Seperti marionette, kisah hidupku penuh sandiwara dan perintah.
Aku akan bergerak meski aku enggan dan akan terdiam ketika aku ingin melakukan lebih.
•
Siang tidak selamanya terasa terang karena mentari. Malam tidak selalu terasa terang karena bulan, jika hati telah membeku dan perlahan tertutup gelap yang abadi.
•••
Jungkook melonggarkan tali dasi hitam yang mencekat lehernya hingga terlepas dan di bantingnya menabrak lantai marmer abu abu ruangan. Jungkook kini ambruk di kursi kayu dan menundukkan kepalanya yang terasa berat. Jungkook diam untuk beberapa saat.
"Berhentilah membangkang!" ucap wanita dewasa umur 50an yang berbalut scarf abu abu muda di lehernya. Wanita dengan riasan elegan itu kini berbalik dan menatap pria dingin yang masih menunduk memainkan kuas kecil di tangannya. "Berapa kali lagi kamu akan melewatkan pertemuan kita dengan keluarga kim? Jeon cukup, jangan terus menghindar. kupikir papamu tidak akan membiarkanmu jika malam ini kamu tidak datang."
"Ma, aku bukan lagi anak usia belasan yang bisa mama dan papa atur begini." Jungkook menengadahkan kepalanya menatap mamanya. "Untuk kali ini, tolong jangan mencampuri urusanku."
"Urusanku?" ibu jungkook memegang dadanya yang mulai sesak karena perkataan yang baru saja dia dengar dari anak semata wayang yang berani membantahnya. "Berhentilah menemuinya dan turuti perjodohan ini! jauhi gadis dari keluarga berantakan dan kriminal itu! gadis seperti itu tidak pantas berada di sampingmu Jeon."
Ucapan dengan nada tinggi barusan dengan mudah menghancurkan hati Jungkok. Mata Jungkook memerah di sertai senyum kaku yang hanya sepersekian detik terulas. dadanya tiba tiba terasa terlindas dan perih. "Gadis seperti itu? gadis seperti apa yang mama maksud?" Jungkook berdiri seakan tidak terima dengan semua perkataan mamanya. "Ma, aku mencintainya, aku bahkan sangat mencintainya. Mungkin orang tuanya adalah keluarga yang berantakan dan kriminal seperti perkataan mama, tapi dia berbeda."
"Jangan pernah mencintai seseorang yang bahkan tidak layak untuk di terima di kehidupan biasa. hidupnya terlalu hancur dan rendah untuk jadi pendampingmu Jeon."
"Ma, jangan pernah merendahkannya" Jungkook menghentikan perkataan menyakitkan dari sang ibu. "Aku tidak peduli seperti apa latar belakang Ji yeon. aku tidak peduli seperti apa ....
plakk...
Mama Jungkook mendaratkan telapak tangan dingin di pipi kiri Jungkook dan menyisakan ruam merah yang hangat ketika Jungkook mengusapnya.
tersirat kekecewaan dan penyesalan di raut wajah ibunda Jungkook. Tangannya gemetar dan perlahan mengepal membiarkan hampanya ruangan membekukannya.
Jungkook terdiam beberapa saat merasakan nyeri di pipi dan di hatinya. Jungkook membiarkan emosinya terkontrol sebelum pada akhirnya ia bisa menyuarakan isi pikirannya. "Ya, apa aku akan terus jadi sebuah marionette yang bisa kalian gerakkan sesuka hati? sampai kapan?" tanya Jungkook meminta penjelasan. "Apa aku akan mendapat kebebasan setelah menikahi gadis pilihan kalian? atau aku akan tetap menjadi boneka sampai mati?" tambahnya dengan nada rendah. Jungkook berulang kali menelan amarahnya dan menarik smirk sinis meski hanya sekilas.
"kupikir aku akan tetap menjadi boneka, bahkan mungkin sampai aku mati."
brak...
