Kedatangannya ke dunia merupakan sebuah anugerah terbesar dalam hidup ini. Dia juga yang menjadi alasanku untuk tetap bangkit berdiri melawan kejamnya takdir. Aku sangat bangga dan bahagia atas kelahirannya.
Meski di balik kisah kelahirannya terdapat masa kelam, namun itu bukanlah masalah, dan aku tidak menyesalinya. Harapan terbesarku pada saat itu ialah semoga anakku tidak tumbuh menjadi laki-laki berengsek seperti ayahnya. Dia adalah awal dari penyebabnya bencana di dalam keluargaku.
Aku terlalu bodoh tahluk padanya. Padahal waktu itu aku punya firasat aneh terhadapnya, dan orangtuaku pun juga menasihatiku. Tapi waktu itu aku memilih menjadi apatis mengenai hal buruk yang dikatakan orang-orang terhadap ayahnya anakku.
Tak butuh waktu lama maka yang dikatakan orang-orang selama ini telah menjadi nyata. Ternyata aku cuma dijadikan pelampiasan. Dia sudah punya istri. Tujuan dia mendekatiku hanya untuk memakai tubuhku saja. Dia tidak bertanggung jawab dan mencoba menghapus keberadaannya dalam hidupku.
Itu pun tidak masalah, selama anakku masih bersama diriku.
Namanya adalah Rizuka. Awalnya aku mau menamai dia Rizka, tapi karena itu terdengar terlalu pasaran, maka aku ganti menjadi Rizuka. Kenapa Rizuka? Karena nama Rizka kalau ditulis pakai huruf katakana, maka tulisannya menjadi Rizuka. Ya setidaknya itu terdengar lebih keren sedikit dan tidak terlalu pasaran di negeri ini.
Awalnya aku panik akan terjadi sesuatu yang buruk padanya karena dia terlahir prematur. Bahkan ketika dia lahir pun dia sama sekali tidak mengeluarkan tangis. Dia terlihat pucat dan tak berdaya di dalam inkubator selama hampir 21 hari.
Kini kekhawatiranku dulu telah terhapuskan oleh harapan dan cinta. Tak sesuai dengan prediksi sang dokter, kini Rizuka tumbuh menjadi anak yang sehat. Dia nampak normal seperti anak pada umumnya.
Akan tetapi hal itu berubah seketika ketika Rizuka menginjak umur ke empat. Di umur itu dia sudah bisa bicara dan berjalan. Dari situ aku menjadi sangat sering dia bicara sendiri. Biasa sih kalau anak balita suka mengoceh saat bermain, namun yang terjadi pada Rizuka ini berbeda.
"Dek kamu sedang ngapain?" Tanyaku padanya.
"Aku sedang main lempar bola bersama Toni."
"Hah Toni?! Toni siapa?" Aku pun mulai melihat keadaan sekitar, siapa tahu ada anak kecil nyasar masuk ke rumahku. Tapi setelah kupikir kembali rasanya tidak mungkin. Jika itu terjadi pastinya satpam dan pembantu di rumahku menyadarinya.
"Itu dia sedang berdiri di belakang bunda." Kata Rizuka sambil menunjukan letak yang dia maksud.
Eh buset! Pikiranku mulai dihantui oleh perasaan berat. Tapi aku mencoba berpikir positif saja. Barangkali dia sedang berimajinasi mengingat anak seusia dia memang sedang memasuki fase awal berimajinasi.
Jujur saja waktu itu badanku berasa merinding seketika. Aku ini memang ibu-ibu muda yang gampang takut sama hal begituan. Untung saja aku dapat mensugesti diriku sendiri jika yang terjadi barusan merupakan sebuah imajinasi dari Rizuka.
"Bunda...." Tiba-tiba Rizuka berkata lagi.
"Ada apa sayang?"
"Bisakah bunda menyingkir dari situ? Toni malu kalau bunda masih di sini." Kata Rizuka dengan polosnya.
Padahal baru saja aku merasa tenang oleh sugesti yang aku tanam. Eh Rizuka malah kembali menakutiku dengan perkataan horornya.
