I Fell In Love At The Wrong Time
꧁❈꧂
Aku Jatuh Cinta Di Waktu Yang Salah
ꕥ
'1'
Cinta, menurutmu cinta itu apa? Kupikir cinta hanyalah bualan untuk seseorang yang suka menghayal, karena nyatanya aku tak mempercayai kata cinta.
Tetapi ... setelah mengalaminya sendiri, aku jadi mengerti apa itu cinta. Bisa dibilang aku jatuh cinta kepada seorang lelaki, ia adalah lelaki biasa, namun entah mengapa aku menaruh perasaan kepadanya.
Kami tak cukup dekat, tetapi hanya dengan melihatnya cukup membuatku hampir merasa gila karena selalu memikirkannya, debaran jantungku kian meningkat cepat ketika bersamanya. Namun,kupikir rasa cinta ini harus kupendam selamanya.
Perkenalkan, namaku Aera, orang-orang terdekatku sering memanggilku air, menyebalkan memang. Aku merupakan orang yang cukup tertutup dan aku sangat menyukai ketenangan.
Tetapi, ketenangan yang kuidamkan telah terengut seketika setelah aku merasakan perasaan 'cinta'. Aku berusaha cuek kepadanya, tapi kenapa aku semakin jatuh hati kepada lelaki itu?!
Kumohon! Beritahu aku bagaimana cara menghilangkan perasaan ini? Aku tak ingin berharap kepada sesuatu yang sia-sia ...
Ingin tahu mengapa aku mengatakan hal itu? Jawabannya ialah karena lelaki itu telah memiliki pujaan hatinya. Dan tentunya itu bukanlah aku.
Cinta bertepuk sebelah tangan? Benar, tak kusangka akan terasa menyakitkan melihat orang yang kita sukai menjalin hubungan romantis dengan seseorang.
"Emmangnya kamu suka sama siapa sih? Kalau dia malah bikin kamu kayak gini mending kamu move on deh Ra!" tegas salah seorang temanku saat itu. Dan tentunya aku hanya bisa tersenyum kecut lalu membalas perkataannya.
"Ngomong mudah, tapi praktekin susah!"
Cinta adalah hal yang klasik. Bagi sebagian orang. Cinta terkadang indah, tetapi dibalik keindahan itu terdapat sosok mungil yang patah hati.
...
28 Mei 2xxx
Waktu berlalu dengan cepat, kini aku telah terbebas dari ujian akhir tahun. Yang di mana, momen-momen ini akan menjadi terkahir kalinya untukku melihat sosoknya ....
Aku bukanlah gadis pemberani, sebut saja pengecut. Kupikir rasa ini harus segera kulupakan karena, kami tak kan pernah bersatu. Aku hanya menyakiti diriku sendiri jika bertahan dengan perasaan ini. Tak ada satupun yang mengetahui aku menyukai lelaki itu, tidak ada satupun.
Karena aku tak mempercayai teman-temanku. Dan ... kekasih lelaki yang kusukai merupakan temanku juga.
Aku hanya bisa tersenyum miris kepada kisah cintaku yang rumit ini. Mungkinkah ini balasan karena aku yang dahulu terlalu keras kepala akan kata cinta?
Aku tak mempercayainya, dan sekarang aku dibuat frustasi oleh rasa cinta itu.
"Jika cinta mengajarkan untuk merelakan dan mengikhlaskannya, maka aku ... akan mencobanya." batinku yang bergejolak resah, hatiku memang terasa nyeri. Namun, inilah yang terbaik untukku.
"Aera!!" panggil seseorang dari kejauhan, sontak aku pun menoleh ke arah sumber suara, netraku menangkap sosok Tia yang merupakan teman dekatku, sedang berlari dengan peluh keringat yang menempel di setiap sisi tubuhnya.
"Tia? Ada apa?" tanyaku bingung, untuk apa ia berlari hingga seperti ini?
"Kamu dapat peringkat ke tiga ya??" tanya Tia antusias, aku mengernyitkan alisku dalam. Apa maksudnya? Peringkat apa?
"Ishh kok diem sih! Ayo sini ke mading depan kelas!" Tia pun menarik tanganku dan segera membawaku cepat ke tempat yang dituju.
"Memangnya pengumuman nilai sudah diumumkan?" tanyaku terheran, Tia mengangguk cepat dan segera mendorongku masuk ke dalam kerumunan yang sedang fokus mengelilingi sebuah mading.
Terpaksa, aku berhempitan dengan orang-orang asing, lalu berhasil mencapai tempat paling depan berkat badanku yang gesit.
Aku pun sontak melebarkan kedua mataku, terdiam melihat apa yang telah tertera di mading sekolah.
EVENT SEKOLAH!
Tiap kelas akan memperwakilkan tiap murid di kelasnya untuk menunjukan bakat dan prestasi.
List pertunjukan :
- Drama
- Vocal music
- Band
- Traditional/Modern dance
- Poetry [ Puisi ]
Lomba :
- Pertandingan basket
- Pertandingan sepak bola
- Pertandingan voly
- Estafet air
- ''''''
- ''''''
"Berani-beraninya dia berbohong kepadaku." gumamku dengan pandangan yang menggelap, aku pun membalikkan badan menghindar dari kerumunan tersebut.
Segera aku mencari sosok Tia ke seluruh penjuru lorong kelas, namun bukannya menemukan Tia, aku malah melihat seseorang yang kusukai sedang bersama kekasihnya bermain bola basket di lapangan.
Nyut.
Aku spontan menyentuh di mana letak jantungku berada.
Mereka ... terlihat sangat serasi. Aku tak akan pernah bisa menggantikan pemilik sang hatinya.
Senyum kecut nan tipis ku tunjukkan.
"Air," panggil seseorang dengan nada suara yang berat, aku pun berdehem malas karena sudah menebak siapa yang memanggilku itu.
"Gue bakal ikut pertandingan bola basket, inget! lo jangan lupa dateng dan semangatin gua!" Lelaki itu mendekatiku dan menepuk pucuk kepalaku dengan lembut.
"Iya, semangat latihannya bang ...." ucapku lemas. Aku menoleh dan memberikan senyuman terpaksaku.
Dia adalah kakak tiriku, yang bernama Ivan. Tampaknya ia menyadari mimik wajahku yang terlihat lesu.
"Oh anak kelas lo bilang, kalau lo terpilih jadi perwakilan kelas buat main drama. Emang benar?" tanya Ivan yang hampir membuatku jantungan.
"Hah?" beoku syok, aku seketika mematung di tempat.
Ivan terdiam beberapa saat, lalu tertawa terbahak-bahak menertawai aku yang sama sekali tidak tahu hal tersebut.
"Semangat adikku sayang!" Ivan mengacak-ngacak rambutku lalu mencubit kedua pipiku pelan. Aku menatapnya memelas.
"Bangg!! Yang benar?!" tanyaku menuntut, aku sama sekali tidak percaya!
Aku pun sontak memegang tangan abangku dan mencoba menjauhkannya dari wajahku.
"Yoi, udah sini biar gue hibur lo, gue bakal traktir lo cuman buat hari ini saja, oke?" Ivan merangkulku dan membawaku menjauh dari kerumunan mading, serta ... dia.
Aku mau tak mau pun mengangguk, menoleh kebelakang mencari keberadaan sosok Tia, entah mengapa ia tiba-tiba menghilang meninggalkanku. Tetapi ketika aku tanpa sengaja melirik ke arah lapangan, lelaki itu ... sedang melihat ke arahku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ah dia menatapku? Tak mungkin! Pasti dia sedang menatap ke arah lain." batinku cemas. Aku pun cepat menolehkan kepalaku dan hanya diam mendengar celotehan Ivan.
...
Kini aku sedang berada di kelas. Aku berdiri diam di depan kelas dengan wajah muramku. Tak lupa berkacak pinggang dan menatap ketua kelas garang.
"Kenapa kalian memasukkanku di drama tanpa persetujuanku? Aku bahkan tidak tahu!"
Aku mendengus sebal dan sengaja melirik Tia dengan tatapan kesal, ini pasti ide dia bukan? Tuh, lihatlah! Dia malah memalingkan wajahnya ke jendela.
"Aduh ... gimana ya Er, kamu kan waktu itu nggak ada di kelas, gak masuk kan ... yaa anak-anak banyak sudah berperan di lomba dan kegiatan lain, jadi kupikir tidak ada salahnya kamu ikut drama," jelas sang ketua kelas merasa bersalah, aku yang melihat wajah tidak enakkan itu pun sontak terdiam.
Kini aku menyesal telah memarahinya, "Ah maaf, aku terlalu egois," ucapku kepadanya.
"Tidak! Ini salahku tidak meminta izinmu sama sekali," Ia mengibaskan kedua tangannya dengan cepat.
"Tenang saja, walau sudah terdaftar, berdoa saja kamu dapat peran figuran." Ketua kelas yang bernama Andy itu tersenyum tipis. Ya ... kuharap begitu. Aku pun membalasnya dengan ikut tersenyum tipis. Wakil ketua kelas yang melihat suasana sudah kembali tenang di antaraku dan ketua kelas pun bersorak.
"Nah karena sekarang kalian sudah berada di sini semua, ayo kita undi peran kalian masing-masing!" seru sang wakil ketua kelas, ia bernama Kinan.
"Kelas kita sudah nentuin dramanya kah?" tanyaku spontan, Kinan pun menganggukkan kepalanya.
"Drama kita dijamin berbeda dari kelas lainnya! Aera, kamu tahu cerita Beauty And The Beast?" jawabnya dan bertanya, aku mengangkat alisku tertarik.
"Tahu, jadi kita akan memainkan drama itu?"
"Benar sekali!" riangnya dan mengambil sebuah botol sedang di saku roknya.
"Aku sudah membuat ini, jadi mudah tinggal kocok saja!" ujarnya dan menyuruhku untuk kembali ke tempat duduk, aku pun menyanggupinya.
"Kinan, kalau kita anak laki misalnya dapat peran anak perempuan gimana dong?" tanya salah seorang lelaki di kelasku dengan wajah tidak setuju.
"Mending voting!" lanjutnya, hampir seluruh anak kelas kami menyetujui hal tersebut.
"Tenang! Tenang semuanya! Aku tahu hal itu akan terjadi, makanya aku sudah buat hal yang berbeda di sini!" Kinan pun tersenyum bangga. Ia berjalan memutari kelas dan menghampiri satu persatu murid untuk dibagikan kertas kocokan.
Aku pun telah mendapatkannya, kini aku melirik ke arah lelaki itu, aku terbebalak ketika melihat ia juga sedang menatapku balik. Spontan aku menatap kertasku dan meremasnya erat.
"Barusan itu apa??" batinku tercenggang. Tetapi aku agak sedikit senang karena aku telah dinotice! Namun, bolehkah aku seperti ini? Ia telah memiliki kekasih.
Ah, satu hal yang kusadari, ternyata ia juga memainkan drama ini? Kupikir ia hanya mengikuti lomba basket karena ia mengikuti ekstrakurikuler itu.
"Nah semua anak drama sudah dapat kertasnya kann?"
Serentak kami menyahut bersama-sama, "Sudahh!"
Kinan menyeringai tak sabar, "Mulai dari sekarang buka kertasnya!"
"Hm?"
Aku melihat isi kertasku, satu bintang berwarna kuning ... astaga! Jangan-jangan aku dapat peran figuran?
Aku tersenyum lebar, menghela napas lega dan bersyukur akan hal tersebut.
"Yang dapat satu bintang, coba angkat tangan!" pinta Kinan, tanpa perlu lama aku pun segera mengangkat tanganku.
Sekitar ada tiga orang yang mengangkat tangan. Yaitu, aku, Kai dan ... dia. Lelaki itu, yang bernama Aden.
Kinan pun tersenyum dengan sangat lebar, aku sangat curgia dengannya. Mengapa hanya tiga orang yang mendapat bintang satu? Jangan-jangan ... pemeran utama?
"Kemarilah kalian bertiga!" pinta Kinan mengayun-ayunkan tangannya meminta kami untuk maju ke depan.
Aku pun segera berjalan dengan ragu. Setelah kami bertiga di hadapan seluruh teman-teman kami, tiba-tiba Kinan berseru dengan lantang.
"Inilah orang-orang yang akan menjadi bintang utama di drama ini!!"
Aku tercenggang, melihat ekspresinya, jangan-jangan semua ini telah diatur? Jadi benar apa yang telah kupikirkan? Dari sudut mataku, aku dapat melihat raut wajah Kai yang memerah di sebelahku.
"O-oi! Kinan! Maksudnya gua ini jadi pemeran utama?? Sama mereka berdua??!" Kai terlihat agak terkejut.
"Sudah terlihat bukan hasilnya? Kenapa Kai? Kau tidak sukaa?? Kuramal kau pasti akan menyukainya!" ujar Kinan ceria, ia tersenyum dengan lebar dan mengangkat alisnya beberapa kali kepada Kai, lalu ... melirikku aneh.
Ada apa dengan mereka??
"Kai, Aera, Aden, mohon bantuannya untuk drama ini!" ucap Andy ramah.
Aku hanya mengangguk kaku. Tunggu- bermain drama bersama Aden?! Dan jadi pemeran utamanya?! Maksudnya aku adalah pemeran utama wanita si Belle?!
"Aera akan memerankan peran Belle, Kai akan menjadi sang Beast dan Aden akan menjadi antagonis utama, yaitu Gaston. Baiklah untuk sisanya kemarilah!" ucap Kinan.
EHH?? ADEN MENJADI APA?? Gaston?! Bukan sang Beast?!! Padahal aku sudah berharap banyak!!
"Ah ... jadi bintang berwarna merah ini adalah antagonis utama?" gumam Aden di sebelahku sambil melihat kertasnya, aku spontan melirik kertas miliknya.
Benar, bintang itu berwarna merah ... bukan berwarna kuning. Apakah takdir sedang menunjukkan kepadaku, bahwa pada akhirnya ia bukanlah ... takdirku?
"Kinan! Kita kan jadi barang nih nantinya, masa pakai green screen?? Kita gimana dong?" tanya salah seorang yang memerankan peran pembantu, ia bernama Jeff.
"Hahahahahaha, akhirnya ada yang tanya!" bukannya menjawab, Kinan malah ketawa.
Andy yang melihat itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah.
"Tunggu- Kinan! Jangan bilang baju kostum yang kemarin kamu beli di toko online itu, buat drama ini?" Sahabat Kinan yang bernama Linda bertanya kepadanya.
"Hehehe iya."
"Gilaa, itu jelek banget! Hahaha nggak kebayang nanti mereka malah jadi ngelawak!" Linda ikut tertawa puas seperti yang dilakukan Kinan sebelumnya.
"Kinan, ini maksudnya apa ya?" tanya Fika, gadis yang ikut memainkan peran pembantu.
"Aku sudah membelikan kalian kostum dari kemarin. Jadi untuk urusan kostum kalian tidak perlu khawatir!"
"Heh, tadi barusan Linda bilang jelek, maksudnya lo mau bikin kita jadi badut panggung hah?" salah seorang anak lelaki tersulut emosi.
Kinan yang sudah memperkirakan ini pun tersenyum tipis. Ia tetap tenang digempuran teman-teman yang sedang dilanda emosi karena ikut tersulut dengan perkataan temannya itu.
"Oke, biar aku jelaskan kepada kalian semua! Jadi tolong semua tenang, minta kerja samanya plis!"
Melihat itu semua berhasil membuatku menghela napas lelah. Andy menghampiri kami bertiga dengan membawa tiga buku tipis.
"Aera, Kai, Aden, ini naskah kalian berdua." ucapnya sembari menyerahkan buku itu satu persatu kepada kami bertiga.
"Wah, antagonis sungguhan ya ...." gumam Aden terperangah.
Aku melirik buku naskah di tangannya, ck ... aku sangat berharap ia akan menjadi protagonis prianya.
Aku mendesah panjang, pasrah dengan perannya.
"Lo tau cerita ini Den?" tanya Kai mendekat pada Aden, Aden mengendikan bahu dan menggeleng.
"Baru dengar," jawabnya yang membuat Kai tersenyum maklum.
"Gua pikir lo cuman fokus sama pertandingan basket lo,"
"Gua nggak jadi, haha," jawab Aden yang membuat Kai dan aku terperanjat.
"Loh kenapa?? Kok bisa?" tanya Kai terkejut.
"Kaki gue cedera, gue tau bakalan jadi beban di tim makanya gue mengundurkan diri dan kasih posisi gue ke yang lain." seusai mengatakan itu, Aden berjalan kembali ke tempat duduknya.
Meninggalkan perasaan iba kepadaku dan Kai.
"Sial, apa gue salah ngomong ya." lirih Kai, aku yang mendengarnya pun menatap Kai resah.
Tak ingin ikut campur, aku pun kembali ke tempat dudukku semula. Jadi itu alasan Aden mengikuti drama? Kakinya cedera? Tapi kenapa ia terlihat sama sekali tidak terluka? Apakah ia menahannya selama ini?
Pelan-pelan aku melirik Aden, eh?!
Dengan berkeringat dingin aku spontan mengalihkan pandanganku kepada Kai, mengapa Aden kembali memandangku secara terang-terangan?
Tidak ... aku pasti salah lihat, mungkin yang ia lihat adalah jendela di sebelahku, atau tidak ... pacarnya.
Sial.
Rasa sesak kembali kurasakan. Aku benci rasa sakit ini.
1/? - End
[ Hehe heloo, cerita ini akan aku bagi kebeberapa bagian. Terima kasih sudah membaca! ]
« “Salam literasi” »
- Vasha
/ By the wayy, tahu gak sih kalau cerita ini terinspirasi dari kisah nyata? Iya, kisah nyata! Alias kisah nyataku sendiri sih haha~ \