Ujian Sekolah
Hari ini pemberitahuan jadwal ujian kenaikan kelas. Banyak desas-desus bahwa ujian kali ini akan berbeda dari yang sebelumnya.
Namaku Felix, aku duduk di bangku kelas VIII.
Sudah hampir 30 menit aku duduk di kelas menunggu guru masuk memberitahukan jadwal ujian besok.
Aku duduk sambil melihat teman teman sekelasku yang pada asik dengan dunia mereka sendiri, di kanan ku terdapat seorang siswi yang sedang asik bermain tiktok, dia menggerak-gerakkan tangannya ke atas, kiri, kanan,pokoknya semua arah mata angin, karena pusing melihat tangannya yang tidak bisa diam ku alihkan pandangan ku ke sebelah kiri. Setidaknya di sebelah kiri ku tidak terlalu membuat ku pusing, hanya terdapat beberapa siswa yang sedang bermain game online, walau sebenarnya suara mereka saat bermain membuat ku risih tapi biarlah.
Akhirnya guru pun masuk. Dia masuk sambil mendorong keranjang yang didalamnya terdapat kotak-kotak kardus yang cukup besar “Selamat pagi anak anak.” Sapanya dengan ramah. Kami pun menjawab,”Pagi Bu”
“Untuk ujian kenaikan kelas, akan ada satu ujian yang jika kalian lolos ujian itu maka tidak perlu melakukan ujian mata pelajaran pada umumnya. Tapi, jika tidak, maka kalian harus melakukan ujian seperti biasa.” Tuturnya.
Baiklah, ini sudah cukup membuat otak ku yang berdebu pusing. Apa maksudnya coba, satu ujian yang jika lolos maka tidak perlu mengikuti ujian mata pelajaran seperti biasa?
Semua siswa-siswi saling memandang kebingungan satu sama lain.
“Silahkan kalian satu-persatu dimulai dari yang paling depan mengambil kotak ini.” Ucapnya.
Dan sesuai perintahnya, murid yang duduk paling depan mengambil kotak itu dan seterusnya. Aku menunggu giliran ku dengan gelisah dan bingung. Pikiran pikiran aneh muncul di benakku, apakah itu kotak santet? Yang jika di buka kita akan kerasukan makanya jika kita lolos tidak akan ikut ujian karena bakal kerasukan iblis kejam? Atau mung-
“Felix! Giliranmu.” Teriak Bu guru yang menyadarkanku.
Ku berjalan dan mengambil kotak itu. Kotak itu agak berat aku harus menggunakan dua tangan untuk mengangkatnya, warnanya abu-abu, agak lembut, di atasnya terdapat tulisan VR yang elegan. “Ini terlalu bagus untuk kotak santet.” Pikirku
Segera sebelum di omeli Bu guru karena kelamaan melamun aku membawa kembali kotak itu ke tempat duduk ku. Ku letakkan di atas meja dan masih dengan perasaan bingung yang sama ku menunggu penjelasan tentang apa sebenarnya kotak ini dan apa hubungannya dengan ujian.
“Baik, karena semua murid sudah mendapatkannya ibu akan jelaskan benda apa itu.
Jadi, itu adalah VR atau virtual reality kalian semua akan menggunakannya saat di rumah. Di dalamnya terdapat permainan survival murid yang tidak minta menyerah akan di anggap lolos, sedangkan yang menyerah akan di anggap gagal. Jadi hari ini kalian akan di pulangkan lebih cepat tapi dengan syarat! Gunakanlah itu di rumah dan mulai ujiannya, setiap siswa akan di pantau dari komputer sekolah, mengerti?”
“Iya bu!!” Sorak mereka.
Oke baiklah, jadi, tunggu otak ku perlu waktu untuk mencerna. Jadi kotak ini berisikan VR? Yang di dalamnya ada permainan survival? Wow, ujiannya sangat amazing sekali. Cih, aku pasti akan bisa dengan mudah memenangkan permainan ini.
….
“Gimana sih ini!? Cara pasangnya gimana, astaga!?” Ujarku sangat frustasi.
Iya, aku sudah berada di rumah, atau lebih tepatnya kamarku. Sudah hampir 15 menit aku masih bingung cara menyalakan alat ini.
“Buku panduannya mana anjir!?”
Ku otak-atik kotak itu, ku cari cari buku panduannya.
