Selesai. Ternyata usia kehidupannya di muka bumi ini berakhir ketika bilangan tersebut berhenti di angka delapan puluh lima tahun. Dia adalah seorang pria yang menolak kalah dengan kondisi tubuh yang sesungguhnya semakin hari semakin bertambah ringkih.
Hal tersebut tidak ia pungkiri tapi begitupun ia keukeuh menolak bila dikatakan tua. Dia muda dan akan tetap selalu muda! Bahkan ketika aku mati kelak pun, aku tetap muda! Begitu ia mengepalkan tinjunya ke udara.
Dengan suara yang masih terdengar lantang tak jarang ia menantang untuk adu jotos, meski itu sekedar candaan belaka.
Kebanyakan hari-harinya selalu dihabiskan beraktifitas di luar rumah. Tak suka bila harus berlama-lama di dalam ruangan, bilangnya suka pusing.
Dia lebih memilih untuk menggerakkan tubuh. Berjalan berkeliling komplek, bila berpapasan dengan orang akan selalu berbincang, semenit dua menit, sering ia yang lebih dahulu berinisiatif untuk menegur.
Sembari mengistirahatkan tubuh yang lelah tak jarang ia duduk di pos keamanan, berbincang dengan petugas keamanan yang sedang berjaga, itu tak mungkin ia lupakan.
Kerap juga ia berlagak seperti seorang petugas jaga, terlebih kepada setiap orang yang datang bertamu, tak sungkan ia bertanya, tentang maksud tujuan kedatangan mereka.
Dan hari ini adalah pagi pertama ia tidak lagi ada bersama-sama dengan kami. Apakah kami bersedih!? Apakah kami kehilangan!? Tidak, kami tidak bersedih! Kami juga tidak merasa kehilangan! Kenapa!? Karena seperti yang pernah dia katakan kepada kami dulu.
"Keberadaan kita itu sesungguhnya ibarat sebuah buku novel saja, kita adalah tokoh, kehidupan di muka bumi ini adalah semacam prolog saja. Sementara kematian itu adalah jalan menuju ke chapter yang berikutnya. Itu saja! Gak kurang gak lebih jadi gak perlu untuk ditangisi."
***