18+
Alunan musik sinden tengah mengalun merdu saat Sri dan seorang pria masuk ke ruangan itu. Ruangan serba hitam dan merah, satu-satunya ruangan yang tak boleh dimasuki siapapun, kecuali Sri, tentu saja. Perempuan muda itu menggandeng mesra tangan Handoko, pemuda kaya desa sebelah yang baru saja resmi jadi suaminya. Mereka berdua saling melempar senyum, terlebih saat Sri mulai membuka kebaya hijaunya.
"Mas Handoko," panggil Sri lembut. Mata lentiknya mengedip mesra, membuat lelaki perjaka di depannya itu tak mampu lagi menahan hasrat.
Handoko menunduk, mulai mencumbu Sri inci demi inci. Ranjang jati dengan ukiran jawa itu bergoyang perlahan, mengikuti irama musik yang masih mengalun dari ruang tamu. Sri tersenyum bahagia, meski tubuhnya sama sekali tak menikmati sentuhan Handoko. Pikiran Sri rupanya tertuju pada hal lain.
Sri mengenang, saat Arjuna menggenggam tangannya pertama kali. Mereka berdua tengah duduk di tepi kolam, di dekat sanggar tari milik Sri. Arjuna, yang saat itu merupakan seorang gerilya, meminta bertemu sebentar sebelum dia pergi untuk menghimpun kekuatan melawan Belanda di Diponegoro. Perang akan segera pecah, katanya. Waktu itu, Sri masih terlalu muda, belum mengerti tentang perang yang kelak menjadi muasal penderitaannya.
"Jadi kapan Mas akan pulang?" tanya Sri.
"Belum tahu, tapi secepatnya Mas akan pulang, Sri." Arjuna menggenggam tangan Sri dengan hangat. "Mas sudah berjanji menikahi kamu bulan depan. Tentu Mas akan pulang sebelum itu. Mas berjanji, Sri."
Sri tersenyum. "Tentu, Mas. Sri pasti menunggu Mas pulang." Lalu mereka menghabiskan waktu berdua, hingga laskar pimpinan Arjuna datang menjemput. Sore itu, disaksikan bebatuan di pinggir kolam, Sri melepas kepergian Arjuna.
Sentakan Handoko menbuyarkan lamunan Sri. Mata perempuan itu memerah. Setiap kali bayangan Arjuna muncul, maka air mata tak segan-segan meluncur melewati pipi mulusnya. Sri menangis dalam diam. Meratapi keputusannya bertahun silam saat melepas kepergian Arjuna, yang ternyata tak pernah kembali lagi.
"Sri kenapa? Sakit, ya?" tanya Handoko di sela deru napasnya.
Sri menggeleng. Bukan. Bukan itu penyebab tangisnya, tapi kenangan tentang Arjunalah, satu-satunya pria yang amat dicintainya. Pemuda gagah berani yang akhirnya mati di tangan Belanda seminggu setelah pertemuan mereka. Sri meraung keras, saat mereka membawa tubuh Arjuna yang sudah mati. Luka menganga di sekujur tubuh, wajah tampan Arjuna yang robek, serta isi perutnya yang terburai menjadi saksi bisu betapa pilunya hati Sri saat itu. Sungguh, kenangan pahit lima tahun lalu, masih membekas jelas di ingatan Sri.
Sementara itu, Handoko terus menciumi Sri tanpa henti. Pemuda kekar itu sama sekali tak mengetahui sedu sedan istrinya. Yang Handoko tahu, mulai malam ini Sri akan jadi miliknya selamanya. Persetan dengan bisikan orang-orang tentang Sri yang mencari tumbal. Desas-desus yang selalu didengarnya di kampung, sama sekali tak mengubah perasaan pemuda itu. Sudah lama dia sangat menginginkan Sri, bahkan sebelum perempuan itu bertunangan.
Handoko sangat kecewa saat itu. Kembang ranum yang selalu dia puja, malah menjadi milik orang lain. Berbagai cara Handoko lakukan agar Sri meliriknya, melupakan Arjuna lalu berlabuh di pelukannya. Hatinya hancur, terlebih saat Sri dan Arjuna secara terang-terangan menunjukkan kemesraan mereka. Handoko pernah bersumpah, bagaimanapun caranya dia akan mendapatkan Sri, meski harus membunuh Arjuna.
Namun, rupanya Tuhan sedang berbaik hati. Seminggu setelah kepergian Arjuna ke medan perang, pemuda itu kembali hanya tinggal jasadnya saja. Handoko bersorak dalam hati, sama sekali tak bersimpati melihat Sri menangis begitu pilu karena kehilangan. Dalam pikirannya, Sri harus jadi miliknya kali ini.