“Aha! Ini dia”
Open the box and put-
“ahhh! Gak bisa bahasa Inggris! Gulu-gulu tolong bantu aku terjemahkan nih kalimat kalimat ini”
Aku ambil smartphone ku, ku foto buku panduannya dan ku terjemahkan.
“Nahh, kalau gini paham aku.”
Ku ikuti apa yang tertulis di buku panduannya. Setelah 10 menit akhirnya aku bisa menggunakannya.
“Wow, oke, mari kita mulai permainannya, atau lebih tepatnya ujiannya.”
Dengan jantung yang deg-degan ku pencet tombol start. Dan muncullah sebuah tulisan, “Selamat datang di petualangan menyenangkan! Aku adalah pemandu mu di game ini, silahkan beri aku nama”
Wadaw, game ini terasa sangat nyata. Hmmm aku beri nama siapa ya? Jamal aja dah.
“Jamal? Saya senang dengan nama saya. Jadi, sebelum Anda memulai petualangan yang menyenangkan, saya akan menjelaskan beberapa peraturan penting: pertama, Anda tidak akan bermain solo, sistem akan otomatis menggabungkan Anda dengan 3 orang lainnya. Kedua, Anda akan benar-benar merasakan semua ini secara nyata, mulai dari rasa sakit, ketakutan dan lainnya. Dan Ketiga, Anda akan memasuki dua masa, masa-masa ini akan di rahasiakan, nanti Anda akan tau sendiri juga, masa pertama akan di beri waktu 30 menit dan masa kedua hanya 5 menit, waktu habis akan otomatis dipindahkan ke masa berikutnya, jika Anda tidak meminta menyerah maka Anda akan menang.”
Cih, hanya begitu? Yang benar saja, game ini hanya ujung kuku ku.
“Anda siap?”
"Iya-iya cepat lah mulai, tak sabar aku nak menang."
“Baik! Anda akan di pindahkan dalam … 1 … 2 … 3!”
Cahaya yang sangat terang muncul, anjir mata gw, hampir membuat aku pusing.
Dan akhirnya…
“Anjir pantat ku”
Ku mendarat atau lebih tepatnya jatuh. Ternyata benar si Jamal, rasa yang ku alami di game ini akan benar benar bisa ku rasakan di kehidupan nyata, dan pantat ku jadi korbannya, sial sakit sekali.
Ku lihat sekeliling ku, hmmm.. banyak sekali pohon raksasa, karpet hijau membentang seluas mata memandang. Indah sekali.
“Oh iya, woi Jamal! Tadi lu bilang gw gak solo? Tim gw mana?”
“Anggota tim Anda tersebar tapi tidak jauh, Anda harus mencarinya”
“Hadeh, iya dah, tapi gw harus jalan kemana anjir?”
“Saran saya, berjalan lah ke arah Utara”
“Wokey, Mal”
Aku berjalan ke arah Utara dan harus ku akui, masa apapun ini, ini benar-benar indah, sangat indah.
Tidak ada kendaraan, gedung-gedung tinggi, ataupun jalan jalan raya, yang ada hanyalah rumput hijau, langit yang cerah, tanaman-tanaman yang indah, pepohonan yang rimbun.
“Woi!!”
“Hah?”
Aku menoleh kebelakang dan ku lihat laki-laki seumuran dengan ku berdiri tak jauh dari belakang ku.
“Biar ku tebak, itu salah satu anggota tim ku?”
“Iya, Tuan”
“Oke, kalau begitu ayo kita samperin”
“Hei Bro! Salken!” Sapaku.
“Nah, iya. Kenalin nama gue Ezra, lu?”
“Gw Felix”
Tiba-tiba saja, “Woi! Ngapain kalian berdiri santai-santai gitu!?”
Sontak kami berdua langsung menoleh ke arah suara itu.
“Siapa lu?” Tanya ku saat melihat laki-laki lain yang seumuran denganku, dia memakai kacamata dan sepertinya aku mengenalnya… oh iya dia dari kelas unggulan.
Dia menghampiri kami dengan tergesa-gesa dan ada kepanikan di wajahnya.
“Apa kalian tau ini masa apa? Bisa-bisanya kalian berdiri santai seperti itu????”
“Hoh? Emang masa apaan ini? Tanya Ezra
“ini adalah sa-“
TAK! TAK! TAK!
