Belum cukup rasanya beban pekerjaan menekanku terus-menerus, malam ini aku sudah dapat berita mengejutkan dari salah satu sahabatku sejak SMA. Arin, dia menunjukkan ponsel seharga gajiku dua bulan dengan terburu-buru, saat aku sedang pusing karena pekerjaan.
"Kamu udah liat berita ini belum sih?" ujarnya, terdengar panik.
Sebenarnya aku tidak terlalu penasaran dengan berita apa pun yang dia bicarakan, karena aku sedang tidak mood. Tapi melihat reaksi mendeliknya, aku jadi penasaran. Mungkin menyangkut boygroup idolanya, yang mana membuatku sedikit melupakan hiruk-pikuk pekerjaan.
Mataku memicing seraya membaca judul artikel dari layar ponsel yang masih dia genggam. Seketika mataku ikut membulat, sama terkejutnya dengan Arin. Bahkan tanpa sadar mulutku menganga, saking tak bisa berkata-kata. Sampai Arin harus menepuk bibirku yang terbuka untuk menyadarkanku.
"Awas kemasukan lalat tuh mulut!"
"Arin..."
Aku masih memandangi Arin yang berdiri di depan meja kerjaku dengan raut wajah khawatir. Lalu dia menghela napas panjang sembari menepuk kedua bahuku yang sudah turun. Tiba-tiba beban pikiran soal pekerjaan terganti dengan pikiran lain. Dua-duanya membuatku pusing, tentu saja. Tapi yang satu ini terasa menyetrum sekujur tubuh sampai dadaku sangat nyeri.
Sakit sekali.
"Harusnya kamu hati-hati kalau lagi sama June. Kamu tau dia lagi naik daun."
"Itu gak bener, Rin. Sumpah! Aku gak pacaran sama dia!"
Aku berusaha mengelak, tapi sungguh, hatiku rasanya remuk.
"Han, aku gak tau gimana sampai ada berita kayak gini. Yang jelas, kamu gak aman, Han." suara Arin terdengar serius, sementara aku hanya bisa menerawang jauh entah ke mana. Aku tak tahu harus berbuat apa.
"Beruntung wajahmu gak terlihat jelas. Tapi sebaiknya kamu lebih hati-hati. Kamu tau kan fans jaman sekarang gilanya kayak gimana."
Aku diam, masih berkutat dengan pemikiran-pemikiran yang entah perlu atau tidak. Aku takut, bukan karena apa yang Arin bilang soal para penggemar jaman sekarang. Aku takut membuat pria itu kesulitan.
Dia, sang bintang yang sedang naik daun, sekaligus tetanggaku, June.
Aku tidak bisa fokus dengan pekerjaan, sehingga aku harus tinggal lebih lama sampai langit sudah gelap. Semakin dekat langkahku dengan rumah, pikiranku semakin kalut tentang berita yang ditunjukkan oleh Arin tadi. Aku belum mengecek berita-berita serupa sejak tadi, mungkin lebih baik kulakukan. Maka setelah aku memasuki rumah dengan aman, aku segera menelusuri berita tentang rumor kencan salah satu member boygroup yang sedang naik daun.
'June tertangkap kamera sedang berkencan dengan seorang wanita'
Aku semakin gelisah melihat banyaknya artikel yang memberitakan hal serupa. Bahkan nama June sudah menjadi kata yang paling banyak dicari hanya dalam beberapa menit. Semakin jauh aku menyelam, aku menemukan artikel terbaru yang dirilis oleh agency tempat June bernaung.
'Klarifikasi agency terkait rumor kencan June'
Mataku bergerak membaca keseluruhan artikel dengan gemetar. Aku membacanya perlahan hingga titik terakhir, tak ingin melewatkan satu kata pun. Tapi setelah itu, tubuhku terasa lemas. Ponsel dalam genggaman jatuh ke pangkuanku. Sebenarnya aku sudah menduga hal ini, tapi menyadari kenyataan ini benar-benar terjadi membuat tubuhku rasanya remuk.
Mereka membantah rumor itu.
Tentu saja.
'June tidak sedang dalam hubungan romantis dengan siapa pun. Wanita di foto hanyalah seorang teman yang kebetulan bertemu dan menyapa.'
Teman.
Dadaku langsung terasa seakan dihantam batu besar saat membaca satu kata itu. Benar, aku memang tak bisa dikatakan lebih dari sekedar teman June, atau tetangga. Walaupun selama ini senyumnya selalu memenuhi pikiranku, membuatku ikut tersenyum. Walaupun selama ini setiap sentuhannya selalu membuatku merasa melayang bagai kupu-kupu di taman bunga. Walaupun selama ini tatapannya selalu sangat dalam memandangku dengan hangat.
