Penyesalan Seorang Sahabat.
Tiara dan Villia sudah berteman sejak mereka sama - sama duduk di bangku dasar. Hingga mereka duduk di bangku sekolah menengah atas mereka selalu bersama. Layaknya pinang di belah dua, dimana ada Tiara di situ ada Villia.
"Tiara, nih ada surat buat kamu.” sapa Villia sambil tersenyum kepada Vania.
“Makasih. Ngomong - ngomong surat dari siapa ya?” tanya Tiara.
“Dari Ricko, Kakak kelas yang super imut dan ganteng itu loh.”
“Tumben Ricko ngirim surat?” batin Tiara.
“Ya sudah deh, ke kelas aja yuk! Sebentar lagi jam pertama akan di mulai.” ajak Villia, mereka berdua pun berjalan ke kelas.
“Vania, PR matematika punya kamu sudah selesai belum?” tanya Villia, tetapi Vania tidak menyahut.
“Tiara, Tiara.”
“Eh iya, apa siapa?” tanya Tiara gelagapan.
“Cie, segitunya cuma baru dapat surat aja kayak gitu, apalagi ditembak ya?” ucap Villia sambil mendengus kesal.
“Apaan sih, tadi kamu tanya apa?”
“Matematikanya udah belum?”
“Udah dong, kenapa? Mau nyontek ya?”
“Hehehe, iya.”
“Dasar, nih bukunya aku mau ke toilet dulu sebelum bertemu dengan Ibu Evelyn yang super duper bermulut pedas jika sudah di hadapkan dengan rumus matematika.” ucap Tiara beralasan.
Sesampainya di toilet, “isinya apaan ya? Baca ah.” tanya Tiara penasaran.
“Hay Tiara, nanti waktu jam istirahat kamu ke kantin ya, aku tunggu. Harus datang karena ini sangat penting. Jam istirahat pertama ya, kamu sendirian saja ke kantin karena ini masalah kita berdua. Oke? Dan aku ngirim surat karena gak punya nomor hp-mu, sorry ya."
From: Ricko.
"Pernyataan cinta. Emang dia nggak merasa ya kalau aku dari dulu suka sama dia. Tapi nggak apa - apa, mungkin nanti dia mau nembak aku.” ujar Tiara ke PD-an.
“Tiara, lama amat! Aku hampir susulin kamu karena aku pikir kamu sudah pingsan di sana.” suara Villia mengagetkan Tiara.
“Eh kamu, ngagetin aja sih?”
“Ya maaf, habis kamu ke toilet lama banget. Macam toiletnya pindah tempat aja makanya lama."
“Hehehe, ke kelas aja yuk?” ajak Tiara.
“Jangan, percuma Bu Evelyn guru matematika gak masuk kelas hari ini, mending ke kantin yuk terus ke perpustakaan.”
“Siiip!”
Tet! Tet! Bel berbunyi tanda istirahat, Tiara pun teringat akan surat Ricko. Tiara pun bergegas menuju kantin tanpa sepengetahuan Villia.
“Tiara, sini!” ucap Ricko semari melambaikan tangan.
“Oke.” Tiara berlari menemui Ricko.
Setelah duduk di hadapan Ricko, Tiara mempertanyakan soal perihal surat itu.
"Ada apa Rick?”
“Hmmmm, nanti malam ada acara gak?”
“Kayaknya enggak? Emang kenapa?” tanya Tiara dengan jantung yang berdebar - debar nggak karuan seperti habis lari maraton.
“Enggak, cuma mau ngajak main aja. Kalau gak ada acara aku jemput jam 7 ya?”
“Oke, boleh minta nomor hp mu? Biar gampang komunikasinya.” Mereka pun bertukar nomor telepon.
❤️❤️❤️❤️
Ting! Tong!
“Tiara, itu ada temenmu!” teriak Mama dari lantai bawah.
“Iya ma, nih lagi di tangga.” Tak lama kemudian ia berpamitan kepada orangtuanya.
“Ma, Pa, aku pergi dulu ya?” pamit Tiara.
"Pulangnya jangan terlalu larut malam." Ucap Papa Tiara.
"Iya pah." Ucap Tiara sembari mencium punggung tangan sang papa dan Mama nya.
“Kamu mau ngajak ke mana sih?” tanya Tiara penasaran setelah berada di luar rumah.
“Rahasia dong,” ternyata Ricko mengajak Tiara makan malam di sebuah cafe.
