"Kalian jahat! Kenapa kalian lakuin ini sama aku?!" Tanya Hanna. Gadis berkacamata itu meringkuk di pojok kelas kosong, menangis kesegukan menahan rasa sakit.
"Karena kamu itu jelek." Jawab Amy lalu tertawa lepas.
"Hey, hey... cupu. Kamu ini nggak pantes sama Jack. Yang pantes itu cuma gue." Timpal Lisa dengan angkuhnya.
Mereka pun kemudian berbalik dan berjalan pergi. Mereka pergi dengan rasa puas setelah mem-bully Hanna. Sedangkan Hanna masih terdiam di pojok sana. Sikunya lecet dan lebam, begitu juga dengan kakinya.
"Hm... Bau darah mu enak juga." Kata seorang laki-laki, suaranya khas anak remaja. Hanna pun terkejut melihat seorang laki-laki bersender tepat disampingnya.
"Si-siapa kamu?!" Tanyanya.
"Namaku Eden. Hanna... aku bisa membantu mu." Laki-laki itu menyeringai, memperlihatkan taring tajamnya.
Hanna berpikir sejenak tentang tawaran Eden. Dan ia tertarik untuk dengan tawaran itu.
"Memang gimana kamu membantuku?" Tanya Hanna memastikan tawaran Eden.
"Aku bisa bikin kamu nggak bakal dibully lagi. Tapi, dengan imbalan darahmu." Jawab Eden.
Hanna mulai ragu lagi. Namun, dia tetap mengangguk setuju. Hanna sudah tidak kuat mendapat bully-an. Eden mendekat, berjongkok menyamakan tingginya dengan Hanna.
Ia kembali menyeringai, lalu membuka mulutnya dengan lebar.
Tubuh Hanna tidak bisa bergerak. Rasa sakit menusuk lehernya, membuatnya tidak bisa berteriak bahkan bernapas.
Hanna terbangun dengan kagetnya. Sesaat dia pikir tadi adalah mimpi saat ia pingsan setelah di-bully. Namun...
"Oh, kamu sudah bangun?" Tanya Eden yang duduk disampingnya. Hanna pun menyadari bahwa tadi itu bukan mimpi.
"Ka-kamu ngapain aku?! Eh?"
Ia meraba wajahnya. Tidak ada jerawat dan ia dapat melihat jelas tanpa kacamata. Lecet dan lebamnya hilang. Ia benar-benar terlihat sangat cantik. Matanya membulat, tidak percaya menatap Eden disampingnya.
"Kamu nggak jadi vampir kok. Aku hanya meregenerasi tubuhmu." Ujar Eden. Senyumnya tampan dan manis, hingga Hanna sempat terhipnotis.
"Tapi, itu baju kamu kena darah." Hanna menatap ngeri baju Eden.
"Ini jam pulang sekolah, jadi nggak papa." Kata Eden.
"Hey!!! Kalian ngapain berduaan disini?!" Tiba-tiba seorang satpam datang dan melabrak mereka. Eden menjentikkan jarinya. Waktu seketika berhenti berjalan.
--><><><--
Keesokan harinya.
Hanna berjalan menuju sekolahnya. Sesekali ia meraba wajahnya, masih tidak percaya.
Gerbang sekolah sudah didepannya. Langkahnya ragu untuk masuk. Orang-orang meliriknya kagum.
"Wah, aku baru tau kalo ada siswa secantik ini disekolah kita." Pikir mereka.
Hanna tidak berani menatap mereka balik, ia terlalu malu. Ia tidak pernah menjadi pusat perhatian seperti ini.
Lisa memperhatikan Hanna dengan sinis. Ia menghampiri Hanna dan mencengkeram erat lengannya.
"Hey, kau murid baru! Kamu nggak usah sok cantik disini!" Ujar Lisa kesal.
"Maaf aku bukan murid baru, aku Hanna." Kata Hanna dengan sedikit keberaniannya.
"A-apa?! Nggak mungkin kau Hanna! Kau pasti suruhannya!" Lisa tidak percaya perkataan Hanna. Ia melotot untuk menakutinya agar mengaku. Namun jauh dibelakang Lisa, Eden berdiri memperhatikan mereka.
