Jangan pernah berharap untuk menjadi orang yang spesial di hidupnya, karena bagaimanapun juga kamu hanya akan tetap menjadi sosok teman di matanya.
Memendam rasa yang telah bertahun lamanya, menyelami luka yang terjadi akibat penolakannya, menangisi dia yang lebih memilih bersamanya, merasa bahagia ketika mendapatkan perhatian semu darinya. Hal yang sudah biasa di alami oleh Reva. Memendam rasa yang telah bertahun lamanya bukanlah perkara yang mudah, apalagi mengingat bahwa mereka berada di dalam sebuah ikatan yang bernama pertemanan. Membuatnya harus bisa mati-matian menyembunyikan perasaannya agar pertemanan mereka tidak hancur karena perasaan yang di miliki olehnya.
Pandangan Reva lurus ke depan, bahkan minuman yang Ia pesan belum Ia sentuh sama sekali. Pikirannya berkelana menuju kejadian empat tahun silam, di mana untuk pertama kalinya Ia bertemu dengan Alan secara tidak di sengaja.
Saat itu masih masa awal-awal tahun pelajaran baru, bahkan baru terhitung satu minggu sejak berakhirnya MOS di sekolah mereka. Reva dengan senyum bahagianya berjalan di tengah koridor sekolah yang tengah sepi itu, karena memang jam pulang sekolah telah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu. Sejenak Ia menghentikan langkahnya ketika merasakan handphone yang berada di saku baju nya bergetar menandakan bahwa ada pesan yang masuk, Ia pun membalas pesan itu dengan tetap melangkah menyusuri koridor sekolahnya. Hingga di belokan koridor muncul seorang siswa laki-laki yang tengah membawa minumannya, karena sama-sama tidak memperhatikan jalan akhirnya mereka berdua pun bertabrakan. Minuman yang di bawa oleh laki-laki tersebut pun tumpah di atas baju Reva dan mengakibatkan baju yang Ia kenakan basah, merasa tidak terima Reva pun meminta siswa laki-laki tersebut meminta maaf kepadanya. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya, siswa laki-laki itu sama sekali tidak mau meminta maaf karena menurutnya yang salah di sini bukan hanya dirinya bahkan bajunya pun ikut basah terkena minuman yang Ia bawa tadi. Karena sama-sama tidak ada yang mau mereka pun akhirnya memperdebatkan masalah yang sebenarnya sepele, hingga dering handphone milik Reva berbunyi menginterupsi perdebatan yang terjadi di antara mereka. Dengan segera Reva mengangkat panggilan tersebut, dan dengan wajah paniknya Ia segera berlari meninggalkan Alan yang saat ini tengah bingung di tempatnya.
Dan mulai saat itulah mereka menjadi sering bertemu bahkan memperdebatkan hal-hal yang tidak penting sama sekali, dan tanpa mereka sadari kedekatan mereka yang seperti itu membuat rasa yang dulunya tidak ada perlahan-lahan mulai muncul.
Reva terlonjak kaget ketika merasakan sebuah tangan kekar merangkul bahunya, Ia pun menoleh ke samping untuk melihat siapa yang berani-beraninya merangkul dirinya di tengah kantin kampus yang ramai ini. Ia memutar bola matanya malas ketika mendapati Alan yang kini tengah duduk di sampingnya dan tangannya yang masih setia bahu Reva.
"Ngapain lo rangkul-rangkul gue?!" tanya Reva judes.
"Galak amat, masa temen sendiri mau rangkul gak boleh? Lo kan jomblo mana ada yang marah kalo gue rangkul lo," jawab Alan tanpa memperhatikan perubahan raut wajah Reva.
Ingat Reva dia cuma nganggap lo temen gak lebih, ucap Reva dalam hati seraya tersenyum kecut.
Reva melepaskan paksa tangan Alan yang merangkul bahunya, "Ya engga di depan umum juga kali, yang ada habis ini gue kena tabok masal dari fans-fans lo yang bejibun."
Alan terkekeh ketika mendengar ucapan Reva.
"Gak ada yang lucu!"
"Iya-iya, galak banget. Ntar gak dapet jodoh tau rasa!"
"Mana mungkin, jodoh gue blasteran korea surga semua."
"Halu aja kerjaannya."
"Jangan lupa, halu selain dapat menyebabkan kesenangan bagi manusia juga bisa meningkatkan kecerdasan."
"Iya in aja biar cepet."
"Kalo gak mau ngalah gak usah ngalah," cibir Reva.
"Rev," panggil Alan dengan nada serius tanpa mengindahkan cibiran Reva barusan.
"Iya, kenapa?"
"Gue mau ngomong," ucap Alan sembari menatap intens wajah Reva.
