"Sial!"
Aku mengumpat dalam hati, lagi dan lagi.
“Sombong…” Aku membencinya. Itu saja. Aku selalu marah tiap kali melihat akun social medianya. Anehnya, aku selalu penasaran. Lagi-lagi melacak isi akun miliiknya yang telah cukup lama tak diurus. Memang hanya mengisahkan cerita lama yang sebenarnya sudah hampir tidak penting. Tapi tetap saja aku, cemburu.
“Kamu liat apa?”
Aku segera mengunci layar handphoneku, membuatnya terlihat gelap ketika Langit mendekatiku. Aku hanya menggeleng dan tersenyum. Aku takut kejadian itu terulang kembali, dimana aku menangisi sebuah kalimat yang menyatakan bahwa gadis itu masih menyayangi Langit.
“Itu cuma masa lalunya, sekarang kamu masa depannya.”
Hampir bosan aku mendengar kalimat itu dari mulut teman-temanku. Sesungguhnya aku tak yakin, karena memang hubungan kami pasti akan berakhir dengan cepat. Tidak seperti Langit dan Bumi yang selalu bersatu. Meski Langit sudah membuang kenangan 3 tahun bersama gadis itu, tetap saja aku cemburu.
Sering aku bertanya-tanya, apa yang Langit pikirkan ketika mendengar nama Buminya? Bagaimana kebersamaan mereka? Waktu 3 tahun rasanya tidaklah singkat. Aku iri, seakan Langit dan Bumi tak dapat dipisahkan. Sedangkan Langit dan Matahari tak dapat selalu bertemu dalam satu hari. Aku iri dengan masa 3 tahunmu.
Seperti Langit dan Matahari, kita tidak bertahan lama. Matahari yang menjadi cahaya sejuta umat ini tampak tak direstui untuk bersama Langit. Badai mulai membuat Langitku mendung, awannya menutupi cahaya Matahariku. Petir seakan menyambar di antara kami. Lagi-lagi aku iri. Aku iri dengan Langit dan Bumi.
“Yang penting aku sama kamu, ri.”
Langit membutuhkan Matahari.
Matahari tak ingin terbenam.
Langit dan Matahari tak dapat bersatu.
Sepertinya badai tidak berhenti di situ saja. Setelah lelah melihat Langit yang begitu mendung, Matahari berusaha menyinarinya. Berusaha mengusir kabut tebal yang menutupi cahayanya. Kembali menyinari Langit. Kembali menghangatkan Langit. Meski badai sulit dilumpuhkan, aku tetap mencoba.
Akhirnya Langit dan Matahari kembali seperti sejarahnya. Bersama tidak selalu dalam satu hari. Hanya begitu. Seakan kami bersama, tapi tidak. Saling membutuhkan, tapi tidak bersatu. Saling menyukai, tapi tidak direstui.
“Kamu terlalu cuek, ri.”
Kembali tuntutan itu ku dengar. Sangat ingin aku mengelak. Tapi apa daya, aku lelah menciptakan badai besar. Karena aku tau badai tersebut akan sangat sulit dilumpuhkan. Mungkin aku memang salah. Mungkin Matahari terlalu panas.
Aku tidak menyalahkan Langit yang menurutku sama sekali tidak memikirkan Matahari. Tidak peduli kemana Matahari pergi ketika malam tiba. Karena memang kita tidak bersama, tidak bersatu, tidak direstui.
“Aku sadar, aku bukan siapa-siapa buat kamu.”
Kalimatnya tidak salah.
Seutuhnya benar.
Tapi,
Salahkah aku mengharapkan perhatiannya?
Aku semakin lelah bertingkah lagaknya Matahari yang selalu ceria. Aku ingin tau seberapa Langit memerhatikanku. Matahari meredupkan cahayanya. Langit akan gelap, bukan? Tapi aku tidak lihat itu. Seakan tidak ada lagi perhatian. Seakan Langit tidak lagi menemani Matahari. Tidak lagi berada di sekitar Matahari.
“Kita hanya perlu bersama. Seperti dulu. Tidak ada Petir yang kamu pikirkan.”
Kemana kalimat yang kau ucapkan saat itu?
“Kamu cuma perlu ikuti kata hatimu.”
Dimana hati Matahari berada? Dada sebelah kiri bagian atas? Yang sering kali terasa nyeri saat Langit mengacuhkan pertanyaan Matahari? Langit tidak menjawabku, lagi. Namun setidaknya setelah beberapa menit menyita waktu sunyi kamu, Langit berbicara pada Matahari. Aku menjawab, namun Langit pergi.
“Kamu terlalu sibuk, ri.”
Tuntutan lagi.
Setidaknya Matahari harus memiliki cahayanya sendiri. Bukannya aku tidak menyempatkan diriku bertemu denganmu, Langit. Tapi memang begini keadaannya. Aku membutuhkan cahaya itu. Dengan begitu aku dapat menyinari setiap orang.
Andaikan Langit dan Matahari adalah Bulan dan Bintang yang tidak pernah berpisah. Selalu menemani satu sama lain. Selalu berdampingan, tiap kali muncul selalu bersama. Kenapa Langit?
Pernah kau dengar Matahari kehilangan cahayanya? Aku lelah seperti ini. Seperti Langitku benar-benar tidak peduli. Namun hatiku seakan tak ingin melihat Langitku mendung kembali. Kapan semua ini akan berakhir? Kiamatkah satu-satunya jalan?
***
SELESAI
***