungkin kamu pikir aku gila, tapi aku nggak peduli, aku sayang sama kamu Ra."
"Kamu emang gila Ndy, kamu kan udah punya Kirana, selama ini hubungan kalian juga baik-baik aja, kenapa kamu tiba-tiba bilang gini," ucapku sambil melepaskan tangannya.
"Aku cuma mau jujur tentang perasaanku Ra, aku sayang sama kamu dari dulu, aku pacaran sama Kirana karena aku berharap bisa lupain kamu tapi ternyata aku nggak bisa, aku tetep sayang sama kamu dan aku juga tau kalau kamu punya perasaan yang sama kayak aku, bodohnya aku, aku baru nyadarin itu sekarang."
Aku hanya terdiam mendengarnya. Sama sekali tak kusangka hal ini akan terjadi. Randy pun memelukku, deru nafasnya memburu di telingaku. Aku pun memeluknya dengan erat. Terasa nyaman, namun tiba-tiba aku teringat Kirana.
"Kirana gimana?" tanyaku.
"Kamu tenang aja, aku akan jelasin semuanya sama dia, mungkin ini memang menyakitkan, tapi lama kelamaan ia pasti bisa menerimanya."
"Aku butuh waktu Randy."
"Aku pasti nunggu kamu Ra."
Aku dan Randypun pulang. Di dalam kamar aku hanya memikirkan Randy. Ini lebih dari bahagia, aku sangat bahagia. Lelaki yg selama ini hanya ada dalam anganku, kini telah mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya.
Tiba-tiba ponselku berdering, terlihat nama Kirana di layar ponselku.
"Halo, ada apa Ran?"
"Ra, kamu bisa kesini nggak? aku mohon," ucap Kirana sambil menangis.
Akupun segera menemuinya.
"Apa? Kanker darah?" ucapku mengulangi perkataan Kirana.
"Iya Ra, aku takut."
Akupun memeluk Kirana, betapa bodohnya aku jika menyakiti Kirana.
"Ra, aku sayang banget sama Randy, di sisa hidupku ini aku cuma pingin bisa sama-sama Randi, abisin waktu sama dia."
"Iya, aku ngerti perasaan kamu, kamu tenang aja, Randy pasti selalu nemenin kamu."
Setelah Kirana tertidur, aku pun pulang. Dalam perjalanan pulang, aku hanya bisa mengutuk diriku, betapa jahatnya aku, betapa egoisnya aku. Kirana lebih membutuhkan Randy daripada aku. Aku memang sangat mencintai Randy tapi aku tak bisa mengorbankan perasaan orang lain demi cintaku.
Malam ini aku mempersiapkan semuanya. Aku meminta orangtuaku untuk tinggal di desa bersama kakek dan nenek. Namun mereka menolak karena alasan pekerjaan. Akhirnya hanya aku yang akan tinggal di desa. Sebelum aku berangkat, aku menitipkan sepucuk surat pada orangtuaku untuk Randy. Sepucuk surat tentang cinta yang tak bisa bersatu. Aku mencintainya tapi aku harus meninggalkannya, karena rasa ini adalah sebuah kesalahan. Aku harus pergi jauh, bersama cinta yang tak sampai. Semoga Randy bisa menjadi semangat untuk Kirana agar ia terbebas dari penyakit yang hampir merenggut hidupnya.