Reva yang di tatap seintens itu oleh Alan merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, Ia pun mengambil minumannya yang berada di atas meja kemudian meminumnya untuk menghilangkan kegugupannya.
"Mau ngomong apa?"
"Gue suka sama seseorang."
Deg!
Seketika Reva merasakan nyeri pada dadanya, Ia pun hanya bisa memaksakan senyum palsunya ketika melihat bagaimana antusiasnya Alan yang menceritakan tentang gadis yang di sukanya.
"Siapa?" tanya Reva.
"Rosa," jawab Alan dengan wajah yang berseri.
Reva tersenyum miris ketika mengetahui fakta bawah gadis yang berhasil memikat hati Alan adalah Rosa, temannya sendiri.
Harusnya lo sadar Rev, dia gak mungkin suka sama lo! ucap Reva dalam hati.
"Dari kapan lo suka Rosa?"
"Semenjak lo pertama kali ngenalin dia ke gue," jawab Alan mantap.
Reva menghembuskan nafasnya, kembali Ia akan merasakan sakit hati melihat Alan akan bersama dengan gadis lain. Ini sudah yang ke dua kalinya Alan bercerita padanya bahwa Ia menyukai seseorang, dan Reva sudah mengerti apa yang Alan inginkan ketika Ia memberi tahu Reva. Sudah pasti Ia akan meminta bantuannya agar mendekatkannya kepada Rosa.
"Lo mau minta tolong apa?" tanya Reva.
"Pengertian banget sih temen gue yang satu ini," ucap Alan seraya tersenyum lebar.
Reva tersenyum miris ketika mendengar kata 'teman' meluncur bebas dari bibir Alan.
"Gue rencananya mau nembak dia besok,"
Reva tercekat mendengar penjelasan Alan, "Be-besok?" tanya Reva terbata.
"Iya, lo bisa bantuin gue kan?"
"Iya bisa," jawab Reva dengan menampilkan senyumannya.
"Jadi gini, besok lo tinggal ajak Rosa ke kafe Nostalgia jam tujuh malem. Ingat suruh dia dandan, tapi jangan cantik-cantik banget ntar malah cowok-cowok yang ada di sana pada naksir lagi sama dia," ucap Alan seraya terkekeh. Reva pun tersenyum melihat Alan yang begitu bahagia.
"Ok, kalo gitu gue pamit duluan ya. Gue ada kelas sekarang," ucap Reva seraya bangkit dari kursi yang Ia duduki tadi.
"Ok, makasih Rev udah mau bantuin gue. Lo emang temen ter the best!" ucap Alan sembari menatap Reva.
"Iya sama-sama," jawab Reva dengan senyumannya.
"Gue duluan," ucap Reva dan langsung pergi dari hadapan Alan. Sebenarnya Ia sudah tidak ada kelas lagi, Ia hanya ingin segera pergi dari hadapan Alan. Hatinya terasa sangat sakit, bahkan air mata yang sedari Ia tahan sekarang perlahan mulai turun membasahi pipinya. Reva pun melangkahkan kakinya menuju taman yang berada di belakang kampusnya, Ia pun mendudukkan dirinya dan mulai menumpahkan air matanya seorang diri di sana.
"Lo gak berubah Alan, dari dulu sampai sekarang. Gue capek Al, capek buat berusaha mengerti semua jalan pikiran lo. Capek buat cari tahu, apa maksud dari perhatian lo yang sebenarnya. Selama ini lo cuma ngasi gue petunjuk yang sama sekali gak gue pahami, kadang lo bertindak seakan-akan pengen buat gue jadi milik lo tapi dengan begitu mudahnya juga lo bertindak seakan-akan lo gak mau gue ada dalam hidup lo. Gue capek Al," lirih Reva dalam tangisnya. Ia terus menumpahkan segala kesedihannya di taman itu.
Setelah merasa dirinya membaik, Reva pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Ia harus mempersiapkan raga dan hatinya, mengingat besok hatinya akan kembali di hancurkan oleh sosok yang selama ini Ia dambakan.
🥀🥀🥀
Reva menatap pantulan dirinya dari cermin yang ada di hadapannya, waktu telah menunjukkan pukul enam dan Reva sudah selesai bersiap-siap untuk menjemput Rosa. Kemarin setelah Ia sampai di rumahnya, Reva dengan segera mengabari Rosa agar Ia mau menemaninya ke kafe Nostalgia dengan alasan bahwa Reva akan menghadiri pesta ulang tahun kerabatnya. Reva menghembuskan nafasnya, Ia berusaha meyakinkan hatinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Walaupun pada kenyataannya hatinya pasti akan kembali terluka. Tak ingin membuang waktu lagi, Reva segera meraih sling bag yang berada di atas kasurnya dan segera melangkahkan kakinya keluar kamar.
