Oke sebelumnya terima kasih yang sudah menyempatkan untuk membaca kisah ini. Jika suka maka beri like dan jika terdapat kritik saran akan sangat membantu untuk pengembangan kisah dariku. Ambil posisi yang nyaman dan aman, lalu..
[📖HAPPY READING!!]
Hallo readers! kenalin nama aku Arsa Ginta. Seorang remaja berambut kecoklatan dengan mata yang tajam. Dengan itu orang-orang sering beranggapan kalo aku marah sama mereka, ga suka mereka, padahal tidak. Aku sering dicap pendiam oleh banyak orang yang aku temui.
"Arsa, kamu anaknya pendiam ya."
"Arsa, ngomong sedikit lah, nimbrung sini."
"Arsa kamu sakit?"
dan masih banyak kalimat-kalimat menjengkelkan lainnya yang pernah dikatakan orang kepadaku.
"Aku aslinya banyak omong kok, hanya saja tidak dengan kalian," gerutuku di bangku dekat jendela barisan tengah di dalam sebuah kelas yang sunyi tanpa guru. Terkadang aku berbicara dengan diriku sendiri jika ada suatu kejadian yang teringat. Suaraku yang pelan hampir mustahil terdengar oleh teman-temanku di kelas ini kecuali Gina, tampaknya ia sedang memperhatikanku sedari tadi.
"Kamu, bicara sendiri lagi Arsa," ujarnya lalu kembali fokus pada tugas yang sedang kami kerjakan.
Lagi-lagi aku ketahuan. Serius itu sangat memalukan, tapi yah biarlah. Toh Gina telah mengerti bagaimana sifatku ini. Aku memutuskan untuk kembali fokus mengerjakan soal aljabar dengan rasa bosan.
°°°
Beberapa menit berlalu, akhirnya bel istirahat berbunyi, diantara kami ada yang berdiri untuk keluar kelas dan ada juga yang memutuskan memukim di sini beserta perbekalannya. Oh ya lupa, aku lupa menjelaskan mengenai hawa sejuk yang ada di sekolah ini.
Sekolah kami terletak di kaki gunung, jadi kalian tebaklah bagaimana hawanya. Setiap pagi kabut-kabut cukup tebal menghalangi pandangan siapa saja yang berjalan-jalan di luar daerah ini. Bahkan hingga sekarang kabut itu masih menetap di luar jendela di antara hutan belantara. Walau sekolah kami tidak terlalu bagus, tetapi segala sesuatu di sini terasa sangat menyenangkan! Berbeda dengan kalian, pemandangan gedung-gedung, atau tertutup rumah warga. Kalau di sini jika ingin refreshing, kalian bisa langsung melihat keluar jendela. Baik lanjut ke kisah, hehe.
Kebetulan aku lupa membawa bekal yang telah aku persiapkan sedari pagi buta. Sakit rasanya. Terpaksa aku harus ikut hijrah mengikuti jejak-jejak kawanku yang lain. Bangku aku mundurkan dan mulai ancang-ancang mau berdiri.
"Mau kemana? aku ikut dong! boleh ya?" tanya Gina selang beberapa mili detik setelah aku berdiri.
"Kantin," jawabku datar. Tanpa perlu berbasa-basi lagi aku meninggalkan pertanyaan Gina dan disusulnya ikutnya Gina bersamaku.
"ish kebiasaan deh kamu," gerutu Gina.
°°°
Sesampainya di kantin kami dikejutkan, eh lebih tepatnya biasa saja. Kalau saja kita datang agak lama alamat seperti lautan manusia. Ingin rasanya kuserok pakai sekop besar.
"Waduh, rame Sa, gimana ni? mau tetep ngantri?" tanya Gina melipat bibir lucunya. Oh iya, sekedar mengingatkan. Gina perawakannya bak bidadari, et bidadari. Jujur saja ia tidak terlalu cantik, tidak terlalu pintar, dan tidak terlalu... yang Kusuka darinya adalah kebersihan dan kerapihannya dalam apapun itu. Dari kebanyakan siswi di kelas atau sekolah Gina lah yang paling rapi dan bersih menurutku.
Gina mengamati dengan seksama wajahku dengan tatapan yang aneh. "Kamu lagi mikirin apa toh? aku tanya kamu loh!"
"Enggak kok, enggak. Kalau kamu tidak mau ngantri, kamu bisa ke kelas aja. Kalau mau nitip aku pegangin," jawabku masih diam meratapi sakitnya lupa membawa bekal yang telah mengorbankan waktu pagiku yang ngantuk.
Gina mengangkat alisnya. "Apa iya? kamu bisa sendirian kah?" tanya Gina dengan nada tak bersalahnya tetapi terdengar lucu. Aku pada akhirnya hanya membalas dengan anggukan dengan sedikit senyuman, woah akhirnya aku tersenyum.
