Winny seorang mahasiswi tingkat akhir sebuah akademi kebidanan, sedang menjalin cinta virtual dengan seorang cowok yang dikenalnya melalui jejaring sosial facebook. Keakraban mereka semakin bertambah, ketika mereka bertukar nomor whatsapp dan id line.
Cinta, satu kata, lima huruf, berjuta rasa. Hidup Winny yang semula monokrom, sekarang jadi sangat berwarna. Apalagi melihat si Doi online di akun sosial medianya, jantung Winny serasa berdetak lebih cepat dari biasanya.
Pagi itu, saat mata Winny baru melek, dan masih ada belek yang belum dibersihkan, cewek itu meraih ponsel yang semalam ditaruhnya di atas meja belajar. Sambil mengusap sisa iler yang hampir mengering, Winny membuka aplikasi berlogo huruf F berwarna biru.
"Kyaaa, Doi update status. O-em-ji aku harus komen nih, jarang-jarang juga kan dia buat status. Aduh, komen apa ya enaknya? Pokoknya komen ku harus paling berkesan."
Winny mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan telunjuk -yang baru saja dia pakai untuk membersihkan belek dan mengelap iler-agar otaknya sedikit menjadi encer.
"Aku harus komen yang cool and gak keliatan norak nih, tapi komen apa ya, enaknya?"
Sambil berpikir, Winny menggulir ponselnya, membaca semua komentar di status yang ditulis si Doi.
"KURANG AJAR!! Siapa nih yang komen ganjen di postingan Ayang aku ini? Minta dibikin perkedel nih cewek cabe!"
Dengan penuh emosi, Winny stalker akun yang menurutnya berkomentar ganjen di akun sang pacar. Winny mencari photo profil cewek yang menggunakan nama akun Thalita Adelia itu, ingin membandingkan dengan dirinya, lebih cantik siapa, dia atau si Thalita.
"Ini cewek pasti jelek, karena gak pernah upload photo profil dengan photo asli, minder lah karena jelek," cibir Winny.
Winny terus saja stalker akun si Cabe, sampai dia sendiri lupa komentar di postingan sang Pacar. Winny semakin merasa geram, ketika di beberapa postingan si Cabe, si Ayang ada berbalas komentar, sepertinya mereka dekat.
"Wah, gak boleh dibiarkan nih! Bisa-bisa ayang ku diembat si Cabe terkutuk itu. Harus segera diambil tindakan pengamanan nih."
Winny mengetikkan sederet kalimat dan dia kirim lewat inbox pada sang Pacar, karena masih melihat dia aktif di aplikasi biru.
[Zeyenk, itu siapa sih si Thalita Adelia? Kok ganjen banget sama kamu?] ~ send Ayang.
Pesan inbox Winny terkirim pada si pacar yang sudah dirubah nama panggilannya dengan Ayang. Tapi inbox itu tak segera dibalas oleh si Ayang, dibaca juga belum, padahal si Ayang lagi online. Biasanya, inbox dari orang istimewa pasti cepat balasannya, gak tau kenapa kok si Ayang lama membalas.
Kembali Winny menggulir ke akun Thalita, dan mendapati cewek itu juga sedang online. Rasa cemburu yang membuat panas ubun-ubun, membuat Winny mengirim pesan inbox pada Thalita.
[Hey, Cabe! Gua kasih tau ya ke elu, Ayang Dicky itu cowok gua! Jangan keganjenan lu jadi cewek, sok akrab sama cowok gua! Awas lu ya, Cabe!] ~ send Thalita Cabe.
Winny bahkan sudah mempunyai nama julukan khusus pada Thalita, cewek yang menurutnya merebut perhatiaan Dicky, kekasih virtualnya.
[Maaf, Tante! Tante siapa ya? Apa maksud Tante chat saya seperti itu? Saya dan Bang Dicky gak ada hubungan apa-apa, dan saya juga gak bermaksud ganjen pada Bang Dicky] ~ send Tante gak kenal.
Tampaknya Thalita merasa tersinggung dengan chat Winny, dan memberi nama panggilan tante gak kenal di akun cewek itu.
[Tante gundulmu ! Sejak kapan gua nikah sama om lu?] ~ send Thalita cabe.
[Panggilan tante gak harus nikah sama Om. Itu panggilan buat orang yang lebih tua, biar sopan. Semua tetangga seumuran Tante, Thalita panggil tante juga, masa iya mereka semua harus nikah sama om Thalita?] ~ send Tante gak kenal.
Winny semakin geram, si Cabe bilang dia sudah tante-tante, padahal PP yang digunakan Winny adalah photo versi imut, jaman dia kelas 10 SMA, masa iya kelihatan tua? Winny gak sadar, Thalita sudah mengira-ngira umur Winny sebenarnya berdasar photo itu.
