Aku memiliki pacar seorang hantu cowok. Namanya Nicholas.
Sahabat - sahabatku tidak pernah percaya pada perkataanku ini. Mereka justru menjauhiku dan membullyku di sekolah.
Nicholas bukan jenis hantu jahat yang akan menakut - nakuti orang lain yang ditemuinya. Ia adalah hantu cowok terdingin yang jijik dan tidak suka jika melihat hal yang membantah perkataannya. Ia sangat egois dan selalu ingin aku melakukan apa pun yang ia mau sebagai pacarnya. Terkadang ia suka usil pada teman - temanku yang berbuat jahat padaku. Walau pada akhirnya akulah yang disalahkan.
Entah bagaimana bisa, tapi aku bahkan tidak tahu kenapa kami bisa berpacaran. Ceritanya cukup panjang dan aneh. Yang kuingat saat ini adalah di saat itu dia mengatakan bahwa dia adalah pacarku. Dan anehnya, ia bisa menyentuhku, tidak seperti hantu lain yang selalu tembus melewatiku. Aku tidak mengerti hukum mana yang mengharuskanku untuk berpacaran dengannya. Tapi sikap keras kepalanya membuatku tidak bisa membantahnya hingga kini.
"Rahel, sepertinya teman - temanmu belum pernah merasakan rasanya mati, ya. Sekali lagi mereka berbuat jahat padamu, aku akan membuat mereka menyesal!", pagi hari saat berangkat sekolah Nicholas mengatakan itu padaku. Aku cemberut mendengarnya sambil mendorong sepedaku dengan lambat.
"Jika kau begitu lagi, aku yang akan disalahkan. Tidakkah kau mengerti?"
"Kalau begitu, aku akan mengerjai gurumu juga"
"Tidak, tidak boleh! Kenapa kau terus berpikir untuk berbuat usil? Jika begitu, kau sama saja bersikap seperti teman - temanku! ", aku berteriak padanya.
"Oh, jadi kau sekarang muak denganku? Kenapa?", Nicholas mulai menaikkan sebelah alisnya dan menatapku tajam. Poninya menutup sebelah alisnya. Ia tampak menyeramkan sekarang.
"Aku heran, kenapa saat itu aku terima untuk menjadi pacarmu. Masih banyak hantu cowok yang lebih bisa kuandalkan daripada kau. ", aku memandangnya dengan kesal.
"Maksudmu Lucas? Hantu sok keren itu? Jangan coba berani dekati dia!", Nicholas berhenti berjalan.
"Kenapa? Aku bebas menentukan siapa cowokku"
"Kau adalah pacarku. Kau pikir itu bukan hubungan? Kita sekarang terikat dalam hubungan. Kau hanya boleh jadi pacarku", Nicholas berjalan mendekatiku.
"Me-memangnya kau siapa berhak mengaturku?", aku berjalan mundur melepas sepedaku yang kemudian jatuh.
Nicholas masih menatapku dan berjalan mendekatiku, rasanya wajah kami terlalu dekat. Aku berniat kabur lewat samping, tapi tangan Nicholas langsung menghadangku.
Aku benci sekali padanya. Ia selalu berbuat seenaknya dan tidak peduli bagaimana malunya aku dilihat orang - orang yang lewat di jalan itu.
Namun, seseorang tiba - tiba menarikku dari samping, menembusi tangan Nicholas. Orang itu adalah sepupuku, Noel. Dia bukan hantu dan dia juga bukan manusia jahat. Dialah satu - satunya siswa yang mau bercengkrama denganku di sekolah. Nicholas tak terlalu suka padanya. Karena Noel terkadang selalu lebih dulu menolongku dari teman - temanku. Dan itu membuat Nicholas cemburu.
"Hei Rahel, sedang apa kau sendirian di sini? Ayo ke sekolah sebelum kau terlambat". Noel menarikku dan mengangkat sepedaku. Aku hanya mengangguk dan melirik ke belakang, menatap Nicholas yang sekarang tampak murka.
Dengan cepat aku naik ke sepedaku dan mengayuhnya meninggalkan Nicholas.
Sepertinya aku tak boleh bertemu dengannya sepulang sekolah. Karena ia pasti masih murka padaku.
Di sekolah, aku disapa oleh Lucas, seorang hantu cowok yang dibenci Nicholas. Sikap Lucas tidak begitu buruk, namun karena ia dekat denganku membuat Nicholas sering cemburu. Sungguh, rasanya aku ingin berpisah saja dari hubungan ini. Aku lelah dikekang oleh hantu cowok yang satu ini. Jika dipikir - pikir, sikap Lucas jauh lebih baik daripada Nicholas.
Saat pulang dari sekolahku, Nicholas tidak ada di kamarku. Di seluruh ruangan apartemenku tidak kutemukan tanda - tanda kehadirannya.
"Ugghhh! Kenapa Tuhan memberiku cowok egois seperti dia? Dan kenapa harus hantu? "
Aku memberanikan diri untuk memanggilnya.