Bumi bergoyang, sesuatu yang besar sedang berjalan, tapi apa? Aku tidak tau.
Dan tepat di depan kami, berdiri makhluk yang sangat amat besar, dengan leher yang sangat panjang, kaki besar, ekor yang panjang dan besar, walau jaraknya agak jauh tapi ukurannya benar-benar besar.
Mata ku terbelalak, jantung ku seakan berhenti, insting ku menyuruh ku lari tapi kaki ku seperti terikat, aku mati rasa. Sekarang aku tau masa apa ini.
“I-itu…” Ujar Ezra gemetar.
“B-b-brachiosaurus…” Ujar si kacamata yang ikut gemetar juga.
“L-lari!” Teriakku.
Aku pun berlari, berlari secepat yang ku bisa menjauh dari dinosaurus itu. Ku lihat ke belakang, mereka berdua juga berlari mengikuti ku.
“Itu dinosaurus anjir!!”
“Iyalah Bambang! Lu pikir tikus!?”
“Makanya anjir, ngapain kalian malah meet and greet kek tadi!? Mau di injak?”
Kami berlari, dan terus berlari sampai akhirnya sampai di sebuah danau.
“W-woi istirahat lah dulu disini, capek gua.” Ujar Ezra sambil duduk di rumput.
Aku pun ikutan duduk, “iya anjir, sama gua juga.”
Tapi si kacamata tidak mau duduk, dia panik sambil terus melihat sekeliling. “Eh kacamata, lu duduklah dulu.”
“lu semua benar benar sudah kehilangan akal sehat! Kita ada di zaman dinosaurus! Dinosaurus karnivora bisa datang kapan saja!”
“Oi, tenanglah, oh iya nama lu siapa?” Tanya Ezra
“Namaku Jarvis, dari kelas VIII unggulan.”
“Aku Felix dari VIII A”
“Ezra, VIII C”
Suasana berubah saat mata ku menangkap pergerakan dari semak-semak yang ada di depan kami, aku langsung berdiri. Mereka berdua langsung menatap ke semak-semak yang sama, Ezra langsung berdiri juga.
Dan, melompat lah seekor dinosaurus kecil. Mungkin itu tidak berbahaya, dia kan kecil, pikir ku seperti itu, tapi tidak dengan Jarvis.
“L-lari!” Bisiknya.
Kami sempat Saling menatap 2 detik, dan langsung saja kami lari, secepat-cepatnya.
“Vis! Dinosaurus jenis apa itu!?” Dengan nafas seadanya aku mencoba membuka suara.
“Itu … itu … haahh … Coelophysis … mereka kecil tapi sangat berbahaya.”
“Sialaaan!!! Dia benar. Banyak anjir! mereka mengejar kita!! LARRRI!!!
“Ahhhh!!!! Allahuma laka shumtu …. SALAH DO’A! Astagfirullah! JAMAAAAALL!? BERAPA WAKTU YANG TERSISAA!!?”
“Masih tersisa 15 menit”
“Astagaa, Jamal! Woi! Kita harus lari dimana ini!?”
“Tuan, saran saya, larilah ke timur, tidak jauh kalian akan menemukan sebuah gua di dalamnya Anda akan bertemu dengan anggota keempat tim kalian”
“Woi, ke timur!!!!”
Sesekali ku sempatkan untuk melihat ke belakang, 15-20 dinosaurus kecil kecil itu masih saja mengejar kami.
Tak lama, kami sampai di gua. Langsung saja kami masuk. Kabar baiknya, tikus tikus dinosaurus itu sudah tidak mengejar tapi kabar buruknya adalah… “ADUH! Pala gw anjir!” Teriak Ezra kesakitan.
“Lah, kenapa lu?” Tanya ku.
“Anjir ada yang lempar pala gw pakai batu!! Sakit anjir.” Ujarnya sambil memegangi kepala nya yang sakit.
“Apa jangan jangan itu anggota tim kita?” Bisik Jarvis
“Sebentar, aku cek dulu.”
Aku berjalan pelan masuk dalam ke gua, “ehm, tong? Lu manusia kan? Kenalin gw Ezra dari VIII A. Gua dapat dari si Jamal, kalau di gua ini ada anggota tim gw, elu kan itu? Keluar lah, Tong”
Dia pun keluar dari kegelapan, “Ezra? Itu elu anjir?”
