Genre : Fantasi
WARNINGGGGGGG!!
Terinspirasi boleh, tapi jangan plagiat ya:) Jujur saya akan sedih bila ada yang plagiat. Walau karya saya tidak sebagus dan serapi milik karya kalian semua. Saya harap kita terhibur ya, anw ini ada part 2 nya. Jika kalian mau, komen yaaa
Mawar Biru dan Dendamnya
Sepasang kekasih yang tengah berkencan di taman bunga terlihat bahagia dengan sekeranjang camilan tak jauh dari tempat mereka duduk. Keduanya terlihat serasi dengan pakaian bercorak warna sama. Tak luput paras mereka yang menawan dengan senyum bahagia.
"Kamu suka sekali ya dengan bunga mawar biru ini dan terlihat cocok dengan dirimu," puji Erland sambil mengusap lembut pipi kekasihnya yang tersipu itu.
"Iya, aku menyukai bunga ini. Ini menenangkan hati ku, Er."
Erland menipiskan senyumannya, ia tau akhir-akhir ini kekasihnya terlihat tertekan karena konflik antar keluarga yang bersaing dalam bidang militer dan keamanan negeri ini.
Bangsawan Seltworz dan bangsawan Phollier memiliki satu kesamaan, yaitu sebagai bangsawan dengan kemiliteran sama kuatnya. Sebenarnya menguntungkan kedua belah pihak bila direstui melanjutkan ke jenjang hubungan lebih serius, namun masalahnya adalah konflik internal kerajaan.
Kerajaan Ferzuory terbagi menjadi beberapa kubu, kubu yang murni mendukung kerajaan dan kubu pendukung Grand Duke Viostra yang memiliki potensi lebih daripada pemimpin kerajaan saat ini. Tentu keluarga Erland dan keluarga kekasihnya berada di pihak yang berbeda.
Erland menghela nafas panjang, ia memeluk sang kekasih dengan erat. "Tidak apa-apa, semua akan berjalan dengan baik. Percaya padaku," ucap Erland menenangkan keresahan kekasihnya.
"Aku takut, Er," Belva memejamkan mata dan membalas pelukan Erland. Belva tidak ingin menangis tapi masalah ini membuat Belva menjadi rapuh. Belva tidak kuat, ia menumpahkan tangisnya di dalam pelukan sang kekasih.
Sebenarnya banyak sekali yang dipikirkan oleh keduanya, selain restu yang terhalang. Ada juga pengganggu yang dikirimkan oleh keluarga masing-masing untuk merusak hubungan keduanya.
"Gadis cengeng! Kau lancang sekali memeluk Tuan Muda Phollier!"
Baru saja memikirkan pengganggu tersebut namun sudah mulai nampak wujudnya. Erland menatap muak gadis bergaun warna kuning itu.
"Kami tidak mengharapkan kehadiranmu, Nona Goldern. Sebaiknya, Nona jangan ikut campur hubungan kami! Ini bukan urusan Nona yang perlu diselesaikan," usir Erland dengan halus pada putri tunggal kediaman Goldern.
"Benar kata Nona Goldern, seharusnya anda menjaga sikap di luar Tuan Phollier. Dan, Nona Seltworz jika butuh sandaran saya selalu ada untuk anda. Terlebih lagi, saya berstatus tunangan anda." Pemuda berambut pirang itu menekan kalimat akhirnya.
Entah datang darimana keduanya muncul begitu saja menyudutkan sepasang kekasih. Belva menyeka air matanya, ia menatap tajam kedua pengganggu hubungannya dengan Erland.
"Nona Goldern dan Tuan Zephiar, apakah etika bangsawan kalian tidak dipelajari dengan baik? Apakah kalian perlu mengulanginya dari awal lagi? Nona Goldern, bukankah anda hadir untuk mewakili acara penting di istana? Itu sangat menyinggung pihak istana bila tau anda pergi hanya untuk mengganggu kami yang tengah berkencan. Dan Tuan Zephiar, pertunangan kita belum resmi. Anda sangat lancang memanggil saya sebagai tunangan anda, saya dapat melaporkan kelancangan anda kepada ayahanda kemudian akan mempertimbangkan lagi soal pertunangan tersebut. Tuan Zephiar, nama anda sudah buruk di kalangan gadis bangsawan tentang rumor anda yang sering keluar malam untuk berkencan dengan seorang gadis berbeda-beda. Tentu saja, ayahanda sudah mengetahui hal tersebut." Belva berhasil membungkam mereka berdua, walau suara Belva terdengar parau namun tetap tak mengurangi ketegasan Belva.
