“Huuh, Mochi!” Sahut Vivi dengan marah kepada kucingnya, Mochi. Rupanya, Mochi memakan biskuitnya.
“Sudahlah, Mochi itu kan hanya kucing! Yang salah itu kamu, menaruh makanan sembarangan!” Tegur ibu.
Mochi adalah kucing dan dibawakan ayah dari kampung paman. Paman memiliki banyak kucing di rumahnya, bahkan burung, kelinci, anjing dan ikan juga ada. Intinya, pamannya Vivi ini pecinta hewan.
Lain halnya dengan Vivi, gadis kecil berusia sekitar 15 tahunan. Anak ini tidak suka kucing. Sejak kecil, dia selalu beranggapan bahwa kucing itu hewan yang kotor dan nakal. Sebenarnya, Vivi juga agak takut kalau kucing tersebut mencakar nya.
“Vivi pengennya punya anjing, kan lucu dan bisa diajak bermain!” Keluh Vivi kepada ayahnya. Tetapi ayahnya selalu mengatakan tidak. Alasannya karena harga anjing itu mahal dan melatihnya juga cukup sulit.
Ayah dan ibu selalu menyuruh Vivi untuk menerima Mochi dan menyayanginya dengan baik. Ibu menyuruh Vivi untuk memberi makan Mochi dua kali sehari. Ayah menyuruh Vivi untuk memandikan Mochi seminggu sekali.
Meskipun begitu Vivi tidak memiliki rasa sayang sedikitpun pada Mochi. Yang ada, dia selalu merasa sebal. Baginya Mochi selalu berisik dan mengganggu konsentrasinya saat mengerjakan pr.
---------------
Pada suatu sore, Vivi ditinggal sendirian dirumah karena orangtuanya harus ke bank. Vivi sudah kelas 9, jadi sudah pasti dia dapat menjaga dirinya.
“Ingat ya sayang, Mochi nya jangan lupa diberi makan.” Pesan ibunya. Vivi mengangguk malas.
Ketika orangtuanya sudah pergi, Vivi pergi ke pasar malam untuk membeli makanan. Baru saja melangkah keluar pagar, Vivi menyadari bahwa Mochi mengikutinya.
“Hush! Sana kamu!” Perintahnya. Tapi Mochi tidak mau pergi. Dia terus mengeong, seakan tidak memperbolehkan tuannya untuk pergi. Tapi Vivi menggangap Mochi hanya mencari perhatian. Diapun segera berlari supaya Mochi tidak mengikutinya.
--------------
Langit tampak gelap. Suara petir mulai terdengar. Hujan mulai turun rintik-rintik.
“Duh, kok hujan sih? Ini kan bulan Juni!” Gerutunya. Meskipun begitu dia tetap memilih melanjutkan perjalanannya, karena dia sangat ingin membeli boba kesukaannya di pasar malam.
Tetapi baru setengah perjalanan tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Suara gemuruh terdengar dari mana-mana. Angin juga begitu kencang, hingga topi Vivi hampir terbawa angin.
“Mana aku nggak bawa payung, haduh!”
Vivi akhirnya memutuskan kembali kerumah karena dia ingat pesan ibunya, kalau langitnya sangat gelap, angin kencang, dan banyak petir, itu tanda-tanda akan terjadi badai.
Kendaraan mulai saling kebut, saling menyusul satu sama lain terutama motor karena tidak mau basah kuyup. Begitu juga orang-orang yang mulai berlarian dan banyak juga yang sibuk mencari tempat berteduh. Tiba-tiba...
“Meow!!”
Mochi datang dari belakang Vivi dan mendorongnya. Memang tidak kuat, tapi Vivi kaget sehingga dia pun terjatuh. Tiba-tiba ranting besar didekatnya jatuh mengenai Mochi.
“Mochi!!” Vivi langsung berlari kearah Mochi. Sayangnya ranting itu terlalu berat untuk diangkat anak kecil sepertinya. Vivi langsung meminta tolong kepada satpam yang sedang berjaga didepan minimarket. Satpam itu membantu Vivi mengangkat ranting tersebut dan menolong Mochi.
Vivi segera membawa Mochi ke klinik hewan didekat situ. Untungnya, nyawa Mochi masih bisa diselamatkan. Hanya saja kakinya patah, dan punggungnya juga luka-luka.
Vivi mengusap air mata sambil memperhatikan kucingnya yang sedang ditangani oleh dokter hewan. Vivi menyesal. Kalau saja Mochi tidak mengagetkannya tadi, mungkin dialah yang akan tertimpa ranting besar itu.
Semenjak hari itu, Vivi sangat menyayangi Mochi. Dia berjanji untuk bertanggung jawab atas Mochi. Dia tidak akan pernah lupa lagi untuk memberi Mochi makan dua kali sehari, dan memandikannya seminggu sekali.