"Ya sudah, bunda pergi kerja dulu ya. Jangan nakal di rumah!"
Yang bisa aku lakukan pada saat itu hanyalah diam dengan senyuman sambil berjalan pelan menjauh dari dia. Begitu aku berasa di ruangan yang lain, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari Rizuka. Itu bukan teriakan histeris namun seperti teriakan anak kecil yang sedang asik bermain bersama kawannya.
Tanpa sepengetahuan Rizuka aku mengintipnya dari pintu ruangan Rizuka bermain. Dia terlihat bahagia lari-larian seolah dia sedang bermain kejar-kejaran bersama temannya.
Malam harinya aku tidak bisa tidur oleh kejadian tadi pagi. Kejadian itu begitu sok dan sulit diterima. Kemudian pikiranku makin bertambah berat dengan pecahnya tangisan dari Rizuka.
Rizuka yang tidur dari awal di kamarku tiba-tiba menangis dan berlari kencang menyusulku yang sedang berada di ruang tamu.
"Eh ada apa...!?"
Rizuka tidak menjawab. Dia sibuk menangis sambil memelukku erat-erat dan menenggelamkan wajahnya di dadaku. Dia terlihat sangat ketakutan. Yang ada dalam pikiranku saat itu mungkin Rizuka baru saja mimpi buruk.
"Kamu mimpi buruk?!"
Dia masih tidak mau bicara. Aku pun mencoba membuatnya tenang dengan mengelus-elus punggungnya sambil membisikan kata-kata yang membuatnya membaik.
Butuh waktu sekitar 20 menitan agar Rizuka berhenti menangis. Kini tangisannya sudah reda, namun wajah ketakutannya masih tersisa jelas.
Kira-kira waktu itu pukul 23.12 malam, akhirnya kedua mata ini berasa berat untuk dibuka. Kurasa sudah saatnya bagiku untuk tidur.
Setelah aku mengajaknya kembali ke kamar, barulah Rizuka mau bicara.
"Aku gak mau ke kamar!" Katanya dengan nada keras.
"Loh kenapa? Kan kita harus tidur..."
"Di kamar ada nenek jahat. Dia menyanyi di sudut ruangan dengan nada seram."
"Gak ada apa-apa di kamar. Mungkin kamu tadi cuma mimpi." Kataku yang berpikir positif.
"Tidak!!! Dia benar ada. Aku takun bun...."
Duh Gusti paringono sabar!
Gila ini sungguh gila!! Makin ke sini makin aneh saja. Seriuskah Rizuka tidak menghalu? Kalau pun ini imajinasi, kayaknya gak separah ini deh. Biasanya kan anak-anak berimajinasi tentang hal yang membuatnya bahagia, bukannya berimajinasi hal yang menakutkan.
Anjir rasa kantukku lenyap seketika seolah-olah telah tertelan oleh rasa takutku. Padahal besok aku harus berangkat kerja pagi-pagi sekali karena ada banyak kerjaan di kantor. Bagaimana aku bisa beristirahat coba kalau aku dihantui rasa takut begini?
Singkat cerita kami tidur di karpet tempat yang biasa digunakan untuk menonton televisi.
Malam itu aku cuma tidur dua jam saja. Padahal aku masih merasa lelah dan butuh tidur, tapi malam hari telah berganti menjadi pagi. Kurang tiga jam lagi aku harus ke kantor.
Parahnya hal seperti ini terus terulang hingga Rizuka menginjak umur 12 tahun. Makin susah saja nih beban pikiran. Kasihan juga melihat Rizuka tiba-tiba ketakutan karena melihat roh jahat yang seram. Dan sebagai ibu, aku justru tidak bisa berbuat lebih. Tak selamanya kata-kata indahku bisa membuat Rizuka bangkit.
Payah, payah, payah!