Reva mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, dan tak lama kemudian Ia sampai di kediaman Rosa. Reva pun mengambil handphone miliknya dan segera mengabari Rosa bahwa Ia sudah menunggunya di depan.
"Sorry ya Rev nunggu lama," ucap Rosa ketika Ia membuka pintu mobil Reva. Reva tersenyum melihat Rosa yang terlihat cantik dengan balutan dress berwarna peach.
"It's okay, kita berangkat sekarang ya." ucap Reva yang di jawab anggukan saja oleh Rosa.
Di dalam perjalanan tidak ada yang membuka suara, hanya lagu Secret Love Song feat Jason Darulo yang mengalun memecah keheningan yang terjadi di antara mereka. Tiga puluh menit kemudian mobil yang Reva dan Rosa kendarai sampai di pelataran parkir kafe Nostalgia, Reva dan Rosa pun turun ketika mobil yang mereka kendarai sudah terparkir rapi.
Reva menghembuskan nafasnya sebelum mengulas senyuman, malam ini akan menjadi saksi di mana hatinya akan di hancurkan kembali.
"Ayok kita masuk ke dalam," ucap Reva sembari menggamit tangan Rosa untuk mengikuti langkahnya.
Sampai di dalam kafe, Reva dan Rosa menatap takjub dekorasi yang terpasang di sana. Sadar akan tujuan utamanya hanya untuk mengantar Rosa, Reva pun menarik tangan Rosa agar kembali mengikutinya. Reva berhenti di tengah-tengah kafe dan melepaskan tangannya dari tangan Rosa.
"Lo mau kemana?" tanya Rosa ketika melihat Reva akan beranjak dari tempatnya.
"Gak kemana-mana, lo diem aja di sini," ucap Reva kemudian beranjak pergi dari tempatnya tadi menuju meja yang berada di pojok kafe ini.
Tepat saat Reva sampai di meja paling pojok, lampu pun seketika padam dan terdengar alunan petikan gitar yang di ikuti oleh suara seseorang yang sedang bernyanyi. Memasuki reff lagu Perfect dari Ed Sheeran, ada satu titik cahaya yang mengarah pada satu objek yang saat ini tengah duduk sembari memangku gitarnya. Rosa menatap tak percaya sosok yang saat ini tengah bernyanyi dengan di iringi petikan gitarnya, terlalu terpesona dengan penampilan Alan Rosa sampai tidak menyadari bahwa Alan saat ini sudah berada di hadapannya sembari bernyanyi dan tanpa di iringi petikan gitar lagi.
Tepat saat lirik berakhir, Alan berlutut di hadapan Rosa dengan menggenggam sebuket bunga mawar yang tadi Ia sembunyikan di balik tubuhnya tadi.
"Rosa, aku tau. Aku bukan laki-laki yang sempurna untuk bersanding bersamamu. Aku juga bukan laki-laki romantis yang bisa menyusun kata-kata indah. Aku juga tidak terlalu mengerti apa itu definisi cinta yang sebenarnya, yang aku tahu saat melihat senyum mu aku pun merasa suka dan ketika aku melihat tangis mu aku pun merasa berduka. Aku hanya ingin menjadi seseorang penyebab tawamu di bumi, dan menjadi orang yang akan menghapus air matamu ketika kamu bersedih,--" Alan menghembuskan nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya.
"So, will you be my girlfriend?"
Rosa menatap haru ke arah Alan, Ia tidak menyangka bahwa Alan juga mempunyai perasaan yang sama dengan apa yang Ia rasakan.
Rosa tersenyum kemudian mengangguk, "Yes, I will."
Seketika senyum langsung terbit di bibir Alan, Alan pun bangkit dan memeluk tubuh Rosa kemudian mengecup puncak kepalanya.
"Thank you for being my girlfriend," bisik Alan tepat di sebelah telinga Rosa. Rosa pun hanya mengangguk kemudian menenggelamkan kepalanya di dada bidang milik Alan. Mereka saling berpelukan menyalurkan rasa bahagia yang tak dapat mereka gambarkan, tanpa perduli ada seseorang yang terluka akibat kebahagiaan mereka. Reva, Ia tersenyum miris melihat sang pujaan hati yang kini sudah bahagia dengan pilihan hatinya.
"Semoga kalian selalu bahagia, dan terimakasih untuk segala kenangan yang telah kau tinggalkan di dalam ingatan ku. Setidaknya masih ada kenangan manis yang bisa aku gali kembali di dalam ingatan ku ketika aku merindukanmu," lirih Reva kemudian berlalu pergi dari tempat yang menjadi saksi bisu hancurnya hati yang telah setia Ia jaga demi sang pujaan hatinya.
-END-
I hope you like it😊