Malam itu, hujan rintik-rintik menemani ku yang tidak tahu dan tidak mau tahu karena aku maunya sukun goreng bukan tahu goreng.....
*CUT CUUUUUTT, LU KALAU MAU NARASI YANG BENER NGAPA. MAU TAK POTONG JAJAN MU 7 TURUNAN 8 TANJAKAN 9 TIKUNGAN ?"
(suara hati author teraniayah dan teranibuh)
☞ Oke author tamvan 🤢🤮
Malam itu, hujan turun perlahan dengan tak tahu malunya karena dia tahu aku belum mandi seharian, dengan harapan dia bisa membasahi kekeringan kulitku bak kebo yang bahagia berbaring dalam kubangan. Aku tak tahu, dan tak mau tahu si mawar sedang dimana, dengan siapa, dan sedang berbuat apa karena dia bukan vokalist kang*n band yg dengan potongan rambut "poni lempar", dengan gaya khas mengangkat tangan sambil berjingkrak-jingkrak diatas panggung sandiwara kehidupan.
Yang aku tahu, malam itu pintu kamar ku digedor oleh ribuan warga, baik warga alam nyata maupun warga alam ghaib.
Aku bertanya-tanya, ada apakah gerangan hingga mereka menggerogoti rumah ku. Apakah mawar sudah ketahuan berbuat asusila dengan anak jin atau kah dia ketahuan berselingkuh dengan istrinya genderuwo atau kah mawar ketahuan mencabut singkong pak kades yang dijaga sepenuh hati seperti anak sendiri ?
Yang jelas, dengan tangan gemetar, jantung berdegup kencang dan lutut yang goyah karena belum makan seharian, aku memberanikan diri membuka pintu jendela ku, dengan harapan aku bisa kabur dengan dengan jurus "seribu langkah mendapat hidayah"...
Malang, sungguh disayangkan, saat aku berpikir aku sudah lolos dari amukan warga, ternyata sarung ku tersangkut di palang jendela karena mereka tak mau terpisahkan antar jarak dan waktu.
Dengan penuh perjuangan, aku berusaha memberikan penjelasan kepada sarung ku bahwa suatu saat nanti, dia akan menemukan sesuatu yang lebih baik dari pada palang jendela itu, tapi......
OKE NEXT LANJUT PART 3 YA 🏃♂️🏃♂️🏃♂️