Cuma di kantor saja aku bisa merasa bebas dari teror. Bahkan aku menjadi merasa tidak betah di rumah. Kadang waktu libur kerja pun aku mencoba mengajak Rizuka keluar agar dia tidak terus menerus bermain dengan hal yang tak terlihat. Namun usaha itu nampaknya sia-sia. Ternyata di luar pun Rizuka tetap sama ketika di rumah. Bahkan di luar pun dia tetap bicara dengan teman tak terlihatnya. Kata Rizuka mereka tidak ingin ditinggal pergi, makanya mereka ikut.
Di bulan yang berbeda waktu itu jam kerja telah habis. Aku ingin segera pulang untuk memastikan bahwa Rizuka baik-baik saja.
"Rin jangan pergi dulu!" Kata teman sekantorku yang bernama Maemunah.
"Ada apa Mae?"
"Anu, aku mau ikut ke rumahmu gak apa-apa kan?"
"Eh tumben!? Tapi gak apa-apa sih."
"Aku penasaran dengan anakmu yang bisa melihat hantu itu."
"Kirain karena apa. Tapi kenapa kau bisa sekepo itu?"
"Dah lah pokoknya aku mau lihat."
Kami pun sampai ke rumahku. Seperti biasa kedatanganku selalu disambut hangat oleh putra kecilku. Dia terlihat gembira melihatku masuk ke dalam.
"Wah dia imut ya, mirip bapaknya."
"Bisa gak sih kau tidak menyebut orang itu di depanku!" Kataku yang kesal karena menyebut ayah Rizuka yang bajingan itu.
"Maaf, maaf. Tapi sumpah mirip banget loh."
Aku dan Maemunah memilih duduk di ruang tamu sambil memakan beberapa cemilan di meja.
Makin hari makin parah. Kini Rizuka tidak suka lagi memainkan mainan yang aku belikan. Dia lebih suka mengobrol dengan teman tak terlihatnya.
Kata pembantuku yang menjaga Rizuka ketika aku tinggal, katanya Rizuka sering meminta dimasakan makanan. Namun makanan yang diminta Rizuka itu bukan makanan seperti yang biasa orang makan. Rizuka minta dimasakan kotoran hewan yang dicampur dengan bunga-bunga, lalu direbus hingga menyerupai bubur. Kata Rizuka itu makanan kesukaan temannya.
"Rin kurasa kamu perlu deh konsultasi sama paranormal."
"Loh kok ke paranormal? Bukannya lebih baik konsul ke psikiater anak saja ya? Kurasa yang paling mengerti kejiwaan Rizuka adalah psikiater. Aku takut roh jahat mengganggu kejiwaan anakku."
"Jangan konyol! Justru kalau kau konsultasi sama psikiater, maka anakmu akan dianggap gila. Tahu kenapa? Karena dalam ilmu psikologi tidak dijelaskan mengenai roh dan hal supranatural. Dalam konteks ini kau harus konsultasi pada ahlinya yaitu paranormal."
"Masuk akal juga...."
"Aku punya kenalan paranormal. Jika kau mau aku akan minta dia untuk membantumu. Syukur-syukur bukan hanya menutup mata batin anakmu, tapi juga mengusir roh jahat di rumahmu. Jika kalau roh jahat itu terus berada di rumahmu, takutnya mereka akan mengajari anakmu hal yang aneh-aneh."
Aku pun mengiyakan saja tawaran dari Mae. Selama paranormal itu bukan dukun cabul sih, kayaknya aman-aman saja deh.
Hari kelima setelah itu akhirnya paranormal yang dinanti-nanti telah menginjakan kakinya di dalam rumahku. Dia datang bersama Mae.
"Maaf ya kami telat. Tadi terjadi masalah di jalan hehe." Kata Maemunah sambil garuk-garuk kepala.
"Tidak apa-apa. Aku senang kalian datang. Silakan masuk!"
Aku kira aku perlu bercerita secara rinci pada paranormal itu, namun nyatanya tidak. Tak perlu mengatakan apa-apa dia seperti sudah paham gitu dengan permasalahanku.
"Jadi di mana anak itu sekarang?" Kata paranormal itu.
"Sebentar ya aku panggil dulu."