"Nicholas! Di mana kau?! ", aku menanti jawaban. Namun, suasana sunyi. Hingga kemudian, Nicholas datang. Tapi dia membawa seorang hantu perempuan bersamanya. Hantu yang sangat cantik. Kira - kira gadis berumur 13 tahun sama sepertiku.
"Ehm, siapa dia?". Aku gugup.
Nicholas tidak menjawabku, dia hanya menatapku sinis dan dingin. Lagi - lagi marah padaku.
"Aku minta maaf atas kejadian tadi pagi. Seharusnya aku tidak berteriak padamu", Nicholas tiba - tiba meminta hantu perempuan itu keluar. Ia duduk di atas meja belajarku dan melipat tangan dengan santai.
"Aku tidak mempersalahkan itu. Aku hanya tak suka kau bersama Lucas. Kenapa kau terus di dekatnya? "
"Dan kenapa kau terus mempersoalkan itu? ", aku mendadak geram.
"Karena kau adalah pacarku. Aku punya hak untuk mengaturmu! Aku tidak suka kau mendekatinya", Nicholas memalingkan wajah.
"Kalau kau tidak suka, maka aku berhenti dari hubungan ini!", aku berlari ke kamar. Aku membanting pintu dan menutup wajahku dengan bantal.
"Siapa juga yang menyukainya! Aku tidak peduli jika dia memaksaku untuk menjadi pacarnya! Dia bukan Tuhan yang berhak menentukan jalan hidupku! Seenaknya saja! Dasar egois! Aku benci Nicholas!! ", hari itu di malam hari aku tertidur setelah menangis. Aku tidak tahu lagi bagaimana keadaan Nicholas setelah itu.
Hingga 3 hari setelahnya, Nicholas muncul dengan pacar barunya, hantu perempuan yang pernah ia bawa ke apartemenku. Namanya Sera. Jika soal tampang, Sera jauh lebih cantik dariku. Aku lumayan iri. Tidak apalah, asalkan aku bisa bebas dari Nicholas.
Di sekolah, aku bertemu Lucas lagi. Ia menyapaku dan berbincang denganku.
"Aku dengar hubunganmu dan anak laki - laki itu sudah putus. Apakah itu benar? "
"Aku tidak mau membahasnya. Bicarakan saja hal lain", aku mendengus kesal.
"Oh ya, aku ingin menanyakan sesuatu padamu"
"Tanyakan apa?", aku mulai menatap Lucas dengan serius.
"Apa kau mau menjadi pacarku?", angin seakan berhenti bertiup. Dunia seperti hampa, jantungku bahkan rasanya lupa untuk berdetak. Kata - kata Lucas membuatku mengingat hari di mana Nicholas mengatakannya padaku. Namun, bukan dalam bentuk pertanyaan. Melainkan dalam pernyataan.
"Iya", hanya itu jawaban yang terpikirkan dalam kepalaku. Kujawab pertanyaan Lucas dan pergi ke kelas untuk belajar.
Sepulang sekolah aku merebahkan tubuh di kasur. Seketika, Nicholas sudah duduk di samping tempat tidurku, duduk dengan gaya dinginnya yang selalu membuatku menyukainya.
"Begitu cepat kau melupakanku?", Nicholas menatapku yang terbaring dengan seragam sekolah. Aku hanya diam, tidak merespon.
"Kenapa? "
"Kau tidak sungguh - sungguh menyukai Lucas, kan?", ia menatapku serius.
"Bukan urusanmu. Urus saja pacar barumu itu. Dan tolong keluar dari kamarku, aku harus mengganti bajuku!", aku berkeringat dingin, menunggu jawabannya. Dengan cepat Nicholas bangun dan keluar dari kamar. Aku juga bergegas bangun dan mengganti bajuku.
Setelah selesai, aku membuka pintu kamar dan menabrak Nicholas yang ternyata sejak tadi berdiri di depan pintu. Kami jatuh, tapi dia memelukku.
"Masih bodoh, rupanya", ia menatapku tajam dan dingin.
Entah perasaan apa sekarang yang mengerubungiku. Namun, aku seakan tidak mau melepas pelukannya. Aku sudah terbiasa dengan perlakuan egoisnya padaku dan aku tetap menerima itu. Lantas kenapa aku harus mengakhiri hubungan ini? Hanya karena sebuah pertengkaran? Seharusnya aku sadar, aku juga mencintainya. Walau kami masih remaja, tapi rasa suka ini tidak bisa kupendam. Ini adalah cinta.
Dalam pelukan cowok hantuku, Nicholas, aku terisak.
"Maaf, Nicholas. Aku tidak mau berpisah darimu. Entah kenapa, tapi kurasa aku mencintaimu..", ucapku sambil memeluknya erat.
Di sore itu, Nicholas melepas pelukanku. Ia menunduk dan memberikanku sebuah ciuman. Ciuman pertamaku.
~END~