"Kemarin, aku membunuh seseorang."
Begitu katanya hari itu. Padahal musim panas baru saja di mulai tapi dia malah duduk meringkuk gemetaran di atas tempat tidurnya.
Semua dimulai dari sana. Ingatan kecil tentang musim panas yang teramat jenuh.
***
Musim panas di mana waktunya untuk libur dari tugas sekolah yang menghujam setiap harinya. Libur musim panaspun memiliki tugasnya tersendiri tapi, itu biarlah dikerjakan nanti. Gadis yang menginjak tahun pertama sekolah menengah atas ini memilih merebahkan diri di atas sofa sembari bermain game ditemani nyala kipas angin. Sungguh kenikmatan yang tak terhindarkan.
"Lily, sebaiknya kerjakan tugas sekolahmu daripada bermalas-malasan seperti itu," tegur sang kakak yang baru saja turun dari lantai dua, letak kamarnya berada. Ia berniat mengambil air sambil istirahat sebentar setelah mengerjakan tugas.
"Iya... nanti pasti kukerjakan," katanya acuh, fokus pada gameplaynya sambil mengayun-ayunkan kaki santai.
"Katakan saja nanti setelah akhir liburan," balasnya kemudian menenggak kembali minumnya di meja makan.
Lily sontak duduk menggembungkan pipinya. "Kak Leo!" pekiknya tak terima. "Sudah kubilang pasti mengerjakannya!"
"Jangan minta bantuanku jika tugasmu tidak selesai," katanya sudah lelah mengingatkan adiknya yang setiap tahun selalu mengerjakan tugas sehari sebelum semester baru dan melibatkannya dalam mengerjakan tugas karena terlampau banyak. Leo memutuskan untuk mencuci gelasnya daripada mengurusi adiknya yang tak bisa dinasehati ini. Untung saja adiknya yang satu lagi pergi keluar. Bisa penuaan dini dirinya mengurusi setan kembar ini.
Lily tiba-tiba menghadap ke belakang sofa letak meja makan berada. “Kak Leo, Kak Reol akhir-akhir ini tidak kemari ya? Apa dia ada partai time?”
Kakaknya tampak berpikir meski begitu tangannya tetap bergerak membersihkan gelas di bawah kran air yang menyala. Jawaban tak kunjung didapat membuatnya naik darah jika berurusan dengan kakaknya yang satu ini. Kalau pun dia bertanya pada saudara kembarnya pasti infonya tidak berguna. Menunggu menjadi satu-satunya pilihan.
Setelah meletakkan gelas di rak membiarkan airnya turun, Leo akhirnya berbalik menghadap adiknya. "Aku dengar dia terkena demam."
Jawaban singkat yang membuatnya sedikit terkejut. Senior yang dikenalnya dari klub kendo sekolah dan teman satu angkatan kakaknya, Reol, orang yang hebat, pintar, atletis, dan ramah padanya ternyata seceroboh ini dalam menjaga kondisi tubuhnya. Padahal musim panas baru saja dimulai tetapi orang itu malah telungkup di atas kasur dengan kondisi buruk. Pikir Lily dalam benaknya.
"Oh ya, dia demam seminggu lalu."
Satu pernyataan lagi yang membuatnya begitu terkejut. Sakit selama seminggu dan belum membaik sama sekali apa yang di pikirkan orang itu.
Tanpa pikir panjang lagi Lily bergegas pergi ke kamarnya mengganti baju, mengambil dompet dan ponselnya. Cepat-cepat dia pergi keluar rumah memasang sepatu.
"Lily, titipkan salamku padanya. Katakan juga agar memilih keputusan dengan benar." ujar Leo. Lily menggangguk lalu pergi begitu saja walau tak begitu mengerti dengan bagian akhirnya.
Sebelum menuju rumah seniornya ia mampir ke beberapa tempat membeli bahan makanan dan obat yang akan dibutuhkannya. Kini di depan apartemen Reol, kakak kelasnya Lily berdiri terengah-engah. Mengkhawatirkan orang lain membuatnya berlarian sepanjang jalan. Biasanya ia tidak akan segampang itu khawatir pada seseorang tetapi kali ini ia begitu mengkhawatirkan kakak kelas yang selalu baik padanya saat yang lain tidak. Terlebih lagi Lily menyukainya, walaupun belum sempat dia nyatakan. Lagi pula waktu mereka masih banyak, tidak perlu buru-buru menyatakan perasaan.