Sesuai dugaanku, Rizuka pun merasa takut bercampur gelisah. Dia tak berani bertatapan dengan paranormal itu. Tapi aku tidak kaget sih. Anak kecil mana saja pasti juga takut melihat penampilannya.
Bagaimana tidak takut coba? Rambutnya gondrong keriting kering. Kumisnya panjang menyerupai tanduk banteng. Jenggotnya panjangnya hampir satu meter dan itu pun dikepang gitu. Tak hanya itu, pakaiannya serba berwarna hitam dan memakai kalung tengkorak yang sangat menonjol. Kedua matanya diberi soflen berwarna merah bagaikan Eternal Mangekyou Sharingan.
Karena Rizuka sudah besar, jadi dia lebih mudah diyakinkan bahwa paranormal itu adalah orang baik. Mulai dari situ aku sudah tidak bisa menjelaskan lagi apa yang terjadi.
Aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh paranormal itu. Dia terlihat sedang melakukan gerakan aneh yang menurutku menyerupai gerakan senam ibu-ibu PKK. Tapi kata si Mae itu merupakan cara paranormal untuk mencoba berinteraksi dengan hal yang tak terlihat.
Tiba-tiba aku dibikin kaget dengan suara hentakan dari paranormal itu. Bagaimana tidak kaget coba? Lah padahal suasana lagi sunyi-sunyinya beriringan dengan rasa tegang, tapi tidak tahu kenapa paranormal itu malah berteriak 'BOOYAH' sambil meloncat ke udara.
Booyah ndasmu! Lu kira lu lagi main Free Fire? Kataku dalam hati.
"Hm sekarang aku mau kalian berdua pergi dulu. Biarkan aku dan anak ini berinteraksi dulu."
Sebenarnya aku ragu mau meninggalkan Rizuka bersama dukun player Free Fire ini. Tapi karena bujukan dari si Mae aku pun nurut saja.
Lumayan lama juga mereka. Aku jadi khawatir anaku mau diapain sama dia?
"Jangan terlihat panik gitu! Temanku itu bukan dukun cabul kok."
"Njir padahal aku tidak berpikiran seperti itu. BTW kau kenal dari mana sih orang macam itu?"
"Pasti kau mengira dia orang aneh ya? Wajar sih aku dulu juga mengira begitu. Tapi dia tidak seburuk penampilannya kok. Dia beneran paranormal yang baik. Aku berani jamin itu."
Karena Maemunah begitu yakin, maka aku pun mencoba untuk percaya. Ya semoga benar paranormal itu bisa mengatasi permasalahan ini.
Akhirnya setelah lama menunggu kami diperbolehkan masuk ke dalam. Sama seperti sebelumnya Rizuka terlihat normal dan utuh tanpa ada di kurang. Aku pun bisa bernafas dengan lega.
Lalu dia berkata, "sebenarnya permasalahan ini ada pada kamu sendiri."
"Eh apa maksudnya aku penyebab permasalahan?!" Kataku dengan nada tak terima.
"Anakmu menjadi begini karena kamu. Aku tidak menyalahkan kamu sih, mungkin kau begini karena situasi yang memaksamu. Tapi...."
"Tapi apa?!"
"Tidak apa-apa. Intinya kau perlu lebih sering berinteraksi dengan anakmu. Jangan biarkan dia terlalu lama sendiri! Ajaklah dia mengobrol untuk mengakrabkan diri!"
Apa yang dikatakan paranormal itu sama sekali tidak bisa diterima. Dia mengatakan hal itu seolah-olah aku adalah sebab atas apa yang terjadi pada Rizuka. Memang apa yang salah dariku?! Tiap hari aku kerja keras cari uang demi menghidupi masa depan. Bahkan aku sampai mengorbankan waktu berhargaku dengan Rizuka. Tapi bisa-bisanya dukun gadungan itu bilang aku adalah penyebab masalah ini.
Aku yang kesal dan tak terima dengan perkataan paranormal itu aku pun mengusir mereka berdua. Sebenarnya aku tidak ada masalah sih dengan Mae. Tapi karena waktu itu hatiku terlanjur termakan amarah, maka si Mae ikutan kena getahnya.