Tuan muda Zephiar dan nona Goldern meninggalkan mereka tanpa berpamitan. Muka mereka terlihat muram dan masam. Erland menatap kepergian mereka dengan tajam. Belva menggenggam erat tangan Erland, ia memanggil Erland dengan suara lemah. Membuat pria tersebut menatap Belva dengan khawatir.
"Kita sudah memasuki usia matang Erland, seharusnya diumur kita ini sudah mempersiapkan hubungan yang lebih serius. Aku tidak ingin semakin banyak rumor tentang kita, aku kasihan dengan ayahanda. Bisakah kamu datang ke kediamanku dan meminangku?"
Erland menatap lekat manik mata safir Belva yang mengandung tekad kuat.
*****
Gadis cantik berwajah dewasa sedang memainkan ujung rambut hitam bergelombangnya. Kulit putih bersih yang kontras dengan warna gaun yang dipakai yaitu berwarna navy, seiras dengan malam hari ini.
Perasaan gadis itu tak karuan sekaligus merasa tak nyaman dengan perasaannya sendiri. Memilih abai, ia mengambil setangkai mawar biru yang sudah bersih dari duri kemudian berjalan menuju ruang keluarga menemui ayahandanya.
*****
"Kau serius ingin melamar gadis Seltworz? Kau tau ayahnya itu sangat licik demi keuntungannya sendiri?" tanya ragu ibu Erland. Dia khawatir anaknya akan menerima penolakan atau dimanfaatkan oleh keluarga Seltworz.
Alih-alih menenangkan sang ibu, Erland justru sibuk merangkai buket bunga mawar biru dan bingkisan unik lainnya.
"Erland, perasaan Ibu tak enak. Kau berhati-hati dan selalu waspada, ya...."
"Ibunda, perjuangan cinta harus ada usaha dan pengorbanannya. Aku akan berusaha yang terbaik! Bukankah, Ibunda sangat menyukai Belva?"
"Iya, itu benar. Tapi, Ibunda ingin besok saja sekeluarga. Ayahmu sedang dalam perjalanan pulang dari perbatasan. Kakakmu masih dalam masa pembelajaran di akademi."
Erland tersenyum hangat, ia memeluk ibunya kemudian berjalan keluar menunggangi kuda putih yang gagah. Tangannya memegang semua bingkisan dan buket bunga mawar biru.
"Er! Cincinnya sudah kau bawa?" Ibunda Erland sedikit mengeraskan suaranya.
"Sudah, Bu! Tenang saja, doakan yang terbaik!"
"Itu selalu putraku!"
Andai konflik antar dua kubu ini selesai, maka ini akan lebih mudah tentunya.
Kurang lebih satu jam lamanya Erland menuju kediaman Seltworz. Prajurit dan pelayan di kediaman tersebut berekspresi cukup dingin sebagai bentuk menjaga batasan kedua belah pihak yang bersaing.
Erland tidak tersinggung atas sikap orang-orang kediaman Seltworz. Sambil mengikuti kepala pelayan yang memandu arah, ekspresi wajah Erland awalnya damai menjadi dingin. Beberapa kali kepala pelayan mengusap tengkuknya karena merasakan hawa tak mengenakkan, namun dia tidak berkomentar apa-apa.
Perasaan Erland menjadi resah, firasatnya kian memburuk semakin kakinya melangkah ke dalam menuju ruangan dituju.
"Belva! Belva! Bangun, Nak!"
"Ayahanda, kenapa Kak Belva tidak mau bangun? Ayahanda! Kak Belva, bangun Kak! BANGUNNNN!"
PYARR
"BELVAAA!!"