"Baiklah kalau itu mau kamu, aku mau ke perpus aja deh. Aku nitip risol satu aja kali ya?" ujar Gina mengetuk-ngetukan pipinya dengan jari telunjuk dengan manik hitamnya menengok atas, lalu sekian detik ia kembali menormalkan ekspresinya, Gina tersenyum manis. Ya ampun, apa ini.
Gina lekas balik kanan, meninggalkan aku sendiri di lautan manusia. Huft, baiklah, aku lupa mengambil antrian...
...
...
Tak selang lama Gina kembali, dari dekat ia memanggil namaku.
"Kenapa?" tanyaku bingung.
"Siniiii! sini cepet!" pinta Gina menggerakkan kelima jarinya sekolah untuk menemuinya.
Untuk apa? nanti antriannya keselak orang. Huft, tapi yasudahlah, mungkin ini suatu yang penting. Aku pada akhirnya keluar dari antrian dan menghampiri Gina yang telah berada di gerbang masuk kantin berwarna hitam.
"Ada apa, Na?" tanyaku penasaran.
"Itu tuh, ada yang jual makanan. Kayaknya untuk seleksi pemilihan osis deh. Kayaknya ada banyak yang dia jual tuh!" Gina merujuk pada Kaka kelas yang menenteng keranjang mini, entah isi apa itu. Dari jauh seperti lontong dan aneka gorengan dan sebuah tempat plastik, salad mungkin?
Gina menghampiri Kaka kelas lebih dahulu lalu aku menyusul ketertinggalan. "Akhirnya, daripada harus mengantri. Terima kasih Ginaaa," lirihku mengelus dada.
"Permisi kak, saya mau beli. Kakak jual apa?" tanya Gina sambil melihat kedalam keranjang.
"Jual dir- ya makanan lah, yok beli. Yang beli pahalanya banyak," ujar Kaka kelas itu sambil memperlihatkan isi keranjang yang terdiri dari lontong, tempe bakwan dan kebetulan ada risolnya, dan ternyata itu salad buah. Ada jelly-jellynya.
"Wah! Arsa kamu mau apa?" tanya Gina.
"Lontong satu dan tempe saja. Kamu mau apa Gina?" jawabku mengangkat jari telunjuk. Gina tampaknya sedang memikirkan menu yang tepat untuk disantap.
"Ah, aku mau nyoba salad Arsa!" ujar Gina.
"Maaf saya enggak jual salad manusia, apalagi temen kamu ini..." suasana menjadi hening sejenak. "Maaf, bercanda kok, hehehe."
Benar-benar sangat cringe, garing, krispi, dan lainnya bisa kamu sebutkan saja sendiri. Gina masih menghargainya dengan tersenyum sedikit.
Setelah melupakan hal yang barusaja terjadi, akhirnya bungkus makananku dan Gina telah beres.
"Semua jadi sembilan ribu, kalau mau genepin juga gapapa."
Gina yang berusaha merogoh kantong dihentikan olehku. "Biar aku aja yang bayar Gin."
"Wah! tidak biasanya Arsa teraktir orang! makasiii," ujar Gina.
Aku menggeleng. "Tidak, aku talangin dulu, kamu bayar nanti ke aku di kelas."
Bukan main, Gina sepertinya agak hilang harapan pada diriku. Gina tersenyum sambil mengedipkan matanya berkali-kali.
Setelah kurogoh-rogoh, eh? eh?! kok ga adaaa. Ya ampun aku baru inget, dompetnya kan ada di bekal...
"Heh, kenapa diem aja? ga ada duit? bayar cepet." ujar kakak kelas.
Gina segera menyodorkan uangnya, benar-benar digenapkan oleh Gina. "Ambil saja Kaka, terima kasih."
"Makasih ya dek," Kaka kelas itu segera cabut dari lokasi menyisakan diriku dan Gina.
Benar-benar malu, malu, maluuuuu. Sudah dua kali hari ini, padahal masih pagi... Aku hanya bisa terdiam tanpa berani mengatakan sepatah kata pun. Suasana menjadi sangat aneh, Gina malah tertawa melihat ini semua.
"Haha, sudah tidak apa-apa biar aku bayarin kamu aja. Lain kali persiapkan dulu," ujar Gina masih berusaha manahan tawa.
Lagi-lagi ia menjahiliku, bukan menjahili sih lebih tepatnya, ini karena salahku juga. Tapi ya, mau bagaimana lagi? Aku memegang kepala dengan kedua tanganku.
"Ya ampun."
TBC?
============
Makasih ya buat kamu yang udah baca sampai habis! aku sangat apresiasi itu. Mungkin cerita ini akan ada lanjutannya kalau aku niat. Nantikan kepingan kisah bagian kehidupan di sekolah bersama Arsa dan Gina. Sekali lagi, THANK YOUUUU!
[🪵GOOD VIBES]