Beberapa tahun telah kami lalui dengan kondisi yang masih sama. Rizuka tetap masih bisa melihat hantu namun tidak seperti dulu yang suka bermain lari-larian dan mengobrol banyak.
Rizuka yang sekarang cenderung lebih pasif dari yang dulu. Tak hanya itu, dia juga mulai terlihat perubahan sikap. Rizuka yang dulunya selalu ceria dan sopan, kini telah berubah menjadi jutek dan berbicara dengan nada kasar. Dia juga sering mengamuk tidak jelas. Sudah tak terhitung barang yang dirusak oleh Rizuka ketika ia marah.
Aku tidak tahu kenapa. Lalu setelah kupikir kembali aku jadi teringat dengan perkataan dari si Mae. Dulu Mae pernah bilang bahwa roh jahat bisa saja mengajari Rizuka berperilaku buruk karena mereka lebih lama menghabiskan waktu bersama Rizuka daripada aku.
Masuk akal sih. Aku tidak tahu teman Rizuka yang tak terlihat itu baik atau buruk. Sama halnya ketika Rizuka berteman dengan manusia. Jika pergaulan Rizuka merupakan pergaulan yang buruk, maka secara cepat atau lambat Rizuka juga akan menjadi buruk.
Duh ini salahku. Aku terlalu lama membiarkan Rizuka bergaul dengan para hantu yang baik-jahatnya tidak kuketahui.
Lalu.... Terdengar bunyi ponsel. Itu dari si Mae. Katanya dia punya info penting.
"Woi Rin! Aku punya kabar bagus."
"Hah apa itu?"
"Kemarin aku kenalan dengan anak indihome."
"Indihome palalu! Indigo keles..."
"Yah itu maksudku. Aku yakin orang ini tepat untuk membantumu."
"Sudahlah! Aku kapok! Paranormal kenalanmu sebelumnya aja tidak ada yang beres. Apalagi dukun Free Fire itu, sampai detik ini rasa kesalku padanya belum padam."
"Yaelah masih ingat saja sama kejadian itu. Tapi yang ini lain Rin. Pokoknya dicoba dulu deh."
Awalnya sih aku menolak. Namun karena Maemunah terus memaksa, maka lagi-lagi aku nurut juga sama dia.
Tapi jika dipikir-pikir indigo dan paranormal itu beda. Berbeda dengan paranormal, indigo itu kekuatan murni dari lahir. Dari website yang kubaca sih anak indigo bisa melihat masa lalu orang dalam waktu yang singkat. Dengan kemampuan seperti itu aku harap dia bisa menemukan cara mengatasi masalah ini.
Sebelumnya Mae sudah janjian mau mengantarku ke tempat anak indigo itu. Yang perlu kulakukan sekarang adalah membujuk Rizuka agar mau diajak keluar.
Semenjak Rizuka berumur 15 tahun, Rizuka jadi susah diatur dan bikin banyak masalah.
Aku lihat pintu kamarnya sengaja dibiarkan terbuka. Aku pun masuk begitu saja ke dalam. Terlihat jelas Rizuka sedang tiduran di ranjangnya sambil memajang wajah ketus menatap ke arahku.
"Riz, nanti sore ikut bunda pergi ya."
"Gak!" Jawabnya dengan singkat dan jelas.
"Kali ini saja tolong nurut sama bunda!"
"Kubilang tidak ya tidak!"
"Ada masalah apa sih kau sama bunda? Perasaan apa pun yang kau minta telah bunda berikan. Lalu kenapa sikapmu kaya gini?"
"Tidak ada masalah."
"Lah terus kenapa?"
"Tidak apa-apa. Pokoknya aku tidak bisa ikut bunda."
"Kenapa? Kaya sibuk aja di rumah."
"Nanti sore aku ada kencan dengan seseorang."
Kencan!? Aku tidak salah dengar kan? Jadi putraku ini sudah punya pacar? Ya seharusnya wajar sih, dia kan sudah berusia 17 tahun.