Mendengar keributan keras itu membuat jantung Erland berdegup kencang. Dia berlari mendobrak pintu besar itu, ia mendapati ruangan kacau dan tangisan sekeluarga Seltworz.
"Maaf atas kelancangan saya, apa yang terjadi Tuan Seltworz? Apa terjadi sesuatu kepada Nona Belva?" tanya Erland dengan panik setelah memberi salam hormat antar bangsawan. Tangan kekarnya mencengkram erat bingkisan yang ia rangkai sedemikian rupa.
Joan sebagai kepala keluarga menjawab dengan nada khawatir. Ia menyingkirkan kebatasan formal karena keadaan darurat ini, "Belva kami temukan tergeletak tak sadarkan diri. Kondisinya sangat langka, menurut dokter kepercayaan kami ia mengalami tidur panjang namun tidur ini tak membuatnya mati tapi semakin lama detak jantungnya akan semakin lemah."
"Apa penyebabnya Tuan? Dan obat apa yang perlu untuk Nona Belva?" tanya Erland mencoba tegar. Sejujurnya badannya menjadi lemas mendengar penjelasan tersebut.
"Kemari jika anda ingin melihat kondisi Belva, Tuan Muda Phollier." Joan mengajak masuk ke dalam pintu di sudut ruangan tersebut. Erland mengikuti sambil memberi hormat kepada istri Joan dan adik laki-laki Belva yang kacau di sofa ruangan tersebut.
Terlihat tubuh Belva yang tertidur menggenggam setangkai mawar biru segar. Wajahnya sangat damai namun pernafasannya sangat lemah, sekali lihat gadis itu tampak seperti tak bernafas.
Tentu saja pemandangan tersebut membuat Erland semakin lemas, ia menaruh bingkisan di meja yang tak jauh dari ranjang tidur Belva.
"Penyebabnya adalah Racun Bunga Tidur yang nona hirup, racun ini menyatu dengan udara jadi sulit untuk mendapatkan asal muasal racun ini aktif. Saya tidak yakin, tapi sebenarnya obat untuk nona Belva terbilang sangat langka, Tuan."
Joan menatap tajam dokter di sampingnya, "katakan dengan jelas, karena ini menyangkut persoalan nyawa!" tekan Joan.
"Maaf, Tuan. Obatnya hanya bisa didapatkan di wilayah Benua Barat. Nona dapat bertahan 45 hari namun untuk mencapai wilayah Benua Barat membutuhkan sekitar 3 bulan, Tuan." Dokter tersebut berkata dengan nada kecil.
"Sayang ... kau harus bangun," Erland menetaskan air mata. Wajah angkuh dan intimidasi Belva seolah lenyap tergantikan wajah damai dan tenang. Belva seolah enggan berjuang untuk bangun. "Saya akan mendapatkan obat yang dimaksud demi kesembuhan dan kesadaran Belva!"
"Kau yakin?" Joan menatap Erland dengan dingin.
"Saya akan berusaha sebisa mungkin dan saya akan melakukan diluar kemampuan dengan cara apapun." Erland berucap dengan tegas. Berbanding terbalik dengan dadanya yang penuh sesak dan tatapan kesedihan. Namun dengan berdiam tidak membuat perubahan.
"Izinkan saya memegang tangan Belva sebelum saya pergi." Joan tak menjawab, Erland langsung memegang tangan Belva yang memeluk bunga mawar biru itu, ia mengelus tangan itu dengan lembut.
Kita dulu berlatih pedang bersama, melakukan misi akademi bersama. Wajah angkuhmu kepada lawan membuatku tertarik, tatapan intimidasi mu yang menjadi candu bagiku, sekarang kamu tidur lelap dengan damai. Sangat damai hingga kesadaran enggan menghampirimu, kamu yang paling mengertiku. Aku mencintaimu, tunggu aku. Bila aku ditolak oleh keluargamu, aku tak segan membawamu pergi, Sayang. Batin Erland pilu.
Erland mencium kening Belva cukup lama. Kemudian berpamitan kepada Joan dan anggota keluarga Seltworz yang berada di ruangan tersebut.
"Aku akan segera kembali," gumam Erland menunggangi kuda putih yang berlari kencang ke arah barat.
