Hidup itu memang berat, tapi selalu ada jalan agar kamu bisa menghadapinya, selalu ada dukungan yang tidak kamu sadari, tapi diam-diam selalu membantu.
Dan diantara itu semua, yang paling penting adalah langkah pertama. Langkah apa yang akan kamu ambil untuk menghadapi rintangan selanjutnya, langkah apa yang akan kamu jejaki untuk bisa sampai ke tahap selanjutnya, dan semua itu memerlukan langkah pertama.
Dan ini adalah kisah tentang bagaimana perjuanganku agar sampai di tingkat ini, juga kisah tentang dia yang mengajariku betapa pentingnya langkah pertama.
Semuanya akan kuceritakan disini.
***
27 Agustus 2008.
Namaku Alana Wijaya, umurku sekarang 16 tahun dan aku duduk di bangku 1 SMA. Tidak secantik namaku, wajahku sangatlah jelek. Aku gendut, hitam, pendek dan jelek, semua itu melekat sekaligus dalam diriku.
Aku juga tidak terlalu pintar dan aku anak yatim piatu yang dirawat di panti asuhan sejak kecil. Tidak ada yang biasa dibanggakan dari diriku! Jangankan untuk disukai orang lain, aku sendiri malah merasa jijik dengan diriku sendiri.
Sehingga akupun dikucilkan dan di-bully. Disaat aku merasa sangat terpuruk dan putus asa hingga hampir melakukan bunuh diri, aku bertemu dengannya.
"Halo! Kamu pasti Alana,kan? Aku sering liat kamu duduk sendirian di perpustakaan." Sapanya ramah sambil tersenyum.
Aku yang merasa tidak nyaman dengan kehadirannya, memutuskan untuk langsung pergi.
"Tu-tunggu dulu,Al! Ada yang ingin gue omongin sama lo!" Dan akhirnya aku memutuskan untuk mendengarkan apa yang ingin dikatakannya.
"Al, lo tau gak apa itu langkah pertama?" Aku masih diam mendengarkan.
"Langkah pertama itu adalah langkah awal yang digunakan untuk menentukan impian, lo nggak harus memulainya dari langkah besar, karena itu malah akan menghambat lo dimasa depan atau malah mungin Lo akan menyesalinya, tapi lo bisa memulainya dari langkah kecil terlebih dahulu." Ia terlihat menghela nafas sejenak.
"Pelan tapi pasti dan yang lebih penting lagi, cintai diri lo sendiri, baru orang lain akan mencintai lo! Ah..maaf kalo gue lancang, tapi semangat! Gue dukung lo! Semangat!!" Ucapnya sambil mengangkat tangan bermaksud memberikan dukungan kepada Alana.
Dia yang pertama kali tersenyum tulus padaku, dia yang pertama kali mengulurkan tangannya padaku dan dialah orang pertama yang menyuruhku untuk mencintai diriku sendiri.
Setelah hari itu, aku memutuskan untuk untuk mengubah hidupku. Seperti katanya, aku akan memulai dengan mengambil langkah kecil terlebih dahulu.
Aku mulai giat belajar dan tidak mempedulikan pandangan orang lain terhadapku. Hasilnya sungguh luar biasa, aku yang dulunya cuma rangking 23 dikelas, sekarang mendapatkan rangking 4. Dan pertama kalinya dalam hidup, aku merasa berguna.
Dan karena tidak tahan di-bully lagi, akhirnya aku memutuskan untuk merawat diri. Aku mulai melakukan diet dan perawatan lainnya.
Walaupun masih sempat di-bully, tapi aku berusaha untuk menjadi berani. Karena aku tidak ingin lagi direndahkan oleh orang lain dan aku juga ingin mereka mengakui ku sebagai manusia yang layak.
Dan walaupun prosesnya sangat berat, sampai kadang membuatku ingin berhenti saja, tetapi aku tetap ingin menjalaninya. Karena sejak aku memutuskan untuk mengambil langkah pertama, maka aku juga akan mengambil langkah-langkah selanjutya.
Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil, begitu juga dengan usahaku selama beberapa tahun ini. Akhirnya mereka semua mengakui ku, tidak ada lagi yang mem-bully ku, tidak ada lagi yang mencaci makiku, mereka semua memujiku.
Tapi sejak saat itu, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi, seseorang yang sudah kuanggap seperti malaikat pelindungku. Memang terdengar lebay! Tapi begitulah yang kurasakan tentangnya.
Alvaro Mahesa, itulah satu-satunya hal yang kutahu tentangnya, bahkan aku belum sempat mengucapkan terima kasih, dan diapun pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal!
Padahal dialah yang sudah mengetuk pintu hati ini sampai terbuka!
***
27 Agustus 2016.
Banyak cerita yang sudah kulalui dalam hidup, banyak hal yang terjadi sejak saat itu dan tak mungkin sanggup kuceritakan pada kalian satu-persatu. Jadi, aku akan meringkasnya agar kalian lebih mudah memahaminya.
Setelah lulus SMA, aku mendapatkan beasiswa di Universitas Indonesia, salah satu kampus ter-elit di Indonesia. Aku menjalani hari-hariku dengan nyaman, tanpa penghinaan dan tanpa caci maki. Sampai akhirnya aku lulus dengan nilai memuaskan.
Tapi, masalahnya berawal dari situ. Tepat setelah acara wisuda, seorang lelaki tampan datang dan menembakku, ia mengajakku berpacaran.
Aku yang dulunya hanya fokus pada belajar akhirnya mulai memikirkan masalah ini. Dan setelah sekian lama, akhirnya aku harus mengambil langkah pertama lagi. Aku sedikit khawatir, karena langkah ini akan menuntunku di masa depan. Dan akankah pilihanku ini benar?
Aku memikirkannya selama seminggu, dan akhirnya aku memutuskan untuk berpacaran dengannya. Setelah beberapa minggu, akupun mulai terbiasa dengan kehadirannya. Menurutku dia adalah sosok lelaki yang baik walaupun agak pemarah.
Hubungan kami pun berjalan dengan lancar walaupun sedikit ada keretakan, tapi kurasa itu masih bisa diperbaiki. Aku merasa sangat bahagia dengan perasy ini, perasaa saat mencintai dan dicintai.
Dan tibalah saat Anniversary kami yang ke-2 tahun. Karena biasanya dia yang menyiapkan kejutan, maka tahun ini aku yang akan menyiapkan kejutan untuknya, aku bahkan membuat kue anniversary-nya sendiri. Rasa senang tidak dapat dibendungi, seakan bisa meledak kapan saja. Akupun memutuskan untuk mengunjungi apartemennya diamdiam.
"Loh? Kok lampunya mati,ya? Apa Kevin belum pulang kerja?" Akupun langsung memasuki apartemennya, bermaksud menunggu Kevin sampai pulang kerja.
Tapi, apa kalian tau apa yang terjadi? Ya...Aku mendengar suara yang tidak seharusnya kudengar, aku melihat sesuatu yang tidak seharusnya kulihat. Aku bahkan tidak sanggup membekap mulutku sendiri.
Saat itu, rasanya duniaku runtuh seketika. Apakah kebahagian yang selama ini kubangan hanyalah semu belaka? Apakah...aku sudah mengambil langkah yang salah?
Aku langsung berlari keluar apartemen, Kevin yang menyadari keberadaanku saat itu langsung mengejar dan menarik pergelangan tanganku.
"Al..Al..dengerin penjelasan aku dulu, ini-ini semua nggak seperti yang kamu baya-"
"Jelasin! Kalo gitu JELASIN SEKARANG!!" Kevin hanya terdiam begitu juga dengan wanita yang berada dibelakangnya.
"Aku nggak bisa jelasin sekarang,Al."
"A-apa? Nggak bisa jelasin? LO BILANG NGGAK BISA JELASIN??! Udah berapa lama,hah? UDAH BERAPA LAMA LO SAMA PEREMPUAN ITU SAMPAI DIA BISA HAMIL?!!"