"Sejak kapan kau punya pacar? Kenapa tidak dikenalin sama bunda?"
Tunggu, tunggu... Rizuka punya pacar!? Kenapa tiba-tiba pikiranku kemana-mana ya?
Jika dipikir kembali ruang lingkup pergaulan Rizuka itu sempit. Teman manusianya cuma itu-itu saja. Dan dia juga jarang mau berinteraksi dengan lawan jenis.
Selama ini Rizuka lebih suka bergaul sama teman tak terlihatnya ketimbang teman yang nyata dalam bentuk fisik.
Dari kesimpulan ini aku menduga pacar Rizuka itu adalah....
Ahhhhh tidak mungkin! Dan jangan sampai terjadi!! Amit-amit pokoknya kalau Rizuka sampai pacaran sama hantu. Kalau berteman dengan hantu itu aku mungkin bisa memaklumi, tapi jika sampai pacaran sama hantu... Ini sangat tidak boleh ditoleransi.
"Rizu, apa pacarmu itu perempuan asli?"
"Ya iyalah perempuan asli! Mana mau aku pacaran sama perempuan berbatang!"
"Maksud bunda pacarmu itu bukan hantu kan?"
"Apakah itu masalah?"
Oke cukup. Ini sudah melewati batas. Kini aku semakin yakin kalau pacarnya itu bukan perempuan sungguhan.
Aku yang mulai panik langsung menarik tangan Rizuka dan menyeretnya ke luar rumah. Tidak ada kata sabar lagi soal masalah ini. Pokoknya segera mungkin aku harus membawa Rizuka ke orang indigo itu.
"Bunda, lepaskan!" Kata Rizuka.
"Tidak! Pokoknya kau harus ikut bunda sekarang."
"Mau dibawa ke mana aku?"
"Akan kubawa kau ke orang indigo agar kau berhenti bergaul dengan roh jahat."
Setelah mendengar penjelasan dariku, Rizuka langsung berhasil melepaskan tangannya dariku. Dia terlihat sangat kesal.
"Jadi bunda masih mempermasalahkan hal ini?"
"Tentu saja ini menjadi masalah. Semenjak kau mulai bergaul dengan teman hantumu itu, kelakuanmu makin aneh tiap harinya. Kau jadi tidak mau bersosialisasi dan lebih mementingkan temanmu yang tak terlihat itu. Dan lebih parahnya kau sekarang malah pacaran sama hantu."
Bukannya sadar akan kesalahannya, Rizuka justru tersenyum aneh menatapku. Kemudian dia tertawa meledak-ledak hingga aku risih mendengar itu.
"Apanya yang lucu?"
"Baiklah aku mau jujur sama bunda." Kata Rizuka sambil menahan tawa.
"Jujur? Soal apa? Jangan bilang kau mau ikut pacarmu itu ke alam goib!?"
"Bukan! Mana mungkin itu terjadi!"
"Terus apaan?"
"Tapi janji ya bunda tidak boleh marah."
"Iya apaan?! Ihh bikin penasaran saja."
"Sejujurnya aku ini tidak bisa melihat hantu."
Krik, krik, krik.... Suasana menjadi senyap seketika.
"Hilih pasti ini akal-akalanmu saja kan agar bunda tidak jadi membawamu ke orang indigo itu?!"
"Ini serius bun. Dari awal aku memang tidak bisa melihat hantu....."
"Jadi selama ini..."
"Ya selama ini bunda tertipu. Aku berbohong soal apa yang kulihat dan kurasakan. Semua itu hanyalah imajinasi. Ya aku tahu aku salah tapi... "
Belum selesai bicara aku langsung menampar pipinya bolak-balik! Anying nih anak. Jadi selama ini aku ditipu oleh anakku sendiri?!
"Tega banget sih kau bohongi bunda!? Tahu gak akibat kebohonganmu bunda jadi stres tak tertolong?! Tiap malam bunda tidak bisa tidur memikirkan nasibmu yang makin hari makin aneh. Eh tapi ternyata... "
"Salah bunda sendiri kan, kenapa bunda gampang kena tipu?!"