Handoko kembali mendekati Sri, tapi perempuan itu terlanjur bersedih dan putus asa. Sri menghilang, memilih kembali ke rumah orang tuanya. Padahal, saat itu perang tengah berkecamuk dimana-mana. Kampung halaman Sri pun, tak luput dari bom dan serangan Belanda. Tak ada yang tahu kemana Sri pergi. Semua orang mengira, perempuan cantik yang jago menari itu menyerahkan nyawanya kepada Belanda, menyusul kekasih hatinya.
Dua tahun kemudian, Sri kembali ke kota itu. Tak ada lagi raut kesedihan di wajahnya. Malah, perempuan itu semakin cantik. Perhiasannya banyak, padahal setahu Handoko, keluarga Sri bukanlah keluarga kaya. Sri kembali membuka sanggar tarinya. Bahkan, beberapa kali sanggar tari itu diundang pihak Belanda ke balai kota. Sri menjadi sangat terkenal. Kepiawaiannya dalam menari disukai banyak orang. Tak segan-segan, mereka membayar mahal demi melihat kemolekan Sri saat menari. Banyak orang yang mendekati Sri, meski ujung-ujungnya mereka semua menghilang perlahan-lahan hingga akhirnya Sri menjadi miliknya. Mengingat itu, Handoko tersenyum lebar.
Handoko mengerang, menikmati setiap desah yang keluar dari bibir Sri. Gerakan tubuhnya semakin cepat. Handoko tak peduli jika Sri menikmatinya atau tidak, yang jelas pemuda itu tengah kepayahan menahan hasratnya yang seolah ingin meledak. Di tengah pergumulan mereka, tiba-tiba tubuh Sri menggelinjang hebat. Sesuatu seakan masuk ke dalam tubuhnya. Matanya berubah putih, menatap kosong mata Handoko yang berada di atasnya.
"Sri, kau kenapa?" tanya Handoko. Pemuda itu berguling ke samping, kelelahan.
Sri menoleh, mata putihnya melotot. Handoko terkejut. Dia berusaha bangkit, tetapi tangan Sri telah lebih dulu menariknya.
"Kau harus mati, Handoko," desis Sri. Perempuan itu menekan kedua tangannya di leher Handoko.
Pemuda itu memberontak, berusaha menepis tubuh telanjang Sri di atasnya. Namun cekikan Sri ternyata lebih kuat. Handoko berusaha melepaskan diri. Pergumulan panas mereka beberapa menit yang lalu, berubah menjadi menakutkan. Kuku-kuku panjang Sri menusuk leher Handoko. Darah muncrat kemana-mana. Wajahnya pias, napasnya tersengal-sengal.
"Akan aku akhiri dengan cepat, Sayang. Terima kasih untuk malam ini." Sri tersenyum dingin. Dia mengangkat tangan kirinya, di mana cincin bermata hijau tersemat indah di sana. Kemudian, seberkas cahaya keluar dari cincin itu dan melesak masuk ke dada Handoko. Pemuda itu menjerit kesakitan, saat cahaya gaib itu merobek dada dan menghancurkan tulang rusuknya, menampakkan sesuatu yang berdetak di dalam sana.
Sri tersenyum lebar. Lidahnya bermain di kulit Handoko, menyapu darah kental di dada pemuda itu. Handoko masih bernapas dengan susah payah, tapi tentu saja tidak akan lama. Dengan cepat, Sri mencabut jantung pemuda itu, membuat Handoko tersentak hebat lalu rebah kembali ke ranjang bersama sisa-sisa kesakitannya.
Sri bangkit perlahan lalu berjalan ke kamar mandi. Tubuhnya berlumuran darah. Jantung di tangannya diletakkannya di sebuah cawan di atas bak mandi. Kemudian, perempuan itu mulai membersihkan diri.
"Kali ini, Belphegor pasti puas dengan pekerjaanku," gumamnya pelan seraya menatap tubuh Handoko terakhir kali.
****
Empat tahun berlalu sejak Perang Diponegoro meletus. Setiap hari, ribuan orang menjadi korban. Seluruh desa telah dibumihanguskan. Tak ada lagi yang tersisa. Para lelaki dibunuh, para perempuan diperkosa lalu dijual. Pertempuran masih berlangsung di setiap daerah. Menimbulkan kengerian dan ketakutan di mana-mana.
Sri tengah mengepang rambutnya saat pintu rumahnya diketuk seseorang.
"Siapa?" tanyanya seraya beranjak keluar kamar.
"Saya, Sri." Ki Ageng, salah seorang tetua di kampungnya terlihat gugup di depan pintu. Dengan cepat, Sri membawa lelaki tua itu masuk ke rumah.
"Ada apa, Ki?" tanya Sri.
"Sepertinya, pulau Jawa akan segera direbut Belanda, Sri. Kita harus pergi dari sini, cepat!" Ki Ageng panik.