Lily menarik nafasnya dalam-dalam kemudian memencet bel yang berada di samping kiri pintu. Tidak ada respons sama sekali. Sekali lagi ia memencet bel hasilnya tetap sama bahkan saat ia mengetuk pintu apartemennya. Meski begitu ia tetap berharap kakak kelasnya itu baik-baik saja.
Sudah satu minggu berlalu semenjak Reol menampakkan dirinya terakhir kali. Musim panas dimulai mungkin saja karena itu Reol tidak pernah muncul dan begadang untuk menyelesaikan Quest game mengingat ia merupakan salah satu pecinta game. Tapi, mengabaikan pesan Lily berhari-hari lalu terdengar kabar kalau Reol terserang demam itu sedikit berlebihan untuknya.
Jadi, di sinilah dirinya mematung sepuluh menit di depan pintu apartemen berharap seniornya membukakan pintu. Sungguh, ia benar-benar khawatir sekarang. Iseng Lily memutar knop pintu namun secara tak sengaja pintunya terbuka. Apartemennya tidak di kunci. Untuk ukuran ceroboh ini kelewatan. Bagaimana jika ada penjahat yang masuk?
Lily melanjutkan langkahnya memasuki apartemen yang ditinggali seniornya. Hanya ruangan gelap yang didapatinya. Ia terus melangkah menelusuri lorong dengan matanya menyapu ke seluruh penjuru ruangan. Banyak barang dan sampah berserakan. Meja makan yang tergabung dengan dapur tampak bersih seakan tak tersentuh sama sekali. Lily menaruh barang-barang bawaannya di atas meja lalu mengecek isi kulkas siapa tahu ada yang bisa dia buat untuk Reol. Begitu ia membukanya kosong, tidak ada apa pun di dalam kulkas. Leo bilang Reol tinggal sendiri, tapi apa yang sebenarnya terjadi hingga separah ini?
Langkah pelan berubah menjadi derapan. Sesegera mungkin ia mencari Reol. Telanjur khawatir Lily langsung membuka pintu kamar Reol tanpa mengetuk terlebih dahulu. Ruangannya gelap dan berantakan. Buku, konsol game, bungkus makanan, kaleng minuman, dan baju berserakan. Ini tidak bisa lagi disebut kamar. Matanya membulat mengetahui sosok Reol meringkuk di tempat tidur dibalut selimut dalam keadaan gemetar.
"Kak Reol?" panggilnya pelan.
Sosok dalam selimut itu tersentak, ia sedikit membuka selimut yang menutupinya. Meskipun samar ia tahu Reol menyebut namanya. Bergegas ia mendekat.
"Kak Reol, kakak kenapa?"
Reol bangun membuka selimutnya lalu mengubah posisinya menjadi duduk di tepi ranjang. "Bisa kau lihat, aku baik-baik saja." ujarnya getir.
Lily melihatnya dari atas ke bawah. Baik katanya? Tubuh kurus keringnya dalam balutan kaus lengan panjang terekspos begitu saja. Kantong mata menghitam di bawah matanya. Matanya tampak mati. Apa itu bisa disebut baik-baik saja?
"Apa ini yang kakak sebut baik?”
"Aku baik-baik saja," ulangnya menegaskan dengan nada dingin.
Lily tidak bisa berkata apa pun lagi. Hari ini Reol bukanlah Reol yang biasanya. Lantas ia berdiri.
"Aku akan buatkan makanan, Kak Reol bisa membersihkan diri terlebih dulu," setelah mengatakannya ia beranjak pergi dari sana.
Di dapur pun ia masih memikirkan keadaan Reol yang berubah. Meski tadinya ia tidak ingin memikirkannya tetapi pikiran itu tiba-tiba saja datang. Lily merasa masih banyak hal lagi yang akan membuatnya terkejut dari apa yang dilihatnya kali ini.
Suara deritan kursi tertangkap oleh telinganya. Itu Reol yang sudah selesai membersihkan dirinya. Rambutnya yang sedikit panjang masih terlihat berantakan tapi sudah lebih baik dari sebelumnya. Lily meletakkan makanan yang sudah dibuatnya di depan Reol lalu ikut duduk di kursi depannya berhadapan dengan seniornya.
"Maaf aku hanya bisa membuat ini."
Reol mengangguk sambil tersenyum kecil lalu mulai memakan makanan di depannya. Lily tertegun menatap seniornya. Jadi, seperti ini Reol ketika tersenyum. Senyumnya sangat sempurna seakan keadaan buruk sebelumnya tak pernah ada. Apa seniornya tersenyum agar kekhawatirannya menghilang? Tapi kalau begitu bukankah senyumnya dipaksakan? Apa selama ini begini cara seniornya tersenyum?