Jungkook membalik meja kaca di sampingnya, menumpahkan vas bunga dan membuatnya remuk karena terbanting k lantai sebelum ia pergi meninggalkan mamanya yang masih di selimuti kekalutan di galeri tempat Jungkook memamerkan beberapa lukisan puluhan ribu dolar karya pribadinya.
•••
Pria yang sebelumnya membalik meja kaca dan meninggalkan serpihannya berhamburan dilantai itu kini terduduk sendiri di sebuah halte sepi di pinggiran kota. Pria itu bersandar lemah dengan kemeja yang berantakan dan kaki jenjangnya menjulur bebas ke arah jalan. pakaiannya masih sama dengan apa yang ia kenakan tadi siang di galerinya. Kemeja short sleeves broken white dan celana dark grey. beberapa saat menunggu, kini Ia mulai menegakkan badannya ketika sebuah bus mendekat dan menurunkan seorang gadis yang ia nanti.
Perlahan senyum manis Jungkook terulas, menyambut gadis berambut sebahu yang kini keluar dari bus yang baru saja terparkir. Gadis dengan senyum hangat dan tampilan sederhana.
"Jeon Jungkook, Kenapa tidak menelfonku?" Ji yeon melempar pertanyaan karena kehadiran Jungkook sangat mengejutkan. gadis itu tanpa sungkan memegang pipi Jungkook yang hampir membeku karena dinginnya malam.
"Aku terlalu merindukanmu." Mereka kini berjalan beriringan membelah dinginnya malam. Perlahan Jungkook mengaitkan tangannya, menggenggam telapak tangan dingin Ji yeon dan Ji yeon hanya tersenyum merasakan hangatnya jemari Jungkook yang mulai menempel.
"Kenapa ...? Apa yang terjadi? kenapa tidak memakai baju hangat? pipimu nyaris saja membeku." Ji yeon tetap berada di depan Jungkook dan berjalan mundur supaya bisa memperhatikan wajah kekasihnya meski cukup gelap dan remang. "Aku tahu kamu sedang tidak baik baik saja."
"Apa yang kau bicarakan? Aku baik baik saja." Jungkook menyingkirkan Ji yeon dari hadapannya dan menempatkannya disisi kirinya. rasanya sangat melegakan setelah melihat Ji yeon dan berjalan seperti ini di sampingnya. Aku tidak ingin kenyamanan ini berakhir. Aku hanya ingin merasakan kenyamanan dan kehangatan sederhana ini dengannya.
"Jeon jungkook, kamu tetap akan menyimpannya sendiri? Emmm ... Baiklah, katakan padaku jika sudah siap. Aku tahu bagaimana dirimu, aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan. jadi jangan menyembunyikannya dariku. Huh."
"Ya, kamu sangat mengenalku. bahkan melebihi diriku sendiri."
"Aku bahkan bisa merasakan kulit kekasihku yang diserang dinginnya malam karena tidak memakai pakaian hangat saat keluar." Ji yeon berhenti dan kini Jungkook mulai menatapnya. "Jeon jungkook. kamu sungguh tidak ingin jujur padaku?"
Jungkook menghela nafas ringan dan merapatkan outer cream yang Ji yeon kenakan. "Pulanglah, kamu sudah sampai dan aku akan kembali. tugasku hanya memastikan kekasihku yang cerewet ini sampai rumah dengan selamat." Jungkook mendorong Ji yeon ringan menuju rumahnya di seberang jalan yang sudah sangat dekat. "Aku mencintaimu Ji yeon." Jungkook melambaikan tangannya dan tetap memandangi Ji yeon hingga Ji yeon sukses menyeberang.
"Aku juga mencintaimu Jungkook-ah."
Pancaran senyum yang merekah dari Ji yeon membuat Jungkook mengingat perjodohan yang di rencanakan oleh orang tuanya. Jungkook tidak peduli apa yang akan orang tuanya lakukan padanya, Jungkook hanya akan mencintai Ji yeon sampai kapanpun.
