Namaku Syifa Saraswati.Aku tinggal di kota T.Aku terlahir dari keluarga muslim.Alhamdulillah orang tuaku selalu mengajarkan nilai agama semenjak aku kecil hingga saat ini.Jangankan keluar rumah,di dalam rumahpun aku tak pernah lepas hijab.
Aku hanya tinggal berdua dengan umiku.Abahku meninggal saat aku masih duduk di kelas 3 SMK.Aku dua bersaudara.Abangku sudah menikah dan dia tinggal di luar kota.
Semenjak lulus sekolah hari-hariku terasa sepi.Mencoba bertaruh nasib dengan mengisi 25 surat lamaran pekerjaan tapi tak dapat panggilan sekalipun.Rasanya aku benar-benar patah semangat.
Suatu ketika Sila datang ke rumah ku.Sila adalah teman terdekatku.Nasib kami sama tidak mampu melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi karena nasib ekonomi.
Sila bercerita bahwa dia sekarang sudah bekerja.Tempatnya bekerja tak pernah tutup walaupun tanggal merah.Libur karyawan bergantian setiap harinya.Sila bekerja di toko roti cake & bakery.Sila berniat mengajakku kesana sekalian mentraktirku makan-makan dengan gaji pertamanya.
Saat kami sedang menikmati roti dan segelas kopi ada pemuda yang menghampiri kami.
"Hai Sila,enaknya yang lagi libur".Sapa pemuda itu.
"Enak donk ya".Sila menjawab sambil tersenyum.
"Boleh kenalan ga?".Pemuda itu menatapku.
"Eh iya nih kenalin namanya Syifa,teman sekolahku dulu".Sila mengenalkanku dengan pemuda itu.
"Aku Reyfan,salam kenal ya".Reyfan tersenyum.
Semenjak hari itu kami saling mengenal.Bahkan aku juga terkejut saat Reyfan tau no wa ku.Ternyata Sila yg memberikan no wa ku padanya.
Hubungan kami semakin akrab.Reyfan juga sudah berani main ke rumahku.Hampir tiap hari dia selalu datang.Sikap dia yang ramah,senyum dia yang manis dan perhatiannya menggoyahkan imanku.
Aku gadis yang pendiam,lugu dan pemalu tiba-tiba saja dekat dengan lelaki yang sebelumnya tak pernah aku bayangkan.Jangankan berpacaran,berteman dekat dengan lelaki baru kali ini aku dengan Reyfan.
Suatu ketika entah setan darimana yang merasuki ku.Aku yang tak pernah tersentuh laki-laki hingga melakukan khilaf yang berakibat fatal.
Kala itu umi sedang menengok tetangga di rumah sakit.Aku sendirian di rumah.Reyfan yang setiap pulang kerja selalu datang ke rumah.Saat itu hujan dan petir ditambah mati lampu.Reyfan datang dengan baju yang basah.Aku hanya berniat meminjamkan baju Abang supaya Reyfan tidak kedinginan dan sakit tapi apa daya hal itu terjadi.Reyfan yang tidak seperti biasanya.Reyfan yang tiba-tiba memelukku.Reyfan yang tiba-tiba penuh nafsu.Dia dengan tega menggagahi ku.
Malam itu adalah malam naas buatku.Seandainya umi tidak pergi.Seandainya aku ikut umi.Seandainya malam itu tidak hujan.Seandainya....beribu andai dalam benakku.
Nasi sudah menjadi bubur.Sejak kejadian itu Reyfan selalu meminta maaf.Dia bilang jika dia menyesal dan tak akan melakukannya lagi.Seharusnya dia menjagaku bukan memakanku sebelum dibayar tunai.
Waktu terus berjalan.Aku semakin takut.Badanku semakin kurus karena aku tidak bisa makan.Rasanya setiap makanan yang masuk ke mulut sangatlah pahit.Tak jarang aku muntah-muntah.Mereka yang percaya padaku menganggap ku sakit maag.Mungkin asam lambungku naik.Aku terpaksa membohongi semua orang.Aku tidak tega jika harus jujur dengan umi bahwa aku hamil.
Aku memaksa Reyfan untuk segera menikahi ku.Mungkin tidak masalah untuk keluarga Reyfan,tp untuk keluarga besarku susah sekali mendapatkan restu karena umurku yang baru 18th.
Aku yang semakin hari semakin kurus.Aku yang setiap hari muntah-muntah.Aku tidak tahu mungkin naluri seorang ibu,umi yang dari awal melarang ku menikah malah menyuruhku segera menikah.Atas restu dari umi, keluarga besarku akhirnya memberi restu padaku.
Aku menikah dengan Reyfan disaat kehamilanku masuk 4bln.Pernikahanku sangatlah sederhana.Mungkin seperti tidak layak untuk acara pernikahan karena hanya tenda dan kursi pengantin yang kecil.Pernikahanku tak luput dari perhatian tetangga.Desas desus mulut mereka mengalahkan bunyi gong.Menurut mereka pernikahan ku terkesan dadakan pasti ada sesuatu.
Kini pernikahan ku sudah memasuki 3bln dan kehamilanku sudah memasuki 7bln.Seperti menyimpan bangkai lama-lama tercium juga baunya.Perutku yang sudah terlihat besar.Aku yang semakin gemuk.Aku belum berani jujur dengan umiku.Umi juga tidak pernah bertanya macam-macam.Aku hanya melihat umi dari jauh.Saat umi sendiri beliau duduk sambil menangis.Sungguh aku merasa berdosa.Aku sudah menyia-nyiakan kepercayaan umi.Aku sudah berbuat zinah.Aku seperti melemparkan kotoran pada keluargaku.
"Astaghfirullah....apa yang harus aku lakukan?".
"Ya Allah....andai saja aku bisa mengulang waktu,ingin rasanya aku tidak mengecewakan umi".sesalku dari dalam hati.