Setelah selesai makan malam, Ricko dan Tiara pergi ke sebuah taman, taman tersebut sangat indah. Tiba-tiba Ricko mengeluarkan bunga mawar dan berkata.
“Tiara, aku sudah lama mencintaimu, maukah kamu menjadi kekasihku?” ujarnya sambil berlutut, pipi Tiara memerah karena malu dan dia berkata.
“Maaf, aku tak bisa menolakmu.” jawab Tiara yang disambut dengan pelukan hangat dari Ricko.
Sejak saat itulah hubungan Tiara dan Villia mulai meretak, Tiara pun tak tahu mengapa Villia semakin hari semakin menghindari Tiara. Sudah dua bulan Villia menjauh dan menghindari Tiara. Karena dia ingin tahu mengapa Villia menjauh, dia pun mengajak Ricko untuk ke rumah Villia tetapi dia tidak mau dengan alasan sibuk. Karena Ricko sibuk maka dia pergi sendiri. Sesampainya di rumah Villia, ternyata Villia tidak ada di rumah. Dia memutuskan untuk pergi ke taman di mana dulu ia ditembak Ricko.
Dia terkejut karena kaget setelah melihat apa yang ada di depannya. Ternyata di taman tersebut ia melihat Ricko dengan Villia berpelukan mesra sekali. Ia sangat kecewa, tetapi ia mendengar sebuah kalimat yang sangat membuat hatinya sangat sakit.
“Tenang Villia, secepatnya aku akan memutuskan Tiara. Tetapi sebelum memutuskannya aku akan membuat alasan kalau aku ingin fokus sekolah. Okey honey?” Tiara melangkahkan kaki ke arah mereka berdua.
“Kamu tak perlu bersusah payah untuk memutuskan ku, karena aku yang akan memutuskanmu, dan untuk kamu Villia semoga kamu menjadi yang terbaik untuk Ricko.” ucap Tiara sambil berderai air mata.
Belum habis mereka terkejut dengan kehadiran Tiara secara tiba - tiba, mereka kembali terkejut lantaran Tiara pingsan. Mereka berdua lalu membawa Tiara ke Rumah Sakit.
Di rumah sakit.
Orang tua Tiara sudah tiba dirumah sakit menunggu putri mereka yang kini masih dalam perawatan dokter.
“Tante emang Tiara sakit apa?” tanya Olin kepada Mama Tiara sambil menangis.
“Tiara sakit leukemia stadium akhir tetapi ia tidak mau memberitahukanmu dan pacarnya karena dia takut kalian khawatir. Dan dia divonis dokter hidup sampai hari ini.” jawab Mama Tiara dengan hati yang sedih.
Dokter ke luar dari ruangan Tiara dengan muka sedih dan berkata.
“Kami sudah berusaha sekuat mungkin tapi Tuhan berkehendak lain.” Mama Tiara, Villia dan Ricko menangis.
Papa Tiara yang baru datang pun bertanya.
“Mengapa kalian menangis?”
“Putri kita sudah tidak ada pa. Tiara sudah meninggal kan kita untuk selamanya.” Papa Tiara berusaha menenangkan mereka. Walaupun pada kenyataannya jauh di lubuk hatinya sangat terpukul dengan kepergian putri semata wayangnya itu.
“Siapa yang bernama Villia dan Ricko? ini ada surat sebelum Tiara menghembuskan nafas terakhirnya.” tanya dokter sambil memberikan surat. Mereka berdua mengambil lalu membaca surat tersebut.
To: Ricko and Villia.
“Mungin di saat kalian membaca surat ini aku telah tiada. Tetapi tetap ingat lah aku di hati kalian. Villia, aku ingin kamu jangan khianati Ricko ya, jaga dia baik baik. Dan untuk Ricko aku minta kamu sayangi Villia dengan sepenuh hatimu, jaga sahabatku dengan baik jangan sakiti dia seperti kamu menyakiti aku. Dan yang perlu kalian tahu, aku sudah memaafkan kalian. Untuk Papa dan Mama jaga diri baik - baik ya, aku menyayangi kalian.”
Mereka berempat manangis tersedu-sedu. Villia sangat menyesal karena telah menyakiti sahabat sendiri. Ricko merasa sangat bersalah karena telah menyia - nyiakan kekasih yang sangat baik.
“maafkan aku Tiara, aku sangat menyesal telah melakukan ini padamu.” Gumam Villia di tengah-tengah tangisannya.