"DIAM!! BUNDA BELUM SELESAI BICARA." Kataku dengan nada keras. Sumpah ini adalah pertama kalinya aku memarahi Rizu dengan nada membentak-bentak. Tak hanya membentak saja, tapi dia juga aku cubit, tampar, dan pukul. "Tega banget kau bohongi bunda selama bertahun-tahun? Kau tidak kasihan sama bunda yang hampir tiap hari banting tulang cari duit seorang diri?! Bukannya malah meringankan beban pikir bunda, tapi kau malah semakin membebani pikiran bunda dengan kebohongan busukmu!"
"Eh tapi serius deh. Kok bunda tidak ada rasa curiga sih sama Rizu? Kenapa bunda langsung percaya dan tidak mencoba menelaah lebih dalam lagi?"
"Kenapa kau bilang? Ini karana bunda percaya padamu. Tapi kau justru mempermainkan kepercayaan bunda. Kau ini memang sama berengseknya seperti ayahmu!"
"Oh jadi aku punya ayah ya?"
"Ya punyalah! Kau pikir bunda bisa mahil sendiri tanpa ada yang menanam benih cinta ke dalam m***k bunda!?"
"Njir benih cinta :v"
"Jangan harap setelah ini kau bisa bernafas dengan tenang! Bunda akan memberimu hukuman berat soal perkara ini." Kataku dengan marah dan disertai air mata.
"Kenapa bunda langsung mau menghukumku? Kenapa bunda tidak tanya apa motifku melakukan kebohongan ini?"
"Apa pun motif tujuanmu ini yang namanya menipu tetaplah menipu. Salah ya salah, tidak bisa ditoleransi."
"Asal bunda tahu. Dari awal aku tidak ada niatan untuk menipu bunda. Ini adalah murni dari imajinasi anak. Seharusnya bunda tahu bunda selalu meninggalkanku di rumah. Aku kesepian, aku merasa gelisah. Pembantu dan satpam di rumah tidak bisa diajak berteman. Atas dasar itulah sesosok teman tak terlihat lahir dalam pikiranku. Teman hayalanku yang bunda anggap sebagai hantu itulah yang selama ini menemaniku. Namun teman hayalanku ini telah membuat kehidupanku makin terisi. Dengan mengiranya bunda kalau aku bisa melihat hantu, bunda jadi lebih mengkhawatirkanku, dan lebih sering mendekatkan diri padaku.... Lalu... "
"Seharusnya kau mengerti. Bunda ini orangtua tunggalmu. Kalau bunda tidak pergi kerja, kita mau makan apa? Kita butuh uang. Kita butuh uang untuk makan, untuk beli baju, beli mainanmu, dan untuk membiayaimu pendidikanmu. Bunda juga berat meninggalkanmu di rumah. Tapi tak ada pilihan lagi."
Amarahku yang tadinya panas membara, kini telah padam oleh curahan hati putraku. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Biasanya dia mau bicara jika ingin dibelikan sesuatu atau pas lagi butuh saja.
Aku pun memeluknya dengan erat. Aku mulai merasa kalau dia juga mau menangis. Tapi Rizuka seperti sengaja menahan air matanya untuk jaga image. Aku sih tidak mempermasalahkan itu.
Jujur saja aku masih kesal dan tidak terima dengab kenyataan ini. Bisa-bisanya coba aku ditipu anakku sendiri selama belasan tahun. Kesal, kesal sekali sampai aku ingin menghancurkan barang seisi rumah.
Kalau Rizuka tadi tidak menceritakan alasannya tadi, pasti sudah kupukuli nih bocah. Tak hanya itu, kalau perlu batasi semua aja semua fasilitas yang kuberikan padanya.
Cukup sampai di sini saja. Jangan ada lagi kebohongan yang membuatku stres! Tapi jika hal serupa terjadi untuk kedua kalinya... Maka akan kukirim anak ini ke tempat bapaknya sana.
Selesai