PART 3
Aku dan ibu sudah berada di mobil L300,ini adalah pengalaman pertama ku menaiki sebuah mobil,karena jumlah penumpang nya banyak,semua nya para ibu dan anak mereka.
Ibu mendudukkan aku di pangkuannya,kami memilih duduk di dekat jendela,aku sangat senang karna bisa melihat keluar dengan leluasa.
Setiap post penjagaan yang kala itu di duduki para anggota berseragam loreng berjejer di sepanjang jalan memasuki setiap tugu selamat datang suatu daerah.
Sang sopir selalu turun dan melapor,menampakkan kartu tanda pengenal nya serta surat izin berkendara miliknya,ibu ku dan para ibu ibu lainnya pun tak luput dari pemeriksaan,Alhamdulillah semua lancar sampailah kami di pusat kota "Meulaboh"namun mobil yang kami tumpangi tak juga berhenti,terus melaju masuk ke arah perkampungan.
Lima belas menit kemudian mobil pun berhenti di sebuah bangunan tua besar dengan pagar duri mengelilingi nya.
Ibuku dan para ibu lain segera turun dari mobil,kami memasuki bangunan itu yang lauasnya seperti lapangan bola.
"Tunggu disini ibu ibu!"kata seorang bapak berbaju polisi menyuruh kami menunggu di sebuah aula yang cukup luas.
Lama kami menunggu hampir sekitar satu jam an.sesaat setelah itu masuklah gerombolan para laki laki dengan kepala yang sudah botak semua nya,aku melihat mencari sosok ayah di antara lelaki lekaki itu.
"TARI....."panggil seorang dengan suara yang sangat ku rindukan.
Aku menoleh ke asal suara,lama aku terpaku menatap orang yang memanggil ku,wajah yang ku kenal namun tak lagi sama seperti dulu,tubuh yang dulunya berisi sekarang tanpak kurus tak terawat,wajah yang membengkak sedikit di bagian pipi.
Air mata tak dapat lagi kutahan mana kala tangan nya sudah merentang ingin memeluk ku,aku berlari ke arah nya dengan air mata yang terus saja keluar tanpa aba aba itu.
"AYAH,ini ayah tari?"tanya ku polos sambil ku usap wajah ayah.
Ayah hanya mengangguk,air mata pun sudah lama membasahi kedua pipinya.
"ABANG"Ucap ibu ku.
Ayah langsung bangun sambil menggedong ku dan memeluk ibu,kami bertiga melepas rindu yang amat sangat.
Begitu pun para lelaki lain dan keluarga nya,rasa haru dan sedih menyelimuti aula tempat kami berteduh kala itu.
Ayah bercerita banyak hal tanpa aku dan ibu bertanya,rupanya mereka menganggap Ayah seorang panglima pemimpin pemberontakan dikarenakan postur tubuh ayah,dan ayah seorang kepala sekolah yang katanya pro dengan pemberontak.
Padahal jujur saja ayah ku sperti buah simalakama,jika ayah tidak memberi uang atau bantuan untuk pemberontak,maka rumah sekolah serta rumah dinas kami akan di bakar,pernah sekali ayah di ancam menggunakan pistol di kepala nya,terpaksa ibu merelakan cincin kawinnya untuk menyelamatkan ayah.
Berat sekali bila di pikir menjadi abdi negara di sebuah desa terpencil.
Tapi ya begitulah sebuah keadaan yang harus kami jalani saat itu.
Jika ada yang reques part selanjutnya aku sambung lagi🥰