Reol mendongak menemukan juniornya termenung di depannya hingga melamun. Biasanya dia akan banyak bicara membicarakan banyak hal. Padahal dia sudah mesakkan makanan yang sudah lama tidak ia rasakan meskipun rasanya berbeda karena yang membuatnya juga berbeda tapi bisa-bisanya ia menunjukkan sisi buruk. Mengingatnya berkata dingin pada Lily tadi membuatnya merasa bersalah. Meski begitu juniornya itu tetap bersikap baik padanya. Reol pikir tidak masalah menceritakan sedikit beban hidupnya pada Lily setelah cukup lama mengenalnya daripada yang lain.
Reol meletakkan sendoknya di atas piring kosong di depannya. "Lily, mau dengar ceritaku?"
Lily menerjabkan mata. Rasa senang sedikit menggelitik dadanya. Ia merasa seniornya telah kembali seperti semula tetapi yang dikatakannya setelah itu membuatnya tak bisa berkata apapun.
"Kemarin … aku membunuh seseorang."
Itu yang Reol katakan. Rasa dingin yang menusuk secara tiba-tiba. Meskipun musim panas baru saja dimulai ia gemetaran seperti orang gila.
"Orang yang kubunuh adalah orang yang duduk di sampingku. Dia orang yang selalu menindasku. Hari itu juga begitu, aku sangat muak lalu mendorong bahunya. Sayang sekali tempatku mendorongnya sangatlah buruk."
Lily tertegun dibuatnya. Selain pernyataan bahwa seniornya telah membunuh seseorang, pernyataan bahwa dia juga dirundung di sekolah juga adalah hal yang paling mengejutkan. Padahal selama ini Reol baik-baik saja. Apa kakaknya tahu mengenai hal ini?
"Begitu sadar, aku telah membunuhnya. Aku pikir lebih baik untuk tidak menampakkan wajahku mengingat orang kubunuh adalah anak dari orang terpandang yang memiliki banyak koneksi." Reol kemudian berdiri masuk ke kamarnya mengambil tas yang sudah ia siapkan di dalam lemari dan kembali. "mungkin sedikit berlebihan tapi aku tidak ingin orang yang sudah merawatku, orang terdekatku seperti Leo, Lion, dan dirimu terkena imbasnya. Jadi, sudah kuputuskan untuk pergi dari sini dan menghilang."
"A-apa maksud kakak?" Lily merasa seakan perkataan Reol begitu sulit untuk ia mengerti.
Reol berbalik menatap Lily dan tersenyum. "Seperti itulah maksudnya, aku akan pergi sangat jauh hingga tak akan ada yang menemukanku lalu mati sendirian."
Apa ini maksud dari ucapan kakaknya tadi? Kalau begitu Leo tahu jika Reol telah membunuh seseorang? Tapi kenapa Reol harus pergi? 'Kan bukan salahnya membunuh orang itu. Itu salah mereka yang selalu merundung Reol. Reol hanya tidak sengaja mendorongnya bukan benar-benar membunuhnya dengan pisau.
"Kenapa harus kakak?" Lily mempertanyakan keputusan yang telah dibuatnya.
"Aku sudah mengatakannya ‘kan kalau aku tidak ingin—“
"Makanya kenapa harus Kak Reol?!" Lily seketika memeluknya. "Aku tidak mau Kak Reol yang pergi! Itu bukan salah Kakak! Di luar sana banyak pembunuh bertebaran, mereka juga masih menjalani hidup dengan normal. Kakak yang hanya tidak sengaja kenapa harus pergi?" Ia menangis sejadi-jadinya.
Reol mengelusnya rambutnya pelan. "Mungkin aku tidak seharusnya membunuh orang itu dan membuatmu menangis," ia terkekeh pelan. Lily makin kesal karena seniornya masih bisa tertawa disaat seperti ini.
Terdiam cukup lama Reol melepaskan pelukannya. Ia mendorong pelan Lily "Meski begitu aku harus tetap pergi."
Lily meraih tangannya. Dimatanya masih menyisakan sedikit air mata. "Kalau begitu, bawa aku pergi bersamamu!"
Sore itu mereka berkemas. Dompet, pisau, konsol game, manga yang disukai keduanya dimasukkan kedalam tas diikuti Reol yang membakar buku pelajaran, foto lama, dan buku hariannya.
"Aku sudah tidak membutuhkannya," jawabnya dikala Lily bertanya. Reol meraih pergelangan tangannya. "ayo pergi."