Aku marah, kesal, kecewa, semuanya bercampur aduk saat melihat orang yang selama ini kucintai dengan tulus ternyata malah punya perempuan lain. Dan bahkan aku sekarang bisa melihat perempuan itu yang sedang mengelus perut besarnya.
"Sebenernya lo anggap gue itu apa,hah? DUA TAHUN YANG KITA JALANIN LO ANGGAP ITU APA,HAH?!! DASAR BANGSAT!! KALIAN SEMUA SAMPAH!!"
Setelah kejadian itu, aku mengunci diriku dikamar. Sebenarnya, tidak ada yang perlu ditangisi dari pria sampah seperti dia, tapi aku hanya menanangisi kesalahanku di masa lalu.
Ah..ternyata aku sudah memilih pilihan yang salah. Dan saat itu aku teringat lagi dengan perkataan Alvaro, "Langkah pertama itu adalah langkah awal yang digunakan untuk menentukan impian, lo nggak harus memulainya dari langkah besar, karena itu malah akan menghambat lo dimasa depan atau malah mungin Lo akan menyesalinya, tapi lo bisa memulainya dari langkah kecil terlebih dahulu."
Apakah saat itu aku langsung mengambil langkah besar dengan tidak menimbang resikonya terlebih dahulu? Apakah aku langsung memilihnya tanpa tau apapun tentang dia? Ah.. tidak ada gunanya lagi untuk menyesali apapun yang kupilih di masa lalu. Yang terpenting, aku tidak akan mengulanginya lagi di masa depan.
***
27 Agustus 2020
Tahun ini usiaku sudah mencapai 28 tahun. Kalian tau apa yang dibicarakan orangorang saat melihat perempuan yang sudah hampir berkepala tiga tapi belum juga menikah atau memiliki pacar? Mereka menyebutnya perawan tua.
Aku sudah terbiasa dengan sebutan itu. Dan bohong jika aku bilang bahwa aku tidak merasa terbebani. Tapi aku masih belum ingin menjalani suatu hubungan, bukan karena aku takut atau trauma, tapi karena aku masih mencari dan menantinya.
Apalagi sekarang aku sedang duduk di perpustakaan sekolah, tempat aku bertemu dengannya dulu. Mungkin kalian heran kenapa aku bisa ada disini, tapi setelah kejadianku dan mantan brengsekku itu, aku memutuskan untuk menjadi guru disini.
Sekolah ini, suasana ini dan tempat ini, selalu membuatku ingin bernostalgia. Dan saat itulah..
"Hai Alana! Lama gak jumpa,ya! Aku..kangen kamu,lho!" Ucapnya sambil tersenyum. Aku membeku, rasa kaget dan rindu bercampur menjadi satu, dia yang selama ini kirindukan akhirnya datang juga.
"Maaf karena tiba-tiba pergi! Karena sama seperti kamu, aku juga sudah mengambil langkah pertama dalam hidupku, yaitu aku akan sukses dan bisa membahagiakan kamu, juga.. agar aku bisa beliin kamu ini, hehe!"
Alvaro menyodorkan sebuah kotak beludru merah kepadaku, ah..cincin yang indah! Dia juga memasangkan cincinnya di jari manis ku lalu mengecupnya pelan.
"Tolong jadilah istriku!" Ucapnya pelan.
Ah.. inikah kebahagian yang sesungguhnya? Dan apakah pilihanku saat ini sudah tepat?
Perasaan ini sangat hangat dan tenang, aku...menyukai perasaan ini.
Dari masa lalu aku belajar, terkadang bukan langkah besar yang membawa kebahagiaan, tapi langkah kecillah yang justru lebih indah dan nyaman digunakan saat menapaki jalan hidup. Pelan tapi pasti!
Apapun yang terjadi janganlah mengeluh, karena jika kau belum bahagia maka kisah hidupmu belum di akhir cerita.
_____________END_____________