"Aku tidak yakin, tapi hanya dia harapan kita satu-satunya." Joan menatap kepergian Erland dengan dingin.
"Itu terdengar mustahil, Tuan. Wilayah barat menutup semua akses untuk pendatang...."
"Aku tau," Joan masuk ke dalam bangunan mewah yang sekarang beraura kesedihan.
*****
"Tuan Muda Phollier, anda tampak sangat berbeda dari yang aku lihat sebelumnya. Dan kembali pada hari ke-40 setelah kepergian anda," ucap Joan.
Erland terseyum dingin, matanya yang sebelum berangkat berwarna safir. Sekarang berwarna safir pucat dan sebelahnya merah pekat. Siapapun yang menatapnya pasti akan mengingat kematiannya sendiri.
Aura Erland sekarang suram dan dingin, jika Joan orang biasa mungkin Joan sudah merasa perasaan depresi. Namun saat ini hanya nafasnya yang seolah tak nyaman.
Erland menyerahkan kantong berisikan tanaman obat dan beberapa bubuk penyembuhan untuk Belva. Ia berjalan seolah melupakan etika bangsawan, hidungnya mencium mencari cari aroma keberadaan sang kekasih. Hingga sampai ia di depan kamar Belva.
"Belva...." suara Erland terdengar parau.
Joan mengikuti Erland dari belakang, ia membiarkan Erland yang mengelus tangan Belva. Setangkai mawar biru itu tak lepas, bahkan masih sangat segar seolah baru diganti namun pelayan bilang itu adalah mawar yang sama saat kejadian malam itu.
"Belva, kamu tau.... Demi kamu aku rela berbagi raga dengan iblis, demi kamu aku rela jika aku hanya memiliki setengah kesadaranku. Aku-"
"Kau bersekutu dengan iblis Erland? Penghinaan macam apa yang kau torehkan pada kerajaan? Kau adalah ancaman! Kau tak seharusnya berada di dunia! Aku tak rela anakku menikah dengan lelaki iblis sepertimu!"
Joan mengacungkan pedang, ia bergerak menyerang Erland. Ia seolah buta dan tuli akan perjuangan Erland demi putrinya sendiri. Tindakan Joan membuat Erland mengalami luka tebasan di sepanjang dada.
Hal tersebut membuat Erland marah. "Kau manusia tak tau diuntung! Manusia serakah!" Erland menyambut serangan tersebut dengan tangan kosong. Ia sangat kecewa, marah, sedih, semua campur aduk.
"Huh! Jujur aku tak sudi membiarkan putriku menikah dengan bangsawan Phollier! Namun karena kau bisa kumanfaatkan, jadi aku diam membiarkan dirimu mencari obat yang mustahil itu!"
"AARRGHH!!" Erland seolah menggila, kenyataan pahit itu sangat melukai hatinya. Ia berjanji akan membalaskan semua ini dengan setimpal.
"Er-land ... sayang," panggil Belva namun setelahnya ia kembali tak sadarkan diri.
Erland yang mendengar panggilan tersebut menjadi lengah dan tidak dapat menghindari tusukan di dadanya.
CRAKSS
"Aku bersumpah a-akan membalaskan semua ini!" Mata Erland perlahan menutup, tubuhnya jatuh tergeletak di lantai.
Joan berjongkok, menatap dengan acuh. Namun tiba-tiba mata Erland kembali terbuka dengan bola mata hitam semua tanpa menyisakan warna putih.
"Manusia serakah!"
ARRGHH
Joan mendapat cakaran cukup dalam di area pipi. Darah hitam mengalir deras.
Aku bersumpah akan membalas perbuatanmu dan apa yang diterima oleh tuanku. Kau akan merasakan bagaimana dibunuh oleh keluargamu sendiri.
Bulatan cahaya merah memasuki perut Belva, tak ada yang menyadarinya. Namun kesadaran iblis san seperempat kesadaran Erland berhasil bertahan.
Tubuh Belva menjadi panas dingin karena gejolak dalam dirinya. Iblis itu mengatur tubuh Belva dan memulai kehidupan dengan identitas baru.
Maaf dan terima kasih. Lanjut Part 2?