Lily mengangguk. Mencari tempat di mana bisa hidup bersama hanya mereka berdua. Tentu saja, Ia telah membulatkan tekadnya untuk tidak membiarkan Reol menemui ajalnya. Tidak akan pernah.
Lalu mereka lari. Lari dari takdir dunia yang sempit ini. Mencari tempat di mana tak akan ada seorang pun yang menemukan mereka. Beruntung tabungan keduanya lebih dari kata cukup karena sebuah pelarian juga membutuhkan biaya. Tidak ada yang tahu sampai mana uang mereka akan cukup untuk bertahan hidup dan akan ada saatnya mereka harus mencuri.
Melewati jalan sempit sembari bersenda gurau bersama. Mendengarkan cerita Lily yang tak ada habisnya sepanjang jalan cukup mengisi keheningan. Meskipun terkadang harus melihat senyumnya luntur sejenak setiap saat. Tanpa memedulikan orang lain keduanya berjalan berpegangan tangan. Saling percaya satu sama lain. Mereka berjalan di atas rel kereta.
Merasa bisa pergi ke mana saja dan tidak perlu takut apa pun sekarang. Keringat menetes, kacamata yang jatuh. Keduanya terengah-engah. "Sekarang sudah sampai di sini, siapa yang peduli. Ini adalah kisah pelarian fantasi kecil kita, kan," Lily berseru.
Banyak tempat lagi yang mereka kunjungi sampai mereka berdua lelah. Game center, kebun binatang, taman bermain, festifal musim panas. Keduanya tertawa bersama. Berjalan di tengah kerumunan orang dengan sukacita musim panas.
"Terkadang muncul dalam mimpi, ada seorang tokoh utama yang dsukai oleh banyak orang. Apakah dia mau membantu kita yang kotor ini tanpa meninggalkan kita nantinya?" Reol membuka pembicaraan sembari memperhatikan kerumunan dalam festifal.
"Mimpi seperti itu harusnya dibuang saja. Di kenyataan tidak ada yang seperti itu di dunia ini. Enam huruf, S-E-N-A-N-G itu tidak ada. Kakak sendiri sudah merasakannya ‘kan?" katanya sambil menyeimbangkan diri berjalan di atas pembatas jalan. “orang yang menindas kakakpun, orang-orang pasti berpikir dia tidak salah apa pun karena orang-orang tidak tahu apa yang dia perbuat. Lalu ketika dia mati kakak yang disalahkan meskipun itu tindakan melindungi diri. Mati dan hidup pun jadi sama-sama tidak bergunanya. Tapi, jika hidup kita masih bias memperbaiki diri dan kita tidak tahu seperti apa masa depan yang sudah pencipta siapkan untuk kita nantinya. Bisa dikatakan hidup menjadi pilihan yang lebih baik.”
"Hidup ya…" ulangnya.
"Benar, hidup." kemudian ia melompat ke depan seniornya. "tidak perlu mengatakan apa pun tentang alasan untuk hidup tapi lakukan apa pun yang bisa membuatmu terus tersenyum."
Reol terdiam, tatapannya begitu sendu di bawah sinar rembulan. Lily meraih tangannya. "Kak? Kenapa? Tidak enak badan?"
Reol menggeleng. "Maaf membuatmu khawatir... Omong-omong aku ingin mengunjungi satu tempat lagi sebelum kembali ke penginapan."
"Oh iya, Kak Leo titip salam dan bilang agar kakak pikirkan baik-baik tentang keputusan yang kakak ambil."
Reol tersenyum, "Setelah bertemu Leo nanti katakan padanya untuk tenang saja, karena keputusan yang kuambil sudah sangat tepat."
Tanpa basa-basi lagi Reol menggandengnya dan membawanya pergi ke suatu tempat. Tak terlalu jauh dari tempat festival diadakan. Berlarian di atas bukit kecil dan menari seperti orang idiot. Sebuah sungai kecil dengan banyak bebatuan timbul. Reol melepaskan tangannya dan menebrangi sungai melewati bebatuan. Ia kemudian berteriak.
"Lily! Berjanjilah sesuatu kepadaku! Apa pun yang terjadi jangan bergerak dari tempatmu!" Teriak Reol.
"Apa maksudnya?"
"Cepat berjanji!"
Lily geram, "Baiklah, baiklah, aku janji tidak akan bergerak dari sini apapun yang terjadi! Sudah ‘kan?!"
