Saat semua menyalahkan, Jovan satu satunya yang jadi penenang.
Namanya Jonathan, nama bekennya Jovan, biar lebih keren ceunah, aslinya mah gara-gara namanya kepanjangan. Sekelas denganku sejak bangku SD, dan saat itu masa-masa yang sulit buatku.
Jangan terlalu berharap kelas terakhirku di SD bakalan warna-warni, kebanyakan di usik oleh Maura-ketua komplotan anak nakal yang ditakuti saat SD. Maura yang iri denganku setengah mampus menyebarkan berita bohong, menyuruh orang-orang mengucilkan ku hingga temanku bisa di itung jari saking memuakannya Maura, dia bahkan menjadikanku kambing hitam dan pihak yang paling disalahkan dalam kasus yang tidak ingin ku ungkit lebih dalam. Aku memang salah, tapi hanya aku yang disalahkan.
"Laras enggak seburuk itu, kok."
Ucapannya saat diam-diam membelaku yang lagi lagi jadi bahan pembicaraan anak-anak. Karena perkataannya, Jovan membuatku merasa lebih baik.
Penilaian pelajaran olahraga sedang berlangsung, itu bagaikan mimpi buruk bagiku. Alasan pertama, materi bola voli yang jelas tidak aku kuasai. Kedua, penilaiannya secara berpasangan. Dan yang terkahir, nama lengkapku Zanitha Larasati. Kurang jelas? Itu artinya aku ada pada urutan paling terakhir. Celaka.
Tepukan pelan di pundak menyadarkanku dari lamunan, pelakunya Jovan dengan wajah se-kaku kanebo kering. "Mmm- mau bantu aku kerjain PR mtk?"
"Boleh," jawabku sedikit ragu.
"Ok, jadi sekarang pasangan sama aku biar nanti balik bareng,masih ada waktu buat ngerjain tugas."
Jovan, kamu buat aku bingung. Sejak kapan kamu peduli sama PR mtk?
...
"Jadi pembagiannya di pos 5 itu ada Iik, Mita sama Laras, buat tes PBB sama tali temali aja, jangan lupa di nilai!" seru Kak Romi, pembina pramuka SMP.
Siapa yang sangka Larasati dengan segala kemagerannya mampu buat ikutan ekstrakurikuler, pramuka inti pula!
"Kak, saya engga dianggap, nih?" seru Jovan usil. Namanya belum disebut kedalam bagian pos.
"Khusus buat kamu emang di pos 5,tadi lupa disebut."
Jovan mengangguk patuh. Rapat terkahir sebelum kami melaksanakan pelantikan pramuka kepada adik kelas.
Aku benar-benar menantikannya. Saat saat aku menghabiskan waktu lebih lama dengan dia.
Dan aku mulai bertanya-tanya, sejak kapan ini bermulai?
Kami masih tetap menjadi teman sekelas. Kehidupan sekolah ku membaik. Jovan tetap sama, menjadi cowok kuat yang cuek sama cewek. Kami tidak akrab, canggung rasanya. Kupikir ini gara-gara ketidaksengajaan ku yang diam diam memperhatikan Jovan. Dan dari ketidaksengajaan, Jovan menunjukkan pesonanya.
Saat hari penilaian pun di mulai. Aku sama Mita baru menyusul karena lokasi nya yang jauh dan kondisi jalanannya yang ancur.
"Laras aja yang jadi pembina, bosen banget dari tadi si Jovan mulu!" protes Mita.
Aku sudah pd aja memimpin peserta yang lagi PBB, tiba-tiba suara kekehan terdengar, asalnya dari mulut Jovan.
"Masa gitu sih mimpinnya?"
"Yaudah kamu aja lagi yang mimpin!"
Shit. Ku sadar telingaku sudah memanas.
Situasi berubah jadi huru hara saat salah satu peserta sakit dan harus di antar kembali ke tempat kemah. Itu tugas Iik dan entah kebetulan atau takdir Mita pergi berbelanja dan meninggalkan aku bersama Jovan berduaan.
Canggung yang awalnya mendominasi, seakan hilang saat kami mulai berdiskusi. Selagi menunggu kelompok peserta yang lain datang, kami mulai menilai.
"79. Ada 3 orang yang masih salah simpul dasarnya dan nggak kompak pas PBB," tukasku sambil mencatat poin poin laporan pos kami.
Jovan mengikis jarak, terlihat sedang mempertimbangkan nilai sebelumnya. "Tapi yel yel mereka paling bagus selama ini, regunya juga sat set set pas bikin tandu, naikin aja."
"Mereka enggak sopan."
"Okay, aku setuju 79."
Sisi penurut Jovan membuatku salting.
Jovan berdeham dan aku mulai melanjutkan kembali penilaian. Tidak terlalu sulit, aku bahkan bisa menyelesaikan tugasku sendiri, tapi Jovan tidak membiarkan itu terjadi.
"Si Mita kok enggak balik-balik, ya?" gumamku.
"Jangan-jangan dia kabur?"
Aku mengangguk, Mita itu emang enggak niat dari awal. "Iya kayaknya, toh ada atau enggaknya dia nggak ada bedanya juga."
"Untungnya ada kamu, Ras."
Iya, untung ada kamu, Jovan.
...
Sudah ku katakan bukan kalau jalanannya sulit luar biasa? Sehabis pekerjaan kami selesai, kami harus pergi ke pos terkahir untuk flying fox, permainan uji nyali.
Jalanan yang jelek dan aku harus mencatat sisa penilaian membuatku jalan super lambat.
Aku bertanya masih sambil berjalan, "gimana menurutmu siapa yang bakalan menang?"
"Sangga kartini kayaknya. Awas!" Jovan menarik pelan bajuku agar hati-hati melangkah.
Hampir saja aku jatuh karena jalanan licin, "thanks!"
Kami memasuki wilayah persawahan, suasananya bagus tapi banyak ilalang di kiri kanan. Jovan memimpin di depanku sambil mengurusi ilalang agar tidak menghalangi jalanan kami. Saat ada tanjakan, Jovan tanpa bicara selalu membiarkan aku berjalan lebih dahulu. Seolah merasa dijaga, Jovan membuatku terbuai. Bisakah kita seperti ini untuk waktu yang lama?
"Nanti mau naik flying fox?" tanyanya.
"Entah, lumayan tinggi, kan?" Trek tali yang menyabung dari tebing membuatku ngeri, kalau jatuh minimalnya patah tulang.
Jovan membenarkan rambutnya, "aman, aku yang bakalan jaga dibawah."
"Ok, aku ikut."
Saat-saat aku merasa aman karena orangnya adalah Jovan.
...
"Gar pinjem HP dong, mau hospot!"
Edgar temanku menyodorkan HP-nya, "makanya ngemodal dong, Larasati."
Aku hanya terkekeh.
Satu bubble baris pesan yang Jovan kirimkan ke grup para cowok, termasuk Edgar muncul tanpa permisi. Menyadarkan aku tentang siapa itu Jovan.
Jovan suka olahraga, tapi engga sama senam lantai. Jovan suka bubur ayam, tanpa krupuk sebagai toping. Jovan suka teman perempuanku, dan bukan aku.