Kami hanya teman.
tok tok tok.
Suara ketukan pintu menyadarkanku dari lamunan. Aku tiba-tiba sadar pipiku basah, entah kapan air mata itu mengalir. Yang jelas aku buru-buru mengusapnya beranjak menuju pintu.
Begitu aku membuka pintu, di luar sudah berdiri seorang pria dengan wajah yang sangat familiar bahkan hampir bagi semua orang. Tentu saja karena dia adalah seorang idola yang sedang naik daun. June.
Napasku sempat tercekat saat menatap lurus pada sorot matanya yang tampak sayu.
"Jihan..."
Tapi suara berat yang menjadi ciri khasnya membuatku tersadar untuk kembali bernapas.
"Aku boleh masuk?"
Aku tidak langsung mengangguk. Setelah rumor kencan yang mungkin akan merugikan June, mana mungkin aku membiarkan dia masuk begitu saja ke rumahku?
Aku tidak ingin membuatnya dalam kesulitan yang lebih dalam.
"Aku takut..." ujarku dengan suara bergetar.
June di luar sana, mengusap wajahnya kasar lalu menoleh kesana-kemari memerhatikan sekitar. Dia tampak begitu putus asa. June kembali menatapku dengan sorot mata memohon. Sungguh kali ini aku pasti goyah jika tidak segera menutup pintu.
"Kita harus bicara, Han... Tolong..."
Sial.
Aku hampir menampar diriku sendiri karena terlalu mudah luluh pada pria di luar pintu. Akhirnya aku menyilahkan June masuk. Kami duduk berdampingan di sofa ruang tengah. Lima menit berlalu dan tak satupun dari kami yang buka suara. Yang terdengar hanya helaan napas berat dari June.
"Kamu udah liat berita?"
"Udah."
June kembali menghela napas, terdengar sangat frustasi. Sedangkan aku, tak ada yang bisa ku lakukan selain menundukkan kepala, membiarkan June memimpin percakapan ini. Aku sudah tak tahu lagi harus bicara apa.
"Agency mengelak, Jihan."
"Aku tau..."
"Aku udah berusaha ngomongin ini sama manager, tapi agency gak terima."
Aku diam.
Entah apa maksud June mengatakan hal itu padaku. Apa dia sedang menunjukkan bahwa dia berusaha mempertahankan hubungan kami yang abu-abu ini? Atau dia sedang memohon?
"Lagipula memang kita cuma teman kan, June?"
Aku menoleh dan mendapati June sedang menatapku dengan dahi mengernyit. Dia tampak tak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan. Memang apa yang dia harapkan dari semua ini? Kami memang hanya sekedar teman.
"Teman?" June menatapku tak percaya, seolah aku adalah antagonis dari keseluruhan cerita ini.
Aku mengangguk.
"Apa cuma aku yang menganggap lebih?" ujarnya lagi.
Kali ini aku buru-buru buang muka, menatap lurus ke depan dengan nyeri di dada yang perlahan menjalar membuat tubuhku meremang hebat. Aku berusaha mengabaikan rasa sakit itu dengan menghela napas panjang. Aku juga harus menahan air mata agar tidak menetes.
"Jihan..."
Aku masih tidak mau menatapnya, walaupun aku tahu, dia sampai mengubah posisi duduknya untuk menghadap ke arahku. Lalu aku mendengar napasnya yang dihembuskan dengan berat.
"Maaf..."
Suaranya bergetar, tapi tak cukup membuatku kembali menoleh untuk menatapnya.
"Aku sadar aku pengecut. Aku gak bisa berkutik. Bahkan buat berdiri di sampingmu aja aku gak bisa."
Aku menunduk, menatap jari-jemari yang kumainkan di atas pangkuan. Aku ingin sekali memeluknya, menentang setiap kalimat yang dia ucapkan. Tapi kupikir, sebaiknya aku mendengar saja.
Karena semua ini harus berakhir. Tak ada yang boleh goyah di antara kami.
"Maaf aku gak bisa dengan gamblang berdiri di sampingmu. Aku gak bisa selalu ada buat kamu. Aku gak bisa menunjukkan ke dunia kalau kamu wanitaku. Aku gak bisa bikin kamu jadi punyaku. Aku pengecut, Han..."
"Kamu bukan pengecut, June. Kamu mempertimbangkan banyak pihak. Dan itu bagus. Keputusan yang bagus."
"Jihan... Bisa liat aku? Sebentar aja..."
Sebenarnya aku masih enggan menatapnya. Tapi mendengar suaranya yang terdengar putus asa, akhirnya aku menoleh. June sudah lebih dulu menatapku dengan raut wajah yang sulit terbaca. Sorot matanya masih tampak putus asa seakan ingin memohon padaku. Tapi bibirnya tersenyum seakan siap mengucapkan selamat tinggal seperti seharusnya.
