Cita-cita Luhur
"Andai aku menjadi orang kaya, tak akan kubiarkan mereka kelaparan," ujarmu saat mataku memandang ke seberang jalan.
"Anak-anak itu," katamu lagi, "terlalu muda untuk bekerja. Mereka tak punya pilihan lain selain membantu orang tua mereka. Semua itu dilakukan agar mereka semua tak kelaparan."
"Mereka seharusnya sekolah," ujarku.
Kau terdiam sebentar, lalu menggenggam tanganku dengan erat. "Kau benar, La. Tapi bagaimana mereka bisa bersekolah, sementara mereka makan pun susah?"
"Kenapa orang-orang tak membantu mereka? Masih banyak orang kaya yang dermawan dan ingin membantu. Aku yakin, pendidikan yang layak akan mengubah kehidupan mereka."
"Sangat sulit mencari orang kaya yang dermawan sekarang ini, La." Kudengar kau menghela napas dengan berat. "Itulah makanya aku berandai-andai ingin menjadi orang kaya. Aku ingin membantu mereka semua. Mereka layak mendapatkan apa pun yang kita miliki. Masa depan mereka sangat cerah."
"Ya." Bibirku bergetar. "Masa depan mereka sangat cerah. Aku yakin kau bisa membantu mereka, Awan."
"Tentu saja." Kudengar nada optimis dari suaramu. "Dan kau akan membantuku."
"Aku?"
"Ya, kau. Kita akan berjuang sama-sama untuk mereka. Ayo berandai-andai, La. Apa saja yang ingin kau lakukan untuk mereka?"
Aku terdiam sebentar, berusaha menyembunyikan suaraku yang bergetar. "Yah, aku ingin menyediakan sekolah gratis untuk mereka, mengajari mereka keterampilan agar mereka bisa membuka usaha untuk hidup, membantu meringankan biaya hidup mereka. Banyak, Awan. Banyak hal yang sangat ingin kulakukan."
Aku mencoba tersenyum, kuharap kau tidak menyadari getar bibirku yang menahan tangis. "Kau perempuan hebat, La! Aku bangga berada di sisimu."
"Bohong," gurauku. "Kau pasti merasa terbebani, bukan?"
"Apa maksudmu?" Kau memelukku dengan erat. "Aku sangat bangga padamu. Aku berkata jujur. Kau mungkin tak melihatnya, La, tapi aku yakin kau pasti merasakannya."
Ya, aku merasakannya, Awan. Bahkan tanpa kedua mataku yang tak bisa lagi melihat. Aku merasakan semua kejujuran dan cita-citamu yang sangat luhur. Namun, bisakah aku tetap di sisimu dalam keadaan ini?
"Kau harus temukan seseorang yang akan menemanimu berjuang," ucapku pada akhirnya. Sekuat tenaga aku berusaha tegar di hadapanmu, lelaki yang amat kucintai.
"Aku sudah menemukannya," jawabmu dengan enteng.
Ingin sekali kubertanya siapa, Awan. Namun segenap hatiku menolak. Dia belum siap patah hati kembali.
"Kau tak ingin tahu siapa?" tanyamu seraya memelukku semakin erat. Hembusan napasmu pun dapat kurasakan dalam jarak sedekat ini.
"Siapa?"
"Kau." Dan bisikanmu yang lembut itu melayangkan hatiku jauh menembus langit.
Aku tersipu. Aku yakin kau melihatnya. "Kau melantur," jawabku sekenanya. "Lima menit yang lalu kita masih membicarakan anak-anak itu. Mengapa sekarang kau merayuku?"
Kau tertawa. "Aku? Merayumu? Tidak, Lila. Kau yang merayuku."
"Oh, Ayolah. Jangan memutarbalikkan fakta." Aku berusaha mengendalikan detak jantungku yang menggila. "Sekarang katakan padaku! apa yang anak-anak itu lakukan sekarang?"
"Oh, tidak!" Kau berseru cukup kuat. Kurasakan tubuhmu menegak dan menjauhi kursi rodaku.
"Apa yang terjadi?"
"Ada kecelakaan di sana. Kau tunggu di sini ya, Lila. Aku akan turun dan melihat ke seberang." Kau berlari tanpa menunggu ucapanku.
"Awan, jangan tinggalkan aku!"
****
Sudah sejam lebih aku menunggumu. Kau tahu, aku cukup memiliki waktu untuk menghitung setiap detik yang kuhabiskan saat kau pergi. Hingga kurasakan matahari tak lagi menghangat di sisi kaca ini, kau belum juga kembali.
Aku masih sama seperti tadi. Tanpamu, aku yang buta dan lumpuh tak mampu berbuat apa-apa. Aku masih menunggumu di tempat yang sama, tanpa bergeser sedikit pun. Aku tetap menatap dan meraba kaca lebar yang langsung menghadap jalan, di kafe milikmu ini.
Sayup-sayup, kudengar langkah kaki menaiki tangga. Refleks kepalaku menoleh, berharap kau yang akan datang dan memelukku erat. Seperti tadi. Seperti dua jam yang lalu. Seperti tiga jam yang lalu. Ah, Awan! Kau di mana? Aku lelah menunggu dalam kegelapan seperti ini.
"Lila? Oh Tuhan syukurlah, kau masih di sini." Kau datang dan langsung memelukku. Dapat kupastikan sekarang aku pasti tersenyum lega kepadamu.
"Tentu saja. Bagaimana mungkin aku bisa kemana-mana?" Aku meraba wajahmu, merasakan peluh yang membasahi rambut dan pipimu.
"Maksudku ...."
"Aku mengerti, Awan. Bukan itu maksudku."
"Lalu apa maksudmu?"
"Maksudku, aku tak mungkin kemana-mana. Bukan karena keadaanku, tapi ...."
Kau terdengar penasaran. "Tapi apa?"
Andai aku bisa melihat wajahmu, Awan. "Tapi karena di sinilah seharusnya aku berada. Di sisimu."
Kau memelukku semakin erat. "Ya. Karena itu, jangan pernah berpikir macam-macam. Cukup pikirkan aku dan cita-cita luhurku."
Kau mengecup kepalaku dengan lembut. "Tentu. Saat kau pergi, aku sudah mengubah pikiranku. Sudah saatnya aku juga bahagia. Aku ingin sekali egois, memilikimu meski aku tak sempurna seperti ini. Apa aku boleh berpikir seperti itu?"
"Itu yang selama ini ingin kudengar, La. Lagi pula, siapa bilang kau tak sempurna?"
Aku mengerutkan kening, tak mengerti. Lalu kudengar, kau tertawa renyah sekali.
"Apa ada yang lucu?" tanyaku tak terima ditertawakan.
"Kau sempurna, Sayang. Sebentar lagi."
"Apa maksudmu?"
"Tadi, saat aku ikut mengantar Adri, anak yang kecelakaan itu ke rumah sakit, aku bertemu dokter Hadi. Dia bilang, dia punya pendonor untukmu."
"Benarkah?"
"Ya." Kudengar suaramu penuh dengan kelegaan. "Dia sudah menjadwalkan operasi matamu dalam bulan ini. Sebentar lagi, kau bisa melihat seperti dulu."
"Syukurlah." Aku menangis, entah dari mana keluar air mataku. "Dengan begitu, aku pasti mampu menemanimu mewujudkan cita-cita luhurmu."
"Bukan. Tapi cita-cita luhur kita." Kau menggenggam tanganku dengan erat.
"Ya. Cita-cita luhur kita."
Selesai.