"Bagaimana bisa, Ki? Apa uang dan perlengkapan senjata yang saya kirim tidak cukup?"
"Mereka melakukan perundingan dengan Pangeran Diponegoro, tapi sepertinya beliau terkena tipu daya Belanda. Saya dengar, beliau akan diasingkan. Kita sudah kalah, Sri."
"Tidak, Ki. Saya tidak akan pergi. Saya akan tetap di sini. Jika Ki mau pergi, silakan bawa ini semua." Sri mengangsurkan 1 kotak besar ke hadapan Ki Ageng. Lelaki tua itu terkesiap saat melihat isinya.
"Ambillah perhiasan ini, Ki dan bawa seluruh warga desa keluar dari sini." Sri berjalan ke pintu. "Saya akan menyusul setelah urusan saya selesai."
"Tapi, Sri ...."
"Sudah tidak ada waktu lagi, Ki. Cepat pergi!" Sri mendorong tubuh Ki Ageng keluar, lalu segera menutup pintunya. Namun, pintunya diketuk lagi.
"Kan sudah saya bilang, Ki ...." Sri terpaku melihat seseorang di depannya. "Ibu?" tanyanya tak percaya.
"Bukan. Aku bukan ibumu, Sri. Aku Ayu." Perempuan cantik di depannya tersenyum, lalu berjalan masuk. "Ikut aku, Sri. Ada yang ingin kukatakan padamu."
Mereka berjalan masuk ke kamar. Perempuan itu mengamati kamar Sri yang didominasi warna hitam dan merah.
"Jadi di sini, ya?" gumam perempuan itu.
"Apa maksudmu?" tanya Sri tak mengerti.
Ayu menoleh, tersenyum. "Kau sudah lama bermain-main di sini. Ayo pulang!" Ayu berdiri lalu menunjuk cincin permata di tangan Sri.
Sri menatap cincin di tangannya. Permata hijau itu berpendar lemah, seakan takut pada Ayu. Perlahan, Sri melepas cincin itu dari tangannya.
"Cincin ini sudah membuat hidupmu salah jalan, Sri. Seharusnya kau tahu itu," ucap Ayu.
"Apakah kau anak buahnya Belphegor?" tanya Sri.
"Bukan. Aku dan Belphegor …, kami teman lama." Ayu berdiri lalu mengitari meja rias. "Kau sudah membunuh terlalu banyak. Setiap jantung yang kau dapat, pasti akan diganti harta melimpah oleh Belphegor. Namun tetap saja, menjadi budaknya bukanlah keputusan yang tepat."
"Aku hanya ingin membalaskan dendamku." Suara Sri perlahan naik. "Mereka semua, orang-orang Belanda jahannam itu, sudah membunuh keluargaku, kekasihku, orang-orang desaku. Sudah sepantasnya mereka semua mati."
"Tapi kau lihat sekarang? Perang bukan dalam kuasamu, Sri. Belanda tetap akan menang, dan kau tetap akan kehilangan. Sekaya apapun, seberapa banyak manusia yang kau jadikan tumbal pun, tak akan mampu mengisi hatimu yang sudah kosong itu."
Sri tersedu. Ayu melanjutkan, "Sekarang akhiri semuanya. Dengan kembalinya permata itu padaku, seluruh yang kaumiliki akan musnah. Kembalilah, Sri. Masih ada waktu untukmu berhenti."
Sri tampak gamang. Matanya menatap cincin itu lama.
"Aku mengerti. Kau orang baik. Belum terlambat, Sri."
Ayu mengulurkan tangannya. "Ayo, kembalikan benda itu padaku. Aku jamin, tak akan ada lagi yang menderita sepertimu."
Perlahan, Sri memberikan cincin itu kepada Ayu. Tiba-tiba, tubuhnya terasa sangat lemah. Sri ambruk ke lantai, lalu kesadarannya menghilang.
*****
Alunan sinden Jawa masih mengalun merdu, menemani perempuan tua yang tengah menunggu di beranda depan. Mata tuanya mengabut, seiring bibirnya yang lirih menyenandungkan lagu yang dulu selalu menemaninya menari. Kini tubuhnya telah renta, padahal baru setahun yang lalu cincin permata hijau terlepas dari jarinya. Semenjak itu, kesehatannya semakin menurun. Sri tak lagi mampu bergerak banyak, apa lagi menari.
Suara derap sepatu prajurit masuk ke telinga Sri. Matanya menatap lamat-lamat bayangan beberapa orang yang datang memasuki pekarangan. Sri tahu, cepat atau lambat dia akan mati, entah di rumah ini atau di tempat lain.
Dan perempuan tua itu tahu, agaknya dia tak akan mati di sini.
Selesai
Kota Jambi, Sumatra, Indonesia, 04 November 2020