•••
Sore ini, Jungkook tetap tidak mau menghadiri pertemuan keluarga dengan keluarga kim dan membuat ayahnya meradang. keluarga Jeon dengan sangat malu berulangkali membuat alasan agar anaknya tetap terlihat baik di depan keluarga Kim. ayah Jungkook benar benar tidak bisa tinggal diam melihat tingkah putranya yang tidak bisa di atur.
brak...
pukulan keras dari ayah Jungkook membuatnya tersungkur dan terbanting ke lantai.
"Ternyata kamu cukup tangguh untuk melawan orang tuamu Jeon. sampai kapan, huh?" tidak puas dengan satu pukulan yang mebuat Jungkook ambruk, sebelum akhirnya Jungkook berdiri, ayahnya sudah terlebih dulu memberikan tendangan lagi dan membuat Jungkook merintih kesakitan. "Lakukan! lakukan apapun yang kau mau, membangkanglah terus hingga kau akan tahu akibatnya."
Jungkook tertatih berdiri dan memegangi perutnya karena tendangan dari sang ayah. "Aku akan memberikan semuanya. rumahku, galeryku, semua yang kumiliki ... tapi tidak dengan perasaanku."
"Ya, tetaplah begini! Aku tidak akan membiarkan apa yang kamu miliki tetap bisa kamu miliki." Ayah Jungkook berbalik dan menduduki sofa hitam di dekatnya. "Pergilah, kekasihmu mungkin kini sedang membutuhkanmu."
"Jangan pernah menyentuhnya!" Mata Jungkook membulat tak percaya. Jungkook tahu ayahnya kini sedang berusaha mengganggu Ji yeon. Dengan segera Jungkook berlari dan menancap mobilnya mendatangi rumah Ji yeon untuk memastikan keadaan kekasihnya. Jungkook hanya bisa berharap semuanya baik baik saja.
•••
"Ji yeon ... " panggil Jungkook khawatir seraya berlari mendatangi Ji yeon yang kini berdiri lemas di depan rumahnya. Rumah yang terbilang sangat sederhana di pinggiran kota. Rumahnya tampak sangat berantakan, sepertinya baru saja terjadi kekacauan dan membuat Ji yeon mendapatkan memar di lengan dan ruam merah di pipinya. "Ji yeon-ah." Jungkook memeluk Ji yeon dengan erat. pelukannya kini tidak mendapat balasan dari Ji yeon. Ji yeon hanya mematung dan merasakan hangatnya pelukan Jungkook yang tak kunjung ia lepas.
"Apa yang terjadi?" Jungkook kini beralih menghangatkan badan Ji yeon dengan outer panjang yang ia kenakan. Jungkook melepas outernya dan menyelimuti Ji yeon yang tetap saja terdiam. "Kenapa? kenapa kamu bisa mendapatkan luka dan memar sebanyak ini?" Jungkook merapatkan telapak tangannya di pipi Ji yeon. Menyentuhnya dengan sangat hati hati seperti Ji yeon adalah patung lilin yang tidak ingin ia hancurkan. Perlahan ia mengusap titik darah di pipi Ji yeon yang tergores. Jungkook sadar kekacauan barusan adalah ulah dari ayahnya. Jungkook semakin marah ketika Ji yeon kini jadi sasaran pelampiasan dari orang tuanya.
"Ayahku telah mengambil semua uang yang mereka berikan padaku. ayahku telah membawanya pergi meski aku bersikeras untuk menolaknya."
Orang tua Jungkook dengan sengaja memberikan uang ratusan juta rupiah pada Ji yeon supaya Ji yeon bisa pergi dan menjauhi Jungkook. orang tua Jungkook tahu Ji yeon pasti akan menolaknya, makannya mereka memberikan uang itu pada Ji yeon di depan ayahnya yang pemabuk dan haus uang.