[Lu kira gua setua itu? Gua masih 17 taon tau. Pokoknya, lu jauh-jauh dari Dicky! Atau lu bakal berurusan ama gua?] ~ send Thalita Cabe.
Thalita tak lagi membalas inbox yang dikirim Winny, bahkan PP gadis itu juga menghilang. Sepertinya Thalita sudah memblokir akun Winny. Cewek itu tersenyum senang, satu saingan sudah tersingkir. Kini, Winny beralih melihat akun Dicky, dan berharap inboxnya sudah dibalas sang Kekasih.
"HAH?? APA-APAAN INI, KOK AYANG NGEBLOK AKU SIH?" pekik Winny, ketika mendapati PP si Ayang juga menghilang.
Winny beralih ke aplikasi hijau, dan menelepon si Ayang. SIAL! Rupanya Winny juga diblokir di aplikasi itu. Teleponnya cuma memanggil, tidak berdering. Ingin rasanya Winny berteriak dan menangis karena putus asa, ketika dia masih teringat ada aplikasi line.
Untung tak dapat diraih, dan malang tak dapat ditolak, line Dicky sudah menghilang, rupanya dia tutup akun. Dengan air mata mulai meleleh di pipinya yang chubby, Winny kembali menggulir ke aplikasi hijau. Bagai petir di siang bolong, nomor Dicky kini ada tulisan undang ketika dipencet.
"Aaa ... Ayang, kok akun kamu ilang? Ka ... kamu tutup akun ya? hiks hiks hiks."
Jempol gemoy Winny segera kembali ke akun aplikasi biru, dan ... akun Dicky juga sudah dihapus. Seketika Winny merasa lemas, kemana lagi dia harus mencari kekasihnya itu? Mereka memang tinggal di kota yang sama, tapi belum pernah sekalipun bertemu.
"Ayang, kok kamu tega ninggalin aku, sih? Aku cinta banget sama kamu lho, aku gak bisa melanjutkan hidupku tanpamu. hiks hiks hiks."
Winny menumpahkan tangisnya di atas bantal. Bantal berisi kapuk randu itu kembali basah oleh air mata yang mengalir menganak sungai, setelah sebelumnya basah oleh iler Winny.
"Kemana lagi harus ku cari si Ayang, ya?" keluh Winny.
"Ah iya, kenapa gak ku cari ke sekolahnya aja? Kan dia pernah menyebutkan nama sekolahnya, Harapan Kasih. Ya, si Ayang sekolah di Harapan Kasih. Aku telepon si Mey ah, dia kan sekolah di sana juga. Duh Winny, kamu memang pinter!"
Winny menemukan nomer Mey, teman online yang dia kenal di komunitas anime Detective Conan. Cewek itu berharap, Mey bisa menemukan Dicky untuknya.
"Halo, Mbak! Tumben nelpon, ada apa?" sapa Mey.
"Anu, Mey, aku mau minta tolong sama kamu, boleh kan?"
"Kalau aku bisa bantu, boleh saja kok, Mbak. Minta tolong apa sih?"
"Gini lho, Mey. Kamu tau kan, aku tuh punya pacar virtual, namanya Dicky."
"Iya, Mbak. Kenapa Bang Dicky?"
"Ayang Dicky ini tutup akun semua sosial medianya, Mey. whatsapp juga dia hapus, gimana aku mau menghubungi kalau kayak gitu, Mey?"
"Terus? Mey bisa bantu Mbak Winny apa?"
"Tolong cariin dia ya, Mey! Dia kan satu sekolah sama kamu! Please ya, Mey?"
"Bisa diatur itu, Mbak. Mana biodatanya Bang Dicky?"
"Bi ... biodata apa, Mey?"
"Ya nama, kelas, alamat, foto kalau ada."
"Aaa ... aku gak punya Mey."
"Terus? Aku nyarinya gimana, Mbak? Kalau cuma berbekal nama Dicky aja tanpa keterangan lain ya gak mungkin. Di sini siswanya ribuan, Mbak. Dan yang bernama Dicky itu entah berapa ratus, masa harus ku tanya satu-satu, pacarnya Mbak Winny atau bukan?"
"Ja ... jadi gimana, Mey?"
"Ya aku gak bisa bantu, Mbak. Selama belum ada informasi tambahan tentang Bang Dicky. Gimana---"
Winny mematikan panggilan tanpa berpamitan. Cewek itu merasa putus asa mendengar omongan Mey. Mustahil rasanya menemukan sang Kekasih dengan keterangan sangat minim. Lapor polisi juga rasanya mustahil, mengingat sangat sedikitnya info tentang Dicky yang dipunya oleh Winny.
Winny hanya bisa pasrah. Dirinya telah menjadi korban ghosting, dari kekasih virtual yang belum pernah diketahui bentukannya.
end.