Vampir berwujud anak SMA itu tersenyum. Seram, tapi tidak untuk Hanna. Ia paham itu adalah sebuah isyarat.
Hanna menarik lengannya, melepaskan diri cengkraman Lisa. Lisa pun terkejut, Hanna tidak sekuat ini biasanya.
"Lisa, aku udah nggak tahan. Kamu selalu aja bully aku!" Ujar Hanna marah.
Semua orang terdiam. Mereka saling berbisik dan menatap Lisa sinis.
"Ih, masa cantik-cantik gitu pembully sih?"
"Mukanya aja cantik ternyata hatinya busuk."
"Bisa-bisanya aku ketipu sama kecantikannya."
"Cewek munafik."
Kata semua orang yang melihat kejadian itu. Lisa hanya terdiam, matanya berkaca-kaca menahan tangis karena malu.
Amy datang. Temannya itu tidak memperdulikannya. Lisa merasa dihianati. Belum lagi, Jack pacarnya mungkin akan mencampakkannya setelah ini.
Lisa sadar, perlakuannya keterlaluan terhadap Hanna.
"Ha-hanna, maafin aku. Aku sadar betapa malunya kamu saat aku bully."
--><><><--
Seminggu kemudian.
Hanna dan Lisa mulai berteman akrab. Semuanya berjalan normal seminggu ini. Hanna merasa senang, tak ada bully-an, tak ada lirikan mata sinis, tak ada rasa sakit dan ketakutan.
Siang ini, Hanna ingin bertemu dengan Eden. Eden menunggu di kelas kosong, ia menatap luar jendela.
"Aku nungguin loh." Katanya begitu melihat Hanna sampai.
Wajah tampannya menyatu dengan sinar matahari dari celah-celah dedaunan. Rambut hitamnya tertiup angin sepoi-sepoi. Kulitnya putih bersih, remaja jakung itu tak tampak seperti vampir yang menyeramkan.
Hanna terhipnotis. Mata bulatnya tidak berkedip, hingga angin menerpa wajahnya.
"Um, makasih. Kamu udah bantuin aku." Kata Hanna sambil menunduk malu.
Eden tertawa kecil. Gadis polos yang dia lihat sangat membuatnya gemas.
"Yah, kebetulan saja aku sedang berbaik hati." Balasnya.
"Ee... apakah kau suka menjadi vampir?" Tanya Hanna polos.
"Kenapa? Aku bisa hidup abadi, dan ini menyenangkan. Kau mau?" Ujar Eden seraya mendekati Hanna. Candaan seorang vampir? Ataukah tawaran? Wajah Eden tampak serius mengajak.
Hanna tak berpikir untuk menjadi vampir. Namun, entah kenapa kata iya ingin dia ucapkan. Gadis polos itu tidak memiliki keluarga. Ia hanya anak panti asuhan.
Hanna berpikir, mungkin pertemuannya dengan Eden bukan kebetulan. Itu adalah takdir. Dan tanpa pikir panjang lagi mulutnya berkata "Iya."
"Kau tahu Hanna...." Eden tiba-tiba berada di belakang Hanna. Rintik hujan mulai terdengar dari luar. Langit biru cerah menjadi kelabu.
"Aku menyukai mu..." Lanjut Eden. Napasnya dingin, membuat Hanna merinding. Gigi taringnya keluar, menusuk menembus kulit, tepat di nadi leher Hanna.
Hanna melirik, tak berdaya. Darah segarnya mengalir, Eden begitu menikmatinya. Eden sangat kuat memegangi Hanna, bagai hewan buas yang tidak ingin buruannya kabur.
Kaki Hanna lemas, sedangkan Eden masih memeganginya dengan erat. Mendorong Hanna hingga terjatuh. Eden mencabut kembali taringnya, tersenyum puas.
Tiga menit itu tubuh Hanna tak bisa bergerak dengan rasa sakit yang menusuk dari leher. Sangat menyiksa. Napasnya sesak, nyawanya terasa dicabut. Namun dia akan mendapatkan kehidupan kedua sebagai vampir.
Wajah cantiknya memucat. Eden memangku kepalanya, membelai lembut rambut cokelatnya.
"Selamat datang di kehidupan baru, Hanna..."
×THE END_