Reol tersenyum di kejauhan. "Lily!" panggilnya kemudian. "menurutmu, apa yang paling membuatku bahagia?"
Lily berpikir, "Rank tinggi dalam game? Nilai tertinggi di semua mata pelajaran?"
"Ya, itu salah satunya... Tapi masih ada lagi yang lebih membuatku bahagia." Reol terdiam memikirkan apa yang harus dia ucapkan lagi. Sebuah kalimat tertahan tak mau keluar dari tenggorokannya.
"Kak?"
Reol menggeleng pelan, "Apa harapanmu musim panas kali ini?"
"Aku berharap bisa meraih level lebih tinggi dari—"
"Sudah jelas itu mustahil," potong Reol cepat yang nyaris membuat Lily melenparkan batu tepat di kepala Reol sebelum seniornya itu menyampaikan harapannya.
"Aku berharap agar bisa hidup sehat, bahagia, damai, dan bisa menghabiskan musim panas ini dengan kalian agar aku bisa menjahilimu lebih banyak dari biasanya. Dan aku berharap..." Reol menggantung kalimatnya dan masukkan tangannya ke dalam saku hoodienya. Matanya menatap lurus penuh keyakinan namun putus asa. Sebuah pisau dikeluarkan dari saku dan ditujukan pada leher bak porselennya.
"...aku harap aku bisa melupakan semua harapanku itu."
"Tunggu kak—“ Lily ingin bergegas ke tempat seniornya namun Reol menghentikannya dengan dalih janji. Memang apa pentingnya janji itu di saat teperti ini.
Lagi-lagi Reol tersenyum,"Tentu saja penting, kau sudah berjanji 'kan? Jika tidak kau akan berlari kemari'kan?"
Terlampau kesal Lily hanya bisa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Dirinya merasa sangat ceroboh tak menyadari apa pun yang dibawa seniornya. Sekarang tujuannya lagi-lagi tak tercapai. Tujuan ingin menyelamatkan seniornya yang selalu menyelamatkannya. Tapi ia tak bisa menyelamatkan seniornya.
Reol tersenyum karena senang Lily menepati janjinya. "Karena kau, aku bias bertahan hingga saat ini. Ini sudah cukup, sangat cukup. Bahkan lebih dari cukup. Jadi mari hentikan pelarian ini dan biarkan aku jadi satu-satunya yang mati di sini."
Reol memotong lehernya sendiri dengan pisau seperti adegan dari sebuah film. Rasanya seperti sedang bermimpi. Ketika Lily bangun dirinya telah ditangkap. Dilontarkan berbagai macam pertanyaan dan setelah semua itu tidak ada yang berubah. Kakaknya yang pemarah seperti biasa, adik kembarnya selalu usil, orang tuanya tetap sibuk bekerja. Dia masih berangkat sekolah seperti biasa. Mampir ke game center sepulang sekolah. Menghabiskan banyak waktu di rumah. Benar-benar sama saja.
Namun, jika ditanya apa yang berbeda, maka ada satu hal yang menimbulkan perbedaan besar. Dia tidak dapat menemukan Reol di mana pun. Reol adalah satu-satunya hal yang hilang darinya. Ketika berjalan di trotoar tidak ada siapapun yang berjalan di belakangnya. Di barisan senior klub kendo jumlahnya berkurang satu. Di ruang keluarganya, di depan playstation juga tidak ada siapapun.
Bahkan setelah sadar Lily masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Hingga hari-hari telah berlalu seperti biasanya. Hari-hari musim panas dengan keluarga, teman-teman, dan semuanya ada di sana. Hanya Reol yang tak ada di sana sekarang dan selamanya.
Meski begitu dia terus mencari sesuatu yang tak ada lagi di dunia ini. Senyum yang selalu muncul di kepalanya membuatnya terus mencari.
Jika ada kesempatan akan ia teriakan,
Siapapun tidak ada yang salah. Kau pun tidak salah. Ayo berhenti. Ayo menyerah saja. Buang saja semua itu.
Aku benar-benar ingin mengatakannya, Kau tahu?
___________________________________
A/n :
Ini sebenarnya song fiction, cerita fiksi yang diambil dari lagu. Cerita ini diambil dari lagu "Musim Panas yang Jenuh" (jp : Ano nafsu ga houwa suru) oleh Iori Kanzaki ft. KAF.
Aku sukaaaaa banget sama lagu ini dari awal rilis sampe sekarang. Lagu jepang emang enak-enak di denger walau maknanya agak dark. Oke sekian, bye-bye... Sampai ketemu lagi di songfic berikutnya.