"Aku suka sama kamu, Jihan... Terima kasih..."
June tersenyum. Bibirnya mengucapkan pengakuan yang selama ini sangat ingin aku dengar. Setelah sekian lama terjebak dalam hubungan abu-abu ini, aku akhirnya bisa mendengar perasaannya.
Seharusnya aku senang. Tapi pengakuannya lebih mirip dengan ucapan selamat tinggal.
Tiba-tiba dadaku terasa berat, bahkan sulit sekali untuk berbicara. Aku harus berdeham agar suaraku tidak terdengar serak karena sudah hampir menangis.
Sadarlah Jihan, memang tidak seharusnya kalian bersama.
Lalu aku tersenyum, "Aku menyukaimu June. Aku akan selalu jadi penggemar terberatmu."
Senyum dibibir June perlahan hilang, digantikan dengan helaan napas panjang.
"Aku boleh peluk kamu? Mungkin untuk terakhir kali?"
June menatapku lamat-lamat, aku tahu dia sedang memohon. Tapi aku menggeleng. Takut kalau pelukan itu membuatku tak mau lepas darinya. Takut kalau sentuhan itu membuatku menjadi gila dan berubah pikiran menjadi egois. Takut kalau pelukan itu membuat kami, aku dan dia, semakin tak rela untuk berpisah.
"Kayaknya gak bisa. Itu cuma bikin aku semakin sakit."
June segera meloloskan tawa yang terdengar dipaksakan. "Iya kan? Aku gak mau bikin kamu semakin sakit." lalu dia tersenyum di akhir kalimat.
"Terima kasih, Jihan... Aku gak akan lupain kamu."
Aku mengangguk, masih tersenyum berusaha melepasnya dengan baik.
June bangkit dari duduknya. "Kalau gitu... kayaknya aku harus pergi. Udah gak ada yang bisa diomongin lagi. Iya kan?"
Aku ikut bangun, bersiap mengantarnya ke pintu. Tapi tak ada satupun dari kami yang memulai langkah, seakan tak ingin berpisah begitu saja.
"Kamu sendiri... masih ada yang mau diomongin atau..."
"Aku akan selalu dukung kamu."
June tampak kecewa, tapi bibirnya dipaksakan tersenyum. Dia tidak langsung pergi menuju pintu, dia masih diam pada posisinya untuk beberapa saat. Kemudian June kembali tersenyum padaku, mengisyaratkan bahwa dia harus pergi. Dia sebaiknya segera pergi.
Aku mengikuti langkah pelan June menuju pintu. Rasanya berat sekali melangkah, apa lagi melihat June yang semakin mendekati pintu.
June berbalik untuk menatapku sebelum membuka pintu. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya yang sedikit terbuka. Matanya menatap lurus padaku dengan sangat penuh. Kemudian dengan satu helaan napas, June kembali tersenyum lalu dia berbalik dan memutar gagang pintu.
"June..."
"Ya?"
June buru-buru menutup pintu lagi untuk menatapku. Matanya sedikit memancarkan cahaya seakan berharap dengan kalimat yang tertahan diujung lidahku. Melihat tatapan itu, rasanya dadaku sangat nyeri. Aku benar-benar merasa seperti orang jahat yang mengkhianati kekasihnya. Akulah antagonis dari cerita ini.
"Terima kasih... Aku senang kenal orang seperti kamu."
Seketika cahaya dari sorot mata June kembali redup. Aku tahu dia kecewa dengan kalimatmu, tapi aku sudah berjanji. Aku tidak akan membuat kami goyah. Keputusan ini bulat, kami harus berpisah.
"Aku juga senang... Senang sekali bisa kenal kamu."
Aku berusaha tersenyum, mengantar kepergiannya melalui pintu utama.
ceklek.
Tepat setelah pintu ditutup, hening langsung menyita suasana disekitarku. Air mata yang sejak tadi tertahan tiba-tiba menggenang sampai menghalangi pandanganku. Nyeri yang sejak tadi berusaha kuredam, kini menjalari tubuhku tanpa ampun. Kakiku lemas seketika sampai aku harus berjongkok, masih di depan pintu utama.
Aku menangis, sejadi-jadinya.
Aku tak mampu lagi menahan sakitnya perpisahan, bahkan disaat kami sama sekali belum bersatu. Seharusnya aku sadar sejak pertama kali June menatapku. Seharusnya aku sadar sejak pertama kali kami berbincang, berbagi sedih dan tawa bersama. Seharusnya aku sadar, June adalah bintang yang selamanya tak sampai pada genggamanku.
Dia, June, sang bintang yang tak akan pernah bisa aku raih.
***
SELESAI
***