"Tak apa, jangan difikirkan ... tak apa Ji yeon-ah." Jungkook semakin merapatkan pelukannya berharap bisa menghapus takut dan khawatir yang Ji yeon rasakan.
"Jungkook-ah ... bukankah harusnya kamu tidak datang kesini karena kita telah menerima uangnya?" Ji yeon melepas pelukan Jungkook dan mendongak supaya bisa melihat kekasihnya dengan jelas. "Apa aku terlihat sedang memerlukan uang sebanyak itu? Apa aku terlihat menyedihkan tanpa uang sebanyak itu? aku tidak menginginkan apapun jeon."
Jungkook menyesal karena telah menempatkan Ji yeon dalam kesulitan. "Maaf."
"Jungkook-ah ... terimakasih karena telah menutupinya dariku. Mungkin kamu sangat menghargai perasaanku. Aku sangat berterima kasih padamu karena tidak menyakitiku dengan mengatakannya sendiri. Aku berharap kamu bisa menyukainya, gadis pilihan orang tuamu yang sangat agung hingga mereka bisa merendahkan keluargaku." Tidak seperti biasa, Ji yeon membalas tatapan tajam Jungkook yang biasa Ji yeon hindari.
"Berhentilah bicara."
"Kita ... bukankah harusnya mengakhiri dari dulu? aku terlalu serakah hingga tetap menahanmu dan malah membuatmu dalam masalah."
"Ji yeon-ah ... kenapa kamu bisa ..."
Jungkook tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena Ji yeon menyela. "Aku harusnya menyadari dari dulu. Jungkook-ah ... kita terlalu berbeda untuk bersama." Ji yeon sukses menahan air matanya supaya tidak tumpah di depan Jungkook.
"Ji yeon-ah." Hati Jungkook hancur. Jungkook menghentikan suara halus yang terdengar menyakitkan dari Ji yeon. "Aku mencintaimu, jangan pedulikan orang lain. Jangan mendengar apapun dari mereka. Tetaplah bersamaku."
Mata Jungkook mulai berair, namun kini Ji yeon lebih tegar dari biasanya. Dirinya yang cengeng dan lemah, Kini berubah menjadi gadis kaku dan krisis perasaan.
"Tidak, mereka benar. Aku sudah cukup mendengar ucapan buruk yang kini mengendap di otakku. Aku yang tidak tahu diri. Aku yang terlalu memaksakan keadaan ini."
"Ji yeon-ah ... apa seperti ini caramu memahamiku? apa seperti ini caramu mencintaiku? kau bilang kamu sangat mengerti diriku, kau bilang kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan. lalu bagaimana bisa kamu menyakitiku dengan menyuruhku meninggalkanmu? Park Ji yeon, kumohon ... percayalah padaku!" Jungkook memegang pundak Ji yeon yang tampak tenang dengan wajah merah menahan tangis.
"Jeon Jungkook, berhentilah mencintaiku."
"tidak ... jangan katakan itu! aku mencintaimu Ji yeon. aku tahu kamu juga sangat mencintaiku. jangan menyakiti dirimu, jangan berbohong padaku!"
"Pergilah Jung! aku tidak ingin ayahku menjadi korban keegoisanku. aku tidak ingin ayahku membayar semua uang yang orang tuamu berikan dengan nyawanya, ya ... dia tidak memiliki apapun kecuali nyawanya. aku tidak ingin kehilangan orang yang telah bersama dan membesarkanku."
"Tidak, aku tidak bisa kehilanganmu. kita bisa pergi bersama. Aku akan selalu di sampingmu dan menua bersamamu. Bukankah itu yang kamu inginkan? pergilah bersamaku dan kita akan memiliki kehidupan sederhana bersama. jangan meninggalkanku seperti ini."
"Aku akan melupakan semuanya. keinginanku, impianku dan semua kebahagiaan yang sedang aku rencanakan. Aku tidak menginginkan apapun. Lupakan aku supaya aku bisa hidup lebih tenang, kumohon padamu!" Ji yeon melepaskan pautan tangannya dengan tangan Jungkook. "Jaga dirimu." Rasanya air mata ini ingin berhambur keluar dan lenganku ini ingin memeluknya. Pria dingin yang sangat mencintaiku. Pria keras kepala yang sangat menyayangiku. Aku mencintainya, sangat mencintainya sampai kapanpun.
Ji yeon melangkah pergi meninggalkan Jungkook yang masih terpaku kosong di bawah langit malam dan sulit untuk memahami dirinya sendiri.
"Bagaimana bisa kamu meninggalkanku? bagaimana aku akan hidup setelah ini? dan tanpamu, aku sangat benci ketika harus kehilanganmu. Ji yeon-ah." teriak Jungkook sengaja di abaikan oleh Ji yeon yang semakin menjauh dari pandangannya. "Kembalilah Park Ji yeon." Jungkook mengejar Ji yeon dan menarik pergelangan tangannya.
Ji yeon mengela nafas beratnya sesaat. "Maaf." Ji yeon melepas paksa genggaman tangan Jungkook dan menghilang menaiki sebuah bus kota, tidak membawa apapun. hanya dirinya dan beberapa luka di badan dan hatinya.
"Aarrrrghhhhh... " erang Jungkook mengusap rambutnya frustasi dan memijat dahinya membiarka Ji yeon pergi darinya. "Kenapa ... aku semakin bodoh dan tidak bisa melakukan apapun untuknya." Jungkook berulang kali memukul dadanya yang sangat sakit, sesak dan remuk. Jungkook benar benar di kendalikan oleh orang tuanya. Jungkook hanyalah marionette usang milik mereka yang akan selalu bergerak dari hasil pemikiran dan rencana orang lain.
"Aku akan selamanya mencintaimu. hati ini akan tetap bersamamu." Air mata Jungkook melebur sepeninggal Ji yeon dan menyisakan dirinya dengan tangis beserta isakan.
Dengan berat hati, Jungkook hanya harus membiarkan Ji yeon pergi supaya nyawa Ji yeon tidak terancam karena uang yang telah di terima dan di bawa kabur oleh ayah Ji yeon. Jungkook pasrah. Berdiri lemas membiarkan hatinya remuk oleh dunia yang sengaja mempermainkannya dan membuat cahayanya perlahan memudar dan menggelap.
•••
"Maafkan aku Jungkook-ah ...." Ji yeong ambruk di bangku bus kota dan menumpahkan semua tangis yang sebelumnya ia tahan. badannya terlalu lelah untuk sekedar berdiri. hatinya kini terlampau sakit melebihi luka dan memar di badannya. Ji yeon tidak bisa merasakan apapun selain menyesal karena telah mengatakan kata kata kasar pada kekasihnya. kata kata yang sangat Ji yeon tahu akan menyakiti hati Jungkook. "Maafkan aku ... aku akan selamanya mencintaimu." Ji yeon meremas bajunya mencoba menghilangkan rasa sakit yang mencekat dadanya. Ji yeon belum bisa memaafkan dirinya yang begitu tega membuat hati kekasihnya hancur untuk beberapa alasan yang melibatkan dirinya dan ayahnya.
Benar, cinta memang terkadang akan berakhir seperti ini. Akan jadi sesuatu yang berdanding terbalik dengan impin dari sebuah cinta. Kebahagiaan yang gagal dan malah menjadi derita. Kebahagiaan yang gagal dan menyisakan rasa sakit yang tidak kunjung terkikis. Membuat sebuah kenyataan baru dan mematahkan beberapa impian yang sebelumnya terajut manis. Membuat beberapa hati krisis oleh harapan dan jauh dari kata terang.
•End•