“Eh ternyata! Elu!”
Aku menyapa teman sekelas ku, namanya Axel.
“Astaga bro lu-
“Hush!” Bisik Ezra
Aku dan Axel melihat ke luar, ternyata terdapat dinosaurus jenis T-Rex. “Glup”
Jarvis dan Ezra perlahan menghampiri kami yang memang berada agak jauh dari mulut gua.
“Mati sudah kita ini.” Bisik Axel
Kami hanya menatapnya, ingin ku tampar mulutnya.
Dan tiba-tiba saja, “1 … 2 … 3! Teleportasi siap digunakan.”
“HAH!??”
BOOM!
Sekejap mata, aku sudah tidak berada di gua gelap itu.
Ku lihat sebelah kiri, teman-teman ku masih ada.
“Gak jadi mati? YEAAY! Alhamdulillah.”
“Ya … ya … Alhamdulillah … cuman, kita di mana nih anjir?”
“Gak tau gw anjir.”
Pagar yang terbuat dari emas, jalanan yang mewah, gedung yang kuno tapi megah. Ini, jangan-jangan kota Atlantis!?
“Vis, lu tau ini kota apa?” Tanya Ezra
“Iya, aku tau. Hanya saja aku tidak percaya dengan apa yang aku tau.”
“Ini Atlantis kan?” Ujarku
“Atlan- apa?” Tanya Ezra kebingungan.
“Atlantis anjir, kota dengan peradaban maju, mewah dan misterius.” Jawab Axel.
“Eh? Gak goblok banget juga lu ya.” Ucapku.
“Gw sepak pala lu ya.”
“Eh kalau kota ini maju, ayo masuk! Ngapain kalian berdiri kek patung gitu?” Ujar Ezra
“Tunggu Ngab, kita gak tau mereka ramah atau gak.” Ucap Jarvis.
“Yaelah setidaknya kagak ada dinosaurus yang ngejar ngejar kita! Ayo! Entar keburu habis waktunya.”
Mendengar saran dari si Ezra, kami pun masuk. Dan langsung terpesona dengan keindahan dan kemegahan kota Atlantis.
“Emak, tak mau pulang aku.” Ucap Axel.
“Eh, ada pecel lele gak di Atlantis?” Tanya Ezra
Aku dan Jarvis menatap nya,“Apa anjir? Kenapa lu natap gw kek gitu?”
“Mari kita nikmati keindahan kota Atlan-
“1 … 2 … 3 … Teleportasi siap di gunakan.”
“Hah!? Woi! Tun-
“selamat anda berhasil menangkap permainan ini. Terima kasih sudah bermain.”
“Woi anjir! Jamal! Gw belum nikmatin kota Atlantis! Astaga! Dahlah.”
Dengan sedikit kesal, aku melepaskan perangkat VR. “Hadeh.”
Ku lihat jam, ternyata sudah jam 8 dan aku belum makan malam. Aku keluar kamar, dan pergi ke dapur untuk makan. Orang tua ku dan adik ku sepertinya sudah selesai makan.
Setelah makan aku masuk kamar lagi, dan bersiap hntuk tidur. Benak ku masih berisi ingatan dari permainan tadi. Betapa besarnya dinosaurus, indahnya kota Atlantis. Ingin ku sekali lagi bermain permainan ini tapi apa boleh buat besok harus segera di kembalikan. Tapi setidaknya aku tidak perlu ikut ujian.
Keesokan paginya.
Mata ku berat sekali, aku paksakan kaki ku melewati luasnya lapangan sekolah ku.
“Woi Ngab!” seseorang menepuk pundak ku.
Aku menoleh ke samping, “Eh anjir, Ezra?”
“Yoi Bro!”
“Seru bet semalam kan?” suara Jarvis terdengar dari belakang kami.
Kami menoleh ke belakang, aku berkata, “Seru, cuman belum puas anjir gw seru-seruan di Atlantis.”
“Hahahaha sama gua juga! Eh si Axel mana?”
“Di kantin mungkin”
“Kalau gitu ayo! Ke kantin bareng, lu yang bayarin.” Ucap Ezra sambil nunjuk ke arah Jarvis.
“Cuih! Gw tendang